<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-382337659859891339</id><updated>2012-01-27T04:32:50.237-08:00</updated><category term='Religi'/><category term='Penelitian'/><category term='Pendidikan'/><category term='khutbah'/><category term='Renungan'/><category term='Wakaf'/><category term='Keluarga'/><category term='Mutiara Hikmah'/><title type='text'>CAHAYA IMAN</title><subtitle type='html'>Blog ini didedikasikan untuk turut memberikan andil dalam pencerahan pemikiran. Tema-tema yang dipilih serta materi yang diposting selalu mengikuti tujuan tersebut. Mudah-mudahan harapan ini dapat terpenuhi.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>nuruliman1972</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07855832763775638687</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>85</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-382337659859891339.post-2407311497955783878</id><published>2012-01-27T04:24:00.000-08:00</published><updated>2012-01-27T04:32:50.263-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Tragedi Tugu Tani, Narkoba, dan Proyek Pendidikan Kita</title><content type='html'>26 Januari 2012&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TRAGEDI TUGU TANI, NAKOBA, DAN PROYEK PENDIDIKAN KITA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Tugu Tani, yang sudah lama tidak diperhatikan oleh masyarakat Jakarta, kini menjadi ramai dibicarakan oleh hampir seluruh masyarakat Indonesia. Dan Tugu Tani pun menjadi terkenal kembali, seakan bangkit dari tidur, seiring terjadinya tabrakan maut pada 22 Januari 2012 yang melibatkan pengemudi mobil Xenia yang merenggut 9 nyawa pejalan kaki dan melukai beberapa yang lainnya. Nama Apriani Susanti, seorang wanita bertubuh tambun, selaku pengemudi dianggap sebagai pihak  yang paling bertanggung jawab karena mengemudikan kendaraan dalam keadaan mabuk dari narkoba yang dikonsumsinya. Penyelidikan kepolisian terhadap Apriani pun terus  berkembang terutama berkaitan dari mana narkoba tersebut diperoleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan di keluarga, masyarakat sekitar dan tempat kerja, sosok Apriani dikenal sebagai pribadi yang baik, tetapi di balik itu ternyata terdapat rahasia yang bersangkutan tentang ketergantungannya pada Narkoba dan Miras. Tragedi tugu Tani, menyentakkan kesadaran kita bersama, betapa narkotika telah gaya hidup sebagian masyarakat kita, sehingga menjadi salah satu hantu yang menakutkan bagi kelanjutan bangsa ini dikarenakan mengancam para generasi muda dan menghancurkan mental mereka. Kenyataan ini sekaligus menjadi pekerjaan rumah (PR)  bersama khususnya kita para pendidik dan orang tua untuk lebih berhati-hati, lebih peduli, dan lebih teliti terhadap pendidikan dan perkembangan para anak-anak. Cukuplah bagi kita, agar Tugu Tani bisa menjadi lambang yang selalu mengingatkan tentang bahaya Narkoba. Tidak perlu jatuh korban yang lebih banyak lagi, dari anak-anak bangsa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah Narkoba  atau narkotika dan obat-obatan dikenal dalam Islam sebagai khamar. Ulama menyebut bahwa kullu ma yukhamir al-aql fahua khamr (setiap sesuatu yang membutakan akal dapat disebut khamr). Dalam hadith Nabi yang diriwayatkan Imam Nasai dan Ahmad, Rasulullh menegaskan kaidah ini dengan ungkapan kullu muskirin khamr, wa kullu khamr haram (setiap yang memabukkan disebut khamr, dan setiap khamr pasti diharamkan). Berkenaan dengan kaidah tersebut maka khamar tidaklah terbatas pada minuman saja, tetapi mencakup segala sesuatu yang memabukkan seperti putau, heroin, ekstasi, dan lain sebagainya. Dan setiap yang memabukkan dalam Islam, hukumnya adalah haram. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Subhanahu Wata’ala menegaskan dalam Al-Baqarah ayat 219 bahwa  dalam khamar terdapat manfaat dan madharat. Tetapi, manfaat yang didapat dari khamar ini tidaklah sebanding dengan besarnya madharat/ kerugian yang ditimbulkan (wa istmuhuma akbar min naf’ihima). Karenanya, tidak berlebihan jika narkoba yang merupakan bagian dari khamr sering diakronimkan dengan “Narik-Korban-Banyak”. Hal ini berarti bahwa kerugian yang ditimbulkan oleh Miras dan Narkotika sangatlah banyak dan multidimensional. Secara singkat dapat disebut bahwa berkenaan kesehatan, narkoba dapat merugikan fisik penggunanya dengan merusak akal, jantung dan ingatan. Dalam kehidupan keluarga, ketergantungan terhadap narkoba akan menjadikan terceraiberainya keuangan rumah tangga dan terabaikannya hak-hak para penghuninya. Seorang bapak yang mencandu narkoba, biasanya menjadi acuh dan menelantarkan istri, anak dan keluarganya. Dalam kehidupan sosial, masyarakat penikmat narkoba menjadi terasing dari lingkungannya, kehilangan kepedulian pada orang lain, serta akan mengabaikan keselamatan diri dan bahkan orang lain seperti halnya terjadi pada Apriani dalam kejadian tabrakan di Tugu Tani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerugian besar dari dampak narkoba juga nampak dari besarnya biaya yang harus dialokasikan untuk rehabilitasi pecandu Narkoba. Untuk dapat dapat melepas seseorang dari ketergantungan narkoba dibutuhkan puluhan hingga ratusan juta rupiah. Dalam hitungan Direktur BNN (Badab Narkotika Nasional) Benny Mamoto, pada tahun 2011 dana yang dibutuhkan dalam merehabilitasi 3,8 juta pecandu narkoba di Indonesia adalah sebesar 30 triliun setiap tahun. Sebuah angka yang fantastis, bagi bangsa ini. Andai dana tersebut dapat digunakan untuk hal-hal lain yang lebih bermanfaat bagi masyarakat banyak. Tidak berlebihan jika dihubungkan dengan dampak yang ditimbulkan narkoba, Allah kemudian melaknat semua pihak yang terlibat dalam produksi, distribusi dan konsumsi khamar. Dalam hadits Abu Dawud dan Ibn Majah Rasulullah menegaskan bahwa Allah melaknat khamar sendiri, peminumnya, penuangnya,     pemerah (pembuat) nya, yang meminta diperahkan (pemesan/pengorder), pembawanya (distributor), dan yang minta dibawakannya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tragedi Tugu Tani itu selayaknya menyulut kesadaran kita bersama untuk menyatakan perang terhadap  narkotika dan penyebarannya di Indonesia. Yang perlu dicatat bahwa candu narkoba saat ini tidak lagi melanda kota-kota besar saja, tetapi telah melanda segenap masyarakat tanpa pandang bulu, melampaui batasan umur, jenis kelamin, suku bangsa, status keluarga, stasus sosial, dan gaya hidup. Narkoba telah betul telah menyebar dan mulai menggerogoti masyarakat Indonesia kita ini, secara sembunyi-sembunyi namun pasti. Banyak orang tua para pencandu yang mendadak shok melihat anak-anaknya telah terlibat  penggunaan narkoba dan mengetahui tanda-tandanya terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengetahui seseorang telah mencandu narkoba memang tidaklah mudah. Secara umum dapat disimpulkan bahwa narkoba membawa  gejala kejiwaan yang aneh dalam diri seseorang, seperti menjadi pelupa. Hal ini dikarenakan  narkoba dapat mengurangi memori dan daya ingat. Pencandu narkoba biasanya menunjukkan pemikiran yang sulit untuk dimengerti, mudah tersinggung, dan selalu menentang. Emosi diri seringkali tidak terkendali dan suka marah-marah.  Selain itu, konsumsi narkoba juga sering menjadikan seseorang menjadi kurang bergairah, lemah, letih, dan lesu. Jika mendapati tanda-tanda tersebut, para orang tua dan pendidik harus waspada dan bertindak  bijak untuk meneliti lebih lanjut, apakah memang hal  tersebut disebabkan oleh konsumsi narkoba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Genarasi muda adalah aset termahal bangsa ini. Jika mendidik mereka dapat diibaratkan seperti menumbuhkan pohon-pohon dalam kebun masa depan, tentunya kerjasama semua pihak mutlak diperlukan sesuai porsi masing-masing. Beban ini tidak saja melekat pada guru, orang tua, atau lembaga pendidikan saja. Hambatan-hambatan pendidikan seperti halnya narkoba, pornografi, serta perjudian tentu harus disingkirkan bersama agar masa depan  bangsa ini tetap cerah sesehat dan secerdas generasinya yang tetap dapat tumbuh berkembang dalam iklim pendidikan yang bersih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang dalam bangsa ini pasti menginginkan agar bangsa ini menjadi bangsa yang kokoh, kuat dan cerdas, bukan menjadi bangsa pecundang  karena genarasinya menjadi pencandu dan pemadat narkoba. Rasulullah mengingatkan dalam hadist al-Bukhari, bahwa diantara tanda-tanda hari kiamat adalah membudayanya kebodohan dan sedikitnya ilmu (pemahaman), berkembangnya perzinaan, dikonsumsinya khamar, dan sedikitnya jumlah laki-laki dibandingkan perempuan.  Jika kita tidak terlibat dan bekerja sama dalam menanggulangi narkoba dan penyebarannya di Indonesia ini, bukan tidak mungkin bangsa ini dapat kiamat dan hancur, sehancur generasi muda penerusnya. Bukankan angka pencandu narkoba yang saat ini berjumlah 3,8 juta akhirnya bisa saja membengkak menjadi 38 juta, dan seterusnya, jika tidak ada upaya untuk menanggulanginya?  Naudzubillah min dzalik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/382337659859891339-2407311497955783878?l=nuruliman1972.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/feeds/2407311497955783878/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=382337659859891339&amp;postID=2407311497955783878&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/2407311497955783878'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/2407311497955783878'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/2012/01/tragedi-tugu-tani-narkoba-dan-proyek.html' title='Tragedi Tugu Tani, Narkoba, dan Proyek Pendidikan Kita'/><author><name>nuruliman1972</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07855832763775638687</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-382337659859891339.post-185651087414347803</id><published>2011-12-11T18:34:00.000-08:00</published><updated>2011-12-11T18:41:36.532-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Mutiara Hikmah'/><title type='text'>Mutiara Kesederhanaan</title><content type='html'>12 Desember 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luwih becik mikul dawet rengeng-rengeng, tinimbang numpak mercy brebes mili”  yang berarti “lebih baik berjualan dawet dengan dipikul sambil bernyanyi-nyanyi (tanpa beban) dari pada naik mobil mercy tetapi bersedih hati dan menangis (KH. Imam Zarkasyi &amp; K.H. Ahmad Sahal).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/382337659859891339-185651087414347803?l=nuruliman1972.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/feeds/185651087414347803/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=382337659859891339&amp;postID=185651087414347803&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/185651087414347803'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/185651087414347803'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/2011/12/mutiara-kesederhanaan.html' title='Mutiara Kesederhanaan'/><author><name>nuruliman1972</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07855832763775638687</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-382337659859891339.post-4673147241506178311</id><published>2011-12-04T18:36:00.001-08:00</published><updated>2011-12-04T18:39:40.208-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Remaja, Alamat Palsu, dan HIV</title><content type='html'>4 Desember 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;REMAJA, ALAMAT PALSU, DAN HIV&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heboh lagu “Alamat Palsu” Ayu Ting-ting hingga kini masih terasa. Seakan tiada henti, berbagai stasiun televisi negeri ini berebut menampilkan Ayu melalui konser-konser musik mereka ataupun melalui liputan  selebriti tentang kehidupan sang artis baru ini. Alhasil, masyarakatpun terus disuguhi “alamat palsu” dan penyanyinya sehingga dipastikan hampir semua orang akrab dengan musik atau syair lagu dangdut tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehebohan lagu “alamat palsu” tidak bisa dilepaskan dari  kenyataan bahwa lagu tersebut yang memang mudah dinyanyikan disebabkan musiknya yang renyah,  meskipun secara substansial lagu tersebut berisi kesedihan seorang pencinta yang ditipu kekasihnya. Lebih dari itu, menurut penulis lagu ini  juga menggambarkan realita dunia percintaan kontemporer yang banyak melibatkan remaja masa kini dengan segala tipu daya dan penghianatan melalui “status palsu” dan “alamat palsu” mereka.  &lt;br /&gt;Maraknya “status palsu” dan “alamat palsu” dalam hubungan kasih sayang disebabkan  krisis moral dan mental  yang menimpa para pelaku percitaan itu sendiri. Dalam kamus percintaan saat ini, seringkali pacaran berlangsung secara kebablasan yang diakibatkan lemahnya kontrol diri sehingga terjadilah pergaulan bebas. Selain itu, menuntut kesetiaan pasangan ibarat meminta sesuatu yang mustahil diberikan. Lihat saja, banyak muda-mudi yang masih pacaran ternyata tidak puas dengan satu pasangan, sehingga mereka menyimpan satu, dua, atau bahkan tiga orang idaman lain (WIL-PIL). Seorang kolega guru penulis di salah satu sekolah menengah atas Ponorogo, mengeluhkan tentang siswinya yang meteng ngganggur (hamil tanpa ada yang dapat diminta pertanggungjawaban), disebabkan  seringnya ia berganti pasangan lelaki sehingga tidak jelas dengan siapa ia hamil.  Kasus ini tentu bukan satu-satunya, disebabkan banyaknya kejadian yang tidak terungkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyaknya perceraian keluarga muda juga dipicu oleh hadirnya orang ketiga dan peristiwa perselingkuhan yang melibatkan salah satu diantara mereka. Tayangan reality-show Uya Memang Kuya, seringkali memberikan contoh terhadap hal ini. Dalam detikhealt (1-12-2011), Vera Farah Bararah  menyebut survei yang menunjukkan bahwa laki-laki Indonesia rata-rata 5 kali berganti pasangan dan perempuan 2 kali ganti pasangan setelah pertama kali berhubungan seksual. Sementara itu dr Boyke Dian Nugraha, SpOG dalam acara Media talk show: Sexual Wellbeing Global Survey di Restoran Black Cat, Jakarta, Rabu (30/11/2011) menyebut bahwa perselingkuhan menjadi tren yang sering dibanggakan, sehingga jika cowok memiliki banyak pasangan akan dibilang jantan. Angka survey kesetiaan menyebut sekitar 13 persen laki-laki Indonesia tidak setia, sedangkan perempuan Indonesia sebesar 6 persen. Angka ketidaksetiaan laki-laki di Indonesia ternyata lebih besar dari Amerika Serikat yang mencapai 10 persen,  dan Inggris yang hanya sekitar 8 persen. Sebuah kenyatan yang memalukan sekaligus memilukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena perselingkuhan dalam hubungan percintaan merupakan hasil dari memudarnya rasa kesetiaan terhadap pasangan, hilangnya rasa kesederhanaan, dan menipisnya rasa qanaah (nrimo) dari hati. Yang muncul kemudian adalah semangat untuk berpetualang dalam cinta dan menggaet sebanyak-banyak kekasih guna mendapat manfaat dan kenikmatan sementara. Padahal di balik semuanya telah menunggu kehancuran keluarga dan hubungan cinta, kerusakan mental, dan munculnya berbagai penyakit kelamin yang berbahaya dan sulit disembuhkan semisal Aids. Meskipun penyakit ini tidak hanya ditularkan  oleh hubungan kelamin, tetapi penyebaran melalui media ini tetaplah yang terbesar dan dominan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dukungan mudahnya akses informasi dan teknologi memudahkan terjalinnya hubungan pertemanan sosial yang semakin terbuka. Kapan saja dan dimana saja seseoang mengakses  twetter, messenger-an, facebook, Bbm-an atau yang lainnya. Update statuspun dilakukan untuk menarik komentar sebanyak-banyaknya meski dengan polesan sana sini ataupun memalsukan informasi. Media-media tersebut juga seringkali dipergunakan untuk menggaet wanita-wanita muda yang iseng, yang ujung-ujungnya adalah pergaulan bebas dan wanitalah yang paling banyak dikorbankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Remaja adalah masa transisi menuju pencarian jati diri. Perlu panduan dan pendampingan komprehensif dari para orang tua dan pendidik di sekolah. Konseling tentang bahaya pergaulan bebas, akses pornografi, maupun penggunaan obat-obatan  terlarang maupun minuman keras, haruslah menjadi materi pelengkap disamping materi-materi akademik yang dibutuhkan siswa. Penguatan mental dan moral spiritual remaja juga haruslah menjadi prioritas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pencegahan  terhadap penyebaran HIV seperti diserukan para aktivis adalah dengan  anjuran penggunaan kondom saat berhubungan dengan pasangan, menjauhi narkoba, maupun mengurangi stigma dan dikriminasi terhadap Orang Dengan HIV dan AIDS (ODHA). Padahal kesemua hal tersebut tentu hanya merupakan teknik-teknik praktis dan operasional dalam menanggulangi Aids. Sementara hal-hal yang bersifat psikis dan mental hanya bisa dibangun dengan memperteguh keberagamaan para remaja, penyuluhan tentang bahaya teknologi informatika disamping manfaatnya, disamping penyuluhan tentang kesehatan reproduksi dan keharusan menjaganya hingga jenjang pernikahan. Aspek-aspek yang kasat mata ini hendaknya mendapat perhatian yang seimbang  dalam rangka membangun kesadaran para remaja dari bahaya HIV, yang selalu diperingati pada 1 Desember. Wallahu a’lam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/382337659859891339-4673147241506178311?l=nuruliman1972.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/feeds/4673147241506178311/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=382337659859891339&amp;postID=4673147241506178311&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/4673147241506178311'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/4673147241506178311'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/2011/12/remaja-alamat-palsu-dan-hiv.html' title='Remaja, Alamat Palsu, dan HIV'/><author><name>nuruliman1972</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07855832763775638687</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-382337659859891339.post-6695319097319823932</id><published>2011-06-17T04:19:00.000-07:00</published><updated>2011-06-17T04:26:10.785-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Mengarusutamakan Pendidikan Nilai</title><content type='html'>16 Juni 2011 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENGARUSUTAMAKAN PENDIDIKAN NILAI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan disepakati oleh banyak ahli, memiliki peran yang besar dalam penyediaan sumberdaya manusia yang berkualitas dan daya saing yang tinggi. Hal ini menurut Mardiatmaja (2004) dikarenakan pendidikan adalah proses yang menyeluruh dan berkesinambungan untuk mempersiapkan manusia dalam kehidupan masyarakat dan dunia kerja. Di dalamya terdapat unsur mencerdaskan, meski pendidikan sendiri lebih luas dari sekedar mencerdaskan. Selain itu, di dalam pendidikan terdapat pula unsur pembentukan mental dan perilaku melalui serangkaian nilai yang dijunjung bersama dan dikembangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai dapat diartikan sebagai ”pengertian-pengertian (conceptions) yang dihayati seseorang mengenai apa yang lebih penting atau kurang penting, apa yang lebih baik atau kurang baik, dan apa yang lebih benar atau kurang benar”. Nilai ini hanya dapat dipahami jika dikaitkan dengan sikap dan tingkah laku. Sumber utama nilai adalah ajaran agama, disamping hati nurani, dan adat kebiasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan nilai penting bagi seorang manusia, karena pada dasarnya perilaku dan aktivitasnya akan ditentukan, didorong, dan diarahkan oleh nilai-nilai yang dipegangi. Nilai yang dominan akan memunculkan perilaku yang dominan.  Koentjaraningrat (Syukur, 2008) menyebut bahwa dalam kontek yang mendasar, perilaku individu maupun masyarakat pada hakekatnya dipengaruhi oleh sistem nilai yang diyakininya. Sistem nilai tersebut merupakan jawaban yang dianggap benar menganai berbagai masalah dalam hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Seminar Nasional “Rekontruksi Pendidikan Agama untuk Membangun Etika Nasional dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara” yang diselenggarakan Fakultas Agama Islam Unmuh Ponorogo, kedua narasumber yang hadir saat itu bersepakat tentang pentingnya penyelenggaraan pendidikan yang berorientasi pada internalisasi nilai-nilai dalam diri peserta didik, dan meninggalkan paradigma sesaat berupa transfer keilmuan semata. Krisis multidimensional yang menimpa bangsa Indonesia saat ini diakui atau tidak merupakan buah pendidikan yang mengesampingkan pendidikan nilai. Sebaliknya, pendidikan lebih sering memberikan penekanan pada capaian kognitif dan penguasaan ketrampilan, dibandingkan pembentukan mental dan karakter peserta didik.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Wacana pembentukan kararter (character building) sebenarnya cukup mengemuka akhir-akhir ini dalam dunia pendidikan. Hanya saja, dalam praktiknya usaha membangun  karakter di lembaga pendidikan sering kali berhenti sebagai sebuah teori atau keinginan saja, atau pada tulisan-tulisan dalam bentuk persiapan pembelajaran (RPP) yang dipraktekkan secara parsial di pembelajaran, atau bahkan dipahami secara sepihak sebagai tanggung jawab guru agama semata. Padahal, seharusnya pembentukan karakter dan mental bisa dirancang bersama oleh penyelenggara pendidikan secara komprehensif sehingga seluruh kegiatan dan kehidupan di sekolah mencerminkan bentuk praktis aplikatif terhadap nilai-nilai yang dianut sebuah lembaga pendidikan. Teori-teori tentang nilai dan mendidikannya perlu dikaji secara mendalam, tetapi yang lebih penting lagi adalah bagaimana nilai-nilai tersebut dapat diimplementasikan dalam tingkah laku dan sikap hidup.  Berkenaan dengan pendidikan nilai, lembaga-lembaga pendidikan umum maupun agama layak untuk belajar dari pesantren.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesantren mengusung berbagai nilai unggul, diantaranya adalah kehidupan islami, keakraban  antara guru (kiai) dan santri, ketaatan kepada pimpinan, kebersamaan, kesederhanaan, kemandirian, disiplin, kejujuran, dan keberanian untuk berjuang menggapai tujuan. Nilai-nilai tersebut secara praktis dan penuh penghayatan dijalani oleh seluruh penghuni pesantren dalam kehidupan sehari-hari.  Kesederhanaan misalnya, telah menjadi nilai yang mewarnai pesantren, tercermin dalam cara segenap penghuninya makan, berpakaian, membangun asrama/tempat tinggal, dan bahkan bersikap. Kehidupan pesantren yang berbasis nilai-nilai ini lebih mencerminkan kekuatan diri dan kehidupan sewajarnya, tanpa ada rekayasa maupun polesan berlebih-lebihan. Jika ada pesantren yang mulai meninggalkan nilai-nilai itu, sejatinya ia mulai tercerabut dari akar budayanya sendiri yang khas dan unggul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Berdasarkan keutamaan pesantren dan pendidikan nilai yang diusungnya tersebut, A. Malik Fajar bahkan menyebut lembaga ini layak disintesakan bahkan dengan pendidikan tinggi (PT). Kelebihan ruhaniyah pesantren diharapkan dapat melengkapi tradisi intelektualitas perguruan tinggi, dan sebaliknya tradisi keilmuan perguruan tinggi diharapkan menyempurnakan  religiusitas pesantren. &lt;br /&gt;Senada dengan Fajar, Amin Abdullah (2010) menegaskan pentingnya pengarusutamaan pendidikan pesantren yang berbasis pembentukan mental para santri. Meksi demikian, Amin juga menyatakan perlunya lembaga pesantren melakukan kontekstualisasi pendidikannya dengan mengangkat isu-isu kemanusiaan secara universal misalnya berkenaan dengan gender, trafficking, global warming, ekologi, serta isu-isu kontemporer kebangsaan lainnya. Selain itu perlu digalakkan pengenalan teknologi informasi dan pemakaian  bilingual terutama bahasa Inggris  dan Arab. Hal ini diperlukan untuk menghapus kesan konservatif yang melekat pada  pendididikan pesantren, dan yang terpenting agar melatih anak didik dapat membaca realitas keumatan dan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan pesantren memang tidaklah sempurna dan layak untuk terus mendapatkan perbaikan, tetapi tradisi nilai-nilai unggul yang dikembangkan di dalamnya layak untuk diadopsi dalam sistem pendidikan nasional kita saat ini yang nampak mulai kehilangan ruh dan jiwanya. Kasus terjadinya kecurangan secara massif dalam Ujian Nasional di berbagai lembaga pendidikan non pesantren menunjukkan pemahaman dangkal banyak pihak tentang arti keberhasilan pendidikan, yang lebih berorientasi kepada angka-angka prestasi akademik, dibandingkan sikap jujur dan  keuletan dalam belajar. Belum lagi problem kenakalan remaja, pergaulan bebas, dan tawuran masal dan lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membangun tradisi nilai-nilai unggul dalam penyelenggaraan pendidikan memang tidak mudah, tetapi  itulah sejatinya hakekat pendidikan dan ruhnya yang layak diperjuangkan sekuat tenaga, dan dengan penuh kesugguhan oleh segenap pihak. Jika pendidikan telah kehilangan kejujuran, keuletan,  disiplin, kekeluargaan, kemandirian, dan kesederhanaannya, maka hasil apakah yang diharapkan pendidikan tanpa ruh ini? Keruntuhan bangsa secara perlahan lagi pasti akan terwujud lewat generasi-generasi muda tanpa jati diri dan tanpa sikap mental yang baik. Wallahu a’lam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/382337659859891339-6695319097319823932?l=nuruliman1972.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/feeds/6695319097319823932/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=382337659859891339&amp;postID=6695319097319823932&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/6695319097319823932'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/6695319097319823932'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/2011/06/16-juni-2011-mengarusutamakan.html' title='Mengarusutamakan Pendidikan Nilai'/><author><name>nuruliman1972</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07855832763775638687</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-382337659859891339.post-3897425088367654037</id><published>2011-03-31T21:02:00.000-07:00</published><updated>2011-03-31T21:06:16.039-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Religi'/><title type='text'>SEDERHANA DALAM MENCINTA</title><content type='html'>31 Maret 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEDERHANA DALAM MENCINTA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Nurul IMan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jagad gosip tentang selebriti akhir bulan Maret ini diramaikan dengan kedatangan Anang Hermansyah di pernikahan mantan istrinya Krisdayanti dengan Raul Lemos, serta kehadiran Oki Agustina di pernikahan kedua mantan suaminya Sigit Pasha Ungu dengan Adelia. Berbagai komentar bermunculan seputar  kehebohan tersebut. Seakan melupakan cinta lama yang telah kandas dalam berumah tangga, baik Anang maupun Oki, kelihatan tegar menyempatkan hadir di pesta pernikahan mantan pasangan  masing-masing. Hal yang juga menjadi sorotan adalah, keduanya telah hadir dengan menggandeng “calon" barunya, seakan mempertontonkan bahwa seiring dengan waktu, cinta baru segera akan kembali mengisi  kehidupan mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran Anang dan Oki dalam resepsi pernikahan itu semoga merupakan bentuk kelapangan dada masing-masing. Bukankah kehidupan harus tetap berjalan  meski dalam berkeluarga, mungkin seseorang  pernah gagal dan mengalami perceraian. Hubungan baik antara mantan suami-istri harus diusahakan berlangsung baik-baik saja, apalagi jika telah ada  anak sebagai buah hati pernikahan yang gagal tersebut. Jika hubungan berkeluarga dibangun dengan cinta, maka ketika diakhiri harus pula diiringi dengan kasih sayang. Tidak perlu ada dendam atau permusuhan berkepanjangan, jika setiap mantan ingin hidup bahagia di sisa umurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan berkeluarga memang haruslah dibangun atas dasar cinta, tetapi selayaknya tetap “sederhana”. Kesederhanaan dalam mencintai pasangan, melahirkan sikap adil. Tidak membabi buta yang menghilangkan nalar, sehingga ketika pasangan berbuat salah, seseorang dapat dengan arif menyikapinya. Bukankan pasangan hidup yang terinta tetaplah manusia biasa, makhluk yang jauh dari sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesederhanaan merupakan ajaran Islam yang diperintahkan untuk memupuk kesyukuran seorang muslim dan menumbuhkan sifat qana’ahnya.  Kesederhanaan diperintahkan agama dalam segala sesuatu, bahkan dalam urusan ibadah kita  tetap diperintahkan untuk sederhana, dalam artian  tidak over dan berlebih-lebihan sehingga dapat menimbulkan kebosanan.  Nabi menegaskan “khudzu min al-a’mali maa tathiqun. Fainna Allah la yamallu hatta tamallu” atau “ambillah dari amal ibadah yang kau mampu. Sesungguhnya Allah tidak akan bosan sehingga kalian bosan” (HR. Al-Bukhari: 1823). Selain itu  itu nabi menyebut orang-orang yang berlebih-lebihan akan binasa. Halaka al-munatatti’un (HR. Muslim: 4823). Al-Nawawi dalam Riyad al-Salihin bahkan menulis satu bab dengan judul “bab al-iqtishad fi al-tha’ah”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar tidak tersesat dalam cinta, seorang muslim harus mendasarkan orientasi cinta dan juga bencinya karena Allah. Al-hubbu lilla wa al-bughd lillah. Semuanya karena Allah.  Semua rasa di dada dibangun dalam rangka  mencari ridho Allah. Mencintai istri dan anak misalnya, karena hal itu memang diperintahkan. Mencintai sesama manusia harus dilakukan sehingga keharmonisan hidup dapat digapai. Bukan karena ambisi duniawi yang sempit, tetapi dalam rangka melanggengkan ukhuwah diniyah yang diperintahkan agama. Dengan hal itu, secara otomatis naluri kemanusiaan seorang muslim terlampiaskan, dan di sisi lain kejelasan arah  hidup juga akan tetap didapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesederhanaan dalam mencintai pasangan juga penting agar seseorang tidak terbelenggu patah hati ketika suatu saat harus kehilangan, baik lewat perceraian atau bahkan kematian. Semuanya memang berharap kelanggengan kebersamaan, tapi hal itu tentunya adalah sebuah ketidak mungkinan. Ahbib habibak haunan ma, asa an yakun baghidak yauman ma atau “cintailah tambatan hatimu seperlunya saja, karena bisa jadi ia akan menjadi orang paling kau benci pada suatu hari”, demikian kata pepatah. Sebaliknya, dalam membenci seseorang hendaklah kita juga sederhana. Karena bisa jadi orang yang kita benci suatu saat akan menjelma menjadi orang yang paling kita cintai atau orang yang berjasa dan baik kepada kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sederhana dalam mencintai juga berarti tidak terlalu mengumbar kemesraan di depan publik, apalagi jika belum menikah.  Karena disamping bertentangan dengan agama sehingga mendatangkan murka Allah, hal tersebut juga tidaklah sederhana, dan karenanya seringkali mengada-ngada, seperti halnya dipertontonkan oleh banyak selebriti negeri ini. Teringat dengan sebuah kaidah  fiqh, “mann ista’jala syaian qabla awanih, uqiba bihirmanih” yang berarti “barangsiapa mendahulukan sesuatu (nggege mongso) yang belum waktunya,  maka ia akan dihukum dengan kehilangan hal itu”, saya justru khawatir bahwa mereka yang bermesraan sebelum menikah, justru akan kehilangan kemesraan itu setelah membina rumah tangga. Wallahu a’lam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/382337659859891339-3897425088367654037?l=nuruliman1972.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/feeds/3897425088367654037/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=382337659859891339&amp;postID=3897425088367654037&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/3897425088367654037'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/3897425088367654037'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/2011/03/sederhana-dalam-mencinta.html' title='SEDERHANA DALAM MENCINTA'/><author><name>nuruliman1972</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07855832763775638687</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-382337659859891339.post-7886953534178540844</id><published>2011-02-20T22:50:00.000-08:00</published><updated>2011-02-20T22:53:27.027-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Religi'/><title type='text'>Memanusiakan Idola</title><content type='html'>22 Februari 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEMANUSIAKAN IDOLA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Amalia Sulfana, S.Ag. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika bulan  Rabiul Awwal datang, kaum muslimin Indonesia memperingati maulid Nabi Muhammad SAW.  Momen berharga peringatan rutin tahunan tersebut seakan mengingatkan setiap diri muslim untuk meneguhkan kembali  keimanan kepada Rasulullah (tauhidurrasul) sebagai bentuk konsekwensi logis keimanan kepada Allah SWT (tauhidullah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam maulid nabi kita diingatkan kembali bahwa kita memiliki idola paripurna (qudwah hasanah) yang harus dijadikan rujukan dalam menjalani hidup (al-Ahzab: 21). Saatnya  setiap muslim mematut diri di depan cermin sejarah Muhammad SAW, untuk melihat sejauh mana kesamaan penampilan dan kemiripan perilaku dirinya dibandingkan nabi. Bukankah kesamaan keadaan setiap muslim terhadap rasul merupakan jaminan yang menyelamatkan seorang di hari Akhir kelak dan membimbingnya untuk hidup penuh kesadaran  sesuai dengan penggalan ayat tersebut, yakni ”liman kana yarju Allah, wa al-yaum al-akhir” (bagi siapa saja yang berharap ridho Allah dan keselamatan di hari Akhir dan mau berdzikir kepadaNya dengan sebanyak-banyaknya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengambil hikmah (pelajaran) dari setiap peristiwa kehidupan merupakan keharusan bagi setiap muslim, termasuk dalam konteks maulid. Al-hikmah dhallat al-mu’min, anna wajadaha akhadzaha yang berarti ”hikmah merupakan sesuatu yang hilang dari seorang muslim, jika menemukannya di manapun juga, ia harus memungutnya”. Mengambil hikmah dalam memperingati maulid ini haruslah  dikedepankan, sehingga ia tidak terjebak rutinitas tahunan atau formalitas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maulid (kelahiran) nabi menegaskan sisi kemanusiaan Rasulullah. Bukankan empat puluh tahun umur Muhammad dilalui bukan sebagai rasul dan merupakan dua pertiga hidupnya. Masa-masa sebelum kenabian, jika ditelaah secara mendalam merupakan  masa-masa Muhammad sebagai manusia biasa, yang dilalui dengan mempraktikkan akhlak terpuji, penuh perjuangan hidup, dan pencarian jati diri yang berakhir sukses.  Kesuksesan hidup Muhammad sebelum diterimanya risalah tersebut berperan besar dalam kesuksesan dakwah Islam. Hal ini berarti, bahwa mengambil inspirasi hidup dan tauladan dari kehidupan Muhammad SAW, dengan demikian dapat dilakukan secara utuh, bahkan dari kehidupan beliau sebelum menjadi rasul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah diangkat menjadi Rasul, Muhammad tetaplah seorang manusia yang diberikan kepadanya wahyu. Predikat utusan Allah tidak menghilangkan sisi kemanusiaan beliau. Ibarat sebuah koin, yang kedua sisinya tidak terpisahkan, maka sosok Muhammad Rasulullah satu bagiannya adalah sebagai Rasul dan pada bagian lain tetaplah manusia biasa. Dalam Al-Quran (Fussilat: 6) Allah SWT memerintahkan Muhammad untuk mengatakan ”qul Innama ana basyar mistlukum” atau sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia seperti kalian.Yang membedakan adalah bahwa Muhammad SAW diberikan wahyu ilahi yang mengajak manusia mengesakah Allah sebagai ditegaskan ”yuha ila annama ilahukum ilah wahid”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan bahwa Muhammad SAW tetaplah sebagai manusia biasa disamping kenabiannya  dan bukan makhluk langit (malaikat) memberikan pengertian bahwa untuk meneladani kehidupan  Muhammad dan sunnahnya bukanlah sesuatu yang mustahil karena nabi dan kita adalah manusia yang sama. Karena itu cara beliau makan-minum, berjalan, bergaul, berkeluarga, berbisnis,  atau bahkan tidur sekalipun, adalah qudwah yang bisa diteladani dalam kehidupan manusia, disamping aspek-aspek ibadah dan keyakinan yang telah dimaklum kewajiban ittiba’ di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, sisi kemanusiaan Rasulullah juga menegaskan kewajiban kita untuk menghormati dan mencintainya secara benar tanpa berlebihan sehingga terjebak dalam kultus yang dilarang (al-ithra’). Dalam sebuah hadith yang diriwayatkan al-Bukhari, Rasulullah melarang para sahabatnya untuk berlebihan memujinya. La tathruni kama athrat al-nashara ’Isa ibn Maryam (janganlah kalian memujiku berlebihan seperti halnya kaum nasrani melakukan hal itu kepada Maryam). Selanjutnya, beliau memerintahkan pada sahabat untuk memanggilnya hanya sebagai hamba Allah (’abdullah) dan rasulNya (rasuluh). Dalam hadith lain yang diriwatkan Ibn Majah dan Nasa’i, Rasul juga melarang perilaku al-ghuluw fi al-din (berlebihan dalam beragama). Meski hal ini berkonotasi umum, tetapi cara  bersikap terhadap rasul dapat dimasukkan di dalamnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menghindari kultus,  mengutip Syafiq A. Mughni (dalam MATAN Edisi 55 Februari 2011), kita perlu mencermati keyakinan  kita terhadap Muhammad SAW, apakah telah bersumber kepada al-Qur’an dan hadith.  Di luar hal tersebut, hanyalah spekulasi atau imajinasi yang disebut sebagai mitos atau takhayul (hayalan) yang menarik untuk dikaji dan tidak perlu dipercaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Rasulullah memerintahkan para sahabat dan umatnya untuk tidak berlebihan memuja dirinya, meski beliau adalah manusia ma’shum (dijaga Allah), maka  demikian pula seharusnya sikap kita terhadap idola-idola baru berupa politisi, ilmuwan, tokoh agama, artis, maupun yang lainnya. Cara kita memperlakukan dan menghormati mereka hendaknya harus tetap rasional dan tidak terjebak kultus. Hal ini penting agar kemurnian tauhid kita tetap terjaga. Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Guru PAI SMAN 1 Babadan Ponorogo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/382337659859891339-7886953534178540844?l=nuruliman1972.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/feeds/7886953534178540844/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=382337659859891339&amp;postID=7886953534178540844&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/7886953534178540844'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/7886953534178540844'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/2011/02/memanusiakan-idola.html' title='Memanusiakan Idola'/><author><name>nuruliman1972</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07855832763775638687</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-382337659859891339.post-8538823475680520459</id><published>2011-01-10T14:50:00.000-08:00</published><updated>2011-01-17T18:37:14.451-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Penelitian'/><title type='text'>Wakaf dan Kemandirian Pesantren</title><content type='html'>10 Januari 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WAKAF DAN KEMANDIRIAN PESANTREN&lt;br /&gt;(PEMBERDAYAAN WAKAF DI PONDOK MODERN DARUSSALAM &lt;br /&gt;GONTOR PONOROGO)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Latar Belakang&lt;br /&gt;Pesantren diinisiasi sebagai lembaga asli dan khas Indonesia,  yang melakukan fungsi-fungsi tradisionalnya, berupa: pertama, transmisi dan transfer ilmu-ilmu Islam; kedua, pemeliharaan tradisi Islam; dan ketiga, reproduksi ulama.  Fungsi  tersebut menurut Azra (1997) dapat ditingkatkan sehingga pesantren  menjadi agen perubahan dan pembangunan kemasyarakatan melalui upaya pembaruan  yang diarahkan pada refungsionalisasi pesantren sebagai salah satu pusat penting pembangunan masyarakat. Berkaitan dengan hal ini, pesantren diharapkan tidak lagi hanya memainkan tiga fungsi tradisional tersebut, tetapi juga menjadi pusat penyuluhan kesehatan, pusat pengembangan teknologi, pusat usaha pelestarian lingkungan, dan pusat pemberdayaan ekonomi. &lt;br /&gt;Perjalanan sejarah bangsa ini telah meneguhkan   fungsi dan peran yang telah dimainkan oleh institusi pesantren dan para santrinya. Indegenousitas (keaslian) pesantren yang berbasis masyarakat  serta kemandiriannya turut memelihara kontinuitas pesantren dan daya tahannya. Diantara pesantren yang dapat dianggap berhasil mengembangkan kemandiriannya adalah Pondok Modern Darussalam Gontor   (selanjutnya disebut PMDG). Pesantren  yang telah berusia 84 tahun ini, sejak awal telah menanamkan jiwa kemandirian bagi dirinya, santri, dan alumninya (Kailani 2002: v). Karenanya, Panca Jiwa  Pondok yang ketiga adalah ”berdikari”, dan salah satu Orietasi pendidikannya adalah tidak berpartai. Sedangkan diantara Falsafah dan Motto kelembagaan adalah ”PMDG berdiri di atas dan untuk semua golongan” (Syukri, 2005a: 101-107). &lt;br /&gt;PMDG sejak awal juga telah  menyebut dirinya sebagai ”pesantren wakaf”. Pada tahun 1958, secara resmi pesantren ini telah diserahkan kepada masyarakat yang diwakili oleh Badan Wakaf. Hal ini berakibat pada perubahan kepemilikan  pondok, dari milik pribadi menjadi miliki institusi. Ahli waris tidak lagi mempunyai hak. Pengelolaan  pondok tidak lagi menjadi dominasi keluarga pendiri atau kyai. Faktor penentu pengangkatan kepemimpinan didasarkan pada kecakapan dan kelayakan yang diatur dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga setiap lembaga yang ada di Pondok. &lt;br /&gt;Sejak diwakafkan, PMDG terus mengalami perkembangan yang menggembirakan. Jumlah aset dan kekayaan Pondok terus meningkat,  demikian pula animo masyarakat untuk menuntut ilmu di lembaga ini terus tumbuh. Tercatat hingga saat ini PMDG memiliki 12 buah pondok cabang di  Jawa, Sumatra, dan Sulawesi. Hingga akhir 2009, aset tanah yang dimiliki berjumlah 825,184 hektar. Unit usaha yang dikelola Yayasan Pemeliharaan dan Perluasan Wakaf Pondok Modern (selanjutnya disebut YPPWPM) berjumlah  30 buah. Adapun jumlah santri Pondok Modern Gontor dan kesepuluh cabangnya hingga  Desember 2009, adalah 17.493 orang santri dengan 1.897 orang guru.&lt;br /&gt;Dalam konteks di Indonesia, kenyataan tersebut cukup menarik, apalagi jika dikaitkan dengan wakaf  dan pengelolaannya di pesantren, serta pengembangan kemandirian di dalamnya. Dengan demikian, studi terhadap pengelolaan wakaf  di pesantren semisal PMDG mendapatkan tempatnya, agar pengalaman yang dimiliki dapat dijadikan acuan dan model.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;B. Rumusan Masalah&lt;br /&gt;Rumusan permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Bagaimanakah upaya-upaya yang dilakukan oleh PMDG dalam memberdayakan wakaf dan  aset-aset yang ada? &lt;br /&gt;2. Bagaimanakah hubungan pemberdayaan wakaf dan kemandirian  PMDG? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Tujuan&lt;br /&gt;Penelitian ini bertujuan untuk:&lt;br /&gt;1. Mendeskripsikan upaya-upaya yang dilakukan oleh PMDG dalam mengelola wakaf dan aset-asetnya. &lt;br /&gt;2. Mendeskripsikan  hubungan pengelolaan wakaf PMDG dan kemandirian  yang dikembangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Signifikansi&lt;br /&gt;1. Penelitian ini diharapkan memberi gambaran tentang upaya-upaya yang dapat dilakukan oleh pesantren dalam memberdayakan aset wakaf yang dimiliki sebagaimana telah dilakukan oleh PMDG.&lt;br /&gt;2. Penelitian ini juga memberikan gambaran yang jelas tentang hubungan pengelolaan wakaf dengan kemandirian yang dikembangkan dalam PMDG. Kajian ini pada akhirnya diharapkan memberi sumbangan pemikiran dalam pengembangan kemandirian lembaga pesantren. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Metode Penelitian&lt;br /&gt;Dalam mengungkap data tentang pengelolaan wakaf di PMDG digunakan penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pendekatan model ini  berusaha untuk mengkaji dan masuk ke dalam dunia makna yang terkonstruksi (terkonsep) dalam individu atau kelompok yang kemudian digejalakan  dalam bentuk fenomena (Fathan: 2005). Dengan pendekatan ini, berbagai makna yang dikontruksi  oleh individu maupun institusi dalam  tindakan pengelolaan wakaf diharapkan dapat diungkap.  Bidikan peneliti  dalam peneltian ini mengarah pada:  1). Upaya mengungkap dan memahami pengelolaan wakaf; 2). Upaya untuk bisa masuk kedalam   dunia konseptual  dari subjek penelitian untuk memahami makna yang dikontruksi subjek seputar pengelolaan wakaf dikaitkan dengan kemandirian institusi PMDG.&lt;br /&gt;Sumber data dalam penelitian lapangan ini adalah YPPWPM,  sebuah lembaga yang khusus dibentuk untuk mengelola wakaf di PMDG. Sumber primernya berupa hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi   terhadap yayasan tersebut. Sedangkan sumber sekundernya adalah seluruh kepustakan pendukung yang memiliki keterkaitan  dan dapat memperkuat data-data primer.&lt;br /&gt;Data tentang pengelolaan wakaf di PMDG, akan digali melalui  teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi.  Wawancara dilakukan terhadap para nadzir untuk menggali data-data terbaru sekaligus mengklarifikasi temuan dalam observasi dan dokumentasi. Observasi  dilakukan dengan mengamati dan mencatat aktivitas pengelolaan wakaf yang telah dilakukan oleh PMDG dan YPPWPM dalam bentuk administrasi aset, pengamanan, maupun pengembangannya. Sedangkan dokumentasi dipergunakan untuk menelaah data-data yang ada di YPPWPM Gontor Ponorogo, baik yang berupa catatan, transkrip, buku-buku, surat kabar, dan yang lainnya.&lt;br /&gt;Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analitis. Dalam hal ini, analisis data yang demikian mengikuti apa yang dikemukakan Bogdan dalam  Muhadjir (1989:171), yakni analisis akan dilakukan baik di lapangan maupun setelah meninggalkan lapangan. Analisis saat di lapangan menggunakan tehnik induksi-analitik. Data yang yang telah terkumpul langsung dianalisis di lapangan untuk mengembangkan deskripsi atau hasil penelitian sementara.  Langkahnya dimulai dengan  melakukan pertanyaan, mencari jawab dengan wawancara mendalam  dan/atau observasi, menganalisis, mengembangkan pertanyaan, untuk memperoleh jawaban dan seterusnya (Bungin, 2008: 146).  Analisis setelah di lapangan  akan dilakukan dengan mengkategori, menemukan konsep-konsep data  yang diperoleh (Stuart S. Schegel, 1977: 10-19). Data dalam catatan lapangan, akan dianalisis dengan cara melakukan penghalusan bahan empirik yang masih kasar ke dalam laporan.  Selanjutnya diadakan penyederhanaan  data menjadi beberapa unit informasi yang rinci tetapi sudah terfokus. &lt;br /&gt;Dengan demikian laporan lapangan yang detail akan mudah dipahami, dicarikan makna sehingga ditemukan pikiran tersembunyi pengelolaan wakaf di PMDG Ponorogo (interpretasi) dan akhirnya dapat diciptakan suatu konsep (konseptualisasi). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Pesantren dan Kemandirian&lt;br /&gt;Pesantren atau pondok pesantren  dapat didefinisikan sebagai lembaga pendidikan agama Islam dengan sistem asrama atau pondok, dimana kyai sebagai figur sentralnya, masjid sebagai pusat kegiatan yang menjiwainya dan pengajaran agama Islam dibawah bimbingan  kyai yang diikuti santri sebagai kegiatan utamanya. Di antara unsur-unsur pesantren menurut Imam Zarkasyi, salah satu pendiri Gontor, adalah :&lt;br /&gt;1. Kyai. Fungsi kyai sebagai central figur (uswah h}asanah) yang berperan sebagai guru (mu’allim), pendidik (murabbi) dan pembimbing (mursyid) &lt;br /&gt;2. Santri&lt;br /&gt;3. Asrama. Pesantren harus berbentuk asrama (full residential islamic boarding school). &lt;br /&gt;4. Masjid sebagai pusat kegiatan&lt;br /&gt;5. Materi yang diajarkan (tidak terbatas kepada kitab kuning saja) (Syukri, 2005a: 67-71).&lt;br /&gt;Unsur-unsur tersebut merupakan ciri umum lembaga pesantren. Sedangkan ciri khususnya berupa  sifat kharismatik dan suasana keagamaan yang mendalam. Kedua ciri tersebut membedakan pesantren dari lembaga pendidikan lainnya (Nasir, 2005: 82). &lt;br /&gt;Pondok pesantren mempunyai andil yang sangat besar sebagai sub sistem pendidikan dan pembangunan sosio kultural di Indonesia.  Kesuksesan pesantren dalam melahirkan generasi-generasi pemimpin merupakan “persembahan” berharga  untuk bangsa ini. Ciri khas para alumni pesantren yang mukhlis, bermental pejuang, ulet, dan mandiri disebabkan sistem pendidikan pesantren yang memang berbeda dan kemandiriannya dalam berbagai hal. Kemandirian politik pesantren tentu tidak terlepas dari faktor kemandirian ekonomi, dimana pesantren mampu menerapkan prinsip “self-help” dalam menggerakkan roda aktivitasnya (www.gusmus.net).  Pesantren tidak menyandarkan kelangsungan hidupnya kepada bantuan atau belas kasihan pihak lain (Syukri, 2005a: 102).&lt;br /&gt;Kemandirian   yang merupakan salah satu nilai yang dikembangkan dan ditransformasikan dalam dunia pesantren memiliki akar historis  sejarah dari proses islamisasi di Jawa dan kepulaun Nusantara.  Pesantren sendiri merupakan adopsi terhadap nama lembaga dan sistem pendidikan yang terdapat dalam masa pra Islam. Kenyataan ini adalah bukti bahwa islamisasi di Indonesia bersifat akomodatif terhadap budaya lokal yang berkembang, dan keberadaan pesantren  dijadikan salah satu kekuatan untuk menopang proses islamisasi tersebut. Proses islamisasi di negeri ini yang lebih bersifat “dari bawah” melalui proses perniagaan dan sufi dianut oleh kebanyakan sejarawan, dan bukan “dari atas” melalui proses islamisasi kekuasaan semisal hinduisasi kerajaan-kerajaan nusantara pada abad ke-4 dan ke-5  sebagaimana direkontruksi oleh Van Leur (Haidari, 2004: 185).  &lt;br /&gt;Pada masa penjajahan kolonial, pesantren telah menjadi benteng perlawanan terhadap penjajah kolonial dan telah melahirkan tokoh-tokoh perjuangan. Pesantren pada masa ini lebih bersifat oposan dan jauh dari pengaruh pemerintah kolonial. Lembaga pesantren  kerap dijadikan basis perlawanan  terhadap kolonial. Pengaruh agama telah memainkan perannya dalam motivasi perlawanan rakyat dengan semangat perang Sabilillah (Mas’ud: 2002).   &lt;br /&gt;Sejarah panjang lembaga pesantren yang selama masa kolonial berada di wilayah periverial dan termarginalkan oleh pusat kekuasaan tersebut telah membuat kekuatan tersendiri dalam bentuk kemandirian pesantren yang hingga kini  tetap teruji. Kemandirian pesantren sebagai sebuah lembaga pendidikan berbasis pedesaan dan dukungan masyarakat dapat dilihat dari berbagai aspek baik sosial budaya, politik, maupun ekonomi.  Aspek-aspek kemandirian pesantren  tersebut  juga didukung oleh watak indigenous (keaslian) pesantren berupa keikhlasan, zuhud, dan kecintaan pada ilmu sebagai bentuk ibadah (Haidari, 2004: 188).&lt;br /&gt;Kemandirian pesantren seakan mendapatkan ujiannya saat  terdapat banyak subsidi  dan bantuan diberikan kepada pesantren. Pada tahun 2004, pemerintah menganggarkan dana sebesar 2 trilyun rupiah untuk meningkatkan mutu pendidikan pesantren yang tersebar di seluruh Nusantara. Berkenaan hal ini, Haidari mengkhawatirkan jika tidak disertai dengan manajemen yang baik,  alih-alih membawa kebaikan, subsidi tersebut justru dapat mengancam watak kemandirian yang selama ini menjadi kekuatannya (Haidari, 2004: 184). Ini berarti, bahwa sikap kemandirian pesantren akan berganti dengan kebergantungan pada  pihak lain .  Kondisi perpolitikan nasional kontemporer  yang melibatkan pesantren menurut Amnur (2009) tidak kalah mengkhawatirkan. Pesantren menjadi bagian dari vote getter yang menggiurkan untuk dilirik, didekati, dan diperebutkan. Pesantren yang tadinya berfungsi juga menjadi kawah candradimuka untuk tafaqquh fi al-din bagi para santri, dapat terganggu konsentrasinya, karena beralih pada masalah politik dan kekuasaan.&lt;br /&gt;Nilai-nilai kehidupan termasuk kemandirian, idealnya ditulartanamkan pesantren kepada para santrinya dalam pendidikan dan pengajaran. Menurut Nasir (2005: 89) secara menyeluruh, sistem pendidikan dan pengajaran pesantren hendaknya mencakup agama, mental, intelektualitas, dan ketrampilan kerja.   Diharapkan dengan paduan ini akan dilahirkan tenaga-tenaga produsen, dan bukan tenaga konsumen.  &lt;br /&gt;Paradigma baru pendidikan nasional menurut Basyuni (2005) memberikan kesempatan kepada pesantren untuk  mengembangkan pendidikan agama yang bertumpu pada tiga hal, yaitu kemandirian, akuntabilitas, dan jaminan mutu. Kemandirian diarahkan pada pemberian otonomi kurikulum, pengembangan program, performansi akademik, dan pembinaan akademik.&lt;br /&gt;Dalam rangka meningkatkan kemandirian pesantren dan perannya untuk ummat, M. Ali  menyebut sedikitnya ada tiga hal yang harus dimiliki. Pertama, adalah pengembangan sumber daya manusia baik pengurus, ustadz atau kyai, dan santri. Kedua, penataan lembaga pesantren untuk mengantisipasi kebutuhan  masyarakat yang terus berkembang. Penguasaan ajaran Islam, ilmu pengetahuan, bahasa, dan teknologi menjadi mutlak. Ketiga, melakukan upaya mencari dana melalui berbagai kegiatan seperti agribisnis, peternakan, perdagangan, koperasi, dan sebagainya, baik yang ada di lingkungan pesantren maupun di lingkungan sekitarnya. &lt;br /&gt;Dari uraian terdahulu dapat dipahami bahwa kemandirian pesantren memiliki makna ketidakbergantungan pesantren kepada siapapun sehingga memiliki ”kemerdekaan” untuk menentukan hidupnya . Kemandirian ini berdimensi cukup luas. Bentuknya dapat berupa kemandirian dalam politik, ekonomi, sosial, maupun dalam sistem pengajaran.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Wakaf Untuk Kemandirian &lt;br /&gt;Wakaf sebagaimana didefinisikan oleh Ibn Qudamah berarti ”menahan asal dan mengalirkan hasilnya” (habs al-asl wa tasbil al-tsamrah) (al-Kabisi, 2004: 61). Hal ini berarti bahwa harta pokok wakaf ditahan, sedangkan manfaat dan hasilnya dapat dibelanjakan. Dalam rangka  mengalirkan manfaat tersebut, Undang Undang no. 41 Tahun 2004  mengamanatkan agar wakaf menjadi produktif dan tidak konsumtif, sehingga memiliki dampak bagi penanggulangan persoalan ekonomi ummat dan dapat mensejahterakan mereka (Suyono, 2007: 2-3). &lt;br /&gt;Muhammad Fuad (2008: 69) menyatakan bahwa institusi wakaf berpotensi  besar menjadi sumber kesejahteraan umat jika mereka mampu mengelola wakaf secara self fulfilling (memenuhi kebutuhan sendiri), autonomous (otonomi), sustainable (keberlanjutan), lepas dari komersialisasi pasar dan pengelolaan negara yang berintegrasi dengan sistem riba perbankan. Dalam hal ini umat Islam harus menyadarinya. &lt;br /&gt;Dalam perjalanan sejarah umat Islam, wakaf telah berperan sebagai sarana dan modal  yang secara nyata memberikan sumbangan besar bagi kesejahteraan umat. Wakaf telah berfungsi sebagai ”penyangga kemandirian” (Syukri, 2005b: 97).  Hasanah  (2009) menyebut dalam sejarah Islam terdapat banyak program yang didanai wakaf baik yang berkaitan dengan kegiatan keagamaan, pengembangan ilmu pengetahuan, maupun sosial kemasyarakatan. &lt;br /&gt;Mustafa Edwin (2006) dalam Republika  (20-2-2006) menyebut tiga buah strategi (triple strategy) pembangunan ekonomi syariah yang mampu mendukung kemandirian ekonomi sebuah negara. Diantaranya melalui optimalisasi zakat dan wakaf sebagai investment safety net (jaminan investasi) .  Menurutnya, adalah wajar jika dalam melakukan kegiatan usaha, para pelaku usaha mengalami kerugian. Potensi zakat dan wakaf sangat besar di Indonesia dapat dimanfaatkan untuk cadangan jaminan kerugian investasi. Secara fikih, mereka yang mengalami kerugian dapat digolongkan ke dalam gharimin, sehingga berhak memperoleh zakat.&lt;br /&gt;Dalam implementasinya, ada berbagai cara yang bisa ditawarkan sebagai langkah terobosan dalam pengelolaan dan pemberdayaan kelembagaan wakaf. Program yang dipilih idealnya tidak bergerak dalam satu sektor saja seperti pendidikan, tetapi  juga bergerak kearah program pengembangan masyarakat, peningkatan partisipasi publik, dan advokasi kebijakan yang memihak pada masyarakat lemah (Tuti, 2006: 23). &lt;br /&gt;Imam Suhadi menambahkan bahwa  tanah wakaf dapat digunakan sebagai salah satu  sarana pengembangan kehidupan keagamaan, khususnya umat Islam Indonesia dalam rangka mencapai kesejahteraan  materiil dan spirituil menuju masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila (Suhadi, 2002: 135). &lt;br /&gt;Berkenaan dengan pengelolaan wakaf, nadzir tentu memiliki perannya yang sentral.  Pesantren yang merupakan lembaga pendidikan keagamaan dapat menjadi nadzir Wakaf   badan hukum sebagaimana disebutkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2004. Tugas Nadzir selanjutnya adalah: a) melakukan pengadministrasian harta benda wakaf; b) mengelola dan mengembangkan harta benda wakaf sesuai  dengan tujuan, fungsi,  dan   peruntukannya; c) mengawasi dan melindungi  harta benda wakaf;  d) melaporkan pelaksanaan  tugas  kepada Badan Wakaf Indonesia. Dengan mencermati tugas nadzir tersebut, menurut Asmuni (2007:70) profesionalisme nadzir merupakan tuntutan yang tidak bisa ditawar dalam melaksanakan amanah pengelolaan harta wakaf  secara produktif.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Wakaf  dan Kemandirian PMDG&lt;br /&gt;1. Sejarah dan Perkembangan PMDG&lt;br /&gt;Pondok Modern Gontor adalah sebuah lembaga  pesantren yang terletak di Gontor, sebuah desa berjarak 11 km arah tenggara dari kota Ponorogo, tepatnya berada di Kecamatan Mlarak Ponorogo. Pondok Gontor memiliki sejarah yang panjang, dan memiliki keterkaitan dengan Pondok Tegalsari. Berdirinya pesantren ini mengalami dua fase, Pesantren Gontor Lama dan Pesantren Gontor Baru (Pondok Modern Gontor).&lt;br /&gt;Fase Pertama, Pesantren Gontor lama diawali dari usaha Kyai Sulaiman Jamaluddin untuk mendirikan Pondok Gontor sebagai pelaksanaan amanat mertuanya Kyai Chalifah, pimpinan Pesantren Tegalsari.  Sulaiman sendiri adalah cucu pangeran Hadiraja, Sultan Kasepuhan Cirebon. Berbekal 40 orang santri, pesantren Gontor berhasil didirikan dan terus berkembang pesat, terutama pada masa Kyai Archam Anom Besari. Para santri berdatangan dari berbagai daerah di Jawa termasuk Jawa Barat. Sepeninggal Kyai Archam, kepemimpinan dilanjutkan oleh putranya  Santoso Anom Besari yang merupakan generasi ketiga pendiri, Gontor Lama mulai surut. Jumlah santri hanya tinggal sedikit dan mereka hanya belajar di sebuah masjid kecil.  Sepeninggal Kyai Santoso, masa kejayaan Gontor Lama sirna. Diantara  sebab kemundurannya adalah kurang diperhatikannya usaha kaderisasi (Syukri, 2005b: 62-65). &lt;br /&gt;Fase kedua, Pondok  Gontor Baru (Pondok Modern Gontor). Demi keinginan  melanjutkan perjuangan dan menghidupkan kembali Pondok Gontor,  Nyai Santoso mengirimkan ketiga putranya (Ahmad Sahal, Zainuddin Fannani, dan Imam Zarkasyi)  ke beberapa pesantren untuk memperdalam ilmu agama. Berkat  pendidikan, pengarahan, dan do’a tulus ikhlas dari sang ibu, akhirnya Allah membuka hati ketiga putra tersebut  untuk berusaha membangkitkan kembali pesantren Gontor.  Keruntuhan akhlak, kemunduran pendidikan, dan kemiskinan yang merupakan dampak penjajahan Belanda saat itu, turut memperteguh semangat mereka. Dengan niat bulat dan modal ”warisan” berupa  masjid tua dan sedikit tanah peninggalan orang tua mereka, maka pada tanggal 20 September 1926 M/12 Rabiul Awwal 1345 H, di dalam peringatan Maulid Nai SAW dan dihadapan masyarakat yang hadir saat itu, dideklarasikan pembukaan kembali Pondok Gontor. &lt;br /&gt;Diantara langkah-langkah membangkitkan Pesantren Gontor  adalah dengan menata kembali penyelenggaraan pendidikan formal di dalamnya.  Program “Tarbiyatu Al-At}fa&gt;l” (TA) didirikan pada tahun 1926.  Pada tahun 1932, didirikan “Sullamul Muta’allimi&gt;n” yang merupakan kelanjutan TA.  Pada 1936 didirikan Kulliyatu al-mu’allimi&gt;n al-Isla&gt;miyah (KMI) sepulang Kyai Imam Zarkasyi dari belajar dari Pesantren Thawalib di Sumatra Barat, bersamaan dengan peringatan 10 tahun Pondok Gontor. Program pendidikan baru ini dipercayakan kepada  KH. Imam Zarkasyi yang sebelumnya pernah memimpin sekolah serupa, yaitu Mu’allimat Muhammadiyah di Padang Sidempuan, Sumatera  Utara.  KMI adalah sekolah guru Islam  semodel  sekolah Noormal Islam di Padang Panjang, tetapi dipadukan dengan pondok pesantren.  Pada tahun 1963, Pondok Gontor mengadakan pendidikan tinggi yang bernama Perguruan Tinggi Darussalam (PTD), yang kemudian diubah menjadi Institut Pendidikan Darussalam (IPD), dan selanjutnya  Institut Studi Islam Darussalam (ISID).  &lt;br /&gt;Kepemimpinan Pondok Gontor dikelola secara kolektif oleh Trimurti. Generasi Pertama Trimurti  adalah para pendiri pesantren ini, yakni KH. Ahmad Sahal (1901-1977), KH. Zainuddin Fannani (1908-1967), dan KH. Imam Zarkasyi (1910-1982. Kepemimpinan berlanjut hingga meninggalnya seluruh Trimurti pendiri pada tahun 1985. Saat ini, kepemimpinan  berada di tangan generasi Trimurti kedua, yakni KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, KH. Hasan Abdullah Sahal, dan KH. Syamsul Hadi Abdan.  Sebelum Kyai Syamsul Hadi,  secara berurutan terdapat KH. Shoiman Luqmanul Hakim (w. 1999) dan  KH. Imam Badri (w. 2006), yang mendampingi  Kyai Syukri dan Kyai Hasan Abdullah sebagai Trimurti Pimpinan Pondok Modern Gontor (gontor.ac.id). &lt;br /&gt;Penamaan pesantren Gontor  dengan Pondok Modern Gontor diberikan masyarakat saat peringatan 10 tahun pondok tersebut. Nama aslinya Adalah Da&gt;russalam yang berarti Kampung Damai.  Sebutan  modern terhadap Pondok Gontor yang kemudian melekat pada lembaga ini disebabkan usaha-usaha pembaruan pesantren dalam pendidikan dan sistemnya.  Usaha modernisasi sistem dan kelembagaan pesantren  yang dilakukan Gontor terinspirasi oleh “Sumatra Thawalib” dan “Noormal Islam” (KMI – ITC) dipadukan dengan sistem pengajaran modern ala “T}ari&gt;qah h}adi&gt;tsah”. Pesantren ini juga memberikan penekanan  pada penguasaan ilmu umum dan ilmu agama secara bersamaan.&lt;br /&gt;Aspek pembaharuan penyelenggaraan pendidikan di PMDG meliputi beberapa aspek, yakni : 1) kelembagaan dan Organisasi ; 2) Managemen ;  3) Kurikulum ; dan 4) Metodologi  (Syukri, 2005a: 110-154).  &lt;br /&gt;PMDG berusaha mewariskan nilai, idealisme, jiwa dan  filsafat hidup para pendiri Pondok kepada pada santri dalam pendidikannya, berupa Panca Jiwa Pondok Pesantren, Motto, Falsafah Kelembagaan dan Pendidikan, serta Orientasi Pondok. Panca Jiwa PMDG meliputi: Jiwa Keikhlasan, Jiwa Kesederhanaan, Jiwa Berdikari, Jiwa Ukhuwah diniyyah, dan Jiwa Bebas. Motto Pondok berupa: berbudi Tinggi, Berbadan Sehat, Berpengetahuan luas, dan Berpikiran Bebas. Diantara Falsafah yang berusaha ditanamkan adalah: “PMDG berdiri di atas dan untuk semua golongan”; “Pondok itu milik umat, bukan milik kyai”; “Berani hidup tak takut mati, takut mati jangan  hidup, takut hidup mati saja”; dan lain sebagainya. Sedangkan orientasi Pendidikan Pondok meliputi: kemasyarakatan, hidup sederhana, tidak berpartai, dan Iba&gt;dah t}alab al-‘ilm  (Syukri, 2005: 101-107).   &lt;br /&gt;Menurut Imam Sukadi, nilai, idealime, jiwa, filsafat hidup tersebut mulai ditanamkan Trimurti Pendiri Pondok sejak awal pendirian TA, dan menjadi sunnah  yang terus dihidupkan oleh para pimpinan  sesudah mereka.  Dalam kesemuanya itu tercermin sikap kemandirian PMDG dan ketidakbergantungannya kepada pihak lain. Kemandirian yang berusaha diwujudkan oleh PMDG adalah kemandirian secara menyeluruh,   meliputi kemandirian kurikulum dan sistem pendidikan, kemandirian sosial politik, kemandirian pendanaan dan ekonomi. Bantuan dari pihak lain dapat diterima jika tanpa adanya syarat yang mengikat. Kenyataan ini lanjut Sukadi tidak bertentangan dengan kemandirian, selama PMDG tidak mengandalkan dan menggantungkan hidupnya dari bantuan tersebut . &lt;br /&gt;Perkembangan PMDG dan asetnya cukup menggembirakan dalam dua dasa warsa terakhir. Pesantren ini bahkan telah membuka cabang-cabangnya di banyak tempat di Indonesia.   Adapun jumlah santri Pondok Modern Gontor dan keduabelas cabangnya hingga  Desember 2009, adalah 17.493 orang santri dengan 1.897 orang guru.  Dari jumlah tersebut, sebanyak 4.180 orang santri dan 435 orang guru berada di kampus pusat, Gontor Ponorogo.   Kenyataan ini menunjukkan bahwa telah terjadi dinamika yang signifikan dalam manajemen PMDG.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2&gt;. Pemberdayaan Wakaf  di PMDG &lt;br /&gt;Praktek wakaf di Pondok Modern Gontor diawali dari pemahaman bersama Trimurti Pendiri Gontor,  bahwa pondok bukanlah lahan bisnis tetapi merupakan lahan beramal dan pengabdian sosial. Pondok adalah milik seluruh umat Islam dan bukan milik keluarga, dan karenanya, maju mundurnya pondok pada masa mendatang tergantung pada kesadaran umat Islam sendiri sebagai pemiliknya. Sebuah pemikiran yang tentunya sangat langka dalam tradisi pesantren di Indonesia.  Telaah mendalam terhadap nasib beberapa pesantren yang punah di tanah air dan lembaga-lembaga pendidikan idaman  yang mampu bertahan hingga ratusan tahun mendorong Trimurti menempuh jalur wakaf. Secara umum upaya-upaya pemberdayaan wakaf di PMDG adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;a. Penataan Organisasi Wakaf dan Pondok&lt;br /&gt;Untuk “menyerahkan” Gontor kepada ummat, maka diikrarkanlah untuk pertama kalinya wakaf pesantren Gontor pada tahun 1951 bertepatan dengan ulang tahun seperempat abad pondok. Untuk memberikan  ketetapan hukum, maka pada 12 Oktober 1958  Trimurti menandatangani Piagam Penyerahan Wakaf PM Gontor Ponorogo kepada 15 orang wakil IKPM (Ikatan Keluarga Pondok Modern)  --yang selanjutnya disebut Badan Wakaf--, disaksikan oleh Menteri Agama KH. M. Ilyas, Gubernur Jatim Samadikun, dan Panglima TTV Brawijaya Kol. Syarbini.  &lt;br /&gt;Aset wakaf yang diserahkan pada saat itu  berupa sawah seluas 1,74 ha tanah kering seluas 16,85 ha, dan 12 gedung beserta perlengkapannya (satu masjid, dua gedung sekolah, satu balai pertemuan, enam asrama santri, satu perumahan guru, dan satu gedung perpustakaan) yang keseluruhannya memiliki luas 4995,73 m2. Disamping itu terdapat harta wakaf  yang secara tidak langsung ikut diserahkan dalam piagam wakaf tersebut, yakni berupa sekitar 40 pohon kelapa milik KH. Ahamd Sahal yang tumbuh di area pondok. Wakaf juga tidak termasuk sawah seluar 8 ha yang diwakafkan untuk guru dan dikelola secara terpisah. Disamping itu, rumah dan percetakan yang berada di kompleks pondok juga tidak diwakafkan.&lt;br /&gt;Secara umum, ketentuan pelaksanaan perwakafan pesantren Gontor Ponorogo  ini adalah :&lt;br /&gt;1. Wakaf diberikan kepada alumni dan keluarga yang dianggap tahu visi, misi PMDG, serta menghayati sunnah, nilai dan disiplinnya.&lt;br /&gt;2. Dibentuk yayasan wakaf.&lt;br /&gt;3. Didalam akte wakaf dicantumkan wewenang pendiri (selama pendiri masih hidup pengurus yayasan sebagai pembantu pendiri).&lt;br /&gt;4. Anggota Badan Wakaf tidak boleh menggantungkan hidupnya dari pondok.&lt;br /&gt;5. Keluarga pondok adalah pembantu langsung pondok.&lt;br /&gt;6. Keluarga tidak mempunyai hak waris pondok, kecuali yang terlibat langsung sesuai dengan prosedur .&lt;br /&gt;Langkah Trimurti dengan mewakafkan Pondok dan asetnya merupakan langkah maju yang didasarkan pada ijtihad yang cerdas.  Berdasarkan amanat Piagam Penyerahan Wakaf tersebut, Badan Wakaf adalah lembaga tertinggi di Gontor. Lembaga ini merupakan badan legislatif yang bertanggung jawab secara menyeluruh atas pelaksanaan dan perkembangan pendidikan dan pengajaran di Gontor. Program-program dan kebijakan-kebijakan lembaga ini dijalankan oleh Pimpinan Pondok, sebagai mandatarisnya.&lt;br /&gt;Pimpinan Pondok Modern Gontor merupakan sebuah badan eksekutif (setelah wafatnya para pendiri pondok) yang dipilih oleh Badan Wakaf setiap lima tahun sekali. Pimpinan lembaga-lembaga itu bertanggung jawab kepada Pimpinan Pondok, dan Pimpinan Pondok bertanggung jawab kepada Badan Wakaf (Syukri, 2005a: 119)&lt;br /&gt;Untuk melaksanakan tugas pengelolaan aset dan harta benda wakaf selanjutnya dibentuklah YPPWPM (Yayasan Pemeliharaan dan Perluasan Wakaf Pondok Modern) pada 18 Maret 1959. Yayasan atau lembaga ini ditunjuk oleh Badan wakaf untuk mengelola aset dan tanah-tanah wakaf dan mengusahakan pengembangannya. Sebagai ketua saat ini, telah ditunjuk Zainal Arifin Abdulah.  &lt;br /&gt;YPPWPM selanjutnya membentuk bagian-bagian. Antara lain, bagian pemeliharaan dan pertanian, yang bertugas memelihara tanah dan lahan-lahan pertanian serta mengelola hasilnya. Satu bagian lain berkenaan dengan perluasan dan perawatan. Bagian ini menangani usaha-usaha perluasan wakaf dan mengurus status hukum dan administrasi pertanahannya. Bagian ketiga berkenaan dengan pergedungan dan peralatan yang bertugas memelihara dan menambah sarana pergedungan dan peralatan untuk kepentingan pendidikan dan pengajaran (Syukri, 2005b: 188).  &lt;br /&gt;Dari uraian tersebut nampak bahwa  PMDG berusaha menerapkan pola manajemen modern dalam penyelenggaraan pondok dan pengelolaan wakafnya. Setelah terjadi pemisahan harta lewat ikrar wakaf, diikuti pula dengan pembentukan organisasi dengan job descreption  masing-masing. Hanya saja, praktek rangkap jabatan –seperti halnya Pimpinan Pondok selaku eksekutif dan pengawas YPPWPM—yang masih terjadi  dapat menyebabkan adanya konflik kepentingan di kemudian hari disamping  tidak maksimalnya pengawasan internal, dan karenanya perlu dicarikan solusi. Selain itu, dapat pula ditempuh pengawasan eksternal dengan melibatkan pihak luar atau auditor independen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Pemeliharaan dan Pengembangan Aset&lt;br /&gt;Dalam mengelola aset wakaf, tidak seluruh tanah PMDG ”didaftarkan”  atas nama wakaf Yayasan. Ada beberapa tanah yang tercatat sebagai wakaf atas nama salah satu anggota Yayasan, dan bahkan berstatus hak milik.  Tanah wakaf di Mantingan Ngawi seluas 100 ha memiliki status hak pakai selama-lamanya berdasarkan SK Menteri Agama. Sebagian tanah diatas namakan salah satu pengurus Yayasan disertai dengan perjanjian pinjam nama. Yang terpenting diusahakan terlebih dahulu adalah pengamanan aset-aset   wakaf yang dimiliki. Langkah ”pengamanan aset” model ini rawan konflik, meski menyelesaikan masalah untuk jangka pendek. &lt;br /&gt;Pemerolehan harta wakaf masih difokuskan dalam bentuk tanah. Sedangkan penggalangan dana dengan model langsung semisal wakaf tunai jarang dilakukan. Jika ada, maka hal itu diperoleh secara insidental dan tanpa direncanakan . &lt;br /&gt;Jika pada saat diwakafnya pada tahun 1958 Gontor memiliki aset tanah sebanyak 18,59 hektar, maka pada tahun 2009 aset tanah pesantren ini berkembang menjadi 825,184 hektar, yang kurang lebih 651 hektar diantaranya merupakan tanah wakaf.  Aset tanah tersebut diperoleh melalui wakaf, hibah, tukar menukar, dan pembelian. Usaha  untuk pengembangan aset wakaf berupa tanah dan perluasannya selalu dilakukan oleh YPPWPM Gontor (Syukri, 2005: 186). Dalam 9 tahun terakhir tercatat sebanyak 639,94 Ha tanah dapat diperoleh  baik melaui pembelian maupun wakaf, dengan perincian sebagaimana tabel berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_PHfVnL1Tq0A/TTT8X_RQyMI/AAAAAAAAAFM/rZ19q2Hhbb4/s1600/Tabel%2B1.JPG"&gt;&lt;img style="cursor:pointer; cursor:hand;width: 355px; height: 365px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_PHfVnL1Tq0A/TTT8X_RQyMI/AAAAAAAAAFM/rZ19q2Hhbb4/s400/Tabel%2B1.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5563348928760432834" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemisahan harta wakaf  dan hasilnya dari harta pondok non wakaf juga belum dilakukan, sebaliknya diterapkan sistem manajemen keuangan satu atap. Seluruh hasil-hasil wakaf maupun keuntungan unit-unit usaha Kopontren dan Koperasi Pelajar disetor ke kantor Administrasi Pondok. Jika kemudian terdapat kebutuhan dana maka ditempuh mekanisme pengajuan proposal yang harus diketahui oleh pimpinan Pondok. &lt;br /&gt;Penerapan manajemen keuangan tersentral yang masih terkesan ”campur aduk” tersebut memang memudahkan pengawasan, menjanjikan kemudahan kontrol, dan keamanan, tetapi pada gilirannya menimbulkan kesulitan bagi pengukuran dan evaluasi tingkat kesuksesan setiap unit usaha.  Gambaran utuh perkembangan setiap unit usaha menjadi kabur dan tidak jelas.&lt;br /&gt;c. Memproduktifkan aset yang ada&lt;br /&gt;Pemanfaatan  tanah tersebut disesuaikan dengan sifat tanahnya. Tanah-tanah kering dijadikan lokasi pendirian sarana dan prasarana pendidikan dan pengajaran.  Di atas tanah-tanah tersebut  berdiri berbagai jenis bangunan yang difungsikan untuk sekolah, asrama santri,  perkantoran, laboratorium, perpustakaan, masjid, balai pertemuan, fasilitas olah raga, seni, dan ketrampilan, serta untuk perumahan guru dan dosen. Tanah-tanah kering yang tidak digunakan untuk pembangunan ditanami berbagai jenis tanaman seperti tanaman hias, ubi-ubian, kelapa, buah-buahan, dan sebagainya. Disamping itu, sebagian tanah-tanah kering itu digunakan  untuk lokasi usaha-usaha bisnis Pondok wakaf (Syukri, 2005b: 187).  &lt;br /&gt;Tanah-tanah basah dikelola yayasan dengan menanam tanaman pangan seperti padi, jagung, dan palawija. Dalam mengelola tanah-tanah sawah wakafnya, yayasan dibantu oleh para pengawas yang disebut wakil nadzir. Para wakil nadzir ini berasal dari daerah tempat sawah tersebut berada. Mereka bertanggung jawab kepada yayasan, dan kedua belah pihak biasa mengadakan evaluasi bersama.&lt;br /&gt;Pengelolaan aset tanah pondok tersebut dilakukan dengan ”semi produktif”. Beberapa tanah ada yang disewakan, dikelola secara bagi hasil, dan ada pula yang  digarap sendiri. Dari hasil penyewaan persawahan di wilayah Ponorogo setiap tahunnya diperoleh sekitar Rp 130 juta rupiah. Sementara dari penyewaan dan penggarapan tanah persawahan di Ngawi diperoleh sekitar Rp 750 juta pertahun. Selain itu, sebagian tanah di Jombok dan Pule, Trenggalek, ditanami pohon cengkeh. Sayangnya, kebun cengkeh tersebut tidak selalu menghasilkan karena sangat bergantung dengan musim dan fluktuasi harga  pasaran. Dari dana tersebut dan dari pembiayaan lain, Pondok mampu membangun unit-unit usaha di bawah kendali ”Kopontren Latansa”. &lt;br /&gt;Untuk memberdayakan aset wakaf  dibentuklah unit-unit usaha dalam bentuk Kopontren (Koperasi Pondok Pesantren)  La Tansa Pondok Modern Gontor yang kepemimpinannya dirangkap ketua YPPWPM, H. Zainal Arifin Abdullah. Secara mandiri Kopontren La Tansa telah berbadan hukum  no 8371/BH/II/96, tertanggal 29 Juli 1996.  Di antara unit usaha yang dimiliki PMDG bisa dilihat pada tabel berikut: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_PHfVnL1Tq0A/TTT7mMKaxOI/AAAAAAAAAFE/u-osaubyt14/s1600/tabel2.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 255px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_PHfVnL1Tq0A/TTT7mMKaxOI/AAAAAAAAAFE/u-osaubyt14/s400/tabel2.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5563348073227928802" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain usaha-usaha ini penggalangan dana untuk pondok  (dengan memanfaatkan fasilitas wakaf) juga dilakukan lewat  Koperasi Pelajar (Kopel), yang kemudian juga berkembang  pada Koperasi Dapur (Kopda) dan Koperasi Warung Pelajar (Kopwapel). Keseluruhan usaha tersebut ditangani langsung oleh para santri yang tergabung OPPM (Organisasi Pelajar Pondok Modern) dibawah pengawasan Dewan Pengasuhan Santri.  &lt;br /&gt;Dalam mengelola yayasan, unit-unit usaha dan koperasi, dianut prinsip swakelola. Para guru, mahasiswa, dan santri dilibatkan didalamnya. Penunjukan tersebut  dimaksudkan agar pengelolaan  usaha-usaha tersebut  tetap diwarnai oleh jika kesantrian berupa keikhlasan, kejujuran, amanah, tanggung jawab, kesungguhan, pengabdian, dan kesetiaan. Keberadaan berbagai unit usaha ini merupakan salah satu  sarana pendidikan untuk santri dan guru di bidang kemandirian, kewiraswastaan, keikhlasan, dan pengorbanan. Seluruh usaha milik pondok ini dikelola santri dan guru, hasilnya dipergunakan untuk  memenuhi kebutuhan  Pondok, santri, dan guru. Ini merupakan wujud pendidikan  kemandirian dan kebersamaan  yang  terus dijaga (Syukri, 2005b: 185). &lt;br /&gt;Jika dicermati, pemilihan jenis bidang usaha lebih banyak mengacu kepada pemenuhan kebutuhan internal pondok dan santri, dan karenanya masih menyisakan banyak peluang lain sebagaimana terdapat dalam UU No 41 Tahun 2004. Pengelolaan unit-unit usaha  dengan melibatkan guru dan santri merupakan manajemen khas pesantren yang lebih banyak dimaksudkan untuk pendidikan ketimbang tuntutan profesioalisme pekerjaan. Karenanya ukuran-ukuran kerja profesional tidaklah dapat diterapkan sepenuhnya secara kaku kepada pesantren&lt;br /&gt;Lebih dari itu, pola pengelolaan aset wakaf di PMDG  sebagaimana disimpulkan oleh Yusuf Suyono dkk. (2006: 154) telah menggabungkan  pola tradisional dan profesional meski secara terbatas, sehingga dapat dikategorikan sebagai semi-profesional. Penilaian ini didasarkan pada pendapat Syafi’i Antonio (2006) yang menyebut karakter pengelolaan wakaf profesional berupa: 1). penerapan manajemen yang terintegrasi dalam bingkai ”proyek”; 2). asas kesejahteraan nadzir; dan 3). asas transparansi dan akuntabilitas. &lt;br /&gt;d. Pendistribusian Hasil Wakaf sesuai Panca Jangka Pondok&lt;br /&gt;Hasil-hasil wakaf selama ini telah disalurkan untuk mengembangkan pendidikan dan pengajaran di Pondok berdasarkan lima tujuan strategis atau Panca Jangka Pondok Modern. Yaitu, pendidikan dan pengajaran, kaderisasi, pergedungan, khizanatullah, dan kesejahteraan keluarga Pondok.  &lt;br /&gt;Dalam bidang pendidikan dan pengajaran, hasil wakaf dipergunakan untuk memberikan subsidi  bagi biaya pendidikan dan pengajaran santri maupun mahasiswa yang berstatus guru. SPP yang berasal dari santri diakui pimpinan Pondok tidak dapat mencukupi kebutuhan santri dan mahasiswa. Selain itu, hasil wakaf juga digunakan untuk membiayai  pengembangan  pendidikan dan pembukaan pondok-pondok cabang yang tersebar di beberapa daerah di jawa dan luar jawa.&lt;br /&gt;Progam kaderisasi berupa studi lanjut di jenjang S1, S2, hingga S3 yang dilakukan para kader sebagian dicukupi dengan hasil wakaf. Banyak para kader yang telah menyelesaikan studinya dengan biaya tersebut baik di dalam maupun luar negeri. Sebagian kader telah dikirim untuk mengikuti kursus atau diklat yang relevan dengan tugas-tugas yang diemban. Untuk Tahun 2008/2009 saja terdapat 28 orang kader yang sedang menyelesaikan studinya,  9 orang diantaranya untuk program doktor/S3 (Zubaidi, 2009: 39-40).&lt;br /&gt;Pemeliharaan dan pembangunan sarana dan prasarana pendidikan sebagian juga didanai dari hasil wakaf. Kebutuhan terhadap pembangunan dan rehab gedung-gedung sekolah, asrama, laboratorium, perpustakaan, perkantoran, dan perumahan guru dan dosen semakin meningkat seiring dengan perkembangan Pondok. Selama tahun 2004 tahun 2004, kegiatan pembangunan dan rehab bangunan yang sudah ada menelan biaya sebesar 14 miliar rupiah lebih. Sedang pada tahun 2009 (periode Syawwal 1429-J. Tsaniyah 1430) tercatat sebesar 10,78 miliar rupiah yang dikeluarkan.  Untuk menunjang kebutuhan pembangunan, santri baru dikenakan uang pembangunan sebesar 500.000 ribu rupiah (Zubaidi, 2009: 39-40). Total dana yang dikeluarkan untuk membangun gedung Rabithah –yang sebenarnya dijanjikan pendanaannya oleh Rabithah ’Alam al-Islami tetapi belum diterima hingga saat ini-- adalah sebesar 11 miliar rupiah.  &lt;br /&gt;Hasil wakaf lain digunakan untuk membeli tanah  baik kering maupun basah dalam rangka khizanatullah. Dana pembelian tersebut sebagian diambil dari hasil wakaf sawah, dan sebagian lagi dari hasil unit-unit usaha. Tanah hasil wakaf tersebut selanjutnya dikelola sebagai usaha-usaha produktif.  Unit-unit usaha baru dan jumlah koperasinya juga terus bertambah (Zubaidi, 2009: 33). Perkembangan pendanaan ini semakin menjamin  terwujudnya Jiwa Kemandirian  Pondok dan meneguhkannya. &lt;br /&gt;Kesejahteraan  keluarga Pondok merupakan Panca Jangka yang kelima.  Keluarga pondok adalah para guru yang sudah berkeluarga  yang membantu Pondok secara langsung dalam menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran. Program ini bertujuan untuk memberdayakan  kehidupan keluarga pondok sehingga dapat mengabdi dan berjuang bagi pondok secara maksimal. Untuk mendanai program ini, pondok mengalokasikan 20 % keuntungan unit-unit usaha yang memang dikelola sendiri oleh guru. Kebutuhan  hidup  para guru di PMDG dan keluarganya tidak boleh bergantung pada SPP santri.  SPP sepenuhnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan pendidikan para santri sendiri. Prosentase tersebut meski terlihat belum besar, tetapi telah dapat mencukupi. Hal ini juga mengindikasikan bahwa distribusi hasil wakaf tidaklah sepenuhnya konsumtif. &lt;br /&gt;Disamping untuk membiayai program-program dalam Panca Jangka tersebut, hasil-hasil wakaf juga digunakan  untuk mendanai kegiatan lembaga-lembaga yang berada di bawah pembiayaan langsung Yayasan, seperti  IKPM (Ikatan Keluarga Pondok Modern), Islamic Center, Institut Studi Islam Darussalam (ISID), PLMPM (Pusat Latihan Manajemen dan Pengembangan Masyarakat), dan sidang-sidang Badan Wakaf. Hasil wakaf juga digunakan untuk pembinaan masyarakat sekitar, radius 10-15 km dalam rangka dakwah Islamiyah. &lt;br /&gt;Manfaat wakaf Pondok bagi masyarakat Gontor dan sekitarnya dapat dilihat dari kondisi desa sebelum  dan sesudah adanya Pondok. Kontribusi ini tidak bisa dilihat salah satu aspek kehidupan saja, tetapi hendaknya dilihat  dari beberapa aspek kehidupan  baik spritual, sosial, maupun ekonomi. Sumbangan tersebut ada yang bersifat langsung  dan  tidak langsung.  &lt;br /&gt;Sumbangan PMDG ke masyarakat  secara langsung berupa pembangunan insfrastruktur dan sarana desa  serta penyediaan tenaga guru/ustadz untuk membina kegiatan pengajian di masjid dan langgar sekitar pondok  dan mengkoordinir kegiatan peringatan hari-hari besar Islam. Sejak 1984, target kegiatan kaderisasi untuk menempuh pendidikan tinggi dengan pembiayaan dari pondok juga diarahkan santri yang berasal dari sekitar pondok.&lt;br /&gt;Sedangkan sumbangan pondok yang bersifat tidak langsung adalah penyediaan lapangan kerja  bagi masyarakat sekitar sehingga angka pengangguran berkurang. Mereka bekerja di berbagai sektor sesuai dengan ketrampilan masing-masing,  dengan tetap mendapatkan pembinaan mental spiritul dari pondok lewat unit kerja masing-masing. Kehadiran BKSM (Balai Kesehatan Santri dan Masyarakat) merupakan bentuk sumbangan yang lain. Dengan pembiayaan yang ringan mereka tidak perlu pergi jauh ke Ponorogo untuk berobat. Keberadaan Pondok juga turut memicu pertumbuhan toko, warung, dan tempat-tempat usaha masyarakat lainnya . &lt;br /&gt;Dari uraian terdahulu nampak bahwa wakaf dan asetnya di PMDG  terus mengalami pertumbuhan kuantitasnya. Keberadaan wakaf juga telah menunjang penyelenggaraan pendidikan dann pengajaran. Para santri dan guru dilibatkan dalam pengelolaan yayasan dan unit-unit usaha dalam rangka pembelajaran kemandirian. Tidak berlebihan, jika wakaf di PMDG  --dengan meminjam istilah Kyai Syukri sendiri—telah menjadi ”penyangga” kemandirian Pondok hingga usianya yang 84 tahun ini.  &lt;br /&gt;Masyarakat sekitar PMDG juga  ”menikmati” hasil-hasil wakaf baik langsung maupun tidak langsung. Tidak seluruh sektor dalam unit-unit usaha maupun pengelolaan Pondok dapat dilakukan oleh guru dan santri, sehingga tetap harus melibatkan tenaga masyarakat.  Dampak ekonomi dan spiritual keberadaan pondok  juga turut mewarnai kehidupan sekitar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Kesimpulan&lt;br /&gt;Dari pembahasan terdahulu dapat disimpulkan beberapa hal sebagaimana berikut: &lt;br /&gt;1. Upaya-upaya yang telah ditempuh PMDG dalam memberdayakan wakaf dan asetnya  meliputi:  a). Penataan organisasi Wakaf. Diawali dengan penyerahan  aset Pondok dan pengelolaannya oleh Trimurti Pendiri kepada Badan Wakaf pada tahun 1958. Dengan demikian terjadi pemisahan antara harta pribadi Kyai dan Pondok. Badan Wakaf selanjutnya mengangkat Pimpinan Pondok sepeninggal para Pendiri; Badan Wakaf membentuk YPPWPM sebagai pelaksana teknis pengelola aset dan tanah wakaf pada tahun 1959;  b). Pemeliharaan dan Pengembangan Aset. YPPWPM melakukan administrasi dan pengamanan aset wakaf melaui pendaftaran dan sertifikasi. Tidak semua tanah didaftarkan atas nama wakaf yayasan. Sebagian masih berstatus hak milik dan hak pakai. YPWPM juga terus melakukan pengembangan  aset melalui  wakaf baru,  hibah, tukar menukar,  dan pembelian; c). Memproduktifkan Aset yang ada. Tanah-ta\nah wakaf dimanfaatkan sesuai dengan kondisinya. Sebagian untuk didirikan sarana pendidikan, dan sebagian untuk pertanian. Unit-unit usaha juga didirikan di sebagian tanah wakaf. unit-unit usaha  didirikan sesuai dengan kebutuhan Pondok; d). Pendistribusian hasil wakaf sesuai dengan Panca Jangka Pondok (Pendidikan dan pengajaran, kaderisasi, pergedungan, khizanatullah, dan kesejahteraan keluarga) sehingga tidak habis (konsumtif). Sebagian lain dipergunakan untuk pengembangan masyarakat sekitar.  &lt;br /&gt;2. Kemandirian  Pondok  memiliki keterkaitan erat dengan pengelolaan wakaf yang tercermin pada :&lt;br /&gt;a.   Nilai-nilai luhur kepesantrenan termasuk jiwa kemandirian dan kebebasan yang ditanamkan menjadi acuan bagi  pengembangan arah pendidikan  dan penyelenggaraan Pondok sehingga membentuk mindset. Kemandiran yang berusaha diwujudkan meliputi kemandirian kurikulum dan sistem pengajaran, kemandirian sosial politik, dan kemandirian ekonomi. &lt;br /&gt;b. Pengelolaan Wakaf dan asetnya di PMDG telah menjamin kehidupannya dan  keberlangsungan tradisi pendidikan hingga mencapai usia 84 tahun lebih.  Kemandirian Pondok dalam sistem pendidikannya, politik, dan sosial  dapat dikawal dengan baik oleh kemandirian ekonominya.  Perkembangan Pondok yang memiliki 12 pondok cabang dengan  total santri 17.493 orang dan guru sebanyak 1897 orang banyak ditopang oleh wakaf.&lt;br /&gt;c.   Kemandirian Pondok dan ketidak bergantungannya pada bantuan pihak lain serta kemampuannya memberikan manfaat kepada masyarakat sekitar  mempertegas potensi besar yang terkandung pada wakaf. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Rekomendasi&lt;br /&gt;Diantara rekomendasi yang dapat diberikan  penulis dalam penelitian adalah adalah :&lt;br /&gt;1. Pertanggung jawaban ke publik melaui penerbitan WARDUN (Warta Dunia) setiap tahunnya layak dipertahankan. Meski laporannya masih sangat global dan terkesan ”melindungi” kepentingan Pondok.  Selanjutnya untuk memenuhi tuntutan zaman dan optimalisasi pengelolaan aset diperlukan  keberanian untuk menggandeng pihak ketiga dalam melakukan audit publik.  Selain itu perlu digagas penerbitan situs atau website yang khusus meliput wakaf dan perkembangannya. &lt;br /&gt;2. Dalam rangka meningkatkan budaya tertib organisasi dan manajemen profesional, mekanisme  pengawasan organisasi perlu ditinjau kembali. Kenyataan adanya rangkap jabatan antara pimpinan eksekutif  dan legislatif untuk jangka pendek memang efektif, tetapi untuk jangka panjang dapat menimbulkan suatu conflict of interest.&lt;br /&gt;3. Usaha untuk memproduktifkan  aset yang telah dilakukan PMDG layak mendapatkan apresiasi dan dukungan, dan tetap dapat ditingkatkan varian dan ragamnya sesuai  dengan penjelasan ayat 2 pasal 43 UU no 41/004. Terobosan dan inovasi dalam usaha ini  harus tetap dilakukan dengan syarat tidak bertentangan dengan syariah, agar manfaat wakaf  yang dikelola dan asetnya lebih banyak dirasakan dan abadi. Wallahu a’alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;Antonio, Syafi’i, 2006, ”Pengelolaan Wakaf Secara Produktif”, dalam Achmad Djunaidi dan Thabib al-Asyhar, Menuju Era Wakaf Produktif: Sebuah Upaya Progressif untuk Kesejahteraan Umat, Jakarta: Mitra Abadi Press.&lt;br /&gt;Asmuni, 2007, Wakaf: Seri Tuntunan Praktis Ibadah. Yogyakarta: Pustaka Insan Madani.&lt;br /&gt;Azra, Azyumardi, ”Pesantren: Kontinuitas dan Perubahan” dalam Nurchlis Madjid,  Bilik-bilik Pesantren Sebuah Potret Perjalanan, Jakarta: Paramadina.1997.&lt;br /&gt;Bamualim, Chaider S, 2005, Revitalisasi Filantropi Islam: Studi Kasus Lembaga Zakat dan Wakaf di Indonesia, Jakarta: PBB UIN Syarif Hidayatullah.&lt;br /&gt;Depag RI, 2007, Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 Tentang Wakaf &amp; Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2006, Depag RI Dirjen Bimas Islam. &lt;br /&gt;Dhofier, Zamakhsyari, 1982, Tradisi Pesantren Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai. Jakarta: LP3ES. &lt;br /&gt;Fathan, A, 2005,  Konsep dan Metode Penelitian Kualitatif,  Malang: PPS UNM.  &lt;br /&gt;Fuad, Muhammad, 2008, Membangunkan Raksasa Tidur: Problematika Pengelolaan dan Pendayagunaan wakaf di Indonesia,  Depok: Piramedia. &lt;br /&gt;Haidari, Amin, 2004, Masa Depan Pesantren Dalam Tantangan Modernitas dan Tantangan Komplesitas Global, Jakarta: IRD Press. &lt;br /&gt;Hasanah, Uswatun, 2009, ”Potensi Wakaf Untuk Pembangunan Perumahan Rakyat”, dalam Al-Auqaf, Volume II, no 2, April 2009, Jakarta: BWI.&lt;br /&gt;HD, Kailani, 2002, Gontor dan Kemandirian: Pondok, Santri, dan Alumni, Jakarta: Bina Utama Publishing. &lt;br /&gt;J. Drost, SJ, 1998,  Menjadi Pribadi Dewasa dan Mandiri, Jakarta: Kanisius. Cet. I. &lt;br /&gt;al-Kabisi, Muhammad Abid Abdullah, 2004, Hukum Wakaf, diterjemahkan oleh Ahrul Sani Fathurrahman (et.al.), Jakarta: IIMan Press.&lt;br /&gt;Madjid, Nurcholis, 2007, Bilik-bilik Pesantren sebuah Potret Perjalanan, Jakarta: Paramadina. &lt;br /&gt;Mas’ud, Abdurrahman, 2002, ”Sejarah dan Budaya Pesantren” dalam Ismail SM et.al. Dinamika Pesantren dan Madrasah, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.&lt;br /&gt;Mollier Smart and Russel C. Smart, 1975, Adolecent Development and Relationship, New York: Macmillah Publishing CO.Inc. 2nd edition. &lt;br /&gt;Mu’izzuddin, Moch, 2001, “Kemandirian Madrasah: Studi Kasus Terhadap Madrasah Mathali’ul Falah Kajen Margoyoso Pati Periode 1975-2000” Tesis, PPS Walisongo.&lt;br /&gt;Muhajir, Noeng, 2002, Metodologi Penelitian Kualitatif, Yogyakarta: Rake Sarasin. &lt;br /&gt;Nasir, Ridlwan, 2005, Mencari Tipologi Format Pendidikan Ideal: Pondok Pesantren di Tengah Arus Perubahan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.&lt;br /&gt;Nasution, Harun, (ed), 1992,  Ensiklopedi Islam Indonesia, Jakarta: Penerbit Djambatan. &lt;br /&gt;Nugroho, 2007, “Tinjauan Tentang Teori Ketergantungan” dalam  Jerry Joas Sawai, dkk,  Pembangunan Dalam Perspektif Sosiologi, Semarang: Gunungjati.&lt;br /&gt;Prihartini, Farida, 2006, Hukum Islam Zakat dan Wakaf: Teori dan Praktek di Indonesia, Jakarta: Fakultas Hukum UI.&lt;br /&gt;Qomar, Mujamil, 2006, Pesantren Dari Transformasi Metodologi Menuju Demokratisasi Institusi,  Jakarta: Penerbit Erlangga. &lt;br /&gt;Schegel, Stuart S. 1977, "Grounded Research" dalam Ilmu-ilmu Sosial. Aceh: PLPIIS. &lt;br /&gt;Suhardo (dkk), 2008, Panduan Pemberdayaan Tanah Wakaf Produktif-Strategis di Indonesia, Depag RI Dirjen Bimas Islam.&lt;br /&gt;Suyono, Yusuf, dkk, 2007, Wakaf Produktif Di Indonesia: Studi atas Pengelolaan Aset Wakaf Pondok Modern Gontor Ponorogo 1958-2006, Semarang: IAIN Wali Songo. &lt;br /&gt;Zarkasyi, Abdullah Syukri, 2005a, Gontor &amp; Pembaharuan Pendidikan Pesantren, Jakarta: Raja Grafindo Persada.&lt;br /&gt;Zarkasyi, Abdullah Syukri, 2005b, Manajemen Pesantren: Pengalaman Pondok Modern Gontor,  Ponorogo: Trimurti Press.&lt;br /&gt;Zubaidi, Sujiat (ed), 2009, Warta Dunia Pondok Modern Darussalam Gontor 1429-1430/2008-2009. Ponorogo: Gontor Darussalam Press.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Internet&lt;br /&gt;http://gontor.ac.id/index.php?option=com; Redaksi, 2009: iii&lt;br /&gt;http://m-ali.net/?p=21&lt;br /&gt;http://taj.web.id/?page_id=54&lt;br /&gt;http://www koran.republika.co.id/print/72771&lt;br /&gt;http://www.alitrah.co.cc/2009/12/menegaskan-kembali-kemandirian.html &lt;br /&gt;http://www.gusmus.net/page.php?mod=dinamis&amp;sub&lt;br /&gt;http://www.slideshare.net /purwakananta/kemandirian-pesantren&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nara Sumber Wawancara&lt;br /&gt;1. Zainal Arifin Abdillah&lt;br /&gt;2. Imam Sukadi&lt;br /&gt;3. Imam Mukhtar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lampiran 1&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lampiran 2 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Susunan Pengurus YPPWPM Tahun 1430/2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembina 1. Drs. KH. Kafrawi Ridwan, MA&lt;br /&gt;2. KH. Muhammad Sholihin&lt;br /&gt;3. Drs. KH.Rusydi Bey Fanani&lt;br /&gt;4. KH. Sutadji Tadjuddin, MA.&lt;br /&gt;5. Prof. Dr. KH. Dien Syamsuddin&lt;br /&gt;6. Dr. KH. M. Hidayat Nur Wahid&lt;br /&gt;7. KH. M. Masruh Ahmad, MA. M.BA&lt;br /&gt;Pengawas YPPWPM 1. Dr. KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, MA.&lt;br /&gt;2. KH. Hasan Abdullah Sahal&lt;br /&gt;3. KH. Syamsul Haji Abdan&lt;br /&gt;Pengurus YPPWPM&lt;br /&gt;Ketua H. Zainal Arifin Abdulah, S.Ag.&lt;br /&gt;Sekretaris I Drs. H. Imam Mukhtar&lt;br /&gt;Sekretaris II Dr. H. Amal Fathullah Zarkasyi, MA.&lt;br /&gt;Bendahara I Jarman Arroisi, S. Ag.&lt;br /&gt;Bendahara II KH. Abdullah Said Baharmus, Lc.&lt;br /&gt;Pelaksana Kegiatan YPPWPM&lt;br /&gt;Sekretaris Jarman Arroisi, S.Ag.&lt;br /&gt;Maturidi&lt;br /&gt;Ridwan Hasyim&lt;br /&gt;Bendahara Suraji Badi’, S.Ag.&lt;br /&gt;Keuangan Dafid Wahab Jaelani&lt;br /&gt;Khairul Anwar&lt;br /&gt;Intentaris Jarman Arroisi, S.Ag.&lt;br /&gt;Izzat Fahd&lt;br /&gt;Teguh Mubarok Arif Siraj&lt;br /&gt;Kendaraaan Sururi, S.Ag.&lt;br /&gt;Hermawan, S.HI.&lt;br /&gt;Husni Mubarak&lt;br /&gt;Bagian Pertanahan Drs. H. Imam Sukadi&lt;br /&gt;H. Suroso Hadi&lt;br /&gt;Defi Firmansyah&lt;br /&gt;M. Zakiyuddin, S.Th.I.&lt;br /&gt;Bagian Pertanian Jemani Hasan&lt;br /&gt;Sukamto, S.Ag.&lt;br /&gt;Qadim Ma’sum, S.HI.&lt;br /&gt;Nuzulul Mukhlishon&lt;br /&gt;Bagian Kopontren Suraji Badi’, S.Ag.&lt;br /&gt;H. Mujiono Suparno, BA.&lt;br /&gt;Nanang Setyo Budi&lt;br /&gt;Miyuddin&lt;br /&gt;(Zubaidi, 2009: 32)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/382337659859891339-8538823475680520459?l=nuruliman1972.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/feeds/8538823475680520459/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=382337659859891339&amp;postID=8538823475680520459&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/8538823475680520459'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/8538823475680520459'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/2011/01/wakaf-dan-kemandirian-pesantren.html' title='Wakaf dan Kemandirian Pesantren'/><author><name>nuruliman1972</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07855832763775638687</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_PHfVnL1Tq0A/TTT8X_RQyMI/AAAAAAAAAFM/rZ19q2Hhbb4/s72-c/Tabel%2B1.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-382337659859891339.post-2005201564091562691</id><published>2010-12-03T15:54:00.000-08:00</published><updated>2010-12-03T15:57:50.991-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Memperbaharui Hidup</title><content type='html'>04 Desember 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEMPERBAHARUI HIDUP DI TAHUN BARU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera dalam bulan Desember ini kita menjelang datangnya dua tahun baru, 1432  hijriyah dan 2011 miladiyah. Dalam menyongsong pergantian tahun, berbagai pesta dan perayaan akan digelar.  Dan biasanya seremonial acara-acara  tersebut dominan menyita perhatian, pikiran, dan energi setiap orang, sehingga ibarat sebuah jebakan, ia membuat mereka terperosok melupakan esensi pergantian tahun berupa bertambahnya umur dan berkurangnya kesempatan hidup maupun berkarya (beramal shaleh). Bagi kebanyakan orang tahun baru sering lebih identik pada berubahnya angka-angka tahun itu sendiri dan berhenti pada kegiatan fisik kasat mata berupa pesta, perayaan, atau bahkan hura-hura yang seringkali justru kebablasan dan berujung maksiat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam tidak melarang kegembiraan dan keceriaan. Bukankah telah menjadi syariatnya untuk merayakan Idul fithri (hari raya makan) dan Idul Adha (hari raya Qurban). Dalam merayakan kedua hari raya tersebut, kaum muslimin dilarang berpuasa. Pesta perkawinan dalam bentuk walimah ursy juga diperintahkan. Yang terpenting dari setiap kegiatan hidup adalah kewajaran, tidak melampaui batas, dan tetap tidak menyebabkan adanya dosa atau maksiat. Karenanya, pemaknaan pergantian tahun baru mutlak diperlukan agar setiap muslim tidak salah arah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Momen akhir tahun adalah saat  berharga bagi setiap orang untuk mengadakan perhitungan dan evaluasi seperti yang jamak dilakukan oleh pebisnis dan pengusaha. Sepantasnya setiap orang berhitung apakah modal waktu yang diberikan Allah secara gratis telah membawa keberuntungan bagi dirinya dan mendekatnya kepada rahmat Sang Pemberi atau justru menggelincirkannya menuju kemurkaanNya. Menarik untuk direnungkan wasiat Umar bin al-Khattab: “hasibu qabla an tuhasabu, wa zinu qabla an tuzanu” yang berarti  “hisablah dirimu sebelum engkau dihisab (di akherat), dan timbanglah (nilai dirimu) sebelum engkau ditimbang”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhitungan terhadap penggunaan  nikmat waktu semestinya menjadi prioritas utama menggenapi  kegembiraan diri  lewat pesta dan perayaan tahun baru, karena Allah sebagaimana disabdakan Nabi dalam riwayat  Abdullah bin Mas’ud akan meminta pertanggungjawaban manusia dalam empat hal dalam kuburnya nanti. Dua pertanyaan berkenaan tentang penggunaan umur secara umum dan masa muda secara khusus. Disusul pertanyaan tentang rizki dari mana diperoleh dan untuk apa dibelanjakan. Sedangkan yang terakhir tentang amaliah ilmu yang didapat (HR. Tirmidzi).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama shaleh adalah sosok-sosok yang peduli menghargai waktu, dan karenanya selalu berhitung setiap hari tentang manfaat yang diperoleh. Mereka sungguh menyesal apabila tidak bertambah kebaikannya dengan bertambahnya suatu hari. Karenana ungkapan yang sering muncul adalah: “idza marra bii yaum walam yazdad minni ‘ilman wala hudan, fama dzaka min ‘umri ?”, yang berarti “jika satu hari berlalu tetapi tidak bertambah ilmu dan hidayah (keimananku), maka apa artinya umurku?”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjemput berkah tahun baru dan mengantisipasi timbulnya kerugian, maka setiap hendaknya menyusun rencana pribadi dan proyek kebajikan untuk tahun depan, disamping evaluasi diri. Wal tandzur nafs maa qaddamat lighadd. Setiap diri hendaknya mempersiapkan apa yang akan diperbuat untuk hari esok. Dalam hal ini dapat direncanakan berlangsungnya perbuatan-perbuatan baik yang selalu meningkat kualitas maupun kuantitasnya. Dapat pula dilaksanakan apa yang disebut Rasulullah dalam hadith Imam Ahmad sebagai darajat, atau amal-amal yang dapat meningkatkan nilai diri berupa perkataan baik (thib al-kalam), menyebarkan salam (keselamatan), memperbanyak memberi makan sesama, dan mendirikan shalat malam ketika manusia sedang lelap tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat program-program yang disusun tersebut diharapkan kita dapat meningkatan kualitas hidup dan keimanan diri menjadi orang yang kehidupannya lebih baik (khair min amsih), lebih tertata, dan lebih bermanfaat bagi orang lain. Tahun baru  semoga dapat mengantarkan kita menjadi pribadi baru disebabkan kebajikan-kebajikan kita. Mudah-mudahan Allah memberikan kekuatan bagi kita mewujudkannya. Wallahu a’lam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/382337659859891339-2005201564091562691?l=nuruliman1972.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/feeds/2005201564091562691/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=382337659859891339&amp;postID=2005201564091562691&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/2005201564091562691'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/2005201564091562691'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/2010/12/memperbaharui-hidup.html' title='Memperbaharui Hidup'/><author><name>nuruliman1972</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07855832763775638687</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-382337659859891339.post-8796728051610456028</id><published>2010-12-01T19:18:00.003-08:00</published><updated>2010-12-01T19:31:29.383-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wakaf'/><title type='text'>Benchmarking dan Pemberdayaan Wakaf</title><content type='html'>2 Desember 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BENCHMARKING DAN PEMBERDAYAAN WAKAF&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendahuluan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia bisnis kini sedang dilanda demam “keterbukaan”. Mereka membuka cakrawala lebar – lebar ke semua industri, untuk membandingkan diri dan kemudian meniru apa yang bisa ditiru. Dan mereka tidak tanggung – tanggung. Biasanya mereka melihat ‘the best practices in the world’, untuk mengukur prestasi sendiri dan kemudian meniru kalau mereka kalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa depan memang dipenuhi dengan tantangan yang tidak dapat diduga dan diperkirakan. Tantangan ini mengejawantah dalam bentuk perubahan. Tuntutan yang pasti dihadapi  oleh mereka yang berperan dalam di masyarakat, seperti negarawan, politisi, tokoh industri, pembentuk opini masyarakat, dan penyebar informasi, adalah meningkatkan  kemampuan masing-masing untuk mengelola setiap perubahan yang pasti akan terjadi (Siagian, 2004: 215). Memahami  kapan dan bagaimana mengimplementasikan perubahan merupakan bagian vital dari manajemen (Sunarto, 2007: 64).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benchmarking adalah proses  “perubahan terstruktur” dan berkesinambungan yang didasarkan pada pengumpulan dan analisa data dari organisasi dan dibandingkan dengan keadaan di dalam dan atau di luar sebuah organisasi. Hasil dari proses ini akan menjadi patokan (patok duga) untuk memperbaiki organisasi tersebut secara terus menerus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tingginya persaingan dalam bisnis saat ini tuntutan pelanggan  terhadap produk dan pelayanan terbaik, mengakibatkan kepuasan pelanggan  menjadi semakin sulit dipenuhi. Menurut Zulian Yamit (2002: 132) Upaya  untuk memuaskan pelanggan dengan memberikan produk dan layanan terbaik merupakan  dorongan utama dilakukannya benchmarking.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lembaga wakaf dan  filantropi lain merupakan organisasi non profit (NGO) yang dituntut untuk terus berkembang  dengan memberikan layanan terbaik bagi para donator pada satu sisi dan mengembangkan aset  pada sisi lain guna mempertahankan eksistensi lembaga dan memperluas jangkauan program layanan.  Kenyataan ini meniscayakan tuntutan untuk terus berkembang, dan benchmarking tentunya akan dapat mempermudah usaha tersebut.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pembahasan makalah diarahkan pada  elaborasi makna benchmarking dan sejarahnya, pembedaannya dari persaingan, evolusi konsep dan jenis-jenisnya, hambatan-hambatan, serta diakhiri urgensi penerapan benchmarking dalam rangka pemberdayaan wakaf. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Definisi &amp; Sejarah Benchmarking&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benchmarking dipadankan dengan Patok Duga. Secara singkat ia dapat diartikan sebagai “process that compares your business activities to similar companies” (www.bhpinfosolutions.co.uk). Maksudnya, sebuah perusahaan akan ‘mematok’ perusahaan lain yang  mereka anggap sebagai pesaing terberat, lalu bila dibandingkan, ‘menduga’ perusahaan mereka berada pada posisi apa (Tjiptono &amp; Diana, 2003: 232). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah benchmarking  selanjutnya dapat didefinisikan dengan  berbagai pengertian, seperti halnya: &lt;br /&gt;1. Ensiklopedi Wikipedia mendefinisikannya dengan “the process of comparing the cost, cycle time, productivity, or quality of a specific process or method to another that is widely considered to be an industry standard or best practice” (http://en.wikipedia.org/wiki/ Benchmarking).   &lt;br /&gt;2. David Kearns (CEO dari Xerox)  menyatakan bahwa benchmarking adalah suatu proses pengukuran terus-menerus atas produk, jasa dan tata cara kita terhadap pesaing kita yang terkuat atau badan usaha lain yang dikenal sebagai yang terbaik. &lt;br /&gt;3. Goetsch dan Davis mendefinisikannya sebagai proses pembanding dan pengukuran operasi atau proses internal organisasi terhadap mereka yang terbaik dalam kelasnya, baik dari dalam maupun dari luar industri (Tjiptono &amp; Diana, 2003: 232-233; Yamit, 2002: 134).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Berbagai pengertian diatas jika dicermati memiliki banyak persamaan, yakni bahwa tujuan utama patok duga adalah untuk menemukan kunci atau rahasia sukses dan kemudian mengadaptasi  dan memperbaikinya agar  dapat diterapkan pada perusahan yang melaksanakan patok duga tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benchmarking merupakan proses belajar yang berlangsung secara sistematis, terus menerus, dan terbuka. Berbeda dengan penjiplakan (copywriting) yang dilakukan secara diam-diam, kegiatan patokduga  merupakan tindakan legal dan tidak melanggar hukum. Dalam dunia bisnis modern meniru dianggap sah asal tidak dilakukan secara langsung dan mentah-mentah.  Benchmarking memang dapat diartikan sebagai meniru dari paling hebat untuk membuatnya sebagai referensi (Yamit, 2002: 134). Kegiatan ini dilandasi oleh kerjasama antar dua buah institusi (perusahaan) untuk saling menukar informasi dan pengalaman yang sama-sama dibutuhkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praktek benchmarking merupakan  pekerjaan berat yang menuntut kesiapan “fisik” dan “mental” pelakunya. Secara “fisik” , karena dibutuhkan kesiapan sumber daya manusia dan teknologi yang matang untuk melakukan benchmarking secara akurat. Sedangkan secara “mental” adalah bahwa pihak manajemen perusahaan harus bersiap diri bila setelah dibandingkan dengan pesaing, ternyata mereka menemukan kesenjangan yang cukup tinggi. Pada titik ini  sangat terbuka kemungkinan terjadinya merjer atau akusisi, sehingga memberikan dampak  yang positif dan saling menguntungkan.&lt;br /&gt;Ki Hadjar Dewantara beberapa puluh tahun lalu, diinisiasi telah mengemukakan konsep benchmarking dalam bentuk “sederhana”. Konsep yang diajukan dengan bahasa Jawa itu, adalah 3N, yaitu Niteni ‘memperhatikan dengan seksama’, Niru ‘mencontoh/memanfaatkan’, dan Nambahi ‘mengadaptasi/ memperbaiki/menyempurnakan’.  Ungkapan tersebut menegaskan bahwa benchmarking tidak hanya sekadar memindahkan sistem dari satu institusi ke institusi lain, tetapi diperlukan upaya kreatif dan inovatif sesuai dengan kondisi, budaya, dan kemampuan. Sementara itu, institusi yang dijadikan acuan/pembanding akan terdorong untuk melakukan perbaikan pengelolaan dan meningkatkan standar mutu (http:// kjm.ugm.ac.id/web/index.php).  &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Dalam rangka peningkatan mutu secara berkelanjutan, suatu institusi perlu menetapkan standar baru yang lebih tinggi. Untuk itu, perlu dilakukan benchmarking sebagai inspirasi atau cita-cita. Ada dua jenis benchmarking, yaitu benchmarking internal dan benchmarking eksternal. Benchmarking internal upaya pembandingan standar antar bagian/jurusan/fakultas/atau unit institusi. Benchmarking eksternal  adalah upaya pembandingan standar internal institusi terhadap standar eksternal institusi lain. &lt;br /&gt;Selain itu, diperlukan  masukan dari hasil monitoring, evaluasi diri, temuan audit mutu akademik internal, permintaan tindakan koreksi (PTK), dan program peningkatan mutu sebagai cermin kemampuan diri. Monitoring dilaksanakan untuk mengamati pelaksanaan standar. Hasil monitoring menginformasikan tentang pelaksanaan standar, yang mencakup waktu, substansi, dan tahap pelaksanaannya. Monitoring bermanfaat untuk meluruskan sesegera mungkin bila terjadi ketidakpatuhan pelaksanaan terhadap rencana atau standar serta mengingatkan bila ada kelalaian.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Evaluasi diri adalah usaha untuk mengetahui kondisi nyata dari sebuah proses. Evaluasi diri harus memuat informasi yang sahih (valid) dan terpercaya (reliability). Di atas dua prinsip di atas, terdapat nilai-nilai yang melandasi pelaksanaan evaluasi, yakni objektivitas (objectivity) dan kejujuran (honesty). Dengan evaluasi diri akan diketahui kondisi objektif sebuah institusi (perusahan/PT) dan sekaligus dapat ditentukan pengembangan serta peningkatannya pada masa berikutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain benchmarking dan masukan internal, diperlukan juga masukan dari stakeholders agar ada relevansi produk dengan stakeholders. Dorongan untuk melakukan benchmarking banyak ditentukan oleh faktor kepuasan stakeholders. Kepuasan stakeholders adalah tingkat perasaan seseorang/pengguna setelah membandingkan kinerja atau hasil yang dirasakan dibandingkan dengan harapannya. Semakin banyaknya perguruan tinggi misalnya, membuat stakeholders mengetahui dan meminta standar mutu dan pelayanan yang lebih baik. Kepuasan pelanggan pun semakin lama semakin meningkat. Kegiatan benchmarking pun juga harus dilaksanakan secara berkelanjutan sehingga akan tercapai continuous quality improvement (CQI).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dari berbagai definisi diatas menurut Tjiptono (2003: 234) juga dapat ditarik beberapa kesimpulan, yaitu :&lt;br /&gt;1. Benchmarking merupakan kiat untuk mengetahui tentang bagaimana dan mengapa suatu perusahaan yang memimpin dalam suatu industri dapat melaksanakan tugas-tugasnya secara lebih baik dibandingkan dengan yang lainnya. &lt;br /&gt;2. Fokus dari kegiatan benchmarking diarahkan pada praktik terbaik dari perusahan lainnya. Ruang lingkupnya makin diperluas yakni dari produk dan jasa menjalar kearah proses, fungsi, kinerja organisasi, logistik, pemasaran, dan lain-lain. &lt;br /&gt;3. Praktik banchmarking berlangsung secara sistematis dan terpadu dengan praktik manajemen lainnya, misalnya TQM, corporate reengineering, analisis pesaing, dll. &lt;br /&gt;4. Kegiatan patok duga perlu keterlibatan dari semua pihak yang berkepentingan, pemilihan yang tepat tentang apa yang akan di- benchmarking-kan, pemahaman dari organisasi itu sendiri, pemilihan mitra yang cocok dan kemampuan untuk melaksanakan apa yang ditemukan dalam praktik bisnis.&lt;br /&gt;Dalam melakukan patok duga, terdapat empat cara yang biasa digunakan, yakni: &lt;br /&gt;a) Riset in-house. &lt;br /&gt;Cara ini dilaksanakan dengan melakukan penilaian terhadapat informasi perusahan sendiri maupun informasi yang ada di publik. Perusahaan hanya mencari informasi mengenai hasil kinerja perusahaan lain baik fungsi maupun prosesnya.&lt;br /&gt;b) Riset pihak ketiga. &lt;br /&gt;Cara yang ditempuh adalah dengan membiayai kegiatan patok duga  yang akan dilakukan perusahaan surveyor. Biasaya pihak ketiga ini melakukan patok duga untuk informasi yang sulit didapat dari pesaing bisnis. &lt;br /&gt;Selain itu dapat pula diselenggarakan forum diskusi panel untuk memeperoleh masukan yang luas dan banyak misalnya tentang keinginan pelanggan.&lt;br /&gt;c) Pertukaran langsung. &lt;br /&gt;Pertukaran ini dilakukan untuk mengawali kunjungan langsung, dan hal tersebut dilaksanakan melalui kuesioner, survey melalui telepon, dan lainnya.  &lt;br /&gt;d) Kunjungan langsung. &lt;br /&gt;Cara keempat berupa kunjungan ke lokasi mitra patok duga. Cara yang dianggap paling efektif ini, dilakukan dengan wawancara dan tukar informasi (Tjiptono  &amp; Diana, 2003: 234). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara singkat dapat dikatakan bahwa pada mulanya konsep benchmarking berkembang di bidang perindustrian. Awal tahun 1950-an banyak pengusaha Jepang mengunjungi beberapa perusahan di Amerika Serikat dan negara-negara Eropa barat. Tujuan kunjungan mereka adalah berusaha mendapatkan dua masukan, yaitu teknologi dan penerapan bisnis atau praktik baik. Masukan itu dikemas dalam bentuk perjanjian kerja. Dari tahun 1952 hingga tahun 1984 tidak kurang dari 42.000 perjanjian kerja telah ditandatangani. Hampir semua perjanjian itu berkisar tentang alih teknologi terbaik dan “segala sesuatu” (know-how) yang dimiliki negara barat. Jepang menggunakan proses “mengambil dan memanfaatkan” untuk kemajuan industrinya. Pada tahun 1960-an industri-industri Jepang telah menyamai industri-industri barat. Keberhasilan Jepang dalam menggunakan teknologi barat untuk melakukan benchmarking terhadap kinerja mereka sendiri, merupakan bukti reputasi mereka di dalam kancah perdagangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun istilah benchmarking baru muncul pada permulaan tahun 1980-an dan menjadi trend dalam manajemen sebagai alat untuk meningkatkan kinerja perusahaan pada tahun 1990-an. Bahkan pada tahun 1990 separuh dari perusahaan-perusahaan yang termasuk dalam Fortune 500 menggunakan teknik benchmarking.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benchmarking dan Persaingan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis persaingan meliputi perbandingan antara produk-produk pesaing dengan produk yang dihasilkan Perusahaan. Sedangkan benchmarking lebih jauh daripada itu, yaitu membandingkan bagaimana suatu produk direkayasa, diproduksi, didistribusikan dan didukung.&lt;br /&gt;Smith sebagaimana  diungkap Tjiptono (2003: 235) memaparkan perbedaan itu sebagai berikut:&lt;br /&gt;Benchmarking &lt;br /&gt;• Melihat pada proses &lt;br /&gt;• Memeriksa bagaimana sesuatu &lt;br /&gt;• Dapat membandingkan dengan industri lainnya   &lt;br /&gt;• Penelitian membagi hasil untuk manfaat bersama   &lt;br /&gt;• Dapat tidak kompetitif   &lt;br /&gt;• Membagi informasi   &lt;br /&gt;• Kemitraan   &lt;br /&gt;• Kerjasama/ Interdependen   &lt;br /&gt;• Dipergunakan untuk mencapai tujuan perbaikan  &lt;br /&gt;• Tujuan berupa pengetahuan proses&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persaingan   &lt;br /&gt;• Fokus pada kebutuhan pelanggan    • Melihat pada hasil&lt;br /&gt;• Memeriksa apa yang telah terjadi dan dikerjakan&lt;br /&gt;• Perbandingan di dalam industri&lt;br /&gt;• Penelitian tanpa membagi hasil&lt;br /&gt;• Selalu kompetitif&lt;br /&gt;• Rahasia&lt;br /&gt;• Tersendiri&lt;br /&gt;• Mandiri&lt;br /&gt;• Dipergunakan untuk memeriksa persaingan&lt;br /&gt;• Tujuan berupa pengetahuan tentang industri&lt;br /&gt;• Fokus pada kebutuhan perusahaan&lt;br /&gt;Tabel 1 Perbedaan Patok Duga dan Analisis Persaingan&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Benchmarking digunakan untuk menentukan proses yang akan diperbaki secara berkesinambungan (incremental) dan perubahan yang dibutuhkan. Faktor-faktor yang mendorong perusahaan melakukan benchmarking adalah: a). Komitmen terhadap TQM; b). Fokus pada pelanggan; c). Product – to – market time; d). Waktu siklus pemanufakturan; e). Laba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antara patok duga dan perbaikan berkesinambungan  terdapat hubungan yang sangat erat.  Persaingan dewasa ini yang semakin ketat menuntut  setiap perusahaan untuk cepat melakukan perbaikan dan penyempurnaan  setiap aspek kelemahan. Patok duga memberikan informasi utama kepada suatu perusahan mengenai posisi relatifnya  terhadap proses yang terbaik dalam kelasnya, dan proses-proses yang perlu diubah. Benchmarking  juga memberikan model yang terbaik dalam suatu kelas (best-in-class) yang dapat diadopsi, atau bahkan disempurnakan (Tjiptono&amp; Diana, 2003: 237). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;EVOLUSI KONSEP DAN JENIS-JENIS PATOK DUGA &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keadaan hampir bangkrut pada akhir 1970-an dikarenakan serbuan pada pesaingnya yang menawarkan produk dan kualitas lebih baik dengan harga yang lebih murah,  Xerox  di bawah pimpinan CEO David Kearns meluncurkan program baru pada tahun 1981 untuk memperbaharui semangat inovasi Xerox dalam menguasai pasar melalui keterlibatan karyawan dan patok duga. Xerox melakukan berbagai usaha perbaikan, seperti penekanan  biaya produksi, penyempurnaan tahapan proses produksi hingga manajemen penyimpanan di gudang. Akhirnya Xerox dapat bangkit kembali dan sejajar dengan  para pesaingnya dari Jepang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan Xerox dalam meraih Malcolm National Quality Award pada tahun 1989, menurut Tjiptana (2003: 238) menyebabkan strategi patok duga muncul ke permukaan dan semakin banyak diterapakan di perusahaan-perusahaan lain. Diantaranya adalah IBM, Motorola, AT &amp; T, Westinghouse, dan Zytec.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Watson, konsep benchmarking sebenarnya telah mengalami setidaknya lima generasi, yaitu :&lt;br /&gt;1. Reverse Engineering&lt;br /&gt;Dalam tahap ini dilakukan perbandingan karakteristik produk, fungsi produk dan kinerja terhadap produk sejenis dari pesaing. Tahap ini tidak melibatkan proses patok duga untuk bisnis, dan cenderung  berorientasi teknis, dengan pendekatan rekayasa produk termasuk membedah karakteristik produk pesaing.&lt;br /&gt;2. Competitive Benchmarking&lt;br /&gt;Selain melakukan benchmarking terhadap karakteristik produk, juga melakukan patok duga terhadap proses yang memungkinkan produk yang dihasilkan adalah produk unggul. Generasi kedua ini berlangsung sekitar tahun 1976-1986.&lt;br /&gt;3. Process Benchmarking&lt;br /&gt;Konsep ini tidak hanya membatasi lingkupnya pada proses bisnis pesaing, tetapi memiliki cakupan yang lebih luas dengan anggapan dasar bahwa beberap proses bisnis perusahaan terkemuka yang sukses memiliki kemiripan dengan perusahaan yang akan melakukan benchmarking.&lt;br /&gt;4. Strategic Benchmarking&lt;br /&gt;Merupakan suatu proses yang sistematis untuk mengevaluasi alternatif, implementasi strategi bisnis dan memperbaiki kinerja dengan memahami dan mengadaptasi strategi yang telah berhasil dilakukan oleh mitra eksternal yang telah berpartisipasi dalam aliansi bisnis. Dalam konsep ini dibahas tentang hal-hal yang berkaitan dengan arah strategis jangka panjang.&lt;br /&gt;5. Global Benchmarking&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Generasi ini mencakup semua generasi yang sebelumnya dengan tambahan bahwa cakupan geografisnya sudah mengglobal dengan membandingkan terhadap mitra global maupun pesaing global.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengklasifikasian menjadi lima generasi tersebut menurut Tjiptono (2003: 237) tidak berarti bahwa generasi-generasi terdahulu  sudah tidak berlaku lagi. Pada praktiknya, kelima konsep  tersebut masih berlaku hingga saat ini.&lt;br /&gt;Diantara jenis-jenis Patok Duga yang dikenal adalah: &lt;br /&gt;a) Benchmarking Internal&lt;br /&gt;Pendekatan ini dilakukan dengan membandingkan operasi suatu bagian dengan bagian internal lainnya dalam suatu organisasi, seperti kinerja setiap departemen, divisi, dan cabang.&lt;br /&gt;b) Benchmarking kompetitif&lt;br /&gt;Patok duga kompetitif dilakukan dengan mengadakan perbandingan dengan berbagai pesaing. Faktor yang dibandigkan dapat berupa karakteristik produk, kinerja, dan fungsi dari produk yang sama yang dihasilkan pesaing dalam pasar yang sama.&lt;br /&gt;c) Benchmarking Fungsional&lt;br /&gt;Pendekatan ini dilakukan dengan mengadakan perbandingan fungsi atau proses dari perusahaan-perusahaan yang berada di berbagai industri.&lt;br /&gt;d) Benchmarking Generik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patok duga generik merupakan perbandingan pada proses bisnis fundamental yang cenderung sama di setiap industri atau perusahaan, seperti penerimaan pesanan, dan pengembangan strategi. Dalam hal-hal tersebut dapat diadakan patok duga meskipun perusahaan itu berada di bidang industri yang berbeda.&lt;br /&gt;Keempat jenis patok duga tersebut tidak meniadakan jenis khusus lain, seperti patok duga strategik, patok duga operasional, dan patok duga global.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PROSES DAN LANGKAH-LANGKAH BENCHMARKING&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum melakukan benchmarking, perusahaan hendaknya dapat menjawab beberapa pertanyaan-pertanyaan berikut berikut, yaitu: 1) Apa masalahnya; 2) Dimana posisi kita sekarang; 3) Apa yang akan di-benchmark; 4) Apa yang menjadi dasar benchmark; 5) Apa yang akan terjadi sebagai akibat benchmark; 6) Bagaimana kita mempertahankan benchmark; 7) Apa masalah berikutnya yang perlu di-benchmark (Yamit, 2002: 135).&lt;br /&gt;Agar didapat jawaban yang akurat, sebaiknya perusahaan  memberikan tanggung jawab kepada tim khusus atau individu untuk menanganinya. Langkah merupakan metode yang tepat dalam rangka proses evaluasi dan perbaikan sebagai bagian dari program continuous quality improvement secara keseluruhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karlof dan Ostblom sebagaimana dikutip Zulian Yamit (2002: 135), mengemukakan lima langkah yang arus dilakukan untuk merapkan benchmarking, yaitu: &lt;br /&gt;1. Menentukan apa yang akan di-benchmark, yaitu berkaitan dengan proses yang apa yang akan dipatok duga dengan mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan.&lt;br /&gt;2. Menentukan perusahaan yang akan di-benchmark, yaitu perusahaan yang terbaik.&lt;br /&gt;3. Mengumpulkan informasi, yaitu data yang berkaitan dengan apa yang akan dipatok duga.&lt;br /&gt;4. Analisis data dan menentukan kesenjangan proses perusahaan dengan perusahaan yang akan dipatok duga.&lt;br /&gt;5. Implementasi perubahan yang harus dilakukan dan sekaligus melakukan pemantauan untuk memperbaiki benchmark.&lt;br /&gt;Langkah-langkah penerapan benchmarking ini dapat diterapkan secara produktif dengan variasi yang dapat disesuaikan dengan  tujuan masing-masing perusahan. Yang terpenting adalah menjaga kelangsungan proses benchmarking dengan pelibatan seluruh komponen perusahan dan dukungan komitmen yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HAMBATAN BENCHMARKING &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggapan keliru yang sering dipegangi suatu perusahaan adalah bahwa patok duga merupakan solusi instan. Pandangan seperti ini menurut Tjiptono (2003: 258) tidaklah tepat, karena untuk meningkat kinerja dibutuhkan insfratruktur manajemen yang tepat, selain juga dibutuhkan budaya kualitas dan komponen-komponen yang lain. &lt;br /&gt;Secara faktor-faktor penghambat yang menyebabkan kegagalan pelaksanaan patok duga  adalah:&lt;br /&gt;1. Fokus Internal&lt;br /&gt;Untuk memberikan hasil yang diharapkan, maka sebuah organisasi harus memahami bahwa ada organisasi lain yang memiliki proses yang lebih baik. Apabila organisasi terlalu berfokus internal dan mengabaikan kenyatan bahwa proses yang terbaik dalam kelasnya dapat menghasilkan efisiensi yang jauh lebih tinggi, maka visi organisasi menjadi sempit. Kepuasan terhadap diri sendiri ini dapat mengakibatkan kehancuran organisasi tersebut.&lt;br /&gt;2. Tujuan Benchmarking Terlalu Luas&lt;br /&gt;Tujuan benchmarking yang terlalu luas seperti “meningkatkan laba” dapat mengakibatkan kegagalan. Patok duga membutuhkan tujuan yang lebih spesifik dan berorientasi pada bagaimana (proses), bukan pada apa (hasil). &lt;br /&gt;3. Skedul Yang Tidak Realistis&lt;br /&gt;Benchmarking membutuhkan kesabaran, karena merupakan proses keterlibatan yang membutuhkan waktu. Sedangkan skedul yang terlampau lama juga tidak baik, karena mungkin ada yang salah dalam pelaksanaannnya.&lt;br /&gt;4. Komposisi Tim Yang Kurang Tepat&lt;br /&gt;Dalam proses ditetapkannya patok duga, orang-orang yang berhubungan sehari-hari dan akan menjalannya harus dilibatkan. Merekalah yang dianggap paling memahami proses operasi yang dilaksanakan dan paling siap untuk mendeteksi setiap perbedaan yang ada antara proses organisasi dan mitra patok duga.  Meninggalkan pelibatan mereka  bisa mengakibatkan hasil yang diharapkan tidak dapat tercapai.&lt;br /&gt;5. Bersedia Menerima “OK-in-Class”&lt;br /&gt;Seringkali organisasi bersedia memilih mitra yang bukan terbaik dalam kelasnya. Hal ini dikarenakan pertimbangan diantaranya adalah:  a) yang terbaik di kelasnya tidak berminat untuk berpartisipasi; b)   riset mengidentifikasi mitra yang keliru; c) perusahaan benchmarking malas berusaha dan hanya memilih mitra yang lokasinya dekat.&lt;br /&gt;6. Penekanan Yang Tidak Tepat&lt;br /&gt;Jika tim terlalu memaksakan aspek pengumpulan dan jumlah data, maka hal tersebut dapat menyebabkan kegagalan. Padahal aspek yang paling penting adalah poses itu sendiri. Data dan angka-angka hanyalah faktor pendukung.&lt;br /&gt;7. Kekurangpekaan Terhadap Mitra&lt;br /&gt;Kepekaan terhadap mitra merupakan faktor penting dalam hubungan kemitraan. Mitra benchmarking memberikan akses untuk mengamati prosesnya dan juga menyediakan waktu dan personil kuncinya untuk membantu proses benchmaking kepada organisasi sehingga mereka harus dihormati dan dihargai.&lt;br /&gt;8. Dukungan Manajemen Puncak Yang Terbatas&lt;br /&gt;Setiap tahapan patok duga membutuhkan dukungan manajemen puncak. Dukungan total tersebut dibutuhkan untuk memulai benchmarking, membantu tahap persiapan dan menjamin tercapainya manfaat yang dijanjikan (http://www. pdambandarmasih.com/).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benchmarking dan Pemberdayaan Wakaf&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari berbagai definisi bencmarking dapat dipahami bahwa  kegiatan tersebut merupakan  usaha sebuah institusi (perusahaan) untuk “mematok” perusahaan lain yang dianggap sebagai pesaing terberat, lalu “menduga” posisi institusinya berada pada posisi setinggi apa.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benchmarking dapat pula disimpulkan sebagai proses belajar yang berlangsung secara sistematis dan terus menerus dengan melakukan kegiatan mengukur dan membandingkan setiap bagian yang dinyatakan penting oleh institusi (perusahaan) dengan institusi lain yang terbaik atau pesaing yang dianggap paling unggul di bidangnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wakaf dengan karakteristiknya yang khas, memerlukan manajemen tersendiri. Institusi wakaf mutlak dibutuhkan dalam rangka menjaga eksistensi harta wakaf dan keselarasannya dengan niat wakaf dari wakif. Dalam konteks kontemporer yang tidak menjadikan Baitul Mal sebagai institusi negara, diperlukan modifikasi institusi ini terutama berkenaan dengan pengelolaan wakaf tunai (Depag RI, 2007: 33). Asas paradigma yang selayaknya dianut dalam pengelolaan wakaf adalah keabadian manfaat, pertanggung jawaban, profesionalitas manajemen, dan keadilan sosial (Depag RI, 2007: 65-96).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari penelitian Center fo Languages and Culture (CLC) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dapat dilihat bahwa berbagai lembaga telah dapat dianggap berhasil mengembangkan wakaf  dan merespon tantangan modernitas berupa pengelolaan yang profesional, diantaranya adalah Badan Wakaf UII di tingkat perguruan tinggi, Pondok Modern Gontor di tingkat pesantren, dan Tabung Wakaf Dompet Dhuafa. Sedangkan mayoritas lembaga yang ada dianggap belum mampu  membangun kepercayaan  publik secara optimal (Bamualim et.al, 2005: xi). Kenyataan ini menegaskan perlunya lembaga-lembaga wakaf  untuk saling belajar dan mengambil pengalaman lembaga lain melalu mekanisme bencmarking.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dengan jenisnya, maka  kegiatan Patok duga dalam wakaf dapat berupa perbandingan sebuah organisasi dengan organisasi wakaf lainnya. Faktor yang dibandingkan dapat berupa karakteristik produk wakaf yang ditawarkan, kinerja, dan fungsi dari produk wakaf yang dihasilkan lembaga lain dalam bidang wakaf yang sama. Selain itu secara fungsional dapat dibandingkan pula fungsi  organisasi wakaf dan bagiannya atau proses manajemen yang berada di dalamnya. Melalui upaya-upaya perbandingan ini akan diperoleh “posisi diri” sebuah organisasi wakaf, gambaran efektifitas penyelenggraan organisasinya,  dan kadar efisiensi kegiatan dan produk yang dihasilkan, maupun pendayagunaan dana dan aset wakaf yang dimiliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diharapkan dengan kegiatan benchmarking akan terjadi, peningkatan performa diri sebuah organisasi wakaf disamping pertumbuhan mutu layanan baik bagi para donator (wakif) maupun para penerima manfaat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan dan Saran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benchmarking atau patok duga  merupakan usaha yang dilakukan sebuah organisasi dengan penuh kesadaran untuk melakukan pengukuran diri dengan membandingkan dengan organisasi lain. Kegiatan ini tentunya tidaklah mudah karena menuntut kesiapan mental dan kemauan kuat untuk berubah, tetapi ia menjanjikan perbaikan lewat penetapan standar lebih tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dalam dunia bisnis praktek patok duga mutlak diperlukan agar tetap kegiatan usaha tetap berkembang dan eksis, maka demikian pula  dalam bidang wakaf. Bencmarking  dibutuhkan  dalam rangka meningkatkan performa organisasi, meningkatkan pelayanan terhadap para wakif, serta memperbaiki kualitas dan penyampaian manfaat harta wakaf yang merupakan amanat. Wallahu A’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;Bamualim, S. Chaider et.al,  2005, Revitalisasi Filantropi Islam: Studi Kasus Lembaga Zakat dan Wakaf di Indonesia, Jakarta: CLC.&lt;br /&gt;Depag RI, 2008, Paradigma Baru Wakaf di Indonesia, Jakarta: Direktorat Pemberdayaan Wakaf.&lt;br /&gt;Siagian, Sondang P. 2004. Manajemen Abad 21. Jakarta: Bumi Aksara.&lt;br /&gt;Sunarto. 2007. Manajemen 2. Yogyakarta: Amus.&lt;br /&gt;Tjitono, Fandi &amp; Diana, Anastasia. 2003. Total Quality Manajemen (edisi revisi). Yokyakarta: Andi Ofsett.&lt;br /&gt;Yamit, Zulian. 2002. Manajemen Kualitas Produk dan Jasa. Yogyakarta: Penerbit Ekonsia.&lt;br /&gt;http://kjm.ugm.ac.id/web/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=54&amp;Itemid=84 &lt;br /&gt;http://www.bhpinfosolutions.co.uk..&lt;br /&gt;http://www.pdambandarmasih.com/forumpdam/index.php?topic=23.&lt;br /&gt;http://www.rurder.usda.gov/ocd&lt;br /&gt;http://www.surveyquest.org/files/images/iStock_000004863898XSmall.gif&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/382337659859891339-8796728051610456028?l=nuruliman1972.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/feeds/8796728051610456028/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=382337659859891339&amp;postID=8796728051610456028&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/8796728051610456028'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/8796728051610456028'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/2010/12/benchmarking-dan-pemberdayaan-wakaf.html' title='Benchmarking dan Pemberdayaan Wakaf'/><author><name>nuruliman1972</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07855832763775638687</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-382337659859891339.post-663817723741417176</id><published>2010-10-24T18:51:00.000-07:00</published><updated>2010-10-24T18:57:28.616-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Ma Syi'ta: Terserah Kamu</title><content type='html'>25 Oktober 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MA SYI’TA:  TERSERAH KAMU?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat, di sebuah tempat parkir umum di PT tempat mengajar, saya sempat nggrundel dalam hati. Ada sebuah motor Tiger yang diparkir melintang seenaknya dan dikunci stank sehingga menghalangi lalu lalang kendaraan lain yang keluar masuk parkir. Untuk dapat keluar dari parkiran, terpaksa saya harus menggeser motor besar nan berat tersebut sedemikian rupa. Pak satpam, sempat menyapa saya, dan menyampaikan bahwa gangguan motor Tiger tersebut sudah berlangsung sejak pagi. Bagi saya pribadi,  “gangguan” kecil ini  merusak suasana hati setelah seharian beraktifitas.  Pemiliki motor sendiri mungkin tidak sadar bahwa ia menimbulkan kerugian orang lain, dan bahkan mengundang umpatan mereka. &lt;br /&gt;Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendapati banyak perilaku manusia yang terkesan seenaknya. Sak esise. Tanpa mempertimbangkan keberadaan orang lain, kerugian mereka, atau bahkan  keselamatan mereka. Jika parkir sembarangan saja telah mengganggu aktivitas orang lain, maka ngebut dalam mengemudi motor/mobil, atau membuang sampah bukan pada tempatnya merupakan sebagian contoh perilaku tidak bertanggung jawab yang lebih membahayakan. Tindakan membuang sampah tidak pada tempatnya sering menyebabkan mampetnya saluran irigasi atau mengundang terjadinya banyak penyakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan  yang sering dipakai dalam tindakan tidak bertanggung jawab adalah kebebasan dan dorongan keinginan menyelesaikan masalah diri saat itu, sesegera mungkin atau secepatnya. Ada nuansa egoisitas. Yang penting kebutuhan saya cepat tercapai, rumah saya segera bersih, dan sementara orang lain dan urusannya adalah di luar tanggung jawab saya dan urusanya sendiri. Alasan tersebut sekilas nampak logis, tetapi jika dinalar lebih lanjut, akan menyisakan berbagai pertanyaan. Benarkah seseorang dalam bertindak memiliki kebebasan mutlak tanpa ada batasan-batasan lain. Bukankah kebebebasannya dalam berbuat tetap harus tidak mengganggu kebebasan orang  lain atau bahkan keselamatannya? Hurriyatu al-insan mahdudat bi hurriyat ghairih (kebebasan seseorang terbatasi oleh kebebasan orang lain).&lt;br /&gt;Pada tingkat hubungan yang lebih kompleks seperti organisasi publik (umum) kebebasan seseorang untuk bertindak semakin dibatasi oleh kebebasan orang lain. Ada aturan tertulis dalam bentuk anggaran dasar dan rumah tangga yang harus ditaati, selain kesepakatan-kesepakatan yang telah diputuskan dalam rapat bersama. Selain itu, keinginan dan ambisi pribadi harus “dikorbankan” atau dinomor duakan demi tercapainya kesuksesan bersama dan terpeliharanya kebersamaan. Hal ini sangat berbeda, jika sebuah lembaga adalah milik pribadi atau keluarga, sehingga keputusan dan keinginan pemiliklah yang dapat mutlak mendominasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah hadith, Rasulullah mengingatkan tentang kebebasan memilih jalan hidup dan bertindak ini dengan ungkapan: “hiduplah sesukamu (ma syi’ta), tetapi ingatlah bahwa kamu akan mati, perbuatlah sesukamu (ma syi’ta) tetapi ingatlah bahwa kamu akan  dibalas sesuai dengan perbuatanmu, dan cintailah orang sesukamu (man syi’ta) tetapi ingatlah bahwa engkau akan kehilangannya”. Hadith ini memberikan pengertian bahwa setiap kehidupan akan berakhir dengan kematian, dan di balik kematian ada perhitungan (hisab). Setiap perbuatan akan dibalas, baik secara cash di dunia maupun secara kredit di akhirat. Setiap ada pertemuan  yang berbuntut cinta dan kasih sayang, pasti ada perpisahan. Kenyataan ini memberikan pelajaran kepada kita untuk melakukan perhitungan dalam setiap pilihan hidup dan perbuatan, menimbang konsekwensi logis dari dampaknya, disamping melakukan persiapan untuk keadaan berbeda dari setiap “kenikmatan”  yang dialami saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan kebebasan manusia yang terbatas dan harus dikendalikan, maka kebebasan Allah sebagai Pencipta Alam ini tidaklah terbatas. Ungkapan ma sya’a Allah  yang berarti seperti apa yang dikehendaki Allah menunjukkan hal itu. Apa saja yang dikehendakiNya pasti terjadi dan berlaku. Karenanya, dalam kajian ilmu Tauhid, tidak diperkenankan menyandingan ungkapan  ma sya’a Allah wa syi’ta, atau “tergantung kehendak Allah dan kehendakmu”. Hal tersebut dianggap mengandung unsur syirik karena menyandingkan kehendakNya dengan kehendak manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu ada kendali rasa malu (al-haya’) yang patut dipertimbangkan dalam setiap perbuatan. Perasaan malu karena menyalahi kebenaran, bertentangan batasan kewajaran, atau berlawanan dengan aturan kesopanan hendaknya menghalangi seseorang untuk meneruskan perbuatannya. Tidak berlebihan jika Rasulullah menegaskan dalam hadith al-Bukhari, “jika engkau tidak merasa malu, maka perbuatlah sekehendakmu” (idza lam tastahyi fashna’ ma syi’ta).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup dan cara menjalaninya adalah sebuah anugrah kebebasan, bahkan dalam menentukan agama. Faman sya’a fal yu’min wa sya’a fal yakfur. Siapa yang mau dapat beriman, dan siapa yang mau boleh kafir. Meski demikian Allah tetap menuntut tanggung jawab di akhirat terhadap pilihan tersebut. Keberadaan surga dan neraka, serta adanya proses hisab dan al-mizan (timbangan baik buruk di akhirat) menunjukkan hal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bebas bertanggung jawab, demikianlah kira-kira ungkapan yang tepat untuk setiap perbuatan yang akan dilakukan. Perhitungan baik- buruk dan pertimbangan untung-rugi hendaknya tidak diperuntukkan bagi diri sendiri, tetapi juga untuk orang lain, organisasi, atau masyarakat luas. Batasan kebebasan ini, hendaknya tidak menjadikan kebekuan dan keengganan berkarya, tetapi hendaknya memacu kreativitas dan inovasi diri. Mari hidup bebas dengan tetap bertanggung jawab. Wallahu a’lam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/382337659859891339-663817723741417176?l=nuruliman1972.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/feeds/663817723741417176/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=382337659859891339&amp;postID=663817723741417176&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/663817723741417176'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/663817723741417176'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/2010/10/ma-syita-terserah-kamu.html' title='Ma Syi&apos;ta: Terserah Kamu'/><author><name>nuruliman1972</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07855832763775638687</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-382337659859891339.post-3186962061897784714</id><published>2010-09-28T08:28:00.001-07:00</published><updated>2010-09-28T08:33:58.812-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Religi'/><title type='text'>Renungan Halal Bihalal 1431</title><content type='html'>29 September 2010 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KETIKA MAAFMU HARUS DIMINTA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramadhan telah berlalu digantikan oleh Syawwal yang kental dengan silaturrahim dan persaudaraan, tetapi gaung dan dampak bulan puasa tersebut masih “hangat” terasa hingga kini. Suasana agamis yang melingkupi Ramadhan rasanya memang sulit dilupakan, dan memang demikianlah seharusnya sikap setiap muslim saat berpisah dengan Ramadhan. Sedih dan selalu merindukan hadirnya. Bulan penuh berkah itu  dipersiapkan Allah SWT secara khusus dan berulang setiap tahunnya bagi kaum mukmin agar mereka menjadi kaum bertaqwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara karakteristik  orang yang bertaqwa  dalam QS. Al-Baqarah: 177 adalah beriman kepada Allah, Hari Akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang melakukan perjalanan) dan orang-orang yang meminta-minta, dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Dalam Ali Imron 134, Allah menyebut  kesegeraan menafkahkan harta baik di waktu lapang maupun sempit, kemampuan menahan amarah,  mema’afkan (kesalahan) orang, dan segera bertaubat ketika berbuat dosa (fahisyah) atau aniaya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dengan mencermati dua ayat nampak bahwa taqwa merupakan sebuah kepribadian utuh, gabungan dari kesalehan ritual individual yang lebih bersifat vertikal ilahiyah maupun kesalehan sosial yang  bersifat horizontal insaniyah. Kesalehan ritual berupa ketaatan total kepada Allah, keimanan yang mantap, serta kekhusyukan dalam beribadah. Sementara kesalehan sosial adalah kelembutan hati, kepedulian terhadap sesama, kedermawanan, dan akhlak yang terpuji.&lt;br /&gt;Dalam berbagai redaksi hadith, nabi juga menegaskan hal ini. Tidak disebut bertaqwa  atau bahkan beriman, seseorang hanya mengantongi  satu aspek taqwa saja dan meninggalkan aspek lain. Lihat saja misalnya hadith nabi yang menyatakan bahwa tidak disebut beriman seseorang yang tidak memberikan keamanan bagi tetangganya dari kejahatan dirinya (bawaiquh). Dalam al-kutub al-tis’ah, hadith ini diriwayatkan dalam sebelas jalur berbeda, dengan menyebut tidak masuk surga orang yang berperilaku buruk kepada tetangganya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Berkenaan dengan kesalehan sosial, sikap memaafkan orang lain (al-‘afw) dan kesalahannya dapat disebut sebagai jalan dan pintu menuju hubungan antar individu yang harmonis dan baik. Mindset diri untuk memaafkan orang lain, akan membimbing seseorang berperilaku santun, lembut, penuh penghargaan, bahkan terhadap orang yang pernah berbuat kesalahan atau aniaya terhadap dirinya. Ia sadar bahwa setiap manusia adalah makhluk lemah  penuh salah dan khilaf (khatta’) dan tidak sempurna, karena ia perlu memberikan maafnya sebagaimana Tuhan telah berlaku sebagai Ghafur Rahim (Maha Pengampun dan Penyayang) terhadap kesalahan hamba-hambaNya. Tidak berlebihan jika Al-Qur’an menyebut pemberiaan maaf sebagai ciri orang bertaqwa (QS. 3: 134), serta memerintahkan setiap muslim agar menjadi pemaaf dan memaafkan kesalahan orang lain (QS. 4: 149; 64: 14). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memaafkan juga diperlukan untuk kebaikan diri seseorang dan kesehatan jiwanya. Dengan memaafkan, berarti seseorang berusaha untuk mengakhiri permusuhan, dan memulai hubungan baik yang baru. Islam melarang kaum muslimin untuk menyimpan permusuhan dan kebencian terhadap orang lain melebihi 3  hari. Yang terbaik diantara dua orang yang berselisih adalah yang mengajak berbaikan dengan mulai mengucapkan salam (HR. Al-Bukhari: 5613). Menyimpan kebencian identik dengan menyimpan bara api yang suatu saat justru dapat menghanguskan atau mencelakakan si empunya. Tidak berlebihan bila Rasul menyebut hasad (kedengkian) seperti api. Ia akan menghapus kebaikan sebagaimana api membakar kayu  bakar (HR. Abu Dawud: 4257).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam memahami makna memaafkan,  perlu direnungkan suasana hidup tanpa permaafan. Menurut Hendardi, Ketua Pengurus Setara Institut, hidup tanpa permaafan hanya melanggengkan derita psikis yang berawal dari sikap permusuhan dan keinginan` mengalahkan. Biasanya sikap dan keinginan ini (tanpa disadari) berlatar belakang amarah, suatu emosi yang menghabiskan energi mental dan melanggengkan stres. Tanpa memaafkan, seseorang akan terpenjara dalam keinginan berbalas dendam. Yang  menginginkan si bersalah menderita atas nama keadilan instinktual. Akibatnya, ia terikat rantai derita, berbalut kekerasan yang tiada putus. Rantai derita mesti diputus oleh sikap memaafkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu pula digarisbawahi bahwa dalam memaafkan tidaklah harus mengesampingkan hak-hak kita, baik sebagai pribadi maupun sebagai unit sosial. Memaafkan bukan mengabaikan rasa keadilan begitu saja. Dalam memaafkan, kita tetap dapat menuntut hak yang menjadi bagian kita dan tidak membebaskan si bersalah dari tanggung jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara langkah-langkah memaafkan adalah: mengenali luka batin kita, memutuskan untuk memaafkan, menyadari kesulitan dalam memberi maaf, dan menyadari dampak negatif dari ketiadaan permaafan (Donneley: 1982). Sementara David Norris (1984) mengusulkan lima langkah berupa: memperteguh niat memaafkan, secara akurat memeriksa kembali pelanggaran (kesalahan) orang yang akan dimaafkan, memaknakan kembali luka batin akibat kesalahan, membina kembali relasi yang terputus, dan mengintegrasikan kembali berbagai retak psikis yang dialami akibat luka batin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya untuk memaafkan adalah satu langkah dalam bersilaturrahmi, tetapi perlu dilanjutkan dengan upaya-upaya aktif. Upaya menjalin hubungan kekerabatan dan persaudaraan (silaturrahim) harus dilakukan untuk menjemput rahmat Allah dan berkah kehiudpan, dan menghindarkan murkaNya. Janganlah kita sampati disebut qati’ tetapi mudah-mudahan menjadi wasil (penyambung).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Akhirnya, dari uraian terdahulu dapat dipahami bahwa memaafkan adalah proses yang  panjang dan tidak mudah. Tetapi ia harus tetap dilakukan demi terjaganya hubungan silaturrahim. Selain itu sikap ini juga bermanfaat bagi diri agar terlepas dari derita psikis dendam dan permusuhan berkepanjangan yang dapat memicu stress. Memaafkan adalah sarana ”pembebasan” diri. Maukah? Wallahu a’lam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/382337659859891339-3186962061897784714?l=nuruliman1972.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/feeds/3186962061897784714/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=382337659859891339&amp;postID=3186962061897784714&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/3186962061897784714'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/3186962061897784714'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/2010/09/renungan-halal-bihalal-1431_28.html' title='Renungan Halal Bihalal 1431'/><author><name>nuruliman1972</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07855832763775638687</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-382337659859891339.post-2728851776666173759</id><published>2010-09-19T21:20:00.000-07:00</published><updated>2010-09-19T21:23:53.420-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Religi'/><title type='text'>Agenda Silaturrahim dan RTL Ramadhan</title><content type='html'>18 September 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AGENDA SILATURRAHIM DAN RTL RAMADHAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Amalia Sulfana*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum muslimin di seluruh dunia telah merayakan hari raya ‘Iedul Fithri 1 Syawwal 1431 H pada 10 September 2010 sebagai tanda berakhirnya ibadah puasa Ramadhan mereka. Saat  itu, gema takbir, tahlil, dan tahmid dikumandangkan sebagai ungkapan syukur kepada Allah atas hidayahNya sehingga mereka mau dan mampu menunaikan kewajiban puasa Ramadhan.&lt;br /&gt;Setelah shalat ‘Ied ditunaikan, masyarakat muslim Indonesia mentradisikan silaturrahim tahunan berupa saling anjangsana dan berkunjung kepada saudara, kerabat, famili, kenalan, maupun kolega. Biasanya yang lebih muda datang kepada yang lebih  tua atau senior.  Silaturrahimpun seringkali didahului dengan sungkeman  kepada orang tua terlebih dahulu, atau istri kepada suaminya. Tradisi silaturrahim kolektif inilah yang memicu timbulnya tradisi mudik  yang telah melembaga dan menjadi agenda nasional rutin setiap tahunnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkenaan dengan taqwa,  silaturrahim dapat disebut sebagai salah satu bentuk dimensi sosial-horizontal ketaqwaan seorang muslim. Jika ditelaah lebih lanjut, tradisi silaturrahmi memiliki dasar yang kokoh dalam Islam. Dalam al-Qur’an,  diantara salah satu ciri orang yang bertaqwa adalah mereka yang mau memaafkan orang lain (al-‘afin ‘an al-nass). Keinginan untuk mendapatkan maaf dan do’a, mendorong seseorang untuk mengunjungi yang lainnya. Kunjungan itu juga dimaksudkan sebagai bentuk berbakti yang muda kepada “senior”nya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, Islam juga  memerintahkan umatnya untuk melestarikan kekerabatan (al-rahim) dan melarang memutuskan hubungan tersebut. Rasulullah dalam hadith al-Bukhari menegaskan bahwa pemutus hubungan kekerabatan (qati’) tidak akan masuk surga.  Di hadith lain, Rasul menyebut bahwa puncak amal kebajikan (khair al-a’mal) adalah menyambung kekerabatan dengan orang yang memutuskannnya, memberi kepada orang yang menahan haknya, dan memaafkan orang yang telah berbuat dzalim kepada dirinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang perlu digaris bawahi adalah bahwa upaya silaturrahmi, memelihara kekerabatan, dan menjalin persaudaraan seharusnya tidak terbatas pada bulan Syawwal saja atau setahun sekali. Sebaliknya, hendaknya ia tetap dilakukan setiap saat dan kesempatan. Ungkapan permohonan maaf dan kunjungan dapat dilakukan kapanpun atau melalui media apa saja. Setiap perselisihan dan percekcokan hendaknya segera diusahakan penyelesaiannya dan  tidak dipertahankan berlarut hingga menunggu musim lebaran tiba. Bukankan Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa tidak halal bagi seorang muslim untuk mengacuhkan atau mendiamkan muslim lain lebih dari tiga hari. Ini berarti batas menyimpan dendam, permusuhan, dan rasa kesal hanya dibatasi tiga hari saja, selanjutnya haruslah segera dihapus dan digantikan maaf, pengampunan, atau sikap baik. Tidak mudah memang, tetapi disitulah letak tantangan kebaikan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berakhirnya Ramadhan juga merupakan awal perjuangan sebenarnya dalam menjalani hidup penuh ketakwaan. Jika pada Ramadhan hampir semuanya secara kondusif mendukung iklim puasa, maka sepeninggalnya keadaan akan kembali “normal”. Pola hidup masyarakat  yang sejenak diselingi suasana penuh rahmat  nan agamis akan kembali ke habitatnya, penuh ambisi, sekuler, dan jauh dari agama. Hanya mereka yang belajar  dengan baik kepada madrasah Ramadhan  dan mampu mengambil pelajaran di dalamnya, yang dapat sukses menjadi bulan-bulan sesudahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dinalar dengan seksama, Ramadhan memang bulan “latihan” bertaqwa sebagaimana diindikasikan oleh ayat puasa la’allakum tattaqun (QS. 2: 185), sedangkan kesebelas bulan berikutnya adalah bulan praktik dan aplikasi. Dalam latihan Ramadhan, Allah berkenan memberikan stimulus dan motivasi luar biasa agar kita dapat berlatih dengan baik. Setelah Ramadhan berakhir, tinggallah masa mempraktikkan ajaran-ajaran kebaikan tersebut. Puasa selama sebulan bisa diteruskan dengan puasa Syawwal, senin-kamis, atau puasa sunnah lain. Kebiasaan shalat Tarawih dilanjutkan dengan shalat tahajud. Kebiasaan berbagi lewat ifthor (buka bersama), infak, dan shadaqah hendaknya tetap dilanggengkan, dan demikian seterusnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi kesuksesan bertaqwa, setelah Ramadhan berakhir perlu digagas dan disusun program lanjutan atau “rencana tindak lanjut”  (RTL). Di dalamnya dapat diuraikan secara detail masing-masing capaian kebajikan selama Ramadan dan kegiatan-kegiatan terusannya beserta timing waktunya. Dengan demikian diharapkan ada sambungan kebaikan setiap amaliah Ramadhan, serta bulan mulia ini tidak hanya berfungsi sebagai “latihan bertakwa” tanpa praktik.  Akan nampak pula kenaikan drajat ketakwaan seseorang pasca puasa. Bukankan dikatakan “Laisa al-‘id liman labisa al-jadid, walakin liman taqwahu yazid” yang berarti bahwa Fithri adalah milik mereka yang taqwanya meningkat dan bukan hanya berbaju baru? Allahu a’lam.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Penggiat MGMP Bahasa Arab SMA dan guru PAI SMAN Babadan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/382337659859891339-2728851776666173759?l=nuruliman1972.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/feeds/2728851776666173759/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=382337659859891339&amp;postID=2728851776666173759&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/2728851776666173759'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/2728851776666173759'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/2010/09/agenda-silaturrahim-dan-rtl-ramadhan.html' title='Agenda Silaturrahim dan RTL Ramadhan'/><author><name>nuruliman1972</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07855832763775638687</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-382337659859891339.post-3317446968564422825</id><published>2010-08-19T23:23:00.000-07:00</published><updated>2010-08-19T23:30:18.947-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Religi'/><title type='text'>Menikmati Puasa</title><content type='html'>21 Agustus 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENIKMATI PUASA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Amalia Sulfana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibadah puasa Ramadhan diwajibkan dengan selaksa hikmah, diantaranya  adalah  untuk menundukkan dominasi nafsu dan syahwat yang biasanya banyak ditumbuh suburkan oleh makan dan minum. Dengan berlatih mengendalikan makan minum, diharapkan seorang yang berpuasa dapat terbiasa mengendalikan nafsu dirinya. Nabi menyebut bahwa syetan dan godaannya merasuk dalam diri anak Adam --dengan mengompori  nafsu tersebut-- melalui jalan darahnya (HR. Bukhari Muslim). Mempersempit godaan syetan adalah usaha mempersempit jalan darah yang dilakukan dengan berpuasa.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, puasa juga menumbuhkan kepekaan dan empati terhadap penderitaan sesama. Dengan berpuasa, seorang  muslim akan dipaksa sharing rasa lapar dan haus yang akrab dengan kaum fakir miskin. Tidak berlebihan jika nabi Yusuf  yang memegang jabatan Kepala Badan Logistik (Bulog) saat itu, menolak hidup mewah dan glamour, namun tetap memilih kehidupan sederhana dengan jalan membiasakan diri berpuasa agar tetap dapat merasakan derita kaum papa (inni akhafu an asyba’ fa ansa al-jaai’).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja dalam realita di masyakarat  muslim  dewasa ini ditemukan fenomena yang kontradiktif dalam menjalani  puasa. Bulan Ramadhan lebih sering identik dengan boros dan israf  (berlebih-lebihan) dalam konsumsi bahan makanan, dengan budget belanja dobel atu lebih. Bertambahnya anggaran pengeluaran  belanja tersebut tidaklah bermasalah jika dengan berpuasa rasa empati semakin tumbuh dan banyak orang yang disantuni dan diberi makan. Tetapi,  jika semuanya hanya habis dikonsumsi sendiri,  maka sesungguhnya hal itu termasuk bentuk berlebih-lebihan dan ketidaksederhanaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betul, bahwa kaum muslimin telah menahan makan dan minum sepanjang hari, tetapi mereka lalu berlebih-lebih dalam berbuka puasa. Saat adzan maghrib dikumandangkan, seakan menjadi lepas kendali, maka acara ”balas dendam” pun dimulai. Segala aneka ragam hidangan yang disajikan, dalam sesaat  saja telah berpindah ke dalam perut. Sebuah perilaku yang menggambarkan laku ketidak sabaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam berbuka, seorang yang berpuasa selayaknya tetap dapat mengendalikan diri. Tidak boros, serakah, berlebih-lebihan, dan tidak tergesa-gesa dalam mengkonsumsi makanan. Untuk dapat merengkuh kesuksesan berpuasa, al-Ghazali menyarankan agar seorang yang berpuasa tidak memenuhi perutnya dengan makanan (alla yastakstis al-ta’am al-halal waqt al-iftar) dalam satu waktu. Berbuka dilakukan setahap demi setahap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ungkapan al-Ghazali tersebut jika dicerna secara mendalam dimaksudkan agar kita dapat menangkap hikmah puasa secara utuh. Jika kita boros dalam mempersiapkan berbuka bisa saja puasa justru tidak menjadikan kita peka terhadap penderitaan orang lain. Dan bila kita berbuka secara serakah, bisa saja nafsu syahwat kita menjadi tambah ganas dan menguat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa dan ibadah-ibadah lain dalam Islam menurut hemat penulis hanya akan dapat menghantarkan pelakunya kepada puncak taqwallah jika ia mengatahui cara menikmatinya. Setiap Ibadah tentunya memiliki essensi sendiri, sehingga berbeda cara. Menikmati shalat misalnya, dapat dilakukan dengan khusyu’ di dalamnya. Khusyu’ diawali dengan thuma’ninah berupa ketenangan dalam menunaikan setiap gerakan shalat dengan sempurna dan merampungkan setiap bacaan shalat. Tidak ngebut atau tergesa-gesa. Dilanjutkan dengan perasaan rendah diri dihadapan keagungan Allah (fahm ’adzamat Allah), menghadirkan hati (hudhur al-qalb), dan memahami bacaan shalat (tafahhum al-maqru’). Khusyu’ adalah proses panjang yang memerlukan konsentrasi dan banyak latihan. Tetapi hanya shalat yang khusyu’ yang dapat mencegah perilaku keji dan mungkar, disamping menghadirkan ketentraman hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menikmati puasa dapat dilakukan dengan menjalaninya penuh pengendalian diri dan kesederhanaan, baik ketika siang hari maupun malamnya. Karenanya, saat berbuka hendaknya seorang  shaim tetap menjaga etika dan pengendalian diri. Tidak mengumbar nafsu makan minumnya secara berlebih-lebihan dan tidak serakah. Tidak juga menjadikan acara berbuka menjadi ”satu ronde” dengan sekaligus menyantap semua makan yang tersajikan di atas meja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berusaha menikmati puasa diharapkan kaum muslimin dapat mentas setelah bulan Ramadhan ini menjadi muttaqin, sebuah golongan manusia-manusi pilihan yang sarat dengan nilai-nilai kebaikan diri. Semoga Allah memberikan taufiq dan hidayahNya agar kita dapat merampungkan puasa tahun ini dengan sebaik-baiknya. Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/382337659859891339-3317446968564422825?l=nuruliman1972.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/feeds/3317446968564422825/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=382337659859891339&amp;postID=3317446968564422825&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/3317446968564422825'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/3317446968564422825'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/2010/08/menikmati-puasa.html' title='Menikmati Puasa'/><author><name>nuruliman1972</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07855832763775638687</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-382337659859891339.post-8571856851140671663</id><published>2010-08-12T18:05:00.000-07:00</published><updated>2010-08-29T18:38:55.537-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Religi'/><title type='text'>Mewaspadai "Puasa Seolah-Olah"</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_PHfVnL1Tq0A/TGSbivkNdLI/AAAAAAAAAEg/cIXVGbcdigs/s1600/b34.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 307px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_PHfVnL1Tq0A/TGSbivkNdLI/AAAAAAAAAEg/cIXVGbcdigs/s400/b34.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5504695665739789490" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14 Agustus 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEWASPADAI “PUASA SEOLAH-OLAH”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesepuh saya di Fakultas, pak Din, seringkali mengutip keprihatinan koleganya profesor Zainuddin Maliki terhadap budaya formalisme di masyarakat Indonesia yang seringkali melupakan substansi dan mengesampingkan esensi sesuatu. Ujian akhir dalam bentuk UAN misalnya seringkali “diakali”  sehingga tidak mencerminkan kondisi riil hasil proses pendidikan. Meski penyelenggaraannya menguras energi dan biaya semua pihak, tetapi sering tidak berhasil mengambarkan yang sesungguhnya disebabkan banyaknya laku kecurangan. Dengan demikian mereka tidak banyak belajar dan mengambil manfaat dari proses ujian. Karenanya, ujian tersebut bisa saja dibunyikan menjadi “seolah-olah ujian”. Disamping itu, terdapat pula fenomena “seolah-olah kuliah” jika aturan-aturan kuliah tidak ditaati dan hanya mengejar formalitas ijazah/ gelar, atau “seolah-olah menikah” jika kedua pasangan tidak serius menjalaninya dan hanya untuk mengesahkan hasil hubungan gelap yang telah terjadi, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkenaan dengan ibadah puasa, Rasulullah SAW mengingatkan kaum muslimin tentang banyaknya shaimin yang memiliki kualitas rendah puasa, yang hanya berhenti pada kegiatan fisik perut berupa menahan makan dan minum. Karenanya, beliau menyebut “rubba al-shaim laisa lahu min shiyamih illa al-ju’ ” (HR. Ibn Majah).  Pahala yang didapatpun hanyalah rasa lapar dan dahaga. Yang perlu diwaspadai adalah bahwa redaksi hadith tersebut menyebut kata “rubba shaim” atau jumlah yang banyak dari golongan shaimin yang “gagal” berpuasa dengan sebenarnya. Ini berarti pula bahwa hanya sedikit orang saja yang kualitas puasanya baik dan dapat digolongkan kepada golongan sukses berpuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dicermati, pelaksanaan Ibadah-ibadah Islam termasuk puasa di dalamnya, sangat ditentukan kesuksesannya oleh dampak yang ditimbulkan, baik secara pribadi maupun sosial. Hal ini menegaskan bahwa meski sebagian ibadah nampak hanya berdimensi vertikal ilahiyah semata, namun sejatinya ia tetap harus berdimensi sosial horizontal, yang dapat dinikmati manusia dan dirasakan makhluk hidup lainnya, berupa kesalehan pribadi dan sosial. Ibadah yang shalat disebut sukses jika dapat menghantarkan pelakunya dekat dengan Allah, semakin khusyu’, dan juga tunduk kepadaNya. Selanjutnya ia juga harus dapat mencegah dari perbuatan keji dan munkar (tanha ‘an al-fahsya’ wa al-munkar). Tanpa paduan aspek kedua yang melengkapi yang pertama, ia hanyalah ibadah yang menggugurkan kewajiban (yubri’ al-dzimmah) tetapi menjadi kering dan mungkin tidak berpahala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesuksesan seorang mukmin untuk mengelola perut lapar ketika ia berpuasa diharapkan berkorelasi positif terhadap penguasaan diri dan perilakunya sehingga tidak merugikan atau menyakiti orang lain, dan sebaliknya mendatangkan keuntungan. Tidak berlebihan jika Nabi menyebut puasa bukan hanya puasanya perut dari makan dan minum (min al-akl wa  al-syurb) tetapi juga puasa dari ucapan kotor dan perbuatan keji (min al-lagw wa al-rafast). Dalam hadith Al-Bukhari, Rasulullah menegaskan bahwa seorang yang berpuasa tetapi tidak meninggalkan kebohongan dan laku kecurangan, maka Allah tidak butuh terhadap puasanya. Di hadith Al-Bukhari yang lain,  Nabi menyebut puasa sebagai perisai (junnah). Ketika berpuasa seorang muslim tidak diperkenankan berkata buruk dan menghardik. Jika diomeli orang lain dan dicela, hendaknya ia berkata (termasuk pada diri sendiri) “saya sedang puasa”. Hal ini dimaksudkan agar emosinya dapat diredam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kesuksesan berpuasa, Imam al-Ghazali dalam Ihya’-nya menawarkan kiat-kiat rahasia yang  dapat dipergunakan untuk meningkatkan kualitas puasa Ramadhan, diantaranya: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Menutup pandangan (ghadd al-bashar) dan menjaganya dari penglihatan bebas terhadap apa-apa yang dicela dan dilarang, dan dari hal-hal yang dapat menyibukkan hati dan melupakannya dari dzikir kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Menjaga lisan (hifdz al-lisan) dari perkataan sia-sia, kebohongan, ghibah, adu domba, ungkapan jorok, keras, penuh permusuhan, dan riya’. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Menjaga pendengaran (kaff al-sam’)  dari mendengar segala yang dibenci. Pada prinsipnya, segala sesuatu yang haram untuk diucapkan, haram pula untuk didengar. Oleh sebab itu Allah menyamakan antara mendengar kebohongan dengan memakan suht (samma’un li al-kadzibi, akkalun li al-suht).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Mengendalikan anggota tubuh (kaff baqiyyat al-jawarih)  dari segala dosa.  Termasuk dalam hal ini adalah menjaga tangan dan kaki  dari kejahatan, dan menjaga perut dari makanan yang syubhat ketika berbuka. Menurut al-Ghazali, tidak ada artinya jika kita berpuasa dari makanan yang halal tetapi berbuka dengan sesuatu yang haram. Hal ini ibarat orang yang membangun istana tetapi merobohkan kota.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;5. Hendaknya tidak berlebihan dalam mengkonsumsi makanan ketika berbuka sehingga perutnya penuh sesak. Sesungguhnya tidak ada tempat yang lebih dibenci oleh Allah dari perut seorang hamba yang kepenuhan dengan makanan halal.  Bagaimana mungkin ia akan menjadikan puasanya sebagai sarana menundukkan hawa nafsu, jika berbuka berubah menjadi ajang balas dendam dalam makan dan minum. Ketika berbuka, seorang muslim harus tetap dapat mengendalikan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Ketika berbuka hendaknya hati seorang shaim memiliki perasaan harap-harap cemas (bain al-khauf wa al-raja’). Ia perlu tetap merasa cemas jika puasanya hari ini tidak sah, atau terkurangi pahalanya dengan dosa yang dilakukan. Dan sebaliknya terus berharap bahwa Allah akan melimpahkan rahmat dah kasih sayangNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiat-kiat berpuasa yang ditawarkan al-Ghazali mengajarkan kita agar dalam berpuasa kita dapat meningkatkan kualitasnya. Dari sekedar puasa perut menuju puasa segenap anggota tubuh, bahkan juga puasa hati. Telaah terhadap teks-teks agama tentang puasa menegaskan bahwa puasa dalam pengertian al-Ghazali tersebut yang dikehendaki oleh Islam. Puasa model ini akan dapat mengantarkan pelakunya menuju derajat muttaqin. Wallahu a’lam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/382337659859891339-8571856851140671663?l=nuruliman1972.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/feeds/8571856851140671663/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=382337659859891339&amp;postID=8571856851140671663&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/8571856851140671663'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/8571856851140671663'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/2010/08/mewaspadai-puasa-seolah-olah.html' title='Mewaspadai &quot;Puasa Seolah-Olah&quot;'/><author><name>nuruliman1972</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07855832763775638687</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_PHfVnL1Tq0A/TGSbivkNdLI/AAAAAAAAAEg/cIXVGbcdigs/s72-c/b34.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-382337659859891339.post-6617372612291146654</id><published>2010-08-04T19:21:00.000-07:00</published><updated>2010-08-04T19:58:27.851-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Religi'/><title type='text'>Puasa dan Inner Beauty</title><content type='html'>6 Agustus 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PUASA DAN INNER BEAUTY&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Amalia Sulfana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibadah puasa Ramadhan merupakan salah satu rukun Islam yang harus dilaksanakan oleh kaum muslimin di seluruh dunia. Allah Subahanu wa Ta’ala telah mewajibkannya kepada kaum yang beriman, sebagaimana telah diwajibkan atas kaum sebelum Muhammad saw. Puasa adalah amal ibadah klasik yang telah diwajibkan atas setiap umat-umat terdahulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sebuah kewajiban, puasa diperintahkan dengan tujuan utama agar para pelakunya menjadi bertaqwa (la’allakum tattaqun) yang tercermin dalam sikap diri berupa ketaatan melaksanakan perintah dan  meninggalkan larangan. Selain itu, puasa juga memiliki dampak positif pada pembentukan mental spiritual para shaimin maupun kesehatan jasmaniyah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesehatan merupakan nikmat yang tidak dapat dinilai dengan harta benda. Untuk menjaga kesehatan, tubuh perlu diberikan kesempatan untuk istirahat. Puasa, yang mensyaratkan untuk tidak makan, minum, dan melakukan perbuatan-perbuatan lain yang membatalkan puasa dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari sangat bermanfaat untuk menjaga kesehatan kaum muslimin baik jasmani maupun rohani. Shumu tashihhu, ”berpuasalah niscaya kalian akan sehat”, demikian nabi menegaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa ditengarai dapat mencegah penyakit yang timbul karena pola makan yang berlebihan. Makanan yang berlebihan gizi belum tentu baik untuk kesehatan seseorang. Menurut para pakar kesehatan, Kelebihan gizi atau overnutrisi mengakibatkan kegemukan yang dapat menimbulkan penyakit degeneratif seperti kolesterol dan trigliserida tinggi, jantung koroner, kencing manis (diabetes mellitus), dan lain-lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara pengaruh mekanisme puasa terhadap kesehatan jasmaniah meliputi berbagai aspek kesehatan, meliputi : 1). Memberikan kesempatan istirahat kepada alat pencernaan; 2). Membersihkan tubuh dari racun dan kotoran (detoksifikasi);  3). Menambah jumlah sel darah putih. Sel darah putih berfungsi untuk menangkal serangan penyakit sehingga dengan penambahan sel darah putih secara otomatis dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh; 4). Menyeimbangkan kadar asam dan basa dalam tubuh; 5). Memperbaiki fungsi hormon, dan meremajakan sel-sel tubuh; 6). Meningkatkan fungsi organ tubuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan aspek mental spiritual yang dapat dibentuk oleh puasa adalah semangat  empati terhadap orang lain dan berbagi dengan mereka yang tidak punya. Ketika ditanya tentang kebiasaannya berpuasa, padahal Nabi Yusuf adalah Kepala ”Badan Logistik” saat itu, beliau menjawab ”inni akhafu an asyba’ fa ansa al-jaai’a” (aku takut jika selalu kekenyangan akan melupakan mereka yang kelaparan). Selain itu, puasa juga menumbuhkan perasaan muraqabatullah (berada dalam pengawasan Allah), penguasaan emosi, dan kemampuan menunda  atau mengendalikan syahwat.&lt;br /&gt;Aspek-aspek mental spiritual tersebut meski kasat mata yang sepintas tidak diindrai oleh penglihatan tetapi sesunguhnya akan tercermin dalam tindakan riil pemiliknya yang dapat dirasakan  oleh sendiri oleh pelakunya maupun orang-orang yang berinteraksi dengaannya. Karenanya, mereka yang memiliki  mental baik tersebut  akan dikenal sebagai pemilik akhlak mulia yang setiap orang akan merasa senang dan nyaman berdekatan  dengannya. Ia juga akan disebut sebagai pribadi yang ”cantik” luar dalam, sebuah kesempurnaan yang padu padan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kecantikan luar tercermin dalam tampilan fisik dan bisa memudar seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia, maka tidak demikian dengan kecantikan dalam (inner beauty)  karena bersumber dari relung kesalehan hati. Lewat ketaatan beribadah dan puasa Ramadhan secara sebenarnya, kecantikan rohani ini akan semakin memancar jika pemiliknya mampu menjaga kebersihan hati dan menghilangkan penyakit-penyakitnya. Nabi Muhammad menegaskan dalam hadith al-Bukhari tentang betapa besarnya peran dan fungsi hati dalam membentuk kepribadian. Beliau berujar, ''Ketahuilah di dalam tubuh itu ada segumpal daging. Bila ia baik, maka baik pulalah seluruh perbuatannya. Dan, apabila ia rusak, maka rusak pulalah seluruh perbuatannya. Ketahuilah itu adalah hati.'' &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh pikiran, perkataan, dan perbuatan adalah buah akhlak yang dikendalikan oleh hati. Ketika seorang Muslim memahami hakikat hidup di dunia, hatinya akan segera bertindak untuk mempercantik diri dengan akhlak mulia sesuai tuntunan Rasulullah serta mencampakkan tindakan tercela berupa syirik, iri, dengki, dan takabur. Untuk menghadirkan kecantikan rohani, kaum Muslim tidak perlu merogoh uang saku yang banyak untuk perawatan. Hanya perlu memperbanyak amal saleh dan menjauhi segala bentuk perbuatan maksiat dan menggantinya dengan dzikir pada Allah SWT. Bulan Ramadhan yang penuh berkah menyediakan kesempatan berharga dalam mendidik hati dan menyempurnakan kecantikan diri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah memberikan seutuhnya kesempatan puasa Ramadhan tahun ini untuk melaksanakan puasa dan berbagai ibadah di dalamnya agar kita dapat menjadi muslim bertaqwa dan menyempurnakan kecantikan diri kita luar dalam. Amin ya mujib al-Saili&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/382337659859891339-6617372612291146654?l=nuruliman1972.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/feeds/6617372612291146654/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=382337659859891339&amp;postID=6617372612291146654&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/6617372612291146654'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/6617372612291146654'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/2010/08/puasa-dan-inner-beauty.html' title='Puasa dan Inner Beauty'/><author><name>nuruliman1972</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07855832763775638687</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-382337659859891339.post-4137011956860358186</id><published>2010-07-18T17:52:00.000-07:00</published><updated>2010-07-18T18:03:04.140-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Religi'/><title type='text'>Menjaga Aurat Diri</title><content type='html'>22 Juli 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENJAGA AURAT DIRI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus video asusila yang diduga kuat melibatkan para artis (Ariel-Luna-Cut Tari dan yang lainnya) turut memperparah ketergantungan para penikmat  tayangan esek-esek di negeri ini. Tayangan berita dan infotainment yang terkesan penuh blow up, semakin menambah rasa penasaran setiap orang untuk menontonnya. Hebohnya, ada kesan keinginan para pelaku untuk lepas dari jerat hukum dengan alasan video tersebut dibuat untuk dokumentasi pribadi, dan karenanya yang patut disalahkan menurut mereka adalah para penyebarnya. Sebuah pembelaan yang tidak bertanggung jawab, serta mengada-ada. Bukankah perilaku mesum mereka saja merupakan kesalahan fatal yang patut disalahkan, apalagi mendokumentasikannya, lalu teledor dalam menjaga file-file ”panas”, adalah kesalahan-kesalahan bonus bagi kesalahan utama. Khata’ ala khata’, kesalahan ganda yang berlipat-lipat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tayangan mesum atau pornografi tidak akan berhenti dampaknya dengan selesai pemutarannya, tetapi eksesnya akan berkepanjangan . Menurut Donald L. Hilton, ahli bedah syaraf dari Rumah Sakit San Antonio Amerika Serikat,  paparan materi pornografi secara terus-menerus menyebabkan kecanduan (adiksi) yang pada akhirnya mengakibatkan jaringan otak mengecil dan fungsinya terganggu. Dampak pornografi ini lebih parah dari kerusakan otak akibat kokain, meski tetap dapat dipulihkan dengan upaya yang keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cafebalita.com mengungkap bahwa akses terhadap pornografi telah memacu anak-anak menjadi dewasa sebelum waktunya. Sebuah riset menunjukkan bahwa dengan adanya internet, anak-anak telah mengenal pornografi sejak usia dini, 8 tahun. Anak-anak mulai banyak melakukan aktivitas seksual sebelum waktunya. Lebih dari itu, tayangan pornografi  yang biasanya adalah perilaku seks menyimpang, akan mendorong para penikmatnya untuk melakukan hal yang sama. Keberadaan lembaga rumah tangga dan perkawinan, juga banyak terganggu dikarenakan orientasi pasangan suami istri akan menjadi dangkal, dan melulu urusan seks. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menganut teori imitasi, maka setiap manusia akan berusaha menirukan apa yang dilihat atau didengar. Karenanya, mata dan telinga sebagai pintu masuk setiap informasi hendaknya dapat ”disterilkan” dari informasi buruk.  Penulis meyakini bahwa Ariel dan wanita-wanita  yang terlibat dalam video mesum tersebut adalah ”pelanggan” berat pornografi yang berusaha  mempraktekkan apa yang ditonton, sama persis  atau bahkan dengan modifikasi tambahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pornografi telah menjelma ibarat sebuah ”virus” mematikan, pada satu sisi, dan ”hiburan” pada sisi lain, meski nampak tidak sebanding. Bagaimana tidak, jika generasi penerus masa depan bangsa ini mulai terjangkiti “virus  pornografi”, dapat dipastikan negeri tercinta Indonesia tidak akan bermasa depan cerah, karena dipenuhi generasi yang mulai tidak mengindahkan batas-batas agama dan moral. Konsentrasi dan arah pemikiran anak  yang harusnya dipenuhi semangat belajar dan menempa diri mengasah ketrampilan, akan tergantikan pikiran-pikiran tentang seks dan fantasinya. Pemikiran yang belum pada waktunya. Sebuah harga yang terlalu mahal dibayar tanpa mereka sendiri sadari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktifitas seksual adalah rahasia suami istri  yang seharusnya tersimpan rapi.  Pengalaman, kenyamanan, fantasi hubungan suami istri, dan bahkan kekurangannya, haruslah tetap dirahasiakan dan tidak disebarkan untuk dikonsumsi publik. Merekam adegan intim suami istri atau bahkan perselingkuhan dan menyimpannya dalam bentuk file-file di komputer sama saja dengan menyimpan borok diri yang sewaktu-waktu dapat menyebar. Rahasia yang seharusnya aurat yang perlu disembunyikan dapat menjadi terbuka dan dikonsumsi banyak orang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada prinsipnya semua aib, kekurangan, dan rahasia diri yang tidak layak diperbincangkan orang lain adalah aurat. Kamus Al-Munjid mengartikan ’aurat sebagai ma yustahya minhu (apa yang seseorang merasa malu dengannya), ’aib (kekurangan diri), dan khalal (ketidak sempurnaan). Berdasarkan ini, dosa dapat dikategorikan sebagai aurat. Sebagaimana  aib dan aurat diri, dosa diperintahkan untuk disembunyikan. Hanya kita dan Allah saja yang Tahu agar dapat mudah bertaubat dan selanjutnya diampuni. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua manusia dipastikan memiliki aib, dosa, dan kekurangan. Tetapi sebaik-baiknya manusia beriman, adalah yang mereka yang tetap menyembunyikan segala aurat tersebut sambil berusaha untuk memperbaikinya. Disamping itu, berkenaan aib orang lain, Allah memerintahkan untuk tetap berusaha menutupi dan tidak membicarakannya. Mengingatkan yang bersangkutan, jika menghendaki kebaikan. Man satara musliman, satarahu Allah fi al-dunya wa al-akhirah. Barangsiapa yang menjaga aib seorang muslim, maka Allah akan menjaga aibnya di dunia dan akhirat. Tetapi, barangsiapa yang mengumbar aib sesama, Allah akan menghinakannya, meski ia berada dalam rumahnya sendiri. Demikianlah ditegaskan Nabi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memamerkan aib dan dosa adalah bentuk mujaharah (terang-terangan) dalam berbuat keburukan. Nabi dalam hadith al-Bukhari menyebut orang seperti ini tidak dimaafkan (ghair mu’afat). Selain itu, pamer dosa dapat berpotensi menginspirasi  orang lain untuk berbuat yang sama. Dalam hal ini, --sebagaimana ditegaskan Nabi dalam hadith Muslim-- menyebabkan  terjadinya sunnah sayyi’ah  (tradisi buruk) yang dosa turunannya dapat terus mengenai pihak pelaku pertama. Sebaliknya,  mereka yang membuat sunnah hasanah (tradisi baik) akan mendapatkan pahala turunannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Karenanya, aurat diri hendaknya selalu harus dijaga dan disembunyikan sekuat tenaga. Selanjutnya berkomitmen untu bertaubat berdo’a  sebagaimana dicontohkan Rasulullah. Allahumma ustru ’aurati wa amin rau’ati. Ya Allah tutupilah aurat (aib) ku dan tenangkanlah kegundahannku. Wallahu a’lam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/382337659859891339-4137011956860358186?l=nuruliman1972.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/feeds/4137011956860358186/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=382337659859891339&amp;postID=4137011956860358186&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/4137011956860358186'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/4137011956860358186'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/2010/07/menjaga-aurat-diri.html' title='Menjaga Aurat Diri'/><author><name>nuruliman1972</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07855832763775638687</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-382337659859891339.post-9036276438544596873</id><published>2010-07-17T01:08:00.000-07:00</published><updated>2010-07-17T01:13:38.696-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Badai Pornografi, Prahara Pospenas, dan Pendidikan Kita</title><content type='html'>17 Juli 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BADAI PORNOGRAFI, PRAHARA POSPENAS, DAN PENDIDIKAN KITA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Amalia Sulfana*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Payah, yang tua korup, yang muda ngeres”, demikian komentar Mr. Pecut Jawa Pos edisi 15 Juni 2010 terhadap  realita sebuah penelitian yang menyebutkan sebanyak 67 persen siswa SD pernah mengakses informasi pornografi. Sebuah kenyataan yang memprihatinkan, sekaligus memilukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lengkap sudah keprihatinan kita, jika kita memang peduli nasib pendidikan anak bangsa ini.  Saat ”badai” kasus pornografi  yang melibatkan artis Ariel, Cut Tari, Luna Maya, dan  nama-nama lain masih bergulir dalam penyelidikan polisi dan telah menetapkan tiga orang tersangka, kembali kita dibuat prihatin dengan berbagai tindak kecurangan dalam Pospenas (Pekan Olah Raga Seni Antar Pesantren) V 2010. Tidak berlebihan jika salah satu berita Jawa Pos edisi 10 Juli 2010, menyebut  “Menpora Sedih lihat Pospenas”. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Berbagai tayangan pornografi telah menjelma menjadi ibarat badai yang meluluh lantakkan moral dan mental  para generasi muda yang susah payah ditanamkan oleh orang tua dan bapak ibu guru pendidik. Celakanya,  mereka yang masih duduk di bangku SMP dan SD pun terliba dan menjadi korban. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Okezone.com akhir mei lalu memuat berita tentang budaya seks bebas dikalangan anak-anak “biru putih”, sebutan bagi bagi anak SMP. Sedangkan dalam sebuah penelitian yang dirilis Jawa Pos (15-6-2010), 67 persen anak SD telah menikmati pornografi. KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) mencatat 40 orang anak menjadi korban kekerasan seksual pasca beredarnya video mesum Ariel cs tersebut.  Data ini menurut ketua KPAI, Hadi Supeno, masih akan terus berjalan. Sekali lagi, kenyataan-kenyataan tersebut dapat merupakan awal kebobrokan mental dan moral generasi masa depan bangsa ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, ketidakjujuran dan kecurangan dalam Pospenas tercermin pada ditemukannya atlet-atlet bon-bonan dari kalangan non santri. Konspirasi tersebut  dilakukan secara terstruktur, melibatkan panitia dan pesantren yang nota bene adalah bengkel moral dan agama. Kenyataan ini seakan menegaskan, bahwa segala cara akan dilakukan banyak kontingen --meski mengorbankan sportivitas-- agar dapat menang. Sebuah kekonyolan yang nyata dalam meraih sebuah prestasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kompetisi dalam bidang olah raga dan kesenian, yang sebenarnya merupakan game dan permainan saja sudah terciderai dengan kecurangan dan hal tersebut terjadi secara masif, lalu bagaimana dengan bidang-bidang lain? Rasanya berat untuk meyakini bahwa proses ujian di sekolah/madrasah atau pesantren selama ini telah  murni dan berjalan penuh kejujuran. Ungkapan ini mungkin dianggap terlalu mengada-ngada, namun demikianlah kenyataannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan adalah sebuah proses  menghantarkan para peserta /anak didik pada pencapaian kompentensi mereka sekaligus pembudidayaan sikap hidup positif (life skill). Karenanya, para pakar sering mengartikan pendidikan sebagai “usaha sadar yang dilakukan masyarakat dan pemerintah melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau latihan, yang berlangsung di sekolah dan di luar sekolah sepanjang hayat untuk mempersiapkan peserta didik untuk dapat memainkan peranan dalam berbagai lingkungan hidup secara tepat pada masa yang akan datang’.  Jika dikaitkan dengan agama Islam yang kita anut, maka tujuan pendidikan adalah membentuk pribadi muslim,  yang cakap, berakhlak mulia, berguna bagi masyarakat, dan percaya pada diri sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari definisi pendidikan dan tujuannya tersebut nampak beban berat para pendidik, dikarenakan pendidikan berkonotasi usaha mempersiapkan generasi muda untuk sukses dalam kehidupan, sekarang atau nanti, di dunia maupun di akherat. Padahal, untuk sukses, seseorang diharuskan memiliki sikap mental dan moral yang kokoh. Karenanya,   sikap jujur, sportif, ulet, teguh pendirian, sabar, berpikiran positif (positive thinking), dan menjaga harga diri, mutlak keberadaannya dalam menuntut keberhasilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain pihak, kecurangan hanya akan menyisakan penyesalan dan kehilangan kepercayaan. Sebuah kecurangan biasanya jika tidak segera diatasi, akan melahirkan kecurangan/kebohongan lain, dan seterusnya. Kiranya apa yang akan didapat, jika perilaku curang telah membudaya dalam kehidupan sosial, kecuali ketidak tenangan hidup, saling curiga, dan permusuhan. Bagaimanapun, kecurangan dan kebohongan akan merugikan orang lain, dan juga diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, pornografi hanya akan membudayakan prilaku menyimpang dalam seks, dan merugikan para pelaku sendiri. Kebiasaannya akses terhadap pornografi menghilangkan batas-batas norma kepatutan dan menghilangkan rasa malu. Selain itu, ia menghancurkan nilai sakralitas pernikahan dan nilai kepengasuhan anak-anak di rumah tangga. Simak saja di akuan para penikmat pornografi yang menyatakan kehancuran  dan ketidakharmonisan rumah tangga mereka. Orientasi perkawinan menjadi sangat sempit, dan melulu urusan ”bawah perut” atau seks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak berlebihan jika Islam memerintahkan kaum mukmin berlaku jujur dan melarang khianat (QS. 8: 58). Kejujuran juga akan  membimbing pelakunya menuju kebaikan, dan selanjutnya ke surga. Sebaliknya,  kebohongan akan mengarahkan pelakunya kepada kejahatan, dan selanjutnya ke neraka (HR. Al-Bukhari: 5629).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkenaan dengan pornografi, Islam --sebagaimana diuraikan ilmu fiqh-- memerintahkan untuk menjaga aurat diri dari orang lain, dan sebaliknya menundukkan pandangan dari aurat orang lain.  Kaum mukminin dan mukminat diperintah Allah untuk menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan mereka (QS. 24: 30-31). Meninggalkan pornografi, dapat dikategorikan dalam hal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendidikkan kejujuran dan menjaga pandangan (dari pornografi) menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua dan guru, pada saat kebohongan merajalela dan ketidakjujuran merupakan sesuatu yang lumrah. Salah kaprah. Akses pornografi yang merupakah ”sampah” teknologi juga sangat mudah dilakukan dengan berbagai fasilitasnya, bahkan dengan HP di tangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terpenting disadari bagi pendidik adalah bahwa pendidikan kejujuran dan anti pornografi hendaknya dimulai dari diri sendiri. Ibda’ binafsik (mulailah dari dirimu), demikian kata Nabi. Ketika memerintahkan anak untuk jujur, kita perlu bertanya apakah kita sendiri sudah jujur? Ketika melarang anak didik untuk melihat pornografi, kita perlu instropeksi, jangan-jangan kita justru menjadi ”penikmat berat” tayangan ngeres tersebut sehinnga sensitifitas kita menjadi lemah. Na’udzu billah min dzalik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga  Allah memberikanlah kekuatan dan ma’unah-Nya pada kita didalam menyelenggarakan amanah pendidikan bagi anak-anak bangsa ini, sungguh tiada daya dan kemampuan kecuali dari-Nya. Amin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Guru PAI SMAN 1 Babadan Ponorogo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/382337659859891339-9036276438544596873?l=nuruliman1972.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/feeds/9036276438544596873/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=382337659859891339&amp;postID=9036276438544596873&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/9036276438544596873'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/9036276438544596873'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/2010/07/badai-pornografi-prahara-pospenas-dan.html' title='Badai Pornografi, Prahara Pospenas, dan Pendidikan Kita'/><author><name>nuruliman1972</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07855832763775638687</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-382337659859891339.post-3098347988260457384</id><published>2010-06-07T16:17:00.001-07:00</published><updated>2010-06-07T16:22:03.675-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Belajar Bahasa Arab</title><content type='html'>8 Mei 2010 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takut belajar Bahasa Arab?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Amalia Sulfana*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain dalam hidupnya. Banyak kebutuhan seseorang yang hanya dapat dipenuhi oleh orang lain atau secara kolektif. Ketika hendak makan misalnya, ia memerlukan nasi yang  baru dapat hadir lewat tangan petani, tukang selep, penjual beras, dan bahkan pekerja pabrik pupuk. Ada mata rantai yang panjang jika diurai, dalam setiap kegiatan manusia dalam mencukupi hajat diri dan keperluannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, hidup adalah proses  bersosialisasi dengan sesama manusia dan alam semesta.  Dalam hal berhubungan dengan manusia, komunikasi dan penggunaan bahasa memegang peran sentral agar setiap pesan dan keinginan dapat dipahami dengan baik. Kehidupan manusia tidak akan bisa dilepaskan dari penggunaan bahasa, baik secara sederhana maupun kompleks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin  luas seseorang menjalin hubungan dengan manusia lain, semakin banyak pula ragam bahasa yang digunakan, karena memang setiap daerah, negara, ras, atau suku memiliki bahasanya sendiri. Di tingkat lokal dipergunakan cukup bahasa daerah. Di tingkat nasional dipergunakan bahasa Indonesia, tetapi untuk tingkat internasional dipergunakan bahasa Inggris, bahasa Arab, atau bahkan bahasa Mandarin.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Berkenaan dengan bahasa Arab, bahasa ini memang layak disebut lughah ’alamiyah (bahasa internasional), karena digunakan lebih dari seperempat penduduk dunia saat ini. Hal ini berarti, bahwa mempelajari bahasa Arab dan menguasainya menjadi tuntutan agar seseorang dapat menjalin komunikasi dengan komunitas dunia yang tidak sedikit tersebut. Bahasa Arab telah menjadi salah satu pintu ”dunia” sebagaimana ia menjadi salah satu pintu dari ilmu pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih dari itu, selain dipergunakan sebagai bahasa dunia, bahasa Arab juga dipergunakan sebagai ”bahasa akhirat”, dengan dipergunakannya bahasa ini dalam nas-nas al-Qur’an dan teks-teks bacaan atau do’a ibadah kaum muslimin.  Secara berulang-ulang, Allah menjaminkan kemudahan belajar Al-Qur’an yang berarti memberikan garansi kemudahan mempelajari bahasanya, bahasa Arab.  Dalam QS. Al-Qomar (54) ayat 17, 22, 32, 40, Allah menegaskan peran al-Qur’an sebagai bahan pelajaran yang dimudahkan mempelajarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disadari atau tidak, seorang muslim sebenarnya adalah ”orang arab” dalam pengertian ia menggunakan bahasa Arab sebagai lughah al-takhatub (bahasa percakapan) setiap harinya atau dalam banyak kesempatan ibadahnya. Ketika secara taat ia menunaikan kewajiban shalatnya, ia telah rutin menjalin komunikasi dengan Tuhannya, yang berarti telah berbahasa Arab secara intensif. Jika dicermati dan dipahami, makna  bacaan shalat adalah pujian, aduan, dan permohonan seorang hamba muslim untuk Allah, Rabbnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan tersebut semakin memperteguh urgensi mempelajari bahasa Arab. Sungguh tepat apabila lembaga pendidikan pesantren maupun agama  menjadikan penguasaan bahasa sebagai kebutuhan primer disamping pengusaan ilmu-ilmu keislaman.  Fenomena baru yang menggembirakan  adalah sudah diusungnya bahasa Arab sebagai muatan lokal pada lembaga pendidikan umum semisal SMP maupun SMA. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyambut fenomena ini, yang perlu dilakukan para guru bahasa Arab adalah segmentasi kebutuhan berbahasa Arab secara tepat untuk pendidikan umum. Keluasan cakupan ilmu bahasa Arab dan keterbatasan jam pelajaran yang dialokasikan meniscayakan hal ini, agar pembelajaran menjadi produktif. Jika dalam berbahasa terdapat aspek istima’ (listening), kalam (speaking), qira’ah (reading), atau kitabah ( writing), maka konsentrasi pembelajaran dapat diarahkan pada  dua aspek pertama, yakni istima’ dan kalam. Secara mendalam kedua hal tersebut dapat  diajarkan dengan berbagai metode dan strategi, serta varian bahan ajar agar penguasaan siswa terhadap materi betul-betul maksimal.  Sementara itu, materi qira’ah dan kitabah dapat diperuntukkan untuk tingkat lanjutan (mutawassith). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mapping kebutuhan (segmentasi) berbahasa di sekolah secara tepat akan memudahkan pekerjaan guru dalam menyusun kurikulum dan memilih materi. Tidak nggladrah (kemana-mana), dengan keinginan semuanya akan disampaikan. Pembelajaran menjadi fokus dan hasilnyapun menjadi nyata, terukur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbahasa adalah ketrampilan, karenanya sering disebut kafa’ah lughawiyah (ketrampilan berbahasa) atau maharah (kemahiran), meski tetap terdapat keterlibatan unsur kecerdasan.  Sebagaimana belajar ketrampilan mengetik, menyetir, menjahit, atau menyulam,  maka ketrampilan berbahasa harus dilatih secara kontinyu dan dibiasakan.  Tidak heran apabila sesorang yang sudah pernah bisa bahasa Arab merasa kesulitan menggunakannya setelah meninggalkannya bertahun-tahun atau mempelajarinya sebatas ilmu tanpa praktek, sebagaimana seorang supir merasa thah thuh menyetir mobil setelah berhenti mengendarainya beberapa lama. Semakin sering digunakan, kemampuan berbahasa seseorang semakin baik. Disini menjadi penting untuk menciptakan mileu berbahasa (bi’ah al-lughah), sebagai wahana praktek berbahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan seluruh potensi besar bahasa Arab sebagai bahasa ”dunia akhirat”, keuntungan menguasainya, serta  jaminan kemudahan ilahiyah dalam mempelajarinya, tidak perlu lagi  ada kekhawatiran dalam berbahasa Arab, sehingga layak untuk diteriakkan secara lantang ”Belajar bahasa Arab, Siapa Takut!!!”. Mari kita berbahasa Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Guru PAI  dan  Pengurus MGMP Bahasa Asing SMA se-Ponorogo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/382337659859891339-3098347988260457384?l=nuruliman1972.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/feeds/3098347988260457384/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=382337659859891339&amp;postID=3098347988260457384&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/3098347988260457384'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/3098347988260457384'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/2010/06/belajar-bahasa-arab_07.html' title='Belajar Bahasa Arab'/><author><name>nuruliman1972</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07855832763775638687</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-382337659859891339.post-6179803387124487227</id><published>2010-05-30T19:01:00.000-07:00</published><updated>2010-05-30T19:07:14.873-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Religi'/><title type='text'>Sepak Bola Kehidupan</title><content type='html'>31 Mei 2010 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"SEPAK BOLA" KEHIDUPAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhelatan kompetisi piala dunia segera digelar awal bulan Juni hingga Juli depan, tetapi gaung dan gemanya telah membahana dalam kehidupan kita sekarang ini. Berbagai stasiun televisi, tabloid, majalah, dan koran telah mengekpos berita tentang pentas tanding sepak bola yang diadakan empat tahun sekali tersebut. Banyak kegiatan dilaksanaan untuk menyambutnya. Beraneka ragam iklan telah memanfaatkan momen tersebut dalam memasarkan produknya. Dialog dan perdebatan tentang tim-tim favorit, para pemain bintang, dan prediksi keunggulan masing-masing telah diadakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Piala dunia memang telah menjelma seperti virus yang menjangkiti seluruh penduduk dunia hingga mereka dilanda ”demam” piala dunia. Semua orang sibuk dengan bola, terlepas dari apa latar belakang sosial, ras, maupun umur yang dimiliki. Semuanya membincang tim-tim andalan  beserta pemain bintangnya, sekaligus mengurai kelebihan masing-masing. Ada tim Brazil dengan sepak bola cantiknya, Belanda dengan total football-nya, Italia dengan sepak bola bertahannya, serta tim-tim lain dengan sepak bola kontemporer yang berkonsentrasi pada penciptaan gol. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dicermati, setiap permainan olah raga termasuk sepak bola di dalamnya  mengandung banyak hal yang dapat dijadikan pelajaran dan pesan moral. Tidak berlebihan jika sepakbola dianggap sebagai lessons of life atau pelajaran mengenai hidup yang sesungguhnya, dan bukan hanya sekedar permainan ketangkasan oper bola, menendangnya,  memasukkannya ke gawang lawan, dan menjaga gawang dari kebobolan gol.  Sepakbola adalah semua hal tentang hidup, seperti yang dinyatakan seorang pemain sepakbola legendaris yang pernah mengatakan, “Soccer is not just about life, it’s all about life.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marco Paulo menegaskan bahwa sepak bola bukan hanya sekedar permainan yang melibatkan duapuluh dua orang bermain dalam satu lapangan dengan diawasi oleh empat orang wasit. Sepakbola bukan sekedar hanya  urusan gol mencetak gol dan menghindarkan  gawang tim sendiri dari kebobolan. Sepakbola juga bukanlah sekedar mencatat kemenangan demi kemenangan untuk berada di posisi teratas liga nasional, atau bahkan mencapai puncak dunia dan mendapatkan trofi dan segala kebanggaannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak hal yang memperkuat  kenyataan bawah permainan sepak bola mengajarkan nilai-nilai kehidupan dan  bagaimana seseorang harus memeganginya dalam hidup. Sepak bola membimbing seseorang bagaimana menentukan target yang ingin dicapai, apa langkah dan strategi yang harus diterapkan dalam usaha mencapai target tersebut, serta bagaimana menerima kegagalan dan menghadapi kesulitan maupun tantangan. Semua itu adalah hal-hal mendasar yang dapat kita latih dan pelajari lewat olah raga, termasuk sepakbola. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembentukan mental yang juga merupakan aspek penting hidup juga diajarkan olah raga. Disiplin diri, percaya diri, sprotivitas, menghargai orang lain, patuh dan tunduk pada otoritas dan peraturan, pantang menyerah, dan masih banyak lagi hal-hal lainnya yang dapat terbentuk melalui sepakbola. Kenyataan ini seakan sesuai dengan slogan “mensana in corporesano” yang berarti ”di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang sehat”. Jadi, olah raga tidak hanya membentuk tubuh yang sehat, tetapi juga jiwa yang sehat. Cara berpikir dan mental yang sehat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam sering mengindentikkan  kehidupan di dunia dengan permainan (la’b) atau senda gurau, disebabkan banyak kemiripan diantara keduanya. Al-Qur’an dalam berbagai tempat (QS 6 : 32; 47: 36; 57: 20) menegaskan bahwa dunia adalah permainan yang melenakan dan manusia diminta berhati-hati (taqwa) dalam menghadapinya. AlQur’an juga menyebut kehidupan akhirat lebih utama dan lebih kekal. Dan sebagai permainan, sepak bola menurut penulis lebih banyak memiliki kemiripan dengan kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam meniti kehidupan maupun mencari kemenangan bermain sepak bola, taat pada nilai-nilai dan aturan main harus dilakukan.  Untuk sukses dibutuhkan sportifitas yang tinggi, kegigihan,  kerja keras, kerja sama yang baik, taat kepada  pimpinan (leader), dan bahkan kemauan untuk berbagi peran. Aturan permainan sebagaimana telah disepakati dan dijalankan oleh ”wasit”, harus dijadikan pedoman. Selain itu, dibutuhkan stamina dan fisik yang kuat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bersepak bola, selain bermain dengan baik, menciptakan gol merupakan tujuan tim bermain, sehingga menginspirasi seluruh pemain dan permainan mereka, maka dalam hidup keberadaan sebuah tujuan mutlak. Acuan tujuan membimbing langkah dan menentukan ”warna” hidup seseorang. Dengan memilih tujuan untuk memberikan manfaat sebanyak-banyak kepada sesama (anfa’uhum li al-nas) misalnya, maka potensi diri seorang muslim akan tergali dengan melakukan segala perbuatan maupun mempersembahkan inovasi berharga bagi kehidupan. Apalagi jika tujuannya adalah memaksimalkan peran diri sebagai hamba Allah (’abdullah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan dan permainan juga mengenal batas akhir. Ada durasi waktu yang menandakan kapan permainan dimulai dan kapan berakhir. Kenyataan ini menuntut setiap orang untuk memanfaatkan segenap waktu yang ada. Sebelum peluit panjang ditiup, semuanya bebas bermain dan berbuat, tetapi setelahnya  semuanya harus berhenti bermain atau beraktifitas. Dalam hidup, peluit panjang tersebut adalah ghargharah (nafas tertahan di kerongkongan), yang berarti datangnya kematian ataupun ajal. Karenanya, setiap seseorang hendaknya mendayagunakan setiap detik kesempatan, tanpa banyak berharap atau menggantungkan  akan adanya perpanjangan waktu berupa umur tambahan, karena sesungguhnya ia hanyalah ”bonus” yang akan diberikan tergantung kebaikan Allah, sang ”maha wasit” kehidupan ini. Sebaliknya, hendaknya dimaksimalkan setiap penggunaan kesempatan dan waktu untuk mengabdi kepada Allah dan mempersembahkan karya-karya terbaik bagi manusia dalam kehidupan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dalam permainan sepak bola seseorang dapat memilih untuk menjadi pemain, atau penonton, atau bahkan wasit, maka dalam ”sepak bola” kehidupan  kesempatan itu tidak dimiliki. Mau tidak mau, sengaja atau terpaksa, ia harus turun bermain dalam kehidupan dan menentukan ”kesebelasan” mana tempat ia akan bergabung, apakah tim kebaikan ataupun kejahatan. Apakah ia menjadi anggota kelompok putih atau hitam. Selanjutnya, ia akan dilihat, diawasi, dinilai, dan kemudian diganjar sesuai dengan permainannya.  Mari ”bermain” dalam kehidupan ini dengan sebaik-baiknya dalam rangka menjemput rahmat Allah dan rido-Nya. Semoga dapat menang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/382337659859891339-6179803387124487227?l=nuruliman1972.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/feeds/6179803387124487227/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=382337659859891339&amp;postID=6179803387124487227&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/6179803387124487227'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/6179803387124487227'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/2010/05/sepak-bola-kehidupan.html' title='Sepak Bola Kehidupan'/><author><name>nuruliman1972</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07855832763775638687</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-382337659859891339.post-7128987587505667589</id><published>2010-05-07T20:30:00.000-07:00</published><updated>2010-05-07T20:42:58.859-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Lemah Teles Guruku</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_PHfVnL1Tq0A/S-TdXmBbofI/AAAAAAAAAEY/FkFBoMqanxE/s1600/20090807ZZZ57.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_PHfVnL1Tq0A/S-TdXmBbofI/AAAAAAAAAEY/FkFBoMqanxE/s400/20090807ZZZ57.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5468739244947907058" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10 Mei 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LEMAH TELES GURUKU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gegap gempita penyelenggaraan Ujian Nasional sudah usai. Ujian tingkat sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah yang merupakan gelombang terakhir Unas baru selesai minggu lalu. Bahkan hasil ujian tingkat SMA/MA dan tingkat SMP/MTs sudah diumumkan dan diketahui hasilnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk tingkat SMA/MA, pengumuman hasil Unas dilakukan pada 26 April lalu. Banyak yang lulus, dan tidak sedikit yang belum lulus, yakni sejumlah 154 ribu orang, tersebar di 6.062 sekolah baik negeri maupun swasta. Sebanyak 267 sekolah dari 16.467 sekolah bahkan mencatatkan kelulusan 0 persen atau semua siswanya tidak lulus.  Jika seluruh peserta UN tingkat SMA/MA berjumlah 1.522.156 orang, maka  prosentasi ketidak lulusan tesrsebut adalah sebanyak 9,88 persen (Jawa Pos, 28-4-2010).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil ujian tingkat SMP/MTs/SMPT juga mengalami penurunan prosentase. Sekitar 9,73 persen dari total peserta Ujian Nasional Utama atau 350.798 peserta dinyatakan tidak lulus, sehingga harus mengikuti ujian ulang. Sedangkan jumlah peserta yang lulus persentasenya mencapai 90,27 persen atau sekitar 3.254.365 peserta. Sebanyak 561 sekolah menengah pertama atau sekitar 1,31 persen dari total SMP di Indonesia dinyatakan lulus 0 persen. Beberapa provinsi yang masuk ke dalam peringkat 5 besar untuk kategori jumlah sekolah SMP  nol persen kelulusan, antara lain Jawa Tengah sebanyak 105 sekolah, Jawa Timur ada 54 sekolah,  DKI Jakarta sebanyak 51 sekolah,  Gorontalo ada 54 sekolah, dan Kalimantan Barat 34 sekolah (tempointeraktif.com. 06-05-2010).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengumuman hasil ujian memang selalu menghadirkan kegembiraan dan sukacita bagi mereka yang lulus, tetapi akan menyisakan kesedihan bagi yang belum.  Sayangnya, banyak cara yang salah dalam bergembira ketika berhasil, dan banyak pula yang ketika gagal, tidak mau belajar dari kesalahannya. Sebaliknya ia mencari “kambing hitam”, tidak berinstropeksi diri, dan menimpakan sebab kegagalan hanya pada pihak lain, seperti sekolah ataupun guru misalnya. Ketika hasil Unas SMA/MA diumumkan, banyak peserta yang tidak lulus melampiaskan kekesalan dengan merusak sekolah, melemparinya, dan mengejar-ngejar guru mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sebuah kesuksesan dipengaruhi banyak faktor, maka demikian pula sebuah kegagalan. Ia tidak lahir begitu saja, tetapi sebaliknya melewati proses panjang dan ditentukan banyak hal. Karenanya, menganggap sebuah kesuksesan merupakan hasil kerja sendiri tanpa bantuan dan peran orang lain adalah sesuatu yang naif, sebagaimana menimpakan kesalahan dari sebuah kegagalan pada seseorang adalah sebuah kebodohan.  Semuanya memiliki perannya masing-masing, tetapi berbeda kadar dan besarnya. Mungkin saja para guru dan sekolah berperan besar dalam kegagalan sebuah ujian, apalagi jika angka ketidak lulusan mencapai 100 persen, tetapi orang tua, pemerintah, dan peserta ujian sendiri, turut juga memberikan andil. Tidak fair membebankan kesalahan pada satu pihak, dan sudah seharusnya masing-masing menyadari sumbangannya untuk kegagalan tersebut, dan seterusnya berbenah diri dan mengadakan perbaikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena memojokkan guru sebagai pihak yang patut disalahkan pada sebuah ujian, semakin meneguhkan sebutan mereka sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Ketika para murid sukses ujian dan pada kehidupan selanjutnya menjadi orang ”besar”, jasa para guru sering tidak berbekas, dilupakan.  Tetapi, jika terdapat siswa gagal, lalu kesalahan hanya ditimpakan pada guru. sebuah kedzaliman yang nyata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, para guru perlu merespon tudingan tersebut secara bijak. Tidak perlu membabi buta atau berbuat hal yang dapat merusak citra mereka sendiri. Etos kerja dan profesionalitas sebagai pendidik hendaknya ditingkatkan.  Penguasaan substansi bahan ajar dan kemampuan metodologis pembelajaran perlu di-upgrade. Wawasan dan pengetahuan umum serta akses teknologi layak diasah. Dengan demikian, di kemudian hari tudingan bahwa guru penyebab kegagalan Ujian akan sendirinya terbantahkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuntutan peningkatan diri dan perubahan ke arah positif bagi guru memang merupakan kelaziman yang mau tidak mau harus dilakukan. Bukankah dunia terus berubah, dan demikian pula dunia pendidikan terus berkembang baik dalam metodologi, pendekatan, media maupun teknologi yang digunakan. Tantangan pendidikan juga terus meningkat. Orientasi pendidikan perlu dikembangkan untuk kesuksesan para peserta didik di masa depan, dengan tidak mengorbankan kesuksesan masa sekarang, termasuk sukses ujian nasional di dalamnya. Semuanya dituntut untuk bekerja keras, terutama para guru dan sekolah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sekolah,  tugas mulia guru adalah  mendidik para siswa dan bukan hanya mengajar. Jika mengajar sering berorientasi pada penyampaian materi (transfering knowledge), maka mendidik memiliki makna membentuk kepribadian dan mental anak (transforming studen’s personality and attitude). Hal ini menuntut pengertian bersama agar produk pendidikan sekolah mentas menjadi pribadi-pribadi berkarakter jujur, ulet, rajin, sabar,  pekerja keras, dan yang terpenting bertakwa. Dalam hal ini, layak kita belajar kepada Rasulullah –sang guru paripurna-- yang dalam Al-Qur’an surat al-Jum’ah: 2, disebut melakukan tilawah al-ayat (membacakan ayat-ayat Allah), tazkiyah (penyucian jiwa), dan taklim al-kitab wa al-hikmah (mengajarkan calistung, materi pelajaran dan kebijaksanaan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila framework ini benar-benar dijalankan, dapat dipastikan para siswa yang menghadapi ujian memiliki segenap kesiapan diri sebagaimana mereka telah siap untuk hidup. Bagi mereka ujian adalah ajang kerja keras dan pembuktian diri dalam belajar di sekolah, dan hasilnya adalah urusan lain yang sepenuhnya diserahkan kepada Allah secara pasrah. Berhasil dan gagal adalah konsekwensi logis ujian yang harus diterima sepenuh hati. Jika belum berhasil, bukankah tetap ada kesempatan kedua. Yang pasti berusaha sekuat tenaga terlebih dahulu adalah sebuah kewajiban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, para guru dituntut untuk mengajar sepenuh hati dan penuh keikhlasan. Para peserta sangat peka dan mampu membedakan mana diantara guru yang mukhlis dalam mengajar maupun yang pamrih. Keikhlasan merupakan sikap mental batin yang tercermin dalam tindakan, karenanya dapat dibaca. Upaya tajdid al-niyyat atau memperbarui niat dalam mengajar demi beribadah mencerdaskan anak bangsa, hendaknya dilakukan tiap hari. Sungguh sebuah kerugian, jika dalam mendidik, seorang guru hanya berorientasi jangka pendek, berupa pemenuhan materi saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika para guru telah bekerja sekuat tenaga dan sepenuh hati maka dipastikan mereka akan merasa puas. Para siswa insha Allah akan sukses dalam belajar dan kehidupan mereka. Meski guru kemudian sering dilupakan, bukankan Allah telah menjanjikan banyak balasan untuk mereka yang mengajarkan ilmu dan kebaikan. Lemah teles guruku, ”gusti Allah sing mbales”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Dosen FAI Unmuh Ponorogo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/382337659859891339-7128987587505667589?l=nuruliman1972.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/feeds/7128987587505667589/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=382337659859891339&amp;postID=7128987587505667589&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/7128987587505667589'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/7128987587505667589'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/2010/05/lemah-teles-guruku.html' title='Lemah Teles Guruku'/><author><name>nuruliman1972</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07855832763775638687</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_PHfVnL1Tq0A/S-TdXmBbofI/AAAAAAAAAEY/FkFBoMqanxE/s72-c/20090807ZZZ57.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-382337659859891339.post-2684546879028415602</id><published>2010-05-03T16:02:00.000-07:00</published><updated>2010-05-03T16:07:44.579-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Religi'/><title type='text'>"Membunuh" Masa Depan</title><content type='html'>04 Mei 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“MEMBUNUH” MASA DEPAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Amalia Sulfana, S.Ag.*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul tersebut mungkin terasa “berat” di pendengaran  para pembaca, seperti beratnya keprihatinan penulis terhadap kondisi riil saat ini. Banyak perilaku tidak terpuji dan tidak bertanggung jawab ditunjukkan para remaja di sekeliling kita. Sidak dan razia terhadap beberapa kafe dan warnet beberapa waktu lalu menunjukkan betapa ruang-ruang di dalamnya banyak dipergunakan untuk pornografi dan berbuat mesum.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di tempat lain, banyak remaja terlibat narkoba dan pesta miras. Beberapa anak SD di Kulonprogro sebagaimana dirilis okezone.com (29 April 2010) ditemukan mabuk-mabukan. Dalam usia yang relatif masih sangat dini, para anak tersebut telah membahayakan dirinya dan kesehatannya baik fisik maupun mental. Perilaku akses pornografi, mesum,  pesta miras, dan narkoba jika dicermati sejatinya hanya merugikan kehidupan jangka panjang dan masa depan mereka sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika boleh diibaratkan, proses tumbuh kembang manusia dari kecil hingga dewasa  seperti menanam sebuah pohon. Ada tahapan yang harus dilalui, dan terus dilengkapi dengan usaha-usaha untuk merawat, menyiangi, dan memupuk, sehingga “pohon kehidupan” tersebut dapat tumbuh, membesar, dan berbuah. Masa kecil dan remaja adalah masa bersiap-siap dan berbekal agar sukses di kemudian hari, ketika dewasa. Diperlukan kesabaran, ketekunan, kerja keras, serta kehati-hatian.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Maka, setiap orang yang merusak diri dan kehidupannya sehingga tidak dapat mempersiapkan kehidupan dewasanya dengan baik dapat dikategorikan sebagai “membunuh” masa depan dan karenanya berpotensi untuk madesu (masa depan suram). Sebaliknya, dengan melakukan upaya-upaya bermanfaat di masa muda, seseorang telah “menghidupkan” masa depannya dan memiliki  madecer (masa depan cerah). Sayangnya,  banyak remaja berperilaku dan bertindak yang merugikan dirinya di masa depan terlepas  ia menyaari atau tidak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa remaja merupakan periode pertumbuhan antara masa kanak-kanak  dan masa dewasa. Para pakar psikologi menyebut masa remaja sebagai masa transisi, disebabkan banyaknya perubahan dalam dirinya fisik, maupun mental-psikologis. Perubahan  emosi terjadi secara cepat pada masa remaja awal yang dikenal dengan sebagai masa storm &amp; stress. Peningkatan emosional ini merupakan hasil dari perubahan fisik terutama hormon yang terjadi pada masa remaja, dalam kondisi baru yang berbeda dari masa sebelumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa remaja banyak tuntutan dan tekanan yang ditujukan pada remaja, misalnya mereka diharapkan untuk tidak lagi bertingkah seperti anak-anak, mereka harus lebih mandiri dan bertanggung jawab. Perubahan secara fisik yang cepat juga disertai kematangan seksual. Perubahan ini membuat remaja merasa tidak yakin akan diri dan kemampuan mereka sendiri. Perubahan fisik yang terjadi secara cepat, baik perubahan internal seperti sistem sirkulasi, pencernaan, dan sistem respirasi maupun perubahan eksternal seperti tinggi badan, berat badan, dan proporsi tubuh sangat berpengaruh terhadap konsep diri remaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari uraian tersebut dapat dipahami bahwa masa remaja adalah masa transisi  dan pencarian jati diri. Di satu sisi, remaja biasanya tidak lagi mau disebut sebagai anak-anak, karena secara fisik mereka memang sudah berbeda. Tetapi, disisi lain kenyataan menunjukkan bahwa mereka belum bisa disebut dewasa. Akibatnya banyak remaja yang berusaha tampil layaknya seorang dewasa meski  sikap anak-anak yang belum matang secara emosional dan rasional, masih sangat lekat dengan mereka. &lt;br /&gt;Kenyataan bahwa remaja berada pada masa transisi menunjukkkan posisi rawan mereka terhadap “godaan” hal-hal yang negatif. Keinginan remaja untuk “coba-coba” turut memperparah kondisi ini. Karenanya,  perhatian orang tua dan para pendidik perlu dicurahkan kepada pendidikan para remaja agar mereka tidak tersesat jalan dan melakukan hal-hal negatif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para remaja pada dasarnya adalah genarasi mendatang. Syubban al-yaum, rijal al-ghadd. Menjaga, mengarahkan, mendidik, dan membesarkan mereka  dengan baik dan benar berarti  telah menjaga masa depan umat dan negara ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak hal yang dapat diperbuat untuk menjaga dan membatu para remaja. Yang terpenting adalah membantu mereka untuk menyelesaikan tugas-tugas perkembangan mereka --seperti dalam Psikologi— sehingga mempersiapkan mereka untuk kehidupan berikutnya. Selain itu,  perlu juga diusahakan agar para remaja dapat menemukan potensi dan bakat diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi para remaja juga perlu membuka diri dan banyak belajar dari pengalaman para generasi tua agar dapat “selamat” dan menemukan solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi. Pengalaman adalah guru terbaik. Pengalaman orang lain seperti orang tua secara cepat memang akan menunjukkan solusi  tepat dan akurat terhadap sebuah permasalahan, karena memang sudah diuji cobakan. Pengalaman orang lain juga mengajarkan untuk berhati-hati terhadap kesalahan orang lain agar tidak diulangi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jika masa depan seseorang banyak ditentukan oleh usaha-usahanya saat remaja, maka saatnya para remaja peduli masa depannya. Hal yang bisa dilakukan adalah melakukan aktifitas-aktitas positif saat remaja dan meninggalkan hal-hal negatif. Ukurannya adalah manfaat. Jika sebuah perbuatan bermanfaat (baik untuk diri sendiri maupun orang lain) maka hal itu dapat terus dilakukan dan sebaliknya jika merugikan harus segera ditinggalkan. Selamat bekerja dan hanya kepada Allah kita sandarkan semua persoalan dan masa depan dengan senantiasa memohon segala pentunjuk. Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Guru PAI SMAN 1 Babadan Ponorogo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/382337659859891339-2684546879028415602?l=nuruliman1972.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/feeds/2684546879028415602/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=382337659859891339&amp;postID=2684546879028415602&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/2684546879028415602'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/2684546879028415602'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/2010/05/membunuh-masa-depan.html' title='&quot;Membunuh&quot; Masa Depan'/><author><name>nuruliman1972</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07855832763775638687</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-382337659859891339.post-4539017308702317317</id><published>2010-04-12T07:41:00.001-07:00</published><updated>2010-04-12T07:41:00.624-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Religi'/><title type='text'>Hidup Tanpa "Kambing Hitam"</title><content type='html'>12 April 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HIDUP TANPA “KAMBING HITAM”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup adalah anugrah dan  nikmat kesempataan (baca: waktu) yang diberikan Allah bagi manusia. Sebagai bentuk kemahaadilan-Nya, manusia lalu diberi kemampuan dan kekuasaan sepenuhnya untuk menentukan pilihan warna hidup dan menuliskan jalannya sendiri. Garis takdir Allah jika dicermati selalu mengikuti kecenderungan perilaku manusia. Tidak ada paksaan. Fa man sya’a falyu’min, wa man sya’a falyakfur. Untuk menjadi muslim atau kafir, menjadi manusia baik atau jahat, manusia tetap memiliki perannya meski hasil akhirnya ditentukan  oleh kehendak dan masyiat Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak salah jika manusia kemudian dituntut untuk mempertanggung  amal perbuatannya di dunia di hadapan persidangan akherat. Ganjaran diberikan sesuai jenis amal perbuatan. Kebaikan dibalas dengan kebaikan (jannah), sedang keburukan akan berbalas keburukan (naar). &lt;br /&gt;Dalam banyak tempat di dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan bahwa sekelompok manusia tidak akan ”ditanyai” tentang amal orang lain.  Lihat saja QS. Al-Naba’: 25 dan Al-Nahl: 56.  Bahkan, dalam Al-Isra’: 36, Allah akan meminta tanggung jawab dari pendengaran, penglihatan, dan hati setiap manusia. Ketiganya dianggap sebagai organ pemicu timbulnya perbuatan, lorong informasi didapat, diolah, dan selanjutnya diambil tindakan. Karenanya, hendaknya seseorang tidak mudah-mudah mengikuti sesuatu yang tidak jelas dan belum dimengerti, sebab hal tersebut rawan kesalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap perbuatan harus dipertanggung jawabkan. Demikianlah salah satu bentuk  keadilan dalam kehidupan ini. Pertanggungan jawab akan diminta terhadap segala sesuatu yang berada dalam “wilayah kekuasaan”  dan jangkauan diri baik sebagai pribadi maupun dalam perannya yang lain. Seorang muslim kelak akan ditanya tentang amal dirinya, dan pada saat yang sama ia juga akan dimintai tanggung jawab tentang perannya sebagai anak, suami, bapak atau kepala rumah tangga, dan juga jabatannya sebagai  pemimpin, misalnya. Seorang muslimah, selain ditanya tentang keislamannya, bisa jadi akan diminta tanggung jawabnya sebagai ibu, istri, anak, dan juga peran yang lain. Hal ini sesuai penegasaan nabi dalam hadith yang diriwayatkan Al-Bukhari, bahwa kullukum ra’in wa kullukum mas’ul ‘an ra’iyyatih. Setiap orang adalah pemimpin sesuai dengan kapasitasnya sendiri-sendiri. Dan ia akan dimintai pertanggungan jawab atas kepemimpinannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan tersebut memberikan makna bahwa andil dan kemampuan seseorang dalam mewujudkan sebuah amal  atau meniadakannya merupakan tolok ukur dikenakannya tanggung jawab. Sebaliknya jika sesuatu berada di luar jangkau diri baik sebagai pribadi maupun peran yang lain, maka ia dibebaskan dari segala tanggung jawab. Orang tua, dalam Islam dikenai segala tanggung jawab tentang anak-anaknya selama mereka masih dalam kepengasuhannya dan belum dewasa, tetapi setelah itu maka tanggung jawab bahkan penasaban kesalahan (atau dosa) akan melekat dan ditanggung mereka sendiri. Sedang orang tua dibebaskan. Karenanya, istilah yang digunakan adalah la taziru waziratun wizra ukhra, atau seorang yang bersalah tidak bisa dibebani kesalahan orang lain. Tidak ada dosa warisan dan turunan dalam Islam.&lt;br /&gt;Dalam ranah hukum, tuntutan hukum misalnya hanya akan dikenakan atas kesalahan yang dilakukan seseorang, atau dikarenakan ia adalah pihak yang paling bertanggung jawab. Pemimpin misalnya, tetap ditanya tentang tindakan anak buahnya, jika ia memiliki wewenang untuk mengontrolnya. Ia juga tetap dimintai tanggung jawab terhadap produk-produk keputusan yang ditekennya, meski ia sendiri tidak membuat konsepnya. Tidak bisa menghindar dari tanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan tersebut mengharuskan setiap orang berhati-hati dalam bertindak atau membuat keputusan. Ada pertanggung jawaban duniawi dan akhirat. Terhadap tanggung jawab dunia, disebabkan kelicinan dan kepintarannya, mungkin seseorang masih bisa mengelak. Tetapi untuk tanggung jawab ukhrawi, siapa yang mampu?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Keberanian untuk memikul tanggung jawab adalah cerminan pribadi luhur dan akhlak mulia.  Keberanian mengaku salah yang dilanjutkan perbaikan diri melahirkan respek dan penghormatan orang lain. Ini adalah perilaku produktif, dan jiwa para pemenang sejati (winners). Sementara menghindar dari tanggung jawab, menyalahkan orang lain, dan selanjutnya menunjuk ”kambing hitam”, hanyalah perilaku para pecundang (loosers). Bukankah negeri kita ini masyhur dengan perilaku-perilaku tidak bertanggung jawab dengan kepintaran para pelakunya melemparkan kesalahan? Tidakkah budaya  korupsi dengan kerugian trilyunan rupiah telah terjadi, dengan tanpa adanya para koruptor yang dipenjara. Kasus skandal bank yang ramai dibicarakan tidak juga dapat menunjuk siapa yang paling bertanggung jawab, dan semuanya menghindar. Sebaliknya terjadi upaya mengkambing hitamkan perekonomian global sebagai pemicu kesalahan keputusan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebiasaan menghindari tanggung jawab dan mencari ”kambing hitam” selain disebabkan oleh mental yang buruk, juga diakibatkan oleh budaya pola asuh yang salah dalam membesarkan anak. Psikolog Muhammad Fauzil Adzim dalam Salahnya Kodok, menyebut kebisaan buruk para orang tua dengan menyalahkan kodok, kursi, atau benda-benda lain ketika anak jatuh, sebagai salah satu contoh pembelajaran awal para anak-anak untuk melempar kesalahan. Seharusnya, anak-anak tidak ”dihibur” begitu, tetapi dengan menyatakan bahwa mereka harus berhati-hati dalam berjalan dan menunjukkan kesalahan mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap bertanggung jawab perlu dibangun dalam kehidupan pribadi, organisasi, dan masyarakat. Dengan membudayanya sikap ini, setiap hubungan  kekeluargaan, hubungan kerja profesional maupun sosial menjadi nyaman. Semuanya on the right job dan bekerja pada posnya masing-masing secara bertanggung jawab. Tidak ada saling menyalahkan. Alangkah indahnya. Wallahu a’lam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/382337659859891339-4539017308702317317?l=nuruliman1972.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/feeds/4539017308702317317/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=382337659859891339&amp;postID=4539017308702317317&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/4539017308702317317'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/4539017308702317317'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/2010/04/hidup-tanpa-kambing-hitam.html' title='Hidup Tanpa &quot;Kambing Hitam&quot;'/><author><name>nuruliman1972</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07855832763775638687</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-382337659859891339.post-1594284406829846319</id><published>2010-04-04T17:50:00.000-07:00</published><updated>2010-04-04T18:01:54.161-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Menggagas Pendidikan Seks Islami</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_PHfVnL1Tq0A/S7k2XwBsRVI/AAAAAAAAAEQ/PVdc6m563os/s1600/0711010l.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 266px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_PHfVnL1Tq0A/S7k2XwBsRVI/AAAAAAAAAEQ/PVdc6m563os/s400/0711010l.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5456452205192955218" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;06 April 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENGGAGAS PENDIDIKAN SEKS ISLAMI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Amalia Sulfana*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca judul tersebut, tentu akan memicu munculnya beragam tanda tanya di benak setiap pembaca. Diantaranya adalah apakah ada seks yang Islami, manfaat apa yang diperoleh ketika mendidikannya, serta apakah hal itu sudah menjadi keharusan saat ini dan di masyarakat Indonesia yang masih dapat disebut religius?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diakui atau tidak, dalam budaya pergaulan remaja atau muda-mudi masa sekarang ditemukan fakta bahwa model mereka  berpacaran telah  banyak “kebablasan”, terlibat pergaulan bebas, dan sering berakhir pada aktivitas-aktivitas seksual. Temuan-temuan  fakta di masyarakat dan dunia pendidikan tentang remaja hamil di luar nikah pada usia sekolah, agaknya tidak dapat dipungkiri. Kenyataan ini cukup memprihatinkan sekaligus mendorong setiap pendidik untuk memikirkan jenis pencerahan dan pembekalan apa yang layak diberikan pada peserta didik agar mereka dapat “selamat” menjalani masa muda. Diantara hal yang dapat dilakukan adalah memberikan pendidikan seks Islami, meski kemudian perlu disepakati tentang definisi dan konten yang layak diberikan untuk usia mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menolak diselenggarakannya pendidikan seks berbasis agama hanya akan membiarkan para remaja terlibat banyak masalah, dimungkinkan karena ketidak tahuan mereka. Ketika dibiarkan, sesuai dengan kodrat remaja yang berada pada masa puber yang memiliki rasa ingin tahu yang besar, mereka akan belajar secara salah kepada pakar dan pelaku pornografi semisal “ustadzah” Miyabi lewat internet maupun media lainnya. Pemahaman mereka tentang seks juga menjadi dangkal, dibatasi oleh urusan (maaf) kemaluan dan fokus pada coitus saja. Sementara aspek-aspek tanggung jawab sosial, agama, dan etika moral  di balik aktivitas seks justru akan terlewatkan. Karenanya, pendidikan seks Islami menurut penulis mutlak diperlukan agar para remaja mendapatkan informasi yang benar tentang seks dan hal-hal yang berkenaan dengannya, sekaligus dalam rangka memulihkan kesakralan pernikahan dan aktivitas seks di dalamnya, yang saat ini mulai terkoyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Urusan seks memang bukan hanya urusan  ”ranjang” dan keintiman. Banyak hal berkenaan dengan hubungan laki-perempuan dapat dijadikan materi. Dalam mendidikkan seks berbasis agama perlu diangkat berbagai persoalan  seperti thaharah atau hal bersuci, najis (terutama tentang darah, mani, dan madzi), etika berpakaian, etika pergaulan laki-perempuan, etika pergaulan dengan sesama jenis, khalwat (berduaan dengan lawan jenis) dan madharatnya, untung rugi pacaran, urusan ”darah” wanita (menstruasi), serta berakhir pada fiqih munakahat dan sistem reproduksi manusia. Fiqh Islam telah mengadopsi sebagian materi tersebut, dan sebagian lagi terangkum dalam kajian akhlak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zulia Ilmawati, Psikolog  yang menggeluti masalah  Anak dan Remaja dan Anak-anak, dalam http://ratuhati.com menawarkan pokok-pokok pendidikan seks perspektif  Islam, yang meliputi : 1). penanaman rasa malu pada anak; 2). penguatan maskulinitas (jiwa kelelakian) pada anak lelaki dan feminitas (jiwa keperempuan) pada anak perempuan; 3) pemisahan tempat tidur mereka; 4) pengenalan waktu dan etika berkunjung (pada pasangan menikah); 5) pendidikan kebersihan alat kelamin; 6) pengenalan mahram; 7) pendidikan  menjaga pandangan mata; 8) pendidikan agar tidak melakukan ikhtilat  dan khalwat; 9) etika berhias; serta 10) ihtilam (mimpi basah) dan haid.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Yang perlu dicermati adalah kapankah materi-materi tersebut harus diberikan, apakah di pendidikan dasar, menengah pertama, ataupun menengah atas. Kedalaman materi  serta kesesuaiannya dengan kekinian perlu juga dipertimbangkan. Selain itu, pemisahan pembekalan antara remaja putra dan putri sangat diperlukan, agar tidak ada rasa ”risih”  dan malu dalam menyampaikan sebuah kebenaran.  Bukankah Allah sebagaimana ditegaskan oleh nabi bersifat la yastahyi min al-haqq syai’an (Tidak malu dalam menyampaikan kebenaran).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian materi  dimaksud dalam pendidikan seks Islami jika dicermati sebenarnya sudah terangkum  kurikulum PAI khususnya Fikih dan Akhlak di sekolah. Tetapi jika ditelaah kembali, ia masih belum praktis, masih teoritis, dan terasa ”melangit” sehingga sulit dipahami atau diterapkan,  dan karenanya perlu digagas kembali. Selain itu, keterbatasan jam pembelajaran sering menjadikan proses pendidikannya tidak maksimal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan seks Islami juga tidak berorientasi save sex (karena memang belum masanya) sebagaimana diusung dalam penyuluhan lembaga-lembaga peduli HIV/Aids atau penyakit menular seksual (PMS). Orientasi ini meski bermuara pada pencegahan virus penyakit kelamin  lewat alat-alat kontrasepsi seperti kondom dan seks secara aman, tetapi terkesan tidak membatasi  pada perilaku gonta ganti pasangan maupun seks bebas. Dalam pendidikan seks Islami, orientasi yang ditanamkan adalah penjagaan kesucian diri dan kehormatan, termasuk penyaluran hasrat seksual secara benar dan sah lewat lembaga pernikahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keinginan mengusung  pendidikan seks Islami sebagaimana penulis kehendaki lebih didorong oleh keinginan menyiapkan anak didik untuk mampu menjalani peran dan tanggung jawabnya sebagai laki-laki dan perempuan tanpa merasa superior dan inferior oleh  jenis kelaminnya. Pendidikan seks Islam juga telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pendidikan anak seutuhnya dalam membentuk kepribadian muslim yang tangguh. Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Guru PAI SMAN 1 Babadan Ponorogo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/382337659859891339-1594284406829846319?l=nuruliman1972.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/feeds/1594284406829846319/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=382337659859891339&amp;postID=1594284406829846319&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/1594284406829846319'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/1594284406829846319'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/2010/04/menggagas-pendidikan-seks-islami.html' title='Menggagas Pendidikan Seks Islami'/><author><name>nuruliman1972</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07855832763775638687</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_PHfVnL1Tq0A/S7k2XwBsRVI/AAAAAAAAAEQ/PVdc6m563os/s72-c/0711010l.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-382337659859891339.post-8373677284626090861</id><published>2010-03-28T04:39:00.000-07:00</published><updated>2010-03-28T04:45:24.466-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Naruto, Ujian Nasional, dan Perjuangan Sukses</title><content type='html'>28 Maret 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NARUTO, UJIAN NASIONAL, DAN PERJUANGAN SUKSES&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam banyak kesempatan, ketika longar, saya sering menemani anak lanang menonton film kartun kegemarannya, serial ninja Naruto, sebuah anime karya Masashi Kishimoto yang diputar di salah satu stasiun televisi swasta Indonesia. Ia begitu hafal dengan tokoh-tokoh film ini beserta “jurus” masing-masing. Meski sudah sering ditayangkan berulangkali, saya cukup keheranan mengapa sang anak begitu “menikmati” tontonan tersebut dan tidak mengalami kebosanan. Jika ada waktu, bahkan sang istri juga ikut nimbrung.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Setelah ikut mencermati, ternyata tontonan Naruto yang sarat dengan kekerasan dan pertempuran itu, juga banyak mengajarkan nilai-nilai tentang kehidupan. Sosok Uzomaki Naruto yang dibesarkan di desa Konoha adalah simbol perjuangan tiada henti menuju tujuan, berupa keinginan menjadi Hokage, pimpinan tertinggi para ninja, dengan segala kemampuan jurus beladiri dan kebijakannya.  Perjalanan hidup Naruto menuju pencapaian cita-citanya digambarkan sebagai tahapan-tahapan penuh rintangan dan halangan. Setingkat demi setingkat akhirnya masing-masing tingkat genin, chunin, jounin, dan sanin, dapat dilalui sebelum akhirnya mendekatkannya pada gelar Hokage. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naruto adalah sosok pebelajar hebat. Dalam belajar jurus-jurus ninja, ia selalu ulet, pantang menyerah, selalu dapat bangkit dari kegagalan. Tidak ada kata putus asa dan setengah-setengah dalam belajar. Serial kartun Naruto juga mengajarkan kebersamaan/teamwork, kejujuran, dan empati terhadap orang lain. Dalam kerja teamwork, kesuksesan selalu diatasnamakan tim dan kelompok. Tidak ada klaim pribadi terhadap setiap keberhasilan. Dalam perjuangan menuju sebuah kesuksesan, beban dan hambatan memang akan menjadi lebih ringan jika ditanggung bersama, apalagi jika diikuti dengan nilai-nilai lain seperti kegigihan dan kejujuran. Semakin mudah. Hanya saja, sebagai tontonan  berbasis  budaya lain, serial Naruto juga tidak lepas dari banyak hal yang kadang bertentangan dengan budaya kita Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesuksesan memang harus diperjuangkan, dan perjuangan selalu diikuti oleh banyak pengorbanan dan ”keringat”. Wama al-ladzatu illa ba’ada al-ta’bi. Jika dikaitkan dengan dengan gawe besar bangsa ini pada bulan-bulan ini berupa Ujian Nasional, maka kesuksesan setiap lembaga dalam mengantarkan para siswa lulus sesuai dengan kriterianya 5,5 (passing grade), tentu hal itu menguras banyak energi dan waktu. Para peserta didik mencurahkan segenap energi dan kemampuannya dalam mempersiapkan diri mampu menjawab soal-soal ujian. Sementara itu para guru dan sekolah menfasilitasi mereka dengan menyelenggarakan pembelajaran bermutu, try out, motivasi, juga pendampingan. Semuanya adalah kerja bareng yang terorganisir dan terencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diselenggarakannya ujian semisal Unas  merupakan ajang pembuktian kemampuan murid dan guru. Siswa dengan peningkatan kemampuan dan kecakapan akademik yang dibuktikan nilai dan sikap diri, sedangkan para guru dengan kemampuan mendidik dan membelajarkan para siswa dengan baik. Andai saja tidak ada alat ukur semisal ujian, maka sangat sulit untuk mempertanggungjawabkan penyelenggaraan sebuah pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang perlu digaris bawahi adalah bahwa kelulusan dalam ujian seperti Unas misalnya, sebenarnya hanyalah ”tujuan antara” dari proses pendidikan sebuah lembaga sekolah/madrasah yang bersifat jangka pendek.  Sementara itu, tujuan jangka panjangnya adalah mempersiapkan para siswa dengan penguasaan kemampuan dan kecakapan untuk melanjutkan pendidikan lebih tinggi, kecakapan hidup, dan penanaman nilai-nilai  hidup berupa akhlak dan sikap terpuji. Semuanya mengarah pada pemberian modal kesuksesan  hidup kelak. Karenanya, penyelenggaraan pendidikan harus selalu diarahkan pada pencapaian tujuan jangka panjang tersebut. Terlalu berorientasi pada tujuan jangka pendek berupa sukses dalam ujian, tentunya hanya akan ”mengerdilkan” arti sebuah pendidikan itu sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misi mulia pendidikan sebagaimana diamanatkan Undang-undang Dasar 1945  adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Karenanya, jika keinginan ”mencerdaskan” anak didik menjadi acuan, dalam penyelenggaraan Ujian nasional, mestinya tidak akan didapati berbagai tindak kecurangan yang melibatkan tidak saja pada peserta ujian tetapi juga unsur guru dan sekolah, atau bahkan dinas terkait. Sebutan ”tim sukses UN” hendaknya tidak menggiring penyelenggara pendidikan untuk melakukan cara-cara tidak terpuji. Saat ini, rasanya masih berat untuk mengatakan bahwa ujian nasional yang berjalan lancar tersebut telah berlangsung jujur dan bersih dari kecurangan. Meski tidak dijadikan kasus yang berlanjut pada proses hukum, penyimpangan-penyimpangan tersebut sudah menjadi rahasia umum yang diketahui banyak pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlalu banyak yang dikorbankan jika dalam rangka mensukseskan sebuah ujian nasional penyelenggara pendidikan melakukan segala cara yang berbau kecurangan.   Ajaran kegigihan, kerja keras, kejujuran, dan kemandirian dalam hidup yang selama ini ditanambudayakan pada peserta didik akan hancur berantakan. Etos dan budaya kerja keras  para guru dipastikan akan rusak. Semuanya akan mengandalkan ”pertolongan” dadakan yang diberikan saat ujian. Pada masa selanjutnya, kecurangan dalam ujian hanya akan meneguhkan budaya korupsi, kolusi, dan nepotisme yang memang sudah membudaya dalam sebuah masyarakat. Singkatnya, kecurangan dan ketidakjujuran hanya akan menghancurkan pendidikan dan masa depan sebuah bangsa. Sebuah ”harga” yang  harus dibayar mahal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Naruto telah berjuang keras, gigih, dan jujur dalam mencapai kesuksesannya, maka saatnya bangsa ini terutama generasi muda, bercermin dari tokoh ninja ini atau figur-figur lain dalam mengejar cita-cita dan kesuksesan. Kejujuran sebagaimana ditegaskan nabi akan menuntun pada pada kebaikan (al-birr), dan berlanjut ke surga (al-jannah). Sebaliknya, kebohongan dan ketidak jujuran akan menghantarkan pada keburukan (al-fujur), dan berlanjut pada neraka (al-naar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Surga” sebagai akibat kejujuran dalam perspektif dunia dapat diartikan sebagai kenyamanan hidup, keteraturan,  serta keadilan. Sedangkan ”neraka” dapat dimaknai dengan ketidaknyamanan, berkembangan kedzaliman, merebaknya kemunafikan, dan terampasnya hak-hak orang lemah. Menjadikan kehidupan dunia ini bagai surga ataupun neraka adalah sebuah pilihan. Semuanya membawa konsekwensi masing-masing. Kejujuran dalam ber-ujian merupakan salah satu cara  untuk menghadirkan ”surga” dalam kehidupan bangsa ini pada masa-masa  mendatang. Mari kita mulai.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/382337659859891339-8373677284626090861?l=nuruliman1972.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/feeds/8373677284626090861/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=382337659859891339&amp;postID=8373677284626090861&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/8373677284626090861'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/8373677284626090861'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/2010/03/naruto-ujian-nasional-dan-perjuangan.html' title='Naruto, Ujian Nasional, dan Perjuangan Sukses'/><author><name>nuruliman1972</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07855832763775638687</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-382337659859891339.post-8421985381753519052</id><published>2010-03-19T17:59:00.000-07:00</published><updated>2010-03-19T18:06:47.042-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Permisifisme dan Pendidikan "Tidak"</title><content type='html'>21 Maret 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERMISIFISME, DAN PENDIDIKAN “TIDAK”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Amalia Sulfana*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sambut Valentine, Kondom Laris”, demikian bunyi sebuah judul salah satu berita koran Jawa Pos edisi Senin,  15 Februari 2010.  Berita ini mengisahkan tentang tingkat penjualan kondom di apotek-apotek kota Jogja yang mengalami kenaikan 30-50 %. Yang mencengangkan, pembelian terbesar terhadap alat KB tersebut dilakukan oleh para remaja. Selama ini memang belum ada regulasi yang tegas dari dinas kesehatan tentang perdagangan alat kontrasepsi khususnya kondom ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, apa yang diungkap majalah Hidayatullah (Maret 2010/ R. Awal 1431) tentang kejahatan internet khususnya Facebook turut mengusik nurani kita sebagai orang tua dan pendidik. Betapa banyak  remaja wanita yang “hilang” dibawa kekasih baru yang dikenalnya di jejaring sosial tersebut.  Mereka larut dalam rayuan gombal para penikmat kebebasan pergaulan yang biasanya berakibat pada  penistaan seksual para wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena tersebut memprihatinkan, sehingga memunculkan pertanyaan besar dalam benak kita sebagai orang tua dan pendidik, apakah memang sudah sedemikian parahkah kebebasan pergaulan remaja kita.  Hubungan cinta remaja pada masa pra nikah yang seharusnya masih sebatas perkenalan dan penjajagan seharusnya tidak harus berakhir di ranjang sehingga memerlukan kondom untuk menghindari kehamilan atau penularan penyakit kelamin. Pembuktian cinta sejati untuk mereka seharusnya tidak dalam bentuk hubungan intim, sebuah tingkat hubungan yang hanya layak didominasi pasangan sah pernikahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan sebagaimana diuraikan diatas menggambarkan budaya permisifisme  khas barat yang mulai menjangkiti remaja di negeri ini. Globalisasi dunia lewat penemuan teknologi informasi memang menjanjikan banyak manfaat, keterbukaan dan kemudahan untuk berkembang, tentunya jika dapat direspon dengan benar. Disamping itu turut terbawa pula banyak madharat berupa transformasi budaya kebebasan barat dalam segala bentuknya, serta “sampah” pornografi.  Akses internet  yang saat ini bisa hadir di mana dan kapan saja bahkan di tangan setiap orang lewat handphone, turut mendukung  meluasnya kerusakan moral umat manusia khususnya para generasi mudanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring dengan itu, disadari atau tidak filter diri para generasi muda yang bersumber pada agama dan etika moral telah melemah. Ajaran agama yang pada prinsipnya berisi perintah untuk berbuat baik dan larangan berbuat buruk  sebenarnya  mengajarkan seseorang  agar taat kepada Allah lewat menunaikan perintah yang bermanfaat bagi diri dan kehidupannya, dan menjauhi hal-hal yang berakibat buruk pada  diri dan kehidupannya. Sayangnya, pola pendidikan agama yang berlaku di masyarakat seringkali bersifat doktrinal, terkesan taken for granted (mau tidak mau harus diterima), dan tanpa menyisakan tempat bagi nalar untuk mencerna kembali ajaran-ajaran agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasionalisasi perintah dan larangan merupakan upaya penting  yang harus dilakukan para pendidik dalam mengajarkan agama. Dengan mengungkap hikmah dan rahasia Allah di balik perintah-perintah dan larangan-laranganNya, maka diharapkan setiap muslim memahami bahwa semua ajaran agama diadakan hanya untuk kebaikan mereka sendiri. Tuhan tidak butuh terhadap ketaatan seorang hamba sebagaimana ia membutuhkannya untuk perbaikan dirinya sendiri.  Allah menyebut bahwa ajaran agama adalah lima yuhyikum (mendatangakan kebaikan hidup) bagi kita, ummat manusia sendiri. Paradigma pembelajaran agama yang fiqih oriented dan  bernada hitam-putih, halal-haram, perlu disempurnakan dengan  mengikutsertakan hikmat al-tasyri’ dan filosofinya yang mengurai keutamaan perintah dan hikmahnya, serta menjabarkan keburukan hal-hal yang dilarang Allah dan bahaya yang terkandung di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam keluarga, penumbuhan nalar anak dapat dipupuk dengan melengkapi setiap arahan, perintah, dan larangan dengan menyebut alasannya.  Ajakan untuk belajar hendaknya disertai dengan keterangan bahwa belajar perlu untuk memberikan pekerjaan bagi otak. Larangan jajan di luaran seyogyanya diikuti dengan pemahaman tentang banyaknya bahaya dalam kandungan kimiawi jajan tersebut. Dengan demikian, diharapkan agar para anak  yang merupakan generasi mendatang paham makna “tidak” dalam larangan orang tua mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengajarkan “tidak” terhadap hal-hal yang buruk menjadi tantangan tersendiri bagi para pendidik  dewasa ini. Budaya permisifme  yang  datang dari barat mengharuskan kita untuk belajar kembali dalam mengajarkan aturan Islam yang berkenaan dengan pergaulan laki-perempuan maupun pergaulan sosial lainnya. Rasionalisasi ajaran-ajaran  tersebut  berkenaan dengan dampak negatif dan kerugian yang akan mereka tanggung sendiri, memantapkan para remaja dan peserta didik untuk berkata “tidak” terhadap pergaulan bebas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak mudah tentunya untuk mendidikan habs al-nafs (penendalian diri dan emosi). Tetapi puasa Ramadhan yang satu bulan itu dapat dijadikan sumber inspirasi. Mudah-mudahan, kita mendapatkan kekuatan secara moral dan spiritual untuk membesarkan mereka dalam hidayah dan petunjuk Allah. Semoga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Guru PAI SMAN 1 Babadan Ponorogo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/382337659859891339-8421985381753519052?l=nuruliman1972.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/feeds/8421985381753519052/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=382337659859891339&amp;postID=8421985381753519052&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/8421985381753519052'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/8421985381753519052'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/2010/03/permisifisme-dan-pendidikan-tidak.html' title='Permisifisme dan Pendidikan &quot;Tidak&quot;'/><author><name>nuruliman1972</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07855832763775638687</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-382337659859891339.post-2439126828254808059</id><published>2010-03-15T16:20:00.000-07:00</published><updated>2010-03-15T16:31:34.626-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Religi'/><title type='text'>Jadi "Duri" atau "Kapas" ?</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_PHfVnL1Tq0A/S57DJkBhtJI/AAAAAAAAAEA/XPx0wqXG4Co/s1600-h/PR0054.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 295px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_PHfVnL1Tq0A/S57DJkBhtJI/AAAAAAAAAEA/XPx0wqXG4Co/s320/PR0054.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5449007168221197458" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;16 Maret 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JADI ”DURI” ATAU ”KAPAS” ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang guru PAI sebuah sekolah menengah pertama memasuki kelas dengan membawa kulit durian dan  sekantong kapas. Para peserta didik dengan keheranan menyimpan tanda tanya besar di benak mereka tentang apa yang mau dilakukan guru  dengan kedua benda itu. Setelah meletakkan peralatannya, menyapa para siswa, lalu sang guru menanyakan kabar mereka. Ia juga menangkap keheranan para siswa pada barang bawaannya hari ini. Ia segera ingin memulai pembelajaran hari ini dengan dua benda yang telah ”mencuri” perhatian tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak guru menghadirkan kedua benda itu, kulit durian dan dan kapas di atas meja. Beliau juga meminta sebagian siswa memegang dan meraba masing-masing benda. Lalu secara berhati-hati menyampaikan sederet pertanyaan. Diantaranya adalah tentang apa dua benda yang dia bawa, benda apasaja yang dapat dihasilkan dari kapas dan kulit durian, dan bagaimana reaksi mereka jika diminta berlama-lama memegang keduanya. Selanjutnya, pertanyaan diarahkan pada analogi tentang siapakah manusia yang berkarakter seperti kulit durian atau kapas, dan bagaimana sikap manusia kebanyakan terhadap karakter manusia tipe durian dan kapas tersebut. Pertanyaan ditutup dengan tawaran kepada mereka tentang menjadi tipe manusia apa yang akan dipilih, dan mengapa pilihan itu dijatuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui dialog yang terbimbing tersebut pak guru mengarahkan pembicaraan pada konklusi bahwa manusia pada prinsipnya dapat digolongkan menjadi dua golongan, manusia ”duri” dan manusia ”kapas”. Tipe pertama mencerminkan sosok yang berakhlak buruk, sedangkan tipe kedua adalah manusia baik berakhlak mulia (mahmudah).  Tipe pertama merupakan sosok yang dibenci, sedangkan yang kedua tipe yang dirindu dan dinanti kehadirannya. Demikianlah, pak guru berusaha mengawali pembelajaran PAI hari itu dengan melakukan kontekstualisasi materi akhlak mulia dan  menanamkan konsepnya secara utuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menggolongkan manusia menjadi ”duri” ataupun ”kapas” seperti yang dilakukan pak guru tersebut tidaklah salah. Pada prinsipnya, ketika seseorang berperilaku baik dan berakhlak mulia ia menjadi seperti kapas yang penuh kelembuatan yang memberikan kenyamanan. Karenanya, terhadap orang yang demikian, kebanyakan orang-orang akan merasa nyaman dan mendekat. Ia akan memiliki banyak kolega dan sahabat.  Sebaliknya, ketika berbuat keburukan, manusia menjelma seperti ”duri” yang menyakitkan, merugikan,  dan mengundang kebencian orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia ”kapas” adalah sosok penuh kebaikan. Rasulullah  menyebutnya sebagai anfa’ al-nass (paling banyak manfaatnya). Tutur katanya ”sejuk”, penuh kelembutan, tanpa sumpah serapah. Tindak tanduk dan perbuatannya penuh kesabaran, kesopanan, kesantunan, dan yang penting mendatangkan kebaikan atau keuntungan bagi orang lain. Hati dan pikirannya digunakan secara positif untuk membangun niat baik, keikhlasan, khusn al-dzann, dan keinginan menolong sesama. Sungguh kenyamanan yang mengundang segala kenyamanan  dan kebaikan orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, manusia ”duri” adalah sosok buruk dan jahat. Hati dan pikirannya dipenuhi energi negatif, penuh prasangka, permusuhan, serta digunakan untuk mereka-reka ”proyek” merugikan  orang lain. Mulut dan ucapannya penuh bisa, menyesatkan, serta mengadu domba sesama. Perilaku dan perbuatannya bermuara pada menyakiti dan merugikan orang lain. Jika berorganisasi, manusia tipe ini selalu membuat kerusakan dengan seringnya ia menghianati kesepakatan, merusak aturan main, dan meninggalkan tata tertib yang disusun bersama  demi keuntungannya sendiri yang seringkalai bersifat sesaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi manusia ”kapas” maupun ”duri” adalah sebuah pilihan penuh konsekwensi. Di dunia, setiap kebaikan yang dilakukan biasanya akan berbuah kebaikan lain, melalui ucapan terima kasih,  kasih sayang, dan penghormatan. Sedangkan keburukan hanya akan mendatangkan keburukan lewat penolakan, kebencian, balas dendam, serta rusaknya sebuah keharmonisan dan kekeluargaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akherat, Allah menjanjikan selaksa kebaikan baik penuai kebaikan. Dalam hadith riwayat Muslim, Nabi menegaskan janji Allah yang akan memudahkan urusan seseorang dunia akhirat jika ia memudahkan (yassar) urusan orang lain, menutup aibnya jika ia menutup aib (satar) sesama, dan selalu menolongnya selama ia juga menolong orang lain. Wallah fi ’aun al-’abd ma kana al-’abd fi ’aun akhih. Sebaliknya, sebagaimana diriwayatkan al-Tirmidzi, Allah mengancam orang yang membahayakan (dhaarr) orang muslim lain dengan menimpakan bahaya pada dirinya. Siapa yang mempersulit (syaqq) orang muslim lain, maka ia akan dipersulit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kulit durian dan kapas adalah benda yang pasif dan tidak bisa berubah, maka manusia tipe kapas atau ”duri” tetap memiliki kesempatan untuk mengubah dirinya, dan bertukar tipe. Lewat kebaikannya ia bisa menjelma menjadi manusia ”kapas”, atau menjelma menjadi ”duri” dengan segala keburukan yang dilakukan. Sekali lagi, hal tersebut berdasarkan pilihan diri. Pilih mana, jadi ”kapas” atau ”duri” ? Wallahu a’lam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/382337659859891339-2439126828254808059?l=nuruliman1972.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/feeds/2439126828254808059/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=382337659859891339&amp;postID=2439126828254808059&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/2439126828254808059'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/2439126828254808059'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/2010/03/jadi-duri-atau-kapas.html' title='Jadi &quot;Duri&quot; atau &quot;Kapas&quot; ?'/><author><name>nuruliman1972</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07855832763775638687</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_PHfVnL1Tq0A/S57DJkBhtJI/AAAAAAAAAEA/XPx0wqXG4Co/s72-c/PR0054.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-382337659859891339.post-5421126295908838889</id><published>2010-03-03T22:29:00.000-08:00</published><updated>2010-03-03T22:43:49.517-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Religi'/><title type='text'>Menimbang Kembali Pengobatan Alternatif</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_PHfVnL1Tq0A/S49VTD6TQDI/AAAAAAAAAD4/8wC2xMSxVk4/s1600-h/Live+Messenger.png"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 128px; height: 128px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_PHfVnL1Tq0A/S49VTD6TQDI/AAAAAAAAAD4/8wC2xMSxVk4/s320/Live+Messenger.png" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5444664260469932082" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;4 Maret 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENIMBANG KEMBALI PENGOBATAN ALTERNATIF&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyikapi Sakit dan Penyakit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup akan selalu mengalami pasang surut. Senang susah, sedih bahagia, kaya miskin, sehat sakit, dan lain sebagainya. Semuanya dipergilirkan. Dalam menghadapi keadaan yang selalu berubah, manusia dituntut untuk bersiap dan berusaha sekemampuan diri. Bersyukur saat mendapat nikmat, dan bersabar ketika cobaan datang. Hanya saja, sikap sabar harus tetap diikuti dengan semangat untuk menyelesaikan ujian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sakit, berobat adalah usaha diri yang disyari’atkan sebagaimana sabda Rasulullah –Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam: “Berobatlah wahai hamba Allah! Karena tidaklah Allah menurunkan penyakit melainkan juga menurunkan obatnya.” (HR. Abu Dawud). Penegasan Rasul tersebut menegaskan bahwa setiap penyakit memiliki obatnya. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa menjadi kewajiban bagi si sakit (dan keluarganya) untuk menemukan obat yang cocok. Dalam hadith lain, Rasulullah SAW juga selalu berdoa kepada Allah SWT, agar dirinya terhindar dari penyakit berat seperti kusta, gila, dan lepra (HR Imam Ahmad), dan Rasulullah SAW juga senantiasa berdoa agar Allah SWT menjaga kesehatan badan dan penglihatannya hingga akhir hayatnya (HR Imam Ahmad).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berobat adalah upaya dan usaha, sedang yang meyembuhkan adalah Allah (al-Syafi). Oleh karena itu hendaklah seseorang berobat sesuai dengan kemampuannya. Perlu pula diyakini bahwa Allah tidak akan memberikan beban cobaan di luar kemampuan seorang hamba.  Allah berfirman: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286). Penegasan dalam ayat tersebut seakan menjadi ”hiburan” bagi setiap orang sakit bahwa ujian yang diterimanya tidak akan melampaui batas kesanggupan dirinya, sehingga insha Allah dapat ditemukan solusi dan dan penyelesainnya jika ia terus berikhtiar dan memaksimalkan usaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu pula digaris bawahi, bahwa  kesembuhan seseorang  erat hubungannya dengan ”sugesti” diri. Dalam dunia medis dan pengobatan, menumbuhkan sugesti pasien untuk sembuh bukanlah pekerjaan mudah. Perlu kerja keras. Hanya saja, sugesti untuk sembuh harus tetap dibangun berdasar nalar dan pikiran yang sehat. Tidak boleh membabi buta dan ngawur. Upaya untuk mengobati penyakit harus tetap berpegang teguh pada aturan syariat agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Macam-macam pengobatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem kesehatan Indonesia mengakomodasi berbagai sistem pengobatan, mulai dari pengobatan dengan ilmu kedokteran modern, pengobatan tradisional, hingga pengobatan alternatif-komplementari dari dalam dan luar negeri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengobatan alternatif adalah jenis pengobatan yang tidak dilakukan oleh paramedis/dokter pada umumnya, tetapi oleh seorang ahli atau praktisi yang menguasai keahliannya tersebut melalui pendidikan yang lain/non medis. Sedangkan pengobatan komplementer adalah pengobatan tradisional yang sudah diakui dan dapat dipakai sebagai pendamping terapi konvesional/medis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Billy NS, seluruh pengobatan di luar ilmu kedokteran dan keperawatan, menurut Pasal 47 UU No 23/1992 tentang Kesehatan, digolongkan sebagai pengobatan tradisional, termasuk pengobatan alternatif-komplementari yang saat ini banyak pula dijual dengan pola multi-level marketing (MLM) (www.jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&amp;nid=40268). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengobatan alternatif sebagaimana diuraikan Wikipidea dapat digolongkan menjadi 5 kategori yang kadangkala satu jenis pengobatan bisa mencakup beberapa kategori.  Sistemnya adalah:&lt;br /&gt;1. Alternative Medical System/ Healing System – non medis&lt;br /&gt;Jenis ini terdiri dari Homeopathy, Naturopathy, Ayurveda dan Traditional Chinese Medicine (selanjutnya disingkat TCM)&lt;br /&gt;2. Mind Body Intervention&lt;br /&gt;terdiri atas Meditasi, Autogenics, Relaksasi Progresif, Terapi Kreatif, Visualisasi Kreatif, Hypnotherapy, Neurolinguistik Programming (NLP), Brain Gym, dan Bach Flower Remedy.&lt;br /&gt;3. Terapi Biologis&lt;br /&gt;terdiri dari Terapi Herbal, Terapi Nutrisi, Food Combining, Terapi Jus, Makrobiotik, Terapi Urine, Colon Hydrotherapy.&lt;br /&gt;4. Manipulasi Anggota Tubuh&lt;br /&gt;terdiri atas Pijat/Massage, Aromatherapy, Hydrotherapy, Pilates, Chiropractic, Yoga, Terapi Craniosacral, Teknik Buteyko.&lt;br /&gt;5. Terapi Energi&lt;br /&gt;Terapi energi terdiri dari Akupunktur, Akupressur, Refleksiologi, Chi Kung, Tai Chi, Reiki, dan Prana healing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara lebih sederhana, pengobatan alternatif dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Terapi pikiran dan spiritual &lt;br /&gt;Pengobatan jenis ini seperti: Dreamwork, Hipnoterapy, Psikoterapi, Psikoanalitik, Terapi Cahaya, Terapi Humanistik, Terapi Keluarga, Terapi Kelompok, Terapi Kognitif, Terapi Musik, Terapi Suara, Terapi Seni, Terapi Warna, Visualisasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Terapi fisik &lt;br /&gt;Diantara terapi fisik adalah : Aromaterapi, Hidroterapi, Osteopati, Teknik Relaksasi, dan Zero Balancing. &lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;c.  Terapi energi di antaranya:&lt;br /&gt;Termasuk jenis ini adalah Akupunktur, Akupresur, Meditasi, Refleksiologi, terapi polaritas (seperti diet dan peregangan), Taichi (gerakan beladiri), dan Prana (pemanfaatan tenaga matahari, udara,dan bumi). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengobatan dengan menggunakan jampi-jampi, mantra (yang banya diadopsi perdukunan), hingga bacaan do’a dalam ruqyah dapat digolongkan pada jenis terapi pikiran spiritual.  Dengan menggunakan spirit do’a dan jampi, pasien seakan disugesti agar dapat sembuh dari penyakitnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyaknya ragam pengobatan alternatif dengan mekanismenya yang sering tidak “lazim” atau populer, maka setiap orang yang ingin mengaksesnya seharusnya berhati-hati. Diantara kiat-kiat yang perlu dipertimbangkan dalam memilih pengobatan alternatif adalah:&lt;br /&gt;1. Dapatkan informasi mengenai pengobatan alternatif melalui internet, majalah, surat kabar, radio, TV, brosur-brosur, dan testimoni yang diberikan orang-orang yang sudah menjalani pengobatan alternatif.&lt;br /&gt;2. Jika sudah mendapatkan informasi, tanyakan pengobatan apa saja yang mereka tawarkan.&lt;br /&gt;3. Temui ahli yang bertanggungjawab di tempat pengobatan bersangkutan.&lt;br /&gt;4. Cari informasi cara terapis melakukan diagnosa, apakah sesuai dengan kaidah-kaidah pengobatan yang berlaku di masyarakat atau tidak.&lt;br /&gt;5. Pengobatan alternatif yang benar selalu kembali ke obat herbal, kembali ke alam (back to nature).&lt;br /&gt;6. Pilih pengobatan alternatif yang sesuai dengan masalah kesehatan yang sedang diderita. (www.AsianBrain.com)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyikapi Pengobatan Alternatif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap pengobatan untuk menjemput kesembuhan pada prinsipnya merupakan ikhtiar manusia yang diperintahkan. Pengobatan alternatif diperbolehkan apabila tidak melanggar dari syari’at. Disebut melanggar syari’at, jika sebuah pengobatan mengandung unsur syirik dan tidak lebih dari praktek kahanah (perdukunan) dan sihir terselubung yang berkedok pengobatan. Pengobatan yang dilakukan oleh dukun lebih sering merugikan para pasien baik secara fisik, mental, spiritual, maupun material seperti dalam kasus “dukun cilik” Ponari dari Jombang yang cukup menghebohkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, Islam juga membenarkan jampi yang mengandung zikir kepada Allah SWT. Dalam riwayat Muslim disebutkan :&lt;br /&gt;عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ الْأَشْجَعِيِّ قَالَ كُنَّا نَرْقِي فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تَرَى فِي ذَلِكَ فَقَالَ اعْرِضُوا عَلَيَّ رُقَاكُمْ لَا بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ يَكُنْ فِيهِ شِرْكٌ    &lt;br /&gt;Dari ‘Auf bin Malik al-Asyja’i menyatakan bahwa sudah menjadi kebiasaan kita pada masa jahiliyah untuk  membacakan ruqyah. Kami lalu bertanya kepada Rasul, bagaimana pendapatmu? Rasul bersabda: “tunjukkan kepadaku ruqyahmu. Tidak apa-apa dengan (hukum) ruqyah selama tidak ada syirik di dalamnya”. (Muslim 4079)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadith ini merupakan takhsis terhadap larangan ruqyah  yang masih bersifat umum dalam hadith: &lt;br /&gt;إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ &lt;br /&gt;Sesungguhnya ruqyah, jimat, dan aji pengasihan adalah syirik. (HR. Ibn Majah: 3521)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan hadith tersebut, menurut para ulama,  ketentuan diperbolehkannya ruqyah adalah: 1) agar bahasa yang digunakan dipahami maknanya; 2) berkeyakinan bahwa kesembuhan hanya datang dari Allah SWT.  Pengobatan spiritual seperti ini dikenal dengan nama ruqyah syar’iyyah, yang pada hakikatnya adalah doa kepada Allah SWT.&lt;br /&gt;Dalam pengobatan termasuk di dalamnya pengobatan alternatif, perlu dihindari penggunaan barang-barang  haram dan mutanajjis seperti kotoran, air kencing, khamar, dan lain sebagainya. Rasulullah menegaskan:  &lt;br /&gt;إِنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ الدَّاءَ وَالدَّوَاءَ وَجَعَلَ لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءً فَتَدَاوَوْا وَلَا تَدَاوَوْا بِحَرَامٍ&lt;br /&gt;Sesungguhnya Allah telah menurunkan penyakit dan obat, dan menjadikan untuk setiap penyakit obatnya. Maka berobatlah, dan jangan berobat dengan (sesuatu) yang haram (HR. Abu Dawud: 3376)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan ini menuntut agar setiap orang meneliti dan mengetahui  komposisi obat yang hendak dikonsumsinya,  sudahkan ia terbebas dari barang-barang yang diharamkan ataupun najis. Karenanya, mencari informasi sedetail- detailnya tentang obat yang dikonsumsi menjadi keharusan. Wallahu a’lam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/382337659859891339-5421126295908838889?l=nuruliman1972.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/feeds/5421126295908838889/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=382337659859891339&amp;postID=5421126295908838889&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/5421126295908838889'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/5421126295908838889'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/2010/03/menimbang-kembali-pengobatan-alternatif.html' title='Menimbang Kembali Pengobatan Alternatif'/><author><name>nuruliman1972</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07855832763775638687</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_PHfVnL1Tq0A/S49VTD6TQDI/AAAAAAAAAD4/8wC2xMSxVk4/s72-c/Live+Messenger.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-382337659859891339.post-4415314749049687576</id><published>2010-02-15T16:47:00.000-08:00</published><updated>2010-02-15T16:58:26.847-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Religi'/><title type='text'>Membantu Orang Dzalim</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_PHfVnL1Tq0A/S3ntelR_fjI/AAAAAAAAADw/uPwwo_lnKKE/s1600-h/PR0026.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 269px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_PHfVnL1Tq0A/S3ntelR_fjI/AAAAAAAAADw/uPwwo_lnKKE/s320/PR0026.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5438639134686019122" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;16 Februari 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap sesuatu memiliki tempatnya sendiri. Topi di kepala, sepatu untuk kaki, gelang di tangan, cincin di jari, dan sebagainya. Menyalahi aturan yang lazim tentang penempatan sesuatu atau peruntukannya disebut sebagai dzalim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anton Na’mah, dalam al-Munjid fi al-Lughah al-’Arabiyyah al-Mu’ashirah (2001: 935), memaknai dzulm dengan mujawazat al-hadd (melampaui batas), ’unf wa ta’assuf (kekerasan), dan khalaf al-’adl wa al-haqq (menyalahi keadilan dan kebenaran). Kata dzulm menurutnya juga memiliki hubungan dengan dzalam yang berarti gelap dan tiadanya cahaya. Kedzaliman biasanya memang menyebabkan “kegelapan nasib” bagi orang yang terdzalimi disamping pelaku kedzaliman sendiri sebenarnya berada dalam kegelapan karena tidak adanya ilmu tentang perbuatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam al-Qur’an, selain kata zhulm digunakan pula kata baghy, yang memiliki arti hampir sama dengan zalim yaitu melanggar haq orang lain. Namun demikian pengertian zalim lebih luas maknanya ketimbang baghy, tergantung kalimat yang disandarkannya. Kezaliman itu memiliki berbagai bentuk termasuk diantaranya syirik, mempersekutukan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat zalim, menurut Wikipedia bisa juga digunakan untuk melambangkan sifat kejam, bengis, tidak berperikemanusiaan, suka melihat orang dalam penderitaan dan kesengsaraan, melakukan kemungkaran, penganiayaan, kemusnahan harta benda, ketidak adilan dan banyak lagi pengertian yang dapat diambil dari sifat zalim tersebut, yang mana pada dasarnya sifat ini merupakan sifat yang keji dan hina, dan sangat bertentangan dengan akhlak dan fitrah manusia, yang seharusnya menggunakan akal untuk melakukan kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari uraian diatas, dapat dipahami bahwa makna dzalim merujuk pada praktek meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya secara proporsional. Orang tua misalnya, adalah sosok yang seharusnya dihormati, dan merupakan bentuk kedzaliman ketika mereka dilecehkan dan direndahkan. Anak adalah amanat Allah yang harus dijaga dan ditumbuhkembangan, dan menjadi dzalim jika mereka ditelantarkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, definisi-definisi tersebut juga memberikan pengertian bahwa dzalim selalu berkonotasi pada adanya tindak merugikan orang lain. Maka, kedzaliman adalah setiap perbuatan yang  meniadakan hak-hak kemanusiaan seseorang, merampas hartanya, menghilangkan kesempatannya untuk bekerja,  memperlakukannya secara tidak adil, serta menyebabkan kehidupannya berada dalam dzalam (kegelapan). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tindakan  kedzaliman, manusia dibagi menjadi dzalim (pelaku) dan madzlum (pihak yang terdzalimi). Pihak pertama merupakan penyebab timbulnya tindakan aniaya, biasanya diidentikkan  dengan pihak pemengang kekuasaan yang lebih superior sementara yang kedua adalah pihak yang inferior. Orang tua terhadap anaknya, guru terhadap muridnya, pemimpin terhadap rakyat atau bawahannya, dan si kuat terhadap yang lemah. Meski demikian, orang-orang yang dianggap lemahpun juga bisa berbuat aniaya dalam kapasitas mereka sendiri seperti dalam kasus durhakanya anak pada para orang tua.  Lebih dari itu, seseorang juga dapat disebut dzalim li nafsih (menganiaya diri sendiri) ketika ia menelantarkan dirinya, atau bahkan mendatangkan kerugian untuk diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkenaan dengan pelaku kedzaliman (dzalim) maupun “korban”nya (madzlum), Rasulullah SAW dalam hadith al-Timidzi menegaskan pentingnya menolong mereka. Menolong orang yang madzlum dapat dilakukan dengan menghilangkan penderitaan mereka, sedangkan menolong yang dzalim  adalah dengan menghalangi mereka dari meneruskan perbuatan aniaya (takuffuh ‘an al-dzulm) yang dilakukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski bantuan perlu diberikan kepada orang yang terdzalimi, tetapi menurut penulis mereka adalah orang-orang yang “kuat” di sisi Allah sehingga ada garansi do’a mereka pasti dikabulkan (mustajab al-du’a).  Dalam hadith, al-Bukhari menyebut himbauan Rasulullah agar kita berhati-hati dari do’a atau laknat para madzlum karena antara mereka dan Allah tidak ada hijab. Sedangkan al-Tirmidzi meriwayatkan bahwa Rasulullah menyebut tiga do’a yang mustajabah, yakni do’a orang terdzalimi,  musafir, dan do’a orang tua untuk anaknya. Allah, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibn Majah bahkan berjanji untuk memenangkankan orang-orang yang terdzalimi Kenyataan ini sekali lagi menunjukkan  bahwa orang-orang yang madzlum tidak perlu dibantu karena mereka berada dalam “jangkaun” bantuan Allah. Sebaliknya, para dzalimin (orang-orang yang menganiaya) sangat terancam posisinya karena akan berhadapan dengan Allah disebabkan kedzaliman yang dilakukan, dan karenanya mereka perlu “dibantu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membantu orang dzalim  sebagaimana ditegaskan Nabi adalah dengan menghentikan kedzalimannya, yang populer dengan istilah nahy al-munkar (mencegah sebuah kemunkaran). Mengingkari kemungkaran sebagaimana disabdakan Nabi dalam hadith Muslim  dapat dilakukan dengan perbuatan (biyadih), atau dengan lisan maupun tulisan jika perbuatan tidak bisa, atau dengan hati, jika cara pertama dan kedua tidak dapat dilakukan, dan hal tersebut merupakan tingkat terendah. Yang perlu digaris bawahi adalah, jika  menginkari kemungkaran dengan hati adalah tingkat terendah inkar al-munkar, maka bagaimana dengan perilaku membiarkan kemungkaran atau bahkan menyokongnya, maka hal tersebut tentu dapat digolongkan sebagai kemungkaran itu sendiri. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hanya saja, amal baik dan penuh barokah, mengingkari kemungkaran tentunya sangat berat, penuh resiko, dan mengundang banyak bahaya, disebabkan para pelaku kedzaliman biasanya tidak menyadari kesalahannya atau karena kedzaliman tersebut banyak menguntungkan mereka secara moral maupun material, sehingga akan dipertahankan sekuat tenaga. Seseorang yang  berusaha menghentikan kedzaliman bisa saja dimusuhi, dikucilkan, disingkirkan, dituduh sebagai “pemberontak”, atau bahkan difitnah merebut kekuasaan. Padahal sebenarnya mereka adalah bantuan Allah terhadap para hambaNya yang sedang salah, alpa, ataupun sesat jalan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terpenting adalah hendaknya setiap muslim selalu bermuhasabah dan meyakinkan diri agar tidak menjadi orang dzalim yang akan berhadapan dengan do’a para madzlumin. Jika ada orang yang berteriak keras di telinga kita, segeralah berinstropeksi, jangan-jangan  kita sedang menyengsarakan orang lain baik secara sadar atau tidak. Bukankan seringkali kita menginjak kaki orang lain tanpa disadari dan kitapun enggan meminta maaf. Bukankah berulang kali kita telah menyakiti sesama bahkan orang terdekat seperti anak istri, dan kitapun tidak merasakannya. Karena itu, kebiasaan minta untuk dikritik dan dan dikoreksi adalah keberanian luar biasa dari orang-orang yang berwawasan maju demi kebaikan dan perbaikan dirinya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jadi, mau ”dibantu” (karena kedzaliman kita) atau ”membantu” saudara kita yang sedang dzalim ?. Wallahu a’lam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/382337659859891339-4415314749049687576?l=nuruliman1972.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/feeds/4415314749049687576/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=382337659859891339&amp;postID=4415314749049687576&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/4415314749049687576'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/4415314749049687576'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/2010/02/membantu-orang-dzalim.html' title='Membantu Orang Dzalim'/><author><name>nuruliman1972</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07855832763775638687</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_PHfVnL1Tq0A/S3ntelR_fjI/AAAAAAAAADw/uPwwo_lnKKE/s72-c/PR0026.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-382337659859891339.post-8718867780894034925</id><published>2010-02-05T18:39:00.000-08:00</published><updated>2010-05-15T13:06:57.277-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga'/><title type='text'>Upgrade Cinta Dalam Pernikahan</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_PHfVnL1Tq0A/S2zX6F2CBXI/AAAAAAAAADo/pOvRrgRZDX8/s1600-h/gambar+menikah2.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_PHfVnL1Tq0A/S2zX6F2CBXI/AAAAAAAAADo/pOvRrgRZDX8/s320/gambar+menikah2.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5434956243330532722" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;7 Februari 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UPGRADE CINTA DALAM PERNIKAHAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkawinan atau nikah berarti berkumpulnya dua orang (berlainan jenis)  menjadi satu. Karena itu nikah secara istilah seringkali diartikan sebagai suatu aqad yang berisi pembolehan melakukan hubungan seksual dengan menggunakan lafal inkahin (menikahkan) atau tazwijin (mengawinkan). Selain itu pernikahan memang mempertemukan suami istri dalam ikatan rumah tangga didasari oleh cinta dan semangat kasih sayang. Peristiwa pernikahan dalam agama Islam dianjurkan dengan berbagai bentuk, mulai penyebutan sebagai sunnah  para nabi dan rasul yang harus diikuti oleh setiap insan beriman atau sebagai bentuk ayat (tanda-tanda) kebesaran Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dicermati, pernikahan memiliki berbagai sisi.  Diantara sisi pernikahan yang sering diungkap para pakar yaitu,  pertama, segi agama yang merupakan segi yang sangat penting berupa "kemapanan psikologis",  kedua, segi sosial bahwa orang yang berkeluarga atau pernah berkeluarga berkedudukan lebih dihargai dibandingkan orang yang tidak melakukan perkawinan, ketiga, segi hukum, yaitu perkawinan merupakan suatu perjanjian yang kuat (mitsaqan ghalizan). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pernikahan dapat dipetik banyak hikmah, diantaranya adalah  diperolehnya "penyaluran" hasrat biologis secara  terhormat,  sarana untuk mendapatkan keturunan, penumbuhan instink kebapakan maupun keibuan, distribusi peran dalam rumah tangga, pendidikan anak secara sehat, dan penjalinan tali persaudaraan antara beberapa keluarga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uraian tersebut menjelaskan bahwa ikatan pernikahan merupakan “peresmian”  hubungan kasih sayang sepasang sejoli. Cinta merupakan   modal utama  dan fondasi bangunan hubungan suami istri tersebut.  Sementara faktor agama, tampilan fisik, latar belakang keluarga, serta kemampuan materiil, semakin melengkapi pertimbangan dan alasan dalam membentuk pernikahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika keimanan di hati seperti ditegaskan Nabi dapat naik turun (yazid wa yanqush) dalam kehidupan ini, maka hal sama akan dialami cinta. Ibarat sebuah pohon, maka cinta perlu dirawat  agar tumbuh dan berkembang. Masalah cinta sejatinya adalah bagaimana menumbuhkan, merawat dan mengembangkannya. Pohon cinta yang dirawat dalam pernikahan akan tumbuh membesar dan akhirnya berbuah sakinah (kedamaian), mawaddah (cinta sejati), dan rahmah (kasih sayang). Sebaliknya jika diabaikan, maka pohon cinta akan kecenthet (tidak berkembang), layu, atau bahkan menjadi mati. Dalam ungkapan lain, cinta dalam pernikahan sebagaimana dalam bahasa komputer perlu di-upgrade, atau dikelolatingkatkan kapasitasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam meng-upgrade cinta pernikahan dapat ditempuh berbagai cara, diantaranya: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Jalin komunikasi yang baik&lt;br /&gt;Komunikasi dalam pernikahan merupakan saluran  ungkapan hati masing-masing pasangan. Karenanya komunikasi harus tetap terpelihara dan mengalir dan tidak boleh “mampet”. Kebuntuan  komunikasi akan melahirkan banyak masalah. Komunikasi yang baik seharusnya berjalan dua arah. Saling mendengar, saling menghargai, dan saling berbagi informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Segera punya momongan&lt;br /&gt;Anak adalah buah cinta kedua orang tuanya dan tempat  curahan  kasih sayang mereka berdua. Anak adalah qurrat a’yun, permata hati. Kehadiran anak sangat dibutuhkan dalam pernikahan. Ibarat lem, anak memperkokoh ikatan pernikahan dan meneguhkan eksistensi kedua orang tua. Menunda memiliki momongan terutama untuk yang pertama meski dengan berbagai alasan sebenarnya merugikan pernikahan itu sendiri disamping memperlambat hadirnya barokah  hubungan suami istri tersebut. Setelah kehadiran anak pertama, merencanakan keluarga barulah dapat disusun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Wujudkan suasana berbeda dalam rumah&lt;br /&gt;Suasana yang sama dan monoton pernikahan yang dijalani pasangan suami secara berkepanjangan dapat menyebabkan kebosanan. Kenyataan ini membahayakan hubungan mereka. Untuk itu perlu usaha keluar dari zona nyaman (ZN) rutinitas dengan menggagas suasana yang menggairahkan dan menghadirkan lingkungan berbeda. Suasana yang menggairahkan dapat dilakukan dengan menghargai pasangan, berusaha mengertinya, dan berbagi peran. Sementara itu lingkungan berbeda digagas dengan menghadirkan tumbuhan dan wewangian di rumah, atau dengan  merubah setting ruangan di rumah seperti kamar tidur dan meja makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Napak tilas bulan madu (memperpanjang kemesraan)&lt;br /&gt;Bulan madu biasanya indah  dan berkesan. Setiap pasangan berusaha menjaga memori ini sebaik mungkin. Seiring berjalannya waktu dan semakin berumurnya rumah tangga, tidak ada buruknya  jika kenangan bulan madu tersebut diulang kembali. Saat ulang tahun perkawinan napak tilas bulan madu dapat dilakukan dengan mengunjungi tempat-tempat ”bersejarah” bagi pasangan ini, melihat kembali album kenangan pernikahan, atau juga dengan memutar video resepsi yang digelar.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;5. Jadikan hubungan intim sebagai rekreasi&lt;br /&gt;Dalam pernikahan, hubungan badaniyah merupakan sarana menyalurkan syahwat diri secara terhormat.. Ia perlu dikelola dengan baik dan sehat.. Keharmonisan rumah tangga turut dipengaruhi oleh kesuksesan pasangan suami istri dalam berhubungan seks ini. Karenanya Islam mengatur sedemikian rupa agar kegiatan intip ini  dalam kitab-kitab fiqih. Yang pasti, hubungan ini harus sama-sama dinikmati,dan dijadikan wahana rekreasi. Hal-hal yang kurang pas berkenaan dengannya, dapat dibicarakan bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Tinjau kembali peran baru (suami, istri, bapak, ibu)&lt;br /&gt;Sebagai makhluk Allah, tidak kata sempurna bagi manusia. Berkenaan dengan peran yang ditunaikan sesudah menikah, masing-masing suami istri dapat bertanya kepada diri  atau bahkan kepada pasangannya tentang apa yang belum maksimal ditunaikan dari perannya sebagai bapak, atau istri, atau bapak-ibu bagi anak-anak. Evaluasi diri tentang peran ini harus didasakan pada niatan bahwa pernikahan sebagai salah satu ibadah dan mengikuti sunnah Rasul. Sejarah kehidupan rumah tangga Rasulullah dapat dijadikan acuan. Memaksimalkan peran diri  berarti pula memaksimalkan pengabdian dan ibadah kepada Allah SWT lewat institusi rumah tangga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Perhatian yang intens&lt;br /&gt;Pada prinsipnya setiap orang akan berbahagia jika diperhatikan. Suami akan senang jika ia diperhatikan oleh orang terdekatnya, istri. Demikian pula sebaliknya. Perhatian itu dapat berupa ucapan terima kasih, bantuan menyelesaikan pekerjaan,  empati dalam kesedihan dan sakit, serta pemberian hadiah-hadiah pada momen tertentu. Hadiah tidak perlu berlebihan. Rasulullah memerintahkan kita agar saling memberi hadiah agar kita saling menyayangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta dalam pernikahan adalah modal penting dalam kehidupan keluarga. Usaha merawatnya layak mendapat perhatian penuh. Belajar tentang keluarga dan usaha menumbuhkan cinta (upgrade) tidak boleh berhenti seiring pertumbuhan keluarga tersebut dan tantangan zaman yang semakin keras. Mudah-mudahan Allah mencurahkan kasih sayang dan rahmatNya bagi keluarga-keluarga yang kita bangun. Semoga.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/382337659859891339-8718867780894034925?l=nuruliman1972.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/feeds/8718867780894034925/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=382337659859891339&amp;postID=8718867780894034925&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/8718867780894034925'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/8718867780894034925'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/2010/02/upgrade-cinta-dalam-pernikahan.html' title='Upgrade Cinta Dalam Pernikahan'/><author><name>nuruliman1972</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07855832763775638687</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_PHfVnL1Tq0A/S2zX6F2CBXI/AAAAAAAAADo/pOvRrgRZDX8/s72-c/gambar+menikah2.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-382337659859891339.post-7748946153335075913</id><published>2010-01-29T00:37:00.000-08:00</published><updated>2010-01-29T00:44:59.634-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Bonek, Belajar, dan Kesuksesan Hidup</title><content type='html'>30 Januari 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BONEK, BELAJAR DAN KESUKSESAN HIDUP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Amalia Sulfana*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia olah raga semisal sepak bola memiliki penggemar dan pendukung tersendiri. Bonek, Aremania, dan  Bobotoh  merupakan sebutan bagi suporter fanatik bagi  club Persebaya Surabaya, Arema Malang, dan Persib Bandung. Bigmacth yang mempertemukan  Persib Bandung dan Persebaya  (22/01/10) mengundang kehadiran penonton setia masing-masing sebanyak hampir 40 ribu orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bonek yang merupakan suporter setia Persebaya adalah sebuah fenomena. Keberadaan Bonek sebagaimana makna akronimnya, bondo nekat, selalu diidentikkan dengan kenekatan, rusuh, ketidak tertiban, meresahkan, dan bahkan merugikan. Dengan modal seadanya para Bonek memang berjuang sekuat tenaga untuk dapat hadir pada setiap pertandingan Persebaya dimanapun dan kapanpun berada. Numpang truk, nggandol kereta, nunut mobil orang, berpanas-panasan, bermalam dimana saja, menahan lapar, mengecat tubuh, dan  bahkan menggunduli kepala akan dilakukan asal dapat mendukung klub kebanggaan dan berhasil menyaksikan laganya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan Bonek, Aremania, dan Bobotoh adalah simbol “perjuangan” dan pengorbanan para generasi muda dalam memberikan dukungan pada klub-klub mereka. Apa saja akan dilakukan, meski sering kali  kelewat batas, membahayakan diri sendiri,  maupun merugikan orang lain. Andai kenekatan dan kerja keras para generasi muda tersebut --dalam konotasi positif-- dibawa dalam ranah kehidupan riil, seperti belajar, kuliah, dan meniti karir. Entah kesuksesan  macam apa serta capaian keberhasilan yang  bagaimana, yang mereka dapatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar baik secara formal  maupun non formal membutuhkan modal keuletan,  kesungguhan, dan kenekatan. Sukses dalam belajar menuntut pengorbanan, kerja keras, usaha tiada henti, kesabaran, serta fokus. Modal materi meski penting tetapi ia bukanlah segalanya. Realita kehidupan membuktikan bahwa banyak orang telah sukses belajar meski berasal dari keluarga miskin dan tidak berada. Imam al-Syafii menyebut bahwa seseorang tidak akan sukses belajar tanpa memiliki modal yang enam perkara berupa: kecerdasan (dzaka’), biaya (dirham), antusiasme (hirsh), kesungguhan (ijtihad), perlakuan baik kepada guru (suhbah ustadz), dan waktu yang lama (thul zaman). Dari pernyataan Syafi’i tersebut dapat dipahami bahwa kelima hal dari enam perkara yang menunjang sukses belajar merupakan aspek-aspek psikis yang bersumber pada diri seseorang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan yang sukses juga selalu dipersembahkan oleh kerja keras dan semangat pantang menyerah disamping tentunya takdir Ilahi. Sunnatullah selalu membuktikan  bahwa ada hasil  di balik setiap usaha, baik secara cash maupun tidak. Karenanya, sangat jarang terjadi seseorang menjadi kaya tanpa bekerja,  pintar tanpa belajar, makmur tanpa tandur, ataupun mulia tanpa mengukir citra diri. Semuanya ada harganya, perjuangan dan pengorbanan. Man jadda wajada atau siapa yang bersungguh sungguh niscaya akan menemukan (keberhasilan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rintangan dan halangan dalam setiap perjalanan menuju sukses merupakan batu ujian  untuk meneguhkan kehendak hati serta menguji mental setiap “pemburu” keberhasilan. Rintangan adalah wahana “seleksi alam” untuk menemukan para pemenang diantara para pecundang.  Rasa capek akibat kerja keras dan perjuangan  dalam menghadapi tantangan akan semakin menambah nikmat dan kesyukuran seseorang ketika ia sampai pada tujuannya, kesuksesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada keberhasilan hidup yang turun dari langit, sebagai hadih. Ia harus diraih, dengan usaha dan upaya, dan tentu saja juga dengan mencurahkan kemampuan otak dan hati. Keringat harus dicucurkan, air mata harus ditumpahkan, serta keputusasaan hendaklah bisa dikalahkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjuangan meraih kesuksesan, sebenarnya tidak kata bonek atau bondo nekat dalam pengertian berbuat tanpa modal sama sekali. Bukankan Allah telah memodali kita dengan  banyak hal. Kesehatan, kelonggaran waktu, tubuh yang sehat,  otak yang cerdas, merupakan modal-modal yang diberikan Sang Pencipta tanpa dapat ditaksir harganya. Setiap keberhasilan orang lain hendaknya menginspirasi kita untuk dapat berhasil sepertinya tanpa ada kecemasan sedikitpun karena Allah memang telah memberikan modal yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marilah kita gunakan kenekatan kita secara positif untuk mewujudkan tujuan-tujuan kita yang mulia berupa kesuksesan dalam berbagai bidang yang kita geluti. Jangan biarkan diri kita tunduk pada tantangan dan rintangan yang menghadang. Dengan penuh tawakal marilah kita yakini  bahwa selama ada kemauan maka Allah akan membukakan jalan menuju tujuan mulia kita. Where there is will, there is way.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Guru PAI SMAN 1 Babadan Ponorogo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/382337659859891339-7748946153335075913?l=nuruliman1972.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/feeds/7748946153335075913/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=382337659859891339&amp;postID=7748946153335075913&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/7748946153335075913'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/7748946153335075913'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/2010/01/bonek-belajar-dan-kesuksesan-hidup.html' title='Bonek, Belajar, dan Kesuksesan Hidup'/><author><name>nuruliman1972</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07855832763775638687</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-382337659859891339.post-1945267031028529106</id><published>2010-01-24T14:21:00.000-08:00</published><updated>2010-01-24T14:32:03.640-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Mensyukuri Kehadiran Anak "Nakal"</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_PHfVnL1Tq0A/S1zKOuUa2OI/AAAAAAAAADg/P6WVpKHQBBg/s1600-h/Cover+Anak+Nakal+(kecil).jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 306px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_PHfVnL1Tq0A/S1zKOuUa2OI/AAAAAAAAADg/P6WVpKHQBBg/s320/Cover+Anak+Nakal+(kecil).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5430437605002631394" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24 Januari 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya cukup terhenyak ketika Mas Jinan menyodorkan buku barunya yang ditulis bersama ustadz Choirus Syafruddin, “Alhamdulillah... Anakku Nakal”, seraya berkata “beri tanggapan ya”. Judul  buku tersebut menyisakan banyak pertanyaan di benak saya tentang apakah yang dimaksud anak nakal, dan mengapa kehadirannya meski disyukuri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku yang diterbitkan Filla Press ini, Miftahul Jinan  dan Choirus Syafruddin mengajak para orang tua  untuk kembali belajar banyak tentang kenakalan anak dan apakah perilaku-perilaku anak yang sering dianggap orang tua ”kelewatan” memang merupakan sebuah kenakalan.   Karenanya, buku ini diawali dengan pembahasan tentang paradigma  nakal yang salah dimengerti oleh orang tua. Ketika anak-anak terlalu banyak bermain dan sulit belajar misalnya, maka anak sering dijustifikasi  dengan sebutan nakal. Padahal bisa saja hal tersebut disebabkan kebosanannya, atau pendekatan belajar yang digunakan tidak menarik, atau karena dunia anak memang dunia permainan. Menurut Jinan, bermain adalah hadiah alam yang berharga bagi putra-putri kita. Ia merupakan ’alat canggih’ yang memungkinkan seorang anak untuk masuk  dalam kegiatan yang paling serius, penting, dan paling mengundang minat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praktek labelling atau  pemanggilan anak dengan label nakal perlu dihindari oleh orang tua maupun guru. Meski pada awalnya label nakal tersebut masih sangat imajiner (tidak dikenal) oleh anak  dan sebenarnya tidak ada hubungan dengan dirinya, tetapi seiring dengan seringnya kata tersebut diarahkan kepada dirinya maka ia menjadi semakin realistik dan dekat. Karenanya, labelling perlu digantikan dengan afirmasi yang lebih positif dan baik bagi perkembangan anak. Jinan mengingatkan tentang teori siklus 21 dari Thomas L Madden yang menjelaskan tentang terjadinya pelekatan label buruk atau afirmasi  yang terjadi pada hari ke 21, meski pada awalnya terjadi penolakan. Sungguh luar biasa dan sahih apa yang diperjuangkan Al-Qur’an dalam penolakan tanabuz bi al-alqab (saling memanggil dengan julukan buruk) pada surat al-Hujurat ayat 11. Praktek ini sebenarnya menistakan diri sendiri meski kelihatannya merendahkan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenali kenakalan anak secara benar perlu dilakukan agar tidak terjadi salah asuh ataupun salah urus anak yang dapat berakibat buruk pada perkembangannya secara fisik dan psikis. Jinan membagi kenakalah anak menjadi empat hal: kenakalan eksploratif, kenakalan semu, kenakalan habitual, dan kenakalan sejati, sekaligus menyampaikan kiat-kiat  dan solusi dalam menanganinya. Jam terbang  yang dimiliki dalam training-training  motivasi, pendidikan, dan parenting menyumbangkan  banyak hal yang lebih bersifat praktis dan tidak sekedar teoritis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenakalan eksploratif merupakan cara anak untuk menuangkan dan mengeksplor potensinya dalam motorik halus-kasar, serta dalam mempelajari sesuatu. Ia dapat berupa corat coret tembok, menyobek buku dan kertas, merusak mainan, naik turun kursi, dan menyiksa binatang. Sedangkan kenakalan semu memiliki wujud minta gendong, tidak mau berbagi, suka menggigit dan memukul, serta sikap egois. Sementara itu, kenakalan habitual  berbentuk perkataan jorok, sikap suka membantah, kecanduan televisi, kesukaan merengek, dan kesukaan untuk jajan. Adapun kenakalan sejati berupa berbohong, kebanggaan menyontek, mencuri, dan merokok.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pembagian diatas nampak bahwa tidak  semua perilaku anak yang menjengkelkan hati dapat digolongkan sebagai kenakalan sehingga perlu ”dihentikan”. Perlu pengetahuan dan pemahaman yang cukup  untuk memilah dan membedakan kenakalan agar solusi yang diadakan tepat dan justru tidak mematikan potensi anak. Bisa jadi apa yang disebut kenakalan hanyalah salah satu cara anak untuk belajar tentang suatu hal atau merupakan bentuk mengasah kecerdasan yang dimiliki. Kenakalan dapat pula menjadi ungkapan ”protes” mereka terhadap para guru dan orang tua. Karenanya dalam melihat ”kenakalan” anak, perlu pemikiran jernih apakah anak  yang semakin nakal ataukah orang tua yang semakin tidak sabar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan seorang  anak baik yang nakal maupun yang penurut, jika dikaitkan dengan agama sebenarnya merupakan bentuk ujian bagi para orang tua/guru. Al-Qur’an dalam al-Anfal: 28 menyebutnya sebagai fitnah (cobaan). Kenakalan anak  dan kebandelan mereka  jika disikapi dengan sabar dan kemauan untuk belajar untuk menghadapinya akan meningkatkan kualitas para orang tua dan skill parenting mereka. Ini berarti kenakalan anak  berubah dari fitnah menjadi barokah. Sebaliknya jika gagal  atau lepas tanggung jawab, maka bagi  para orang tua, cobaan ini akan tetap berupa fitnah dan  dapat berkembang menjadi fitnah-fitnah yang lain. Naudzubillah min dzalik.  Jika keadaan yang pertama perlu disyukuri, maka yang kedua perlu dihindari.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Anak nakal pada prinsipnya bukan dilahirkan tetapi ia diciptakan. Ada proses panjang yang dilalui dalam penciptaan kenakalan ini. Yang terpenting adalah memastikan bahwa keluarga kita bukanlah sebagai lembaga yang memproduksi anak-anak nakal  karena perhatian kita yang kurang terhadap anak-anak tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menarik untuk diungkap secara sekilas tentang cerita yang melatari penulis buku ini memilih judul bukunya.  Seorang ibu  yang  juga guru di sebuah sekolah favorit memilih berhenti dari pekerjaannya dikarenakan ingin fokus dalam mendidik anak yang terindikasi gejala autis dan ADHD. Untuk memberikan terapi yang maksimal, selama satu tahun, sang ibu rela meninggalkan keluarga demi mendampingi anaknya belajar di sekolah di luar kota. Setiap hari ia mengantar dan mengikuti seluruh kegiatan  sekolah khusus tersebut. Pada malam hari ia  menghabiskan waktu utuk membaca buku-buku berkaitan perilaku putranya.  Akhirnya sang anak  dapat berkembang baik  dan kembali belajar  di sekolah terdahulu dengan sikap dan presatasi belajar yang lebih baik.  Dengan proses yang telah dijalani, sang ibu juga mentas dengan memiliki ketrampilan baru dalam menangani anak-anak bermasalah. Ia saat ini bahkan diberi amanat untuk memimpin sekolah TK dengan kepercayaan penuh dari yayasan. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Cerita tersebut menegaskan bahwa setiap pengorbanan besar akan dibalas berlipat oleh Allah jika seorang hamba dapat bersikap secara bijak terhadap ujian-Nya. Dibalik cobaan  menghadapi anaknya yang bermasalah, rupanya  Sang Khalik berkehendak untuk meningkatkan derajat sang ibu dan mengajarkan sesuatu.  Karenanya, tidak berlebihan jika ia kemudian berucap ”alhamdulillah...  Anakku Nakal”, sebuah ungkapan yang akhirnya ”diminta” Jinan untuk judul bukunya.  Semoga setiap orang tua dapat diberikan kekuatan dan ketabahan untuk mendidik putra putri mereka  dengan segala permasalahannya. Jadi, mari bersyukur dengan ”kenakalan” anak kita!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/382337659859891339-1945267031028529106?l=nuruliman1972.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/feeds/1945267031028529106/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=382337659859891339&amp;postID=1945267031028529106&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/1945267031028529106'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/1945267031028529106'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/2010/01/mensyukuri-kehadiran-anak-nakal.html' title='Mensyukuri Kehadiran Anak &quot;Nakal&quot;'/><author><name>nuruliman1972</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07855832763775638687</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_PHfVnL1Tq0A/S1zKOuUa2OI/AAAAAAAAADg/P6WVpKHQBBg/s72-c/Cover+Anak+Nakal+(kecil).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-382337659859891339.post-8682764748894916842</id><published>2010-01-08T14:21:00.000-08:00</published><updated>2010-01-08T14:28:07.793-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Religi'/><title type='text'>Belajar Hidup dari Ustadz Gus Dur</title><content type='html'>10 Januari 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BELAJAR “HIDUP” DARI USTADZ GUSDUR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Amalia Sulfana*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Rabu petang, 30 Desember 2009 lalu, masyarakat Indonesia berduka. Abdurrahman al-Dhakhil atau yang lebih dikenal dengan Abdurrahman Wahid  atau Gus Dur, wafat dalam usianya yang 69 tahun. Rasa kehilangan mendalam muncul disebabkan karena Gus Dur merupakan bapak bangsa yang pernah menjabat presiden keempat RI, Ketua Umum PBNU dan Ketua Dewan Syuro PKB. Ribuan orang menghadiri pemakamannya di Jombang, sedangkan jutaan lain memanjatkan doa lewat shalat ghaib dan bacaan tahlil untuk almarhum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Almarhum Gus Dur juga dikenal sebagai tokoh yang memperjuangkan kaum golongan minoritas di tanah air, kebebasan pers, dan kebhinekaan. Selain itu ia juga disebut sebagai kiai, demokrat, tokoh pluralis, tokoh moderat, dan politisi. Taufik Kiemas, Ketua MPR RI menyebut  beliau sebagai sosok yang paling berani dan berkomitmen dalam memperjuangkan kebhinekaan tersebut.  Sedangkan Mahfud MD, mantan Ketua MK menganggapnya sebagai pribadi yang berani melawan arus dalam mengusung ide-idenya (okezone.com, 31-12-09).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gus Dur dikenal pula sebagai orang yang humoris yang menentang formalisme dalam banyak hal. Berbagai lelucon selalu ia sampaikan pada berbagai forum. Dalam segala kondisi, susah dan senang, serius maupun santai, joke-joke khas hampir dipastikan hadir hari beliau. Sebuah ungkapan untuk memecah kebekuan komunikasi dan mencairkan suasana. Ketika menjabat sebagai Presiden, ”keangkeran” Istana Kepresiden direduksi dengan berbagai gayanya yang sering menentang protokoler yang dianggap terlalu formal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberaniannya untuk keluar dari hal-hal lazim yang berkembang pada masyarakat dan bahkan para alim ulama yang lain telah menghantarkannya pada sosok yang dianggap kontroversial penuh kreativitas. Demi menggugah kebekuan dan kejumudan pemikiran umat, Kyai asal Jombang sering melontarkan gagasan-gagasan yang memancing diskusi  dan dialog masyarakat. Karenanya beliau sering dipuji meskipun tidak jarag pula dihujat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari kontroversialnya, kiprah Gus Dur dalam kehidupan ini  telah mendapatkan tempatnya dan diapresiasi oleh dunia nasional maupun internasional. Gus Dur mendapatkan gelar Doktor Kehormatan (Hc.) dari 10 buah perguruan tinggi  luar negeri dalam berbagai disiplin ilmu seperti hukum, filsafat, dan kemanusiaan. Almarhum telah ”menamatkan” hidup dengan segala karya dan kreasi yang dipersembahkannya. Dan, menuliskan riwayat hidup dan kesuksesan yang ditorehkan tidaklah cukup dalam satu dua atau bahkan berpuluh lembar kertas, tetapi yang terpenting dilakukan adalah mengambil hikmah sejarah hidup mantan Ketua PBNU yang penuh amal tersebut. Bukankah seorang muslim cermin bagi yang lainnya. Al-mu’min mir’at akhih al-mu’min. Selain itu pengalaman diri dan orang lain adalah guru yang terbaik. Sementara untuk benar salah, semuanya biarlah Allah SAW yang kemudian menilai, dan selanjutnya memberikan balasan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wafatnya Gus Dur yang menyebabkan ditetapkannya masa berkabung selama satu minggu oleh pemerintah, mengingatkan kita akan jasa-jasa beliau. Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya. Rasa kehilangan yang mendalam terhadap tokoh nasional ini seakan mengingatkan kita bahwa harga manusia sesungguhnya dapat dibaca saat seseorang wafat. Jika banyak ditangisi, berarti yang bersangkutan telah memiliki persembahan berharga bagi kehidupan. Tetapi jika dalam meninggalnya seseorang disambut gembira dan kesyukuran banyak orang lain, hal tersebut disebabkan kehidupannya dipenuhi dengan madharat bagi kehidupan. Kematian seseorang yang penuh penghormatakan dan tangisan banyak orang juga memperteguh kembali anggapan bahwa kualitas dan ketokohan seseorang diakibatkan oleh karya-karyanya selama menjalani hidup. Dalam pepatah Arab disebutkan wa al-nas alfun minhum ka wahid, wa wahid ka al-alfi in amrun ‘ana (nilai seribu manusia bisa sama dengan satu orang. Satu orang bisa menyamai nilia seribu orang jika ia menekuni sesuatu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup adalah proses menuliskan sejarah diri yang akan dibaca oleh anak cucu dan kebanyakan orang. Setiap individu berhak untuk mengarang sejarahnya sendiri secara mandiri, bebas, dan tanpa intervensi pihak lain, tetapi pada gilirannya ia akan dipuji atau sebaliknya dicela.  Baik dan buruknya kehidupan ada di genggaman masing-masing manusia. Bermanfaat atau tidak hidupnya tergantung pada kemauan setiap pribadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menjalani hidup, Guru Gus Dur, telah memberikan contoh pada bangsa ini agar hidup semestinya dijalani secara dinamis, aktif dan penuh gerak. Tidak boleh banyak menganggur, dan berpanjang-panjang dalam istirahat. Sebaliknya, setiap individu hendaknya berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain untuk mengisi waktu dan kehidupan. Seseorang yang ingin sukses di dunia dan bahkan di akherat hendaknya selalu berpikir agar dapat beramal meski apapun bentuknya. Persembahkan karya dan wujudkan prestasi, selanjutnya berkonsestensilah. Konsistensi ini yang kemudian akan menghantarkan kesuksesan dan keterkenalan seseorang dalam dalam karya yang diusung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemauan belajar dan kehausan akan ilmu pengetahuan juga harus terus dibangun agar seseorang berwawasan luas ke depan. Kesempatan untuk belajar formal hendaknya tetap diusahakan, dan sebaliknya secara non formalkan harus ditempuh. Almarhum Gus Dur, ketika masih muda malang melintang di berbagai negara agar terus dapat menuntut ilmu. Dan ketika memiliki keterbatasan dalam penghilatan di masa tuanya, konon masih menuntut untuk dibacakan buku, koran, atau majalah agar tidak ketinggalan segala informasi. Sesuatu yang mulai jarang dilakukan banyak generasi muda saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup juga perlu dilakoni secara serius tapi santai, ”sersan”. Ibarat air, hidup dijalani secara “mengalir” saja, tapi jika sedang mampet, hidup perlu dialirkan dengan terobosan dan rekayasa dalam konotasi positif.  Kegagalan dalam karir, jabatan, atau tugas misalnya, bukan akhir dari segalanya. Masih ada kesempatan lain yang dapat dipergunakan untuk dapat sukses agar cermat melihat kesalahan terdahulu dan mau memperbaiki.  Sikap santai lewat humor, guyon, dan canda, mutlak diwujudkan agar tidak tidak spaneng dan stress, dan selanjutnya hidup harus dilanjutkan serius lagi. Dalam hal ini, Gus Dur sukses menjalaninya. Perhatikan saja jargon yang sering diusungnya, ”Gitu aja kok repot”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap manusia dituntut selalu belajar dalam ”madrasah kehidupan” ini. Anak, istri, keluarga, tetangga, teman, atasan, bawahan dan orang lainnya adalah guru di kelas-kelas kehidupan tersebut. Belajar dari pengalaman orang lain meski tokoh besar seperti Gus Dur harus dijalankan dengan ”cerdas” dan tidak membabi buta sehingga tidak menyebabkan perilaku pengkultusan berlebihan. Hal mana dapat menggiring pada kemusyrikan yang dimurkai Allah. Pengalaman diri sendiri demikian juga. Kata kuncinya adalah ketulusan dan kemauan. Lakon kehidupan yang telah diperankan almarhum Gus Dur semoga menyadarkan setiap individu tentang pilihan cara dalam menjalani hidupnya di dunia. Bermanfaatkah ia bagi kehidupan ataukan sebaliknya? Ayo belajar agar kita dapat ”hidup” dengan sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Guru PAI SMAN 1 Babadan Ponorogo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/382337659859891339-8682764748894916842?l=nuruliman1972.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/feeds/8682764748894916842/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=382337659859891339&amp;postID=8682764748894916842&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/8682764748894916842'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/8682764748894916842'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/2010/01/belajar-hidup-dari-ustadz-gus-dur.html' title='Belajar Hidup dari Ustadz Gus Dur'/><author><name>nuruliman1972</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07855832763775638687</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-382337659859891339.post-6233406806475882423</id><published>2010-01-01T18:26:00.002-08:00</published><updated>2010-05-15T13:08:38.005-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga'/><title type='text'>Ketika Cari Jodoh Dikonteskan</title><content type='html'>3 Januari 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KETIKA CARI JODOH DIKONTESKAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Nurul Iman*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jagad tontonan telivisi Indonesia, akhir-akhir ini diramaikan dengan acara bernama Take Me Out Indonesia, sebuah reality show perjodohan yang menyedot banyak perhatian pemirsa dan berdurasi cukup lama. Acara ini tentang 30 perempuan berusia 20-40 tahun berstatus single. Mereka mencari pasangan. Bisa untuk suami, pacar, atau sekedar coba-coba. Di setiap episodenya, ada 7 pria single yang keluar satu demi satu untuk dipilih dan memilih para perempuan itu. Kesuksesan acara Take Me Out, memunculkan acara serupa dengan judul Take Him Out yang berisi kebalikannya. Take Him Out berisi 30 pria single dan 7 perempuan single di setiap episodenya. Selain itu, muncul pula acara bergenre sejenis seperti Cari Jodoh dan Pilihan Mama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara perjodohan Take Me Out merupakan sebuah program televisi yang lisensinya dipegang Fremantle Media. Kesuksesan penayangan program reality show tersebut di Spanyol, Netherland, Denmark,  dan UK, telah menginspirasi untuk menghadirkannya di Indonesia. Hasilnya jika dicermati memang luar biasa. Rating tinggi, iklan berdatangan, dan itu artinya banyak rupiah berdatangan. Bagi para pesertanya juga , selain “berburu” jodoh mereka juga bisa nampang di layar kaca, dan ditonton oleh banyak orang. Selain itu tersedia berbagai fasilitas maupun hadiah bagi pasangan yang dianggap paling cocok menurut penilaian juri dan “dewan cinta”. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Fenomena Take Me Out dan semisalnya sering diidentikkan dengan perjodohan modern.  Dengan sangat terbuka seseorang dapat memilah dan memilih sekian banyak calon pasangan, menguji, memikat dan menjatuhkan pilihannya, bahkan dengan dukungan dan sorakan orang lain.  Sebuah pertunjukan menghibur  dan yang asyik ditonton. Hanya saja, sebagai sebuah acara yang berasal dari barat, Take Me Out tidak bisa dilepaskan dari  tata nilai tersendiri  khas barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara Take Me Out dan semisalnya banyak bertentangan dengan nilai budaya Indonesia yang nota bene dipengaruhi agama Islam. Ia mempertontonkan permissifisme dalam pergaulan. Pegangan tangan, cipika-cipiki (cium pipi kanan dan kiri), dan mengumbar kemesraan dengan calon pasangan merupakan sesuatu yang lumrah. Orientasi pada fisik dan kepemilikan materi juga lebih ditonjolkan. Kritik pada calon pasangan juga dilakukan secara terbuka dengan mengurai kekurangannya, hal mana perilaku tersebut tabu dan tidak etis dalam budaya dan etika agama mayoritas penduduk Indonesia.&lt;br /&gt;Dalam kehidupan kita kontemporer mencari jodoh memang mulai menjadi masalah sosial. Banyak lelaki ganteng nan mapan ataupun wanita cantik berduit yang sudah cukup umur namun tidak juga menemukan pasangannya. Dibutuhkan upaya aktif dalam mencari pasangan lewat berbagai cara, dan mengakses  biro jodoh  baik yang resmi maupun tidak, dapat dijadikan salah satu pilihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, kontes cari jodoh  semisal Take Me Out hanya akan meninggalkan kekecewaan. Rasanya sulit untuk menemukan cinta sejati dan pasangan ideal lewat acara ini.  Kontes cari jodoh  apalagi jika dipertontonkan secara terbuka  akan mengurangi ketulusan para pesertanya.  Ketika para peserta diperhatikan oleh pemirsa dan ”disorot” tajam oleh kamera, konsentrasi dalam menilai calon pasangan dan  keobyektifanya rasanya sulit dilakukan. Ada juga gengsi yang dipelihara serta harga diri yang harus dijaga di depan umum. Walhasil jodoh yang ideal dan cinta sejatipun susah ditemukan lewat acara tersebut. Padahal pernikahan harus  dibangun berdasarkan ”cinta  sejati” yang mau menerima pasangan apa adanya. Calon yang akan dinikahi juga merupakan pasangan paling ideal saat keputusan menikah diambil.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mengenal pasangan secara mendalam dan baik hanya dapat dilakukan secara diam-diam, karena lebih obyektif. Jika seseorang  ingin mengenal seseorang yang ”dibidik”, maka berbagai cara dapat ditempuh.  Secara pribadi ia dapat mengobrol panjang dengannya untuk mengetahui visi-misi hidupnya serta kepribadiannya.  Disamping bisa juga dengan menggunakan orang ketiga untuk dapat merekam hal-hal yang terlewatkan. Berkenaan dengan penjajagan calon pasangan tersebut, Islam mentolerir praktek ghibah atau menggosip dengan memaparkan kebaikan dan keburukan.  Penyelidikan dapat dilanjutkan dengan menelusuri keluarga, kehidupan sosial, dan bahkan kehidupan pribadinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses tersebut identik dengan ta’aruf. Berbeda dengan pacaran yang berkembang di masyarakat, ta’aruf harus tetap menjaga adab dan aturan-aturan agama. Tidak ada khalwat (berduaan), tidak pula pergaulan bebas, juga chat n date. Melihat calon pasangan untuk menemukan sisi menarik dari tampilan fisiknya mutlak dilakukan demi menjamin keberlasungan pernikahan nantinya seperti yang  ditegaskan Nabi SAW, undzur fainnahu ahra an yu’dama bainakuma. Ini berarti bahwa tampilan fisik juga perlu dipertimbangkan dalam menjatuhkan pilihan. Dengan ta’aruf, insha Allah kesalahan memilih calon pasangan akan dapat dihindari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memilih pasangan memang harus mempertimbangkan banyak hal. Al- Ghazali dalam Ihya Ulum al-Din menyebut delapan perkara, diantaranya adalah:  a) Kesalehan dalam beragama (an takun shalihah dzat al-din). Ini merupakan sesuatu yang pokok; b) berakhlaq mulia (husn al-khuluq); c) keelokan wajah/fisik (husnul wajh);  d) Tidak menuntut mahar yang berlebihan (khafifat al-mahr); e) Berpotensi untuk memiliki banyak anak (an takun wadud); f)masih lajang (an takun bikran); g) berasal dari keluarga terhormat (an takun nasibah); h) tidak berasal dari keluarga terdekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriteria al-Ghazali yang didasarkan pada banyak hadith nabi tersebut nampak tidak terlalu berorientasi pada tampilan fisik melulu, meski tidak juga meninggalkannya. Kriteria tersebut juga sangat ideal ideal. Dalam kondisi yang terpaksa  dan juga kehidupan saat ini yang serba ”terbuka”, maka kriteria agama tentu merupakan sesuatu yang mutlak,  yang mau tidak mau harus dipertimbangkan. Bukankan  Nabi SAW  bersabda sebagaimana diriwayatkan al-Bukhari ”fadzfar bi dzat al-din, taribat yadak”, yang berarti ”pertimbangkan aspek agama, maka tanganmu menjadi ringan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, mencari jodoh bagi mereka yang mau menikah harus dilakukan dengan seksama agar tidak salah pilih. Sebuah khabar dari Nabi SAW berbunyi ”takhayyaru li nutafikum al-akiffa’, fa inna al-’irqa dassas”, yang bermakna ”pilihlah untuk meletakkan nutfahmu pasangan-pasangan yang potensial. Sesungguhnya gen itu sensitif”.  Perlu usaha lahir-batin dengan banyak melihat, mendengar, dan memperhatikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Dosen FAI Unmuh Ponorogo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/382337659859891339-6233406806475882423?l=nuruliman1972.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/feeds/6233406806475882423/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=382337659859891339&amp;postID=6233406806475882423&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/6233406806475882423'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/6233406806475882423'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/2010/01/ketika-cari-jodoh-dikonteskan_01.html' title='Ketika Cari Jodoh Dikonteskan'/><author><name>nuruliman1972</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07855832763775638687</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-382337659859891339.post-8715658471564093615</id><published>2009-12-26T14:31:00.000-08:00</published><updated>2009-12-26T14:38:02.259-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Makna Tahun Baru Bagi Pendidik</title><content type='html'>29 Desember 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MAKNA TAHUN BARU BAGI PENDIDIK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh:Amalia Sulfana*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara hampir bersamaan, pada Desember tahun ini kita menyambut datangnya  dua tahun baru, 1431 hijriyah dan 2010 masehi. Kesyukuran kepada Allah perlu kita panjatkan karena sampai saat ini kita masih diberikan panjang umur untuk menyaksikan kedua pergantian tahun tersebut. Ucapan yang seharusnya muncul dari mulut  untuk orang lain adalah kullu ’am wa antum bikhair (semoga setiap tahun kalian selalu berada dalam kebaikan).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tahun baru mengingatkan bahwa kita telah bertambah umur, satu tahun lagi, semakin dewasa atau tua. Pertambahan umur sering diidentikkan dengan pertumbuhan kematangan berpikir, kebijaksanaan, dan keakuratan perilaku. Karenanya, pergantian tahun menyisakan pertanyaan, apakah pertambahan umur kita berbanding lurus dengan pertumbuhan kualitas diri kita tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaitan dengan nikmat waktu --dan juga kesehatan--, nabi sebagaimana diriwayatkan  al-Bukhari dan Ibn Majah menyebut bahwa kebanyakan orang merugi di dalam keduanya. Dalam hadith lain nabi menegaskan bahwa orang yang beruntung (rabih) adalah mereka yang keadaan dirinya membaik dibandingkan hari kemarin. Orang yang merugi (maghbun) adalah mereka yang statis keadaannya, tidak ada pertumbuhan. Sedangkan orang yang celaka (mal’un) adalah mereka yang keadaannya hari ini memburuk dibandingkan hari sebelumnya. Hadith ini menjadikan pertumbuhan kualitas syarat pembeda antara mereka yang untung atau buntung/merugi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita sebagai pendidik di sekolah, pertumbuhan kualitas diri dapat berupa kematangan emosional, penguasaan konten materi ajar,  kemampuan metodologis, kemampuan melakukan evaluasi pembelajaran, serta hal-hal  berhubungan dengan pembelajaran. Maka, berdasarkan hadiht tersebut, guru yang beruntung  adalah guru yang berkembang, dan sebaliknya jika tidak berkembang atau bahkan menurun kualitas dan kompetensinya, guru dapat disebut merugi atau sengsara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam berbagai kesempatan sambutannya, Direktur Kualita Pendidikan Indonesia (KPI) Surabaya, ustadz Masruri, selalu menekankan perlunya guru meng-upgrade diri dan kemampuannya setiap waktu, agar terjadi peningkatan mutu diri. Menurutnya, jika seorang guru statis dan tidak berkembang, dan ia mengajar dengan cara yang sama setiap tahunnya pada sebuah materi aja misalnya, ini berarti telah terjadi ”copy” guru tersebut secara berulang-ulang, dua, lima, atau sepuluh kali, sesuai lama tahun ia mengajar. Kenyataan ini juga menandakan bahwa sang guru tidak berinovasi sama sekali dan tidak mengadakan penyesuaian dengan perkembangan zaman dan tuntutannya. Karenanya, upgrade kemampuan diri lewat berbagai cara harus ditempuh agar sang guru memaksimalkan pengabdiannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan zaman  berupa kemajuan teknologi dan perilaku sosial memang menuntut semua orang untuk berubah, tentunya dalam konotasi positif. Menyikapi secara tepat kemajuan zaman adalah keniscayaan. Jika tren sosial berkaitan dengan teknologi adalah akses internet berupa email, mailist, facebook, Twitter,  Yahoo Massanger, dan juga blogging, maka sudahkan para guru akrab dengan tren tersebut, mengaksesnya dan berusaha mempergunakannya dalam pembelajaran di kelas-kelas sekolah. Jika perilaku remaja banyak berubah menjadi permissif yang dimungkinkan karena pengaruh internet, film, pergaulan, dan lainnya, maka apakah para pendidik sudah mulai memikirkan solusi dan alternatif pemecahan di sekolah dan lembaga mereka. Jika sudah, maka hal tersebut merupakan sebuah kemajuan, dan jika belum, maka perlu segera diusahakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia pendidikan kontemporer yang mengusung pembelajaran menyenangkan (joyfull learning),  atau pembelajaran aktif, atau pembelajaran koperatif, memunculkan pertanyaan untuk para pendidik, sudahkan mereka mengenal pendekatan pembelajaran tersebut dan  menerapkannya di ruang-ruang kelas mereka. Pendekatan pembelaran modern tersebut tidak menyisakan  tempat bagi otoritasi guru secara berlebihan, dropping pengetahuan, pemaksaan dan keterpaksaan dalam belajar, kerja individual secara berlebihan, serta kemonotonan dalam belajar.  Sebaliknya yang akan dihadirkan adalah kerjasama dalam belajar, pelibatan siswa,  kreativitas, dan suasana menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tahun terakhir merupakan ”masa-masa mudah” bagi guru, terutama bagi yang pegawai negeri. Kesempatan sertifikasi yang diperuntukkan guru hendaknya memicu semangat mereka untuk menyempurnakan keempat kompetensi mereka (pedagogis, profesional, kepribadian, sosial) secara utuh. Selain itu, insentif juga diberikan oleh pemerintah daerah. Secara ekonomi guru dianggap ”mapan” dan karenanya profesi ini sekarang banyak diminati terbukti dari membludaknya mahasiswa fakultas/jurusan keguruan di banyak tempat. Hanya saja, para guru juga memiliki beban moral berkenaan fasilitas tersebut, apakah mereka sudah memberikan pengabbdian yang seharusnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam memaksimalkan perannya saat ini, guru juga dituntut untuk mengubah orientasinya, dari sekedar ”mengajar” menjadi ”mendidik”. Jika mengajar berhenti pada pada tersampaikannya materi pelajaran dan penguasaan secara kognitif, maka mendidik berarti berusaha menanamkan materi yang diajarkan pada aspek praktek afektif yang lebih riil. Penanaman moral dan  perubahan perilaku menjadi acuan. Berbagai cara akan ditempuh oleh guru dalam mendidikkan ”sesuatu” yang dapat dijadikan modal bagi peserta didik dalam kehidupankan. Guru juga dituntut menjadi agen moral, dengan terlebih dahulu memperbaiki dirinya sendiri. Dengan memaksimalkan perannya, guru akan mendapatkan kepuasan dalam mengajar dan menyampaikan pelajarannya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penutup, menarik untuk diketengahkan sebuah puisi (dengan modifikasi) untuk guru yang dimuat  klubguru dalam situsnya; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini.........&lt;br /&gt;hari esok........ ......&lt;br /&gt;aku tetap Seorang Guru.....&lt;br /&gt;tetap mendidik,... ...&lt;br /&gt;tetap , menghitung gaji........ .&lt;br /&gt;tetap absen Ku di hitung&lt;br /&gt;tetap memeriksa buku siswa &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, tahun ini sama saja.....&lt;br /&gt;ada trompet , ada petasan sama saja........ ...&lt;br /&gt;aku tetap seorang Guru........&lt;br /&gt;dengan antusias aku tetap berangkat mengajar....... .....&lt;br /&gt;aku tetap seorang guru........&lt;br /&gt;yang selalu tersenyum melihat keluh kesah guru-guru lain........&lt;br /&gt;hari ini........terasa lelah, &lt;br /&gt;Liburan sekolah tetap aku seorang guru, &lt;br /&gt;meski nggak bisa liburan, karena masih mikirin kalau tidak adanya anggaran&lt;br /&gt;aku tetap seorang guru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Guru PAI SMAN 1 Babadan Ponorogo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/382337659859891339-8715658471564093615?l=nuruliman1972.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/feeds/8715658471564093615/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=382337659859891339&amp;postID=8715658471564093615&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/8715658471564093615'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/8715658471564093615'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/2009/12/makna-tahun-baru-bagi-pendidik.html' title='Makna Tahun Baru Bagi Pendidik'/><author><name>nuruliman1972</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07855832763775638687</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-382337659859891339.post-1698270614949720605</id><published>2009-12-21T17:35:00.000-08:00</published><updated>2009-12-21T17:40:53.654-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Religi'/><title type='text'>GREBEG SURO, TAHUN BARU, DAN PERUBAHAN DIRI</title><content type='html'>22 Desember 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GREBEG SURO, TAHUN BARU, DAN PERUBAHAN DIRI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun baru adalah “tamu agung” yang menghampiri kita. Kali ini, dua tahun baru hijriah dan masehi datang hampir bersamaan. Berbagai kegiatan dan perayaan diselenggarakan untuk menyongsong “perubahan” tahun baru. Sambutan kita terhadap tahun baru hijriah dikenal dengan istilah “Grebeg Suro” karena tahun baru Hijriyah memang datang berbarengan dengan 1 Suro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prawiro Atmojo dalam Bau Sastra Jawa memaknai ‘grebeg’  dengan ‘bada, riyaya’.  Grebeg Suro, dengan demikian dapat diartikan sebagai “riyaya, bada” berkenaan dengan datangnya bulan Sura.  Sedangkan ungkapan “panggrebeg temanten” adalah sebutan bagi orang-orang yang mengantar penganten, mengiringi kedatangannya, dan membawakan perlengkapannya ke rumah mertua. Berdasarkan hal di atas maka berkenaan datangnya bulan Suro/Muharram  atau bulan Januari, setiap diri  yang mengalami pergantian tahun baru  adalah “panggrebeg Suro/Muharram”  atau “panggrebeg Tahun baru”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai “panggrebeg” bergantinya tahun  baru hijriah dan tahun baru masehi kali ini sudahkan kita berlaku sebagaimana kita “panggrebeg temanten”. Sudahkan kita  macak dengan apik dan baik. Sudahkan kita bersiap diri untuk mengantarkan tamu agung tahun baru kita dengan “kendaraan” terbaik kita. Sudahkan barang bawaan dan perlengkapan kita lengkap dalam menyambut   kedatangan tahun baru kali. Kalau semua hal  berkenaan dengan  penyambutan tahun baru tidak dilakukan maka kita tidak dapat disebut sebagai panggrebeg yang baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tahun baru sebenarnya tidak ada yang berubah kecuali deretan angka tahunnya. Yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa dengan tahun baru umur kita bertambah satu tahun.  Tambah umur, tambah dewasa, lalu bertambah apa lagi? Demikian mestinya pertanyaan besar yang harus kita buat untuk diri.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun baru merupakan nikmat Allah yang berkenaan dengan waktu dan umur. Karenanya, hendaklah ia dimanfaatkan sebagai sarana instopeksi  diri guna menghindari “kerugian” lebih banyak. Kalau perusahan selalu melakukan rapat akhir tahun untuk menghitung laba-rugi tahun lalu dan merancang program-program baru untuk tahun baru, maka sudahkah kita melakukan hal yang sama untuk diri dan keluarga. Kita perlu berhati-hati karena  nabi membagi manusia berkenaan nikmat waktu  menjadi tiga (3) golongan: rabih, khasir, dan mal’un. Orang rabih (beruntung) adalah yang memiliki peningkatan diri pada hari-harinya. Orang khasir (merugi) adalah yang produktifitas hari-hari sama dengan yang lalu. Sedangkan orang yang mal’un a(dilaknat) dalah orang yang  menurun produktifitasnya atau lebih buruk kondisinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyambut tahun baru dengan pesta dan perayaan tidaklah mengapa jika dimaksudkan sebagai bentuk kesyukuran kita. Tetapi  yang perlu digaris bawahi adalah janganlah pesta dan perayaan itu melupakan kita dari menggapai ‘esensi’ terpenting tahun baru itu sendiri, apalagi jika bermuatan maksiat kepada Allah.  Saya teringat ungkapan Prof. Satjipto Raharjo dari Undip Semarang --berkenaan posisi “ambigu” definisi ilmu hukum dalam kajian keilmuan-- dengan: “sejatine ra ana apa-apa. Kang ana kuwi dudu”. Ungkapan tersebut, jika dikaitkan dengan tahun baru, mengandung arti bahwa pesta yang digelar, dan perayaan yang diusung setiap tahunnya bukanlah esensi tahun baru itu sendiri. Tahun baru sejatinya adalah program yang dicanangkan, perbaikan diri yang dikonsep, serta perubahan positif yang digagas setiap individu maupun komunitas tertentu. Satu tahun berikutnya adalah pembuktian kesemua hal tersebut dalam amal nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tahun baru Hijriyah, perbaikan diri dapat diarahkan pada usaha napak tilas sirah Rasulullah SAW.  Pencanangan kalender Islam  oleh  Khalifah Umar yang diawali dari hijrah  Rasul  dimaksudkan agar kaum muslimin  selalu mengenang sejarah Nabi dalam mendakwahkan Islam, selain juga menghindari kultus individu terhadap dirinya. Hijrah memang merupakan episode terpenting  perjuangan yang merupakan titik balik kemenangan umat Islam. Karenanya, menyambut tahun baru khususnya hijriyah haruslah diikuti semangat untuk meningkatkan diri dalam ber-uswah kepada Rasulullah dan perjuangannya serta meneladani ajarannya dalam menjalani  kehidupan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang memprihatinkan kalaupun tidak disebut mengenaskan, adalah berkembangnya  berbagai praktek klenik dan tahayul lewat  ritual-ritual menyambut tahun baru. Dengan alasan melestarikan budaya dan nguri-uri warisan leluhur, maka kegiatan-kegiatan upacara awal tahun, pawai, festival budaya, dan semisalnya tidak dapat dipisahkan dari berbagai kemusyrikan. Realita ini jika dibiarkan dan diamini oleh para alim ulama yang juga terlibat dalam grebeb suro dan tahun baru, maka pelan namun pasti akan menjadi tradisi yang melembaga. Pada gilirannya, tahun baru dan grebeg sura yang awalnya adalah menyambut perubahan tahun dan mensyukuri nikmat umur, akan berubah menjadi ajang ”pengkhianatan” terhadap Allah dengan menggunakan nikmatNya dalam kegiatan-kegiatan yang mengandung syirik. Dalam hal ini, adzab Allah lambat laun pasti akan turun menggantikan rahmat, kasih sayang, dan barokah-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan Allah memberikan karuniaNya lewat tahun baru ini serta memberikan kekuatanNya agar kita dapat menjalani hari-hari pada tahun tersebut untuk mempersembahkan karya-karya terbaik kita yang bermanfaat bagi sesama dan kehidupan ini, sehingga kita layak disebut  bersyukur dan bukan kufur. Mari selalu panjatkan doa ”Allahumma ij’al khair umrina akhirah, wa khaira ’amalina khawatimah, wa khaira ayyamina yauma alqaka fih (Ya Allah jadikan akhir hidupku sebaik-baik umurku, sebaik-baik amalku bagian akhirya, serta sebaik-baik hariku adalah hari aku berjumpa dengan-Mu). Semoga.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/382337659859891339-1698270614949720605?l=nuruliman1972.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/feeds/1698270614949720605/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=382337659859891339&amp;postID=1698270614949720605&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/1698270614949720605'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/1698270614949720605'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/2009/12/grebeg-suro-tahun-baru-dan-perubahan.html' title='GREBEG SURO, TAHUN BARU, DAN PERUBAHAN DIRI'/><author><name>nuruliman1972</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07855832763775638687</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-382337659859891339.post-4774515351693951877</id><published>2009-12-12T14:03:00.002-08:00</published><updated>2009-12-12T14:13:09.165-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Religi'/><title type='text'>Menikmati Hidup</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_PHfVnL1Tq0A/SyQVTkyHI9I/AAAAAAAAADY/pjctPi9Qyho/s1600-h/gambar+2+hal+7.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 292px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_PHfVnL1Tq0A/SyQVTkyHI9I/AAAAAAAAADY/pjctPi9Qyho/s400/gambar+2+hal+7.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5414476078041736146" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;13 Desember 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENIKMATI HIDUP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah jagongan santai, mbah Surat, seorang yang bekerja menggarap sawah keluarga saya, bercerita tentang acara malam mingguan orang-orang tua di desanya berupa nanggap sinden dan tayuban. Acara tersebut menurutnya berjalan gayeng, menyenangkan, dan hampir rutin dilakukan setiap bulannya, dengan pembiayan yang ditanggung bersama secara swadaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kesempatan ke kota Ponorogo pada hari ahad, saya menyaksikan sekelompok orang penggemar Yamaha Vixion  dari luar kota yang sedang berkumpul di sebelah timur alon-alon kota. Nampak mereka sedang bersantai dan beristirahat disamping motor-motor yang apik, menawan dan sangat terawat tersebut setelah touring mereka. Sementara itu, saya juga sempat menyaksikan di sekitar stadion pemuda-pemuda yang tergabung club punk  dengan dandanan mereka yang nyentrik, ”sangar”, serba hitam, penuh tato dan tindikan di banyak anggota tubuh, dan tentunya keluar dari kebiasaan masyarakat pada umumnya. Mereka mondar-mandir mencari perhatian dan sesekali ”menggoda” para cewek yang lewat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan tayuban, keikutsertaan  dalam motoclub maupun clubpunk  tersebut diatas sejatinya adalah sekian dari banyak cara yang dilakukan orang untuk  menyalurkan minat dan bakat mereka, menemukan komunitasnya, serta mendapatkan pengakuan yang kesemuanya akan bermuara pada adanya kepuasan, ketenangan, serta kesenangan diri. Mereka mencari ”kenikmatan” hidup lewat aktivitas tersebut, disamping masih ada kegiatan  lain yang dapat juga ditempuh, seperti mancing, masak-masak, koleksi barang tertentu, olah raga, arisan, dan yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkenaan dengan kenikmatan hidup, Al-Qur’an yang menyebutnya sebagai thayyibat (kebaikan), rizq (rejeki), dan zinah (perhiasan) yang harus  dipergunakan dan dinikmati. Hal ini diulang-ulang dalam banyak ayat. Dalam al-Isra ayat 70, ditegaskan bahwa Allah telah memuliakan manusia di daratan dan lautan, memberikan rejeki berupa thayyibat, dan  melebihkan mereka dari makhluk-makhluk lain.  Dalam ayat 51 surat al-Mukminun, Allah memerintahkan para rasul-Nya untuk memakan thayyibat  dan sekaligus beramal shalih. Sedangkah dalam ayat 172 surat al-Baqarah, Allah memerintahkan kaum beriman untuk makan dari rezki Allah dan bersyukur kepada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menikmati thayyibat dan mempergunakannya sesuai dengan peruntukannya adalah salah satu bentuk kesyukuran seorang hamba terhadap rabb-nya. Inn Allah yuhibb an yadzhar atsar ni’matih ’ala ’abdih (Allah senang melihat dampak nikmatnya atas hambanya), demikian nabi menegaskan. Karenanya, menghalangi dan melarang seseorang untuk menikmati apa yang dikaruniakan Allah  berupa hiasan dunia (zinah) dan  kebaikan-kebaikan rezekinya (thayyibat min al-rizq) adalah sebuah kejahatan yang dimurkai (QS. al-A’raf: 32). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendaraan bagus, rumah mewah, pasangan menawan, dan anak-anak lucu adalah kebanggaan yang menjanjikan kenyamanan, dan kepuasan hati. Demikian pula dengan  makanan-minuman yang enak dan menggugah selera. Semuanya adalah kenikmatan hidup dunia yang selalu diharapkan dan diusahakan keberadaannya. Demikian juga dengan aktifitas menekuni hobi dan menyalurkan bakat yang dapat merupakan ajang aktualisasi diri dan memperluas pertemanan. Tidak ada larangan agama berkenaan dengan hal ini selama semuanya didapatkan dengan cara yang benar, dilakukan dengan baik,  tidak ada unsur maksiat kepada Allah, serta tidak melampaui batas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menikmati hidup tidak diperkenankan mendatangkan maksiat kepada Allah, Tuhan Pemberi nikmat bagi manusia. Kegemaran touring dengan motor misalnya hendaknya tidak diikuti dengan pergaulan bebas. Kesenangan dalam bernyanyi dan  menikmati lagu-lagu tetap harus menghindari ikhtilat (campur baur laki perempuan), senggal senggol, dan goyang erotis yang dapat menggugah birahi. Kegemaran untuk mengoleksi barang-barang antik menjadi haram hukumnya jika menyeret pada perilaku klenik, takhayul, dan ”menuhankan” benda yang dikoleksinya. Petualang kuliner dan makanan ekstrem tetap harus berhati-hati agar makanan yang dicobarasakan tidak termasuk yang diharamkan oleh agama. Hobi mancing yang ”menguras” banyak waktu hendaknya tidak melupakan seseorang dari menunaikan kewajiban shalat pada waktunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melampaui batas dalam menikmati hidup dan fasilitasnya disebut sebagai bentuk israf atau berlebih-lebihan (Qs. al-A’raf: 31) , tabdzir atau boros (al-Isra’: 26), tughyan atau diluar batas kewajaran (Qs. Thaha: 81).  Allah memperbolehkan makan, minum, dan berpakaian tetapi tidak dengan berlebih-lebihan di dalamnya. Sedangkan nabi sebagaimana diriwayatkan Ibn Majah dan Ahmad menyebut diperbolehkannya menikmati makanan, minuman, pakaian dan bahkan bersedekah asal tidak berlaku israf dan bertujuan makhilah (pamer). Ukuran melampaui batas memang sangat individual dan temporal, tetapi sangat mudah diketahui jika suatu perbuatan keluar dari batas kewajaran dan kelaziman sosial.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perilaku pamer merupakan bentuk mempertontonkan diri dalam menggunakan nikmat secara demonstratif untuk mengundang kekaguman orang lain. Istilah lain yang sering digunakan adalah riya’.  Dalam kehidupan, hal ini  dicela agama karena dapat  mengundang kecemburuan sosial dan kedengkian, demikian pula dalam amaliah akhirat karena merupakan bentuk syirik kecil terhadap Allah  yang berakibat ditolaknya amal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menjalani hidup dan meraih hak-hak kenyamanan di dalamnya juga tidak boleh mengorbankan ”hak” lain. Nabi menegaskan ”wa a’ti kulla dzi haqqin haqqah” atau berikanlah setiap orang dan sesuatu haknya. Hobbi memancing tidak boleh menjadikan seseorang melupakannya sebagai bapak atau suami yang bertanggung jawab. Kesenangan untuk petualangan dan travelling tidak layak mengakibatkan penelantaran tugas utama yang sedang diemban. Hak diri untuk tetap sehat dan segar juga tidak boleh dikorbankan demi kesenangan lain. Hobi tersalurkan dan kewajiban tetap dapat ditunaikan. Semuanya dilakukan dengan seimbang dan sesuai porsinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan tersebut  memberikan pengertian bahwa menikmati hidup dan dunia adalah hak manusia dan ia ”merdeka” di dalamnya. Masing-masing dipersilakan memperturutkannya selama masih dalam batas kewajaran, tidak mengorbankan hak lain, serta tidak menyeret pada kemaksiatan kepada Tuhan. Jadi, mari kita nikmati hidup yang indah ini dengan penuh kesadaran dan keseimbangan. Subhanallah, bukankan Dia telah menciptakan segalanya bagi kita untuk dinikmati? Hidup ini memang indah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/382337659859891339-4774515351693951877?l=nuruliman1972.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/feeds/4774515351693951877/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=382337659859891339&amp;postID=4774515351693951877&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/4774515351693951877'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/4774515351693951877'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/2009/12/menikmati-hidup.html' title='Menikmati Hidup'/><author><name>nuruliman1972</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07855832763775638687</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_PHfVnL1Tq0A/SyQVTkyHI9I/AAAAAAAAADY/pjctPi9Qyho/s72-c/gambar+2+hal+7.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-382337659859891339.post-2600940648860274538</id><published>2009-11-29T17:03:00.000-08:00</published><updated>2009-11-29T17:14:45.855-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Religi'/><title type='text'>Mengajarkan Qurban Kepada Anak</title><content type='html'>30 November 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENGAJARKAN QURBAN KEPADA ANAK&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Amalia Sulfana*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Meski Idul Adha telah berlalu yakni pada 27 Nopember 2009, rasanya sungguh disayangkan jika momen ”luar biasa” ini dilewatkan. Sebagai seorang muslim tentu kita merayakan ‘Idul Adha tersebut serta mengambil pelajaran berharga darinya. Setiap hari raya ini tiba, kita selalu diingatkan kembali tentang kisah ketaatan dan pengorbanan Nabi Ibrahim as dan putranya, Nabi Ismail as, dalam menjalankan perintah Allah Swt. Lewat mimpi (dan mimpi seorang nabi adalah wahyu) Nabi Ibrahim as diperintahkan untuk menyembelih putranya.  Kedua Bapak-anak ini segera bergegas melaksanakan perintah Allah. Tak tampak sama sekali keraguan, apalagi keengganan atau penolakan. Dengan ikhlas keduanya menunaikan perintah Allah Swt, meski masing-masing harus mengorbankan sesuatu yang paling berharga dan dicintai. Ibrahim merelakan kehilangan putranya, dan Ismail tidak keberatan kehilangan nyawanya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam al-Qur’an dan syari’at Islam, peristiwa agung ini diabadikan agar menjadi teladan bagi manusia di sepanjang masa. Maha benar Allah yang telah menjadikan Nabi Ibrahim sebagai uswatun hasanah bagi setiap manusia yang bermaksud mencari keridhoan Tuhannya. Dalam QS. Al-mumtahanah  ayat 4, Allah menegaskan: “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya”.  Secara lebih lengkap peristiwa “heroik” ini terekam dalam Al-Qur’an surat al-Shoffat 99-111.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum peristiwa Qurban, Ibrahim adalah sosok pejuang sejati yang telah mempersembahkan segala sesuatu yang dimilikinya dalam berdakwah kepada Allah. Ibrahim adalah ikon ajaran tauhid yang berjuang untuk “menemukan” Allah dan kemudian berjuang menjaganya bahkan ketika berhadapan dengan rezim kafir saat itu, Raja Namrud. Dalam QS. Al-Nahl 120-121, Ibrahim disebut seorang yang patuh kepada Allah, hanif (lurus), yang tidak pernah mempersekutukan Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sejarah hidup Nabi Ibrahim as. banyak pelajaran berharga dapat dipetik oleh kaum muslimin dan keluarganya. Diantaranya: Pertama, cinta kepada Allah selalu menuntut bukti dan pengorbanan. Ibrahim as dan Ismail as telah sukses memberi contoh bagi ummat manusia. Cinta Allah melebihi segalanya, dan karenanya diganjar dengan pahala berlipat. Syariat Qurban  bagi kaum muslimin tentu tidak sebanding  dengan pengorbanan mereka berdua, tetapi memberikan bekal yang cukup untuk belajar berkurban dan membuktikan cinta kepada Allah. Puncak tertinggi pengorbanan adalah ketika seorang muslim dapat mempersembahkan sesuatu paling berharga (mimma tuhibbun) dalam rangka mengabdi kepada Allah. Kedua, Dalam menjalani hidup, hendaknya seseorang tidak berputus asa dari rahmat Allah, karena sikap ini milik orang-orang kafir (QS. Yusuf:87). Tetaplah berusaha dan berdoa dengan sungguh-sungguh. Dalam urusan mendapatkan keturunan, Ibrahim as. memberi contoh  tentang kontinuitas beliau dalam berdo’a. Setelah berpuluh-puluh tahun, do’a tersebut baru dikabulkan oleh Allah; Ketiga, syukur nikmat hendaknya selalu menghiasi diri kita meski sekecil apapun nikmat itu. Ibrahim tetap memuji Allah meski nikmat keturunan diberikan kepadanya sangat “terlambat”, karena memang terlalu banyak nikmat-nikmat lain yang perlu disyukuri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perilaku berkurban dalam rangka mendekatkan diri  (qorban) kepada Allah dewasa ini menjadi barang yang mulai langka, demikian pula dengan berkurban untuk kepentingan orang lain. Berkurban untuk kepentingan diri sendiri saja, baik jangka pendek maupun panjang mulai mulai diabaikan.  Sebagai gantinya mulati tumbuh perilaku egoistis, hedonis, dan tidak bertanggung jawab, yang sebenarnyan merugikan diri pelakunya.&lt;br /&gt;Dengan bercermin kepada sejarah hidup Ibrahim yang penuh Qurban, maka para pendidik perlu memikirkan cara mengajarkan qurban kepada anak didik. Keberhasilan hidup Ibrahim dunia-akherat, memberikan inspirasi kepada kita bahwa kesuksesan memang hanya dapat dicari  lewat Qurban kepada Allah, yang sebenarnya jika dicermati merupakan kepentingan manusia sendiri sebagai makhluk Allah. Berkurban dengan menyembelih hewan sering kali dimaknai dengan belajar “menyembelih” ego dan nafsu kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara kiat-kiat yang dapat dipergunakan untuk mendidikkan qurban adalah:&lt;br /&gt;Pertama, menumbuhkan kebiasaan mementingkan ibadah. Qurban merupakan amal mengedepankan dan mementingkan Allah atas segalanya. Di rumah atau sekolah, kebiasan kecil untuk mengedepankan ibadah dapat dilakukan, misalnya dengan segera menghentikan aktivitas belajar atau mematikan TV dan mendirikan shalat saat adzan berkumandang. Kebiasaan ini seadakan mendeklarasikan bahwa ibadah harus lebih dipentingkan dibandingkan kegiatan-kegiatan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kedua, mengajarkan berbagi dan memberi lewat ”tangan” anak. Berbagai kegiatan infak atau sedekah (berbagi) perlu dikelola dengan melibatkan anak-anak. Jika mungkin dapat dibuat sebagai ”proyek” sosial. Momen-momen berbagi  dapat diciptakan secara sengaja seperti kegiatan buka puasa, santunan anak yatim, dan bantuan untuk orang miskin. Musibah  bencana alam juga seperti banjir dan gempa bumidapat dimanfaatkan untuk mendidikkan kepedulian pada sesama. Keterlibatan anak-anak secara aktif pada kegiatan-kegiatan tersebut akan mengajarkan mereka untuk banyak bersyukur sekaligus mempertajam kepedulian sosial mereka dan menanamkan semangat untuk selalu berbagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, keteladanan. Tidak ada yang lebih mujarab dalam mendidikkan suatu kebaikan dari pada metode keteladanan (uswah). Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Lisan al-hal afsah min lisan al-maqal atau perbuatan seseorang lebih ampuh (mengajarkan sesuatu) dari pada omongannya. Ibrahim as. telah sukses memberikan keteladan berkorban ini pada Ismail as. sehingga menumbuhkan semangat berkorban luar biasa pada diri putranya. Karenanya, dalam setiap apa yang akan dididikkan hendaknya para pendidik lebih dulu melakukannya sendiri, dan kemudian mengerjakannya lagi secara bersama-sama dengan para anak didik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, do’a tulus yang menyertai. Sebagai seorang bapak yang bertanggung jawab, Ibrahim as. selalui mengakhiri amal ikhtiarnya di dunia khususnya berkenaan dengan anak istrinya dengan do’a. Sebelum dan sesudah memiliki keturunan, beliau selalu memanjatkan rabbi habb li min al-shalihin (wahai Tuhanku, anugerahkan kepadaku keturunan yang shalih). Dan ketika beliau meninggalkan Ismail dan Hajar di Makkah yang tandus (wadin ghair dzi zar’), beliau memohon kepada Allah agar mereka dapat terpelihara, mendirikan shalat, dan selalu ada di hati setiap manusia. Semuanya secara gamblang diabadikan al-Qur’an. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang telah diteladankan Ibrahim as. adalah inspirasi yang sangat berharga bagi kesuksesan pendidikan anak-anak kita. Mari kita menapak tilas terhadapnya agar dapat melahirkan generasi masa depan yang sehat jasmani dan rohani, serta mampu mengemban beban estafet dakwah islamiyah, demi meraih izzat al-islam dan kaum muslimin. Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Guru PAI SMAN 1 Babadan Ponorogo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/382337659859891339-2600940648860274538?l=nuruliman1972.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/feeds/2600940648860274538/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=382337659859891339&amp;postID=2600940648860274538&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/2600940648860274538'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/2600940648860274538'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/2009/11/mengajarkan-qurban-kepada-anak.html' title='Mengajarkan Qurban Kepada Anak'/><author><name>nuruliman1972</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07855832763775638687</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-382337659859891339.post-1665456358245625586</id><published>2009-11-17T19:03:00.000-08:00</published><updated>2009-11-17T19:13:06.614-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Guru Yang Berpengaruh</title><content type='html'>18 November 2009 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GURU YANG BERPENGARUH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Amalia Sulfana*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan pada prinsipnya  dapat diartikan sebagai upaya membelajarkan sejumlah pengetahuan, ketrampilan, dan nilai-nilai  kebaikan lewat pembelajaran di kelas maupun pembiasaan di luar kelas. Selain itu, pendidikan dapat disebut pula sebagai upaya pemberian pengaruh yang baik dari seorang pendidik kepada peserta didik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dunia pendidikan, guru atau pendidik  merupakan  adalah pihak yang ingin menanamkan pengaruhnya, sementara peserta didik adalah pihak yang akan dipengaruhi. Disini berlaku hukum yang kuat mempengaruhi yang lemah dan tidak sebaliknya karena memang  faqid al-syai' la yu'thi atau "orang yang tidak memiliki sesuatu tidak akan dapat memberi sesuatu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rangka mensukseskan misinya untuk agar dapat memberi pengaruh baiknya pada peserta didik, maka guru dituntut untuk menjadi "orang kuat". Ini berarti bahwa guru harus mapan dalam hal substansi materi pelajaran yang diampunya, maupun handal dalam metodologi pembelajarannya.  Dalam hal ini  pendidikan guru dan relevansi jurusannya sangat menentukan, disamping kontinyuitas guru dalam mengakses perkembangan teknologi dan kebaruan inovasi dalam bidang pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menanamkan pengaruh saat ini tidak perlu digunakan kekerasan lewat ancaman maupun hukuman  yang keras, karena memang sudah bukan masanya lagi. Sebaliknya bisa ditempuh cara-cara persuasif lewat berbagai pendekatan pembelajaran  yang komunikatif dan interaksi yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bobbi De Porter (1999)  menyebut upaya menanam pengaruh guru lewat  azas utama Quantum Teaching "bawalah dunia mereka ke dunia kita, hantarkan dunia kita ke dunia mereka".  Ini berarti bahwa guru dalam pembelajarannya hendaknya berusaha untuk memasukkan dirinya dalam dunia anak  yang penuh dengan keceriaan dan kegembiraan  sebelum membawa mereka kedalam dunia orang dewasa yang penuh dengan keseriusan.  &lt;br /&gt;Selanjutnya De Porter berkaitan dengan hal ini menyebut pentingnya menghadirkan suasana pembelajaran yang menggairahkan disamping merancang lingkungan belajar yang mendukung. Diantara cara yang dapat dipergunakan untuk mwujudkan suasana pembelajaran  yang menggairahkan adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Menggunakan kekuatan niat yang terpendam&lt;br /&gt;Niat memiliki posisi sentral daalam terwujudnya sebuah amal serta kualitas. Innam al-a’malu bi al-niyyat. Niat pendidik dalam aktifitas pendidikannya tercermin dalam keinginannya yang kuat untuk  kebaikan terdidik dan keberhasilannya. Niat ini harus terbaca dan dirasakan. Tidak ada pamrih-pamrih lain yang muncul. Keikhlasan serta ketulusan hati hendaknya menggantikan ambisi duniawi seperti pujian atau capaian materi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) Menggunakan emosi dalam Belajar&lt;br /&gt;Emosi dapat berupa perasaan gembira, senang, sedih, dan marah. Menggunakannya dalam pembelajaran adalah bentuk adopsi terhadap kemampuan otak kanan yang disinyalir dapat menumbuhkan memori jangka panjang (long term memori) terhadap materi yang diajarkan. Ini berarti bahwa pengaruh guru dan materinya akan sangat kuat karena tertanam untuk jangka yang lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c) Menjalin simpati dan Pengertian&lt;br /&gt;Dalam hubungan sosial selalu dianut prinsip timbal baik. Jika ingin dimengerti maka hendaknya guru belajar untuk mengerti murid terlebih dahulu. Menanam simpati terlebih dahulu selayaknya dilakukan guru, baru kemudian ia akan menuainya kemudian.  Dengan hubungan yang sudah baik, maka semua proses pembelajaran akan berjalan mudah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d) Rasa saling memiliki&lt;br /&gt;Kasih sayang antara guru murid (dalam arti positif) perlu diwujudkan di dalam pendidikan. Perhatian guru yang menyeluruh terhadap para peserta didik  menumbuhkan penghormatan. Simpati guru terhadap mereka mengundang simpati pula. Buah manis ke saling mengertian ini adalah tumbuhnya rasa saling memiliki yang terwujud dalam perasaan kehilangan jika guru yang bersangkutan tidak nampak di sekolah. Ada perasaan kehilangan yang menggantikan perasaan “muak” ketika bertemu atau belajar bersamanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e) Mewujudkan kegembiraan dan ketakjuban&lt;br /&gt;Membangun kegembiraan di dalam kelas  dapat diwujudkan dengan ice breaker berupa permainan, menyanyi, maupun puzzle. Kompetensi pedagogis guru meniscayakan pemahaman guru bahwa belajar akan berjalan baik dan cepat jika para siswa berada dalam suasana yang nyaman. Sebalilknya belajar menjadi tidak produktif jika berada dalam ancaman atau suasana ketegangan.  Ice breaker  dalam hal ini memiliki peran pentingnya, selain aplikasi metode-metode pembelajaran yang mengaktifkan siswa sebagai individu maupun kelompok. Hanya saja memang perlu dipikirkan agar ice breaker tidak mengganggu dan tetap selaras, atau justru mendukung pembelajaran yang sedang berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f) Mengambil Resiko (zona nyaman)&lt;br /&gt;Untuk mengatasi keadaan yang monoton dan kejenuhan suasana, guru perlu berimprovisasi maupun berinovasi  dalam pembelajarannya. Diperlukan sejumlah usaha untuk mewujudkan hal ini, selain juga pengorbanan dan resiko berupa kegagalan eksperimen.  Guru dituntut untuk mengeluarkan energi lebih, pikiran mendalam, serta waktu yang lebih banyak. Tetapi jika terobosan yang dilakukan berhasil, maka akan didapat kepuasan mental yang luar biasa dikarenakan kemampuannya dalam memaksimalkan peran pendidik yang diembannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g) Keteladanan&lt;br /&gt;Pendidikan nilai-nalai hidup akan berjalan efektif jika didasari pada prinsip keteladanan. Guru adalah pendidik yang ”digugu” dan ”ditiru” bukan lagi sebagai slogan. Hanya saja untuk digugu dan ditiru, seorang guru perlu mengawali setiap ajaran kebaikan lewat praktek dan demonstrasi oleh dirinya sendiri. Contoh yang dilakukan oleh guru memang lebih efektif dari omongannya sendiri. Bukankah lisan al-haal afsah min lisan al-maqal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disadari atau tidak, pendidikan pada akhir-akhir ini lebih berorientasi pada kecakapan akademis, sementara aspek-aspek mental spiritual lebih sering terlupakan. Padahal tuntutan zaman melazimkan lembaga-lembaga pendidikan mengintegrasikan  pendidikan mental spiritual ke dalam aspek intelektual. Penanaman pengaruh yang baik oleh para pendidik dalam hal ini mutlak untuk dimaksimalkan. Tawaran De Porter lewat Quantum Teaching –nya perlu diapresiasi sedemikian lupa karena ia tidak terjebak pada pemberdayaan aspek intelektual ansich, tetapi juga mental spiritual. Penambahan muatan agama Islam dalam aplikasinya akan memperkaya dan menjadikan pendidikan semakin maksimal. Semoga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Guru PAI SMAN 1 Babadan Ponorogo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/382337659859891339-1665456358245625586?l=nuruliman1972.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/feeds/1665456358245625586/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=382337659859891339&amp;postID=1665456358245625586&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/1665456358245625586'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/1665456358245625586'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/2009/11/guru-yang-berpengaruh.html' title='Guru Yang Berpengaruh'/><author><name>nuruliman1972</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07855832763775638687</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-382337659859891339.post-2342578353935498808</id><published>2009-11-07T00:45:00.000-08:00</published><updated>2009-11-07T00:58:54.492-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Religi'/><title type='text'>BERCERMIN SEPENUH HATI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_PHfVnL1Tq0A/SvU017Ri-DI/AAAAAAAAADQ/jjYKv6XY0h0/s1600-h/J0234760.GIF"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 104px; height: 131px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_PHfVnL1Tq0A/SvU017Ri-DI/AAAAAAAAADQ/jjYKv6XY0h0/s320/J0234760.GIF" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5401281429149775922" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8 Nopember 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“BERCERMIN” SEPENUH HATI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam setiap rumah selalu disediakan sebuah cermin dengan segala ukurannya dalam rangka mematut diri dan mengontrol tampilan fisiknya. Cermin itu dapat berada di kamar tidur, ruang keluarga, toilet, kamar mandi atau bahkan menempel di almari sekalipun. Tanpa keberadaan cermin, usaha untuk berhias dan mempercantik diri akan  berjalan dengan penuh kesulitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cermin memang diperlukan untuk berhias karena ”kejujurannya” dalam memantulkan setiap objek yang ditangkapnya. Yang jelek akan digambarkan jelek, dan yang bagus akan ditampakkan bagus pula. Semua tergambarkan kembali apa adanya. Cermin tidak pernah bohong. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sebuah alat yang dipergunakan untuk mematut diri, cermin tetaplah memiliki keterbatasannya sendiri karena hanya dapat memantulkan gambar dari satu sisi. Karenanya untuk mendapatkan gambaran  diri secara utuh diperlukan beberapa cermin yang diletakkan di beberapa sudut berbeda sehingga memungkinkan seseorang untuk bercermin dari dua arah atau lebih. Hasil bercermin model begini tentunya akan lebih akurat.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkenaan dengan usaha memperbaiki diri, Islam memerintahkan kaum muslimin untuk ber-”cermin” dari kaum-kaum terdahulu dan sejarah kehidupan mereka. Melihat sejarah yang baik atau yang buruk memang akan menjadikan kita mengenal ”posisi” kita dari kebaikan maupun keburukan. Dalam al-An’am ayat 11, Allah memerintahkan agar kita berjalan di dunia ini dan memperhatikan akibat yang diderita olah hamba-hamba-Nya yang pendurhaka. Dengan bahasa yang lain Allah mengulangi perintah ini sebanyak 3 kali di tempat yang berbeda, al-Naml 49, al-Rum 42, dan al-Hasyr 2. Dalam hadith al-Tirmidzi dan Abu Dawud, Rasul menyebut seorang muslim sebagai cermin bagi saudara muslim lainnya yang dapat mengembalikan kehilangan barangnya (dhai’atah) dan mengawalnya dari belakang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat-ayat  dan hadith tersebut memberikan pengertian bahwa ”cermin hidup” dari manusia merupakan alat ukur atas nilai diri dan kualitasnya dikaitkan dengan kebaikan atau keburukan.  Karenanya cermin ini sangat dapat diandalkan untuk usaha memperbaiki diri dan berbenah. Seorang yang baik tentu akan memantulkan gambar yang baik pula tercermin dari perilaku dan sikap orang-orang lain terhadap dirinya dan demikian pula sebaliknya. Semuanya terpantul apa adanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya dan yang terpenting adalah  respon tindakan apa yang akan diambil seseorang berdasarkan pantulan gambar di cermin tersebut. Apakah ia mau belajar dan memperbaiki diri dari pantulan cermin tersebut, atau mengacuhkannya, atau bahkan justru memecahkan cermin itu. Semuanya memiliki konsekwensi masing-masing dalam rangka perbaikan diri.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bercermin  dengan ”cermin hidup” manusia memang memiliki  tantangannya sendiri. Jika cermin dari kaca bersikap pasif, maka ”cermin hidup” manusia akan memantulkan ”gambar”-nya dengan bahasanya sendiri yang beragam. Bisa saja berupa pujian, senyuman, umpatan, cacian, teguran, kritik,  maupun tulisan. Kesemuanya merupakan balikan yang kadang justru lebih besar dari asalnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantulan ”cermin hidup”  perlu disikapi  secara positif  karena cermin memang tidak akan pernah bohong dengan memantulkan kembali setiap obyek yang ditangkapnya. Pujian tidak perlu membuat lupa diri. Cacian tidak harus dibalas dengan cacian tetapi dengan penjelasan dan kejelasan uraian,  karena manusia adalah makhluk nalar yang dapat dipahamkan dengan argumentasi dan dialog yang baik. Teriakan hendaknya  dijawab dengan kata-kata penuh kesantunan. Diperlukan keberanian dan hati yang lapang untuk menghadapi kritik pantulan ”cermin hidup” apalagi jika kata yang digunakan sangat keras dan pedas. Tidak perlu membabi buta dengan berusaha memindahkan cermin itu, menyingkirkannya atau bahkan memecahkannya. Wujud sebuah cermin bagaimanapun tetap diperlukan untuk evaluasi dan perbaikan diri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Setiap makluk hidup yang bernama manusia memang akan tetap  memiliki gambarnya kembali  lewat pantulan ”cermin” orang lain mau atau tidak mau, suka atau tidak suka. Setiap ucapan dan tindakan yang dilakukan akan selalu ”dinilai” orang lain. Maka, sebaik-baik orang yang bercermin adalah orang mau terus berusaha untuk mematut diri  dan membenahi kekurangan ketika melihat pantulan gambarnya. Jika masih buruk, maka hal itu mendorongnya untuk mengadakan perbaikan. Jika sudah baik maka perlu dipikirkan untuk semakin ditingkatkan dan dikembangkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, mari kita tata hati kita untuk belajar ber”cermin”  dengan sebanyak mungkin cermin dan bersiap menerima segala pantulan gambarnya demi kebaikan dan perbaikan diri kita. Al-mu’min mir’aat akhih al-mu’min.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/382337659859891339-2342578353935498808?l=nuruliman1972.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/feeds/2342578353935498808/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=382337659859891339&amp;postID=2342578353935498808&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/2342578353935498808'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/2342578353935498808'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/2009/11/bercermin-sepenuh-hati.html' title='BERCERMIN SEPENUH HATI'/><author><name>nuruliman1972</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07855832763775638687</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_PHfVnL1Tq0A/SvU017Ri-DI/AAAAAAAAADQ/jjYKv6XY0h0/s72-c/J0234760.GIF' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-382337659859891339.post-4980668335253552075</id><published>2009-11-01T18:19:00.000-08:00</published><updated>2009-11-01T18:27:05.585-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Religi'/><title type='text'>Taqdim al-Ahamm 'ala al-Muhimm</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_PHfVnL1Tq0A/Su5C8QUtIsI/AAAAAAAAADI/njp8OA8xSE0/s1600-h/j0254498.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 80px; height: 80px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_PHfVnL1Tq0A/Su5C8QUtIsI/AAAAAAAAADI/njp8OA8xSE0/s320/j0254498.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5399326606205199042" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;02 November 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;YANG PENTING, TERPENTING, DAN TIDAK PENTING&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam disiplin ilmu Qawaid Fiqhiyah dikenal kaidah Taqdim al-ahamm min al-muhim yang dapat diartikan sebagai ”mendahulukan yang terpenting dari yang penting”.  Kaidah tersebut memberikan arahan kepada kita untuk lebih memprioritaskan urusan atau perkara yang terpenting  dibandingkan sekian hal lain yang kadar kepentingannya berada di bawahnya. Ini berarti  jika seseorang menghadapi dua hukum agama dan tidak mampu mengamalkan kedua hukum itu secara bersamaan, maka wajib  baginya memikirkan mana yang lebih penting dari kedua hukum itu, serta kemudian mengorbankan hukum yang lebih sedikit nilai pentingnya demi hukum yang lebih banyak nilai pentingnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada kalkulasi kaidah taqdim al-ahamm min al-muhimm menegaskan bagi kita, “lakukanlah shalat qashar dan janganlah engkau berpuasa ketika kamu dalam perjalanan”. Al-Quran mengatakan: barang siapa di antara kamu sakit atau sedang berada dalam perjalanan, maka hendaklah ia berpuasa pada hari-hari yang lain sebanyak bilangan hari puasa yang ia tinggalkan (QS. 2:185). Jika ditanyakan hal ihwal mengapa demikian, maka ayat tersebut juga berbicara tentang sebabnya itu: Allah menginginkan kemudahan bagimu dan tidak menginginkan kesulitan bagimu (QS. 2: 185). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski kaidah ini berasal dari “dunia” fiqih, tetapi juga berdimensi luas pada bidang-bidang lain. Dalam dakwah Islam misalnya, taqdim al-ahamm mengandung maksud untuk mendakwahkan lebih dahulu urusan-urusan pokok seperti tauhid dan keimanan dibanding masalah-masalah ibadah madhdah maupun  ghair mahdhah. Hal ini disebabkan posisi sentral tauhid dan keimanan  sebagai fondasi dan pilar pokok dalam beragama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam disiplin Usul Fiqh juga dikenal terminologi maqasid syariah (tujuan syariah). Al-Shatibi membaginya menjadi 3 hal, yakni dharuriyat, hajiyat, dan tahsiniyat. Dharuriyat adalah segala hal didasarkan padanya sebuah kehidupan manusia, berupa agama, jiwa (nyawa), akal, harta, dan harga diri. Kelima hal tersebut merupakan kebutuhan dasar yang tidak boleh tidak, harus ada, dan karenanya  merupakan hal terpenting. Al-Hajiyat adalah segala apa yang dibutuhkan manusia dalam rangka menghindari kesulitan hidup dan menanggung bebannya. Sedangkan Tahsiniyat adalah hal-hal yang diperlukan untuk memperbaiki keadaan manusia, tampilan mereka, dan hubungan sosial diantara mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meminjam terminologi Usul Fiqh tersebut, maka kebutuhan manusia di kehidupan ini dapat  digolongkan menjadi dharury, hajjiy, dan tahsini.  Al-Dharuriyah adalah kebutuhan  pokok yang keberadaanya mutlak diperlukan yang sifatnya lebih berbentuk nafsiyah (psikologis) seperti relegiusitas, keamanan diri, dan penghargaan terhadap eksistensi diri.  Sedangkan hajiat adalah  kebutuhan utama yang lebih bersifat fisik seperti sandang, pangan, dan papan dalam bentuk yang mendasar. Sedangkan kebutuhan tahsiny adalah kebutuhan yang lebih bersifat komplementer (pelengkap), dalam meningkatkan kenyamanan hidup seperti kendaraan, rumah yang bagus, makanan yang mewah, hanphone, maupun asesoris-acesoris yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebutuhan hidup manusia selalu tumbuh mengikuti perkembangan zaman. Dalam kondisi tertentu, hal-hal yang bersifat tahsiny dapat saja meningkat statusnya menjadi hajjy, tetapi tidak demikian halnya dengan kebutuhan hajjy dan maupun dharury. Keduanya tidak akan dapat turun pangkat menjadi kebutuhan tahsiny. Kebutuhan kita terhadap sepeda motor merupakan kebutuhan tahsiniyat yang pada waktu tertentu dapat berubah statusnya menjadi hajjiyat. Hanya saja, kebutuhan manusia terhadap aspek-aspek dharuriyat seperti rasa aman, relegiusitas, dan penghargaan diri, tetap tidak akan  dapat digantikan dengan apapun dan karenanya pemenuhan terhadapnya harus mendapatkan prioritas terdepan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan manusia  yang  damai, tenteram, dan baik akan terwujud jika seluruh seluruh aspek kebutuhan-kebutuhan hidupnya terpenuhi. Dalam kondisi riil, memenuhi  ketiga  kebutuhan dharuriyat, hajjiyat, dan tahsiniyat tidaklah mudah, tetapi harus diusahakan secara berurutan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Al-ahamm fa al-muhimm, yang terpenting baru yang penting. Mengedepankan kebutuhan kedua atas yang pertama atau kebutuhan ketiga atas yang kedua hanya akan menyisakan banyak persoalan. Kebutuhan dharuriyat yang bersifat psikologis dan kasat mata harus  tetap diprioritaskan karena mendasari pemenuhan kedua kebutuhan yang lain. Dalam sebuah keluarga, ketika hendak membangun sebuah rumah yang merupakan kebutuhan fisik, maka pasangan suami istri perlu mengadakan rembug untuk membincang banyak hal, menampung aspirasi keduanya, dan menghilangkan dominasi keinginan salah satu pihak. Dengan be-rembug maka kebutuhan keluarga pada aspek dharuriat (psikologis)  terpenuhi, disamping kebutuhan tahsiniyat  berupa rumah yang sedang diusahakan. Semuanya marem, merasa dihargai, dan diperhatikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam organisasi atau institusi publik yang kepemilikannya tidak melekat pada individu, usaha untuk memenuhi aspek-aspek psikologis dharuriyat yang tercermin dalam penghargaan diri, kenyamanan kerja, dan relegiusitas,  perlu dikedepankan melebihi apapun. Sebuah keputusan untuk memenuhi hal-hal tahsiniyat  berupa kebutuhan  fisik (seperti  sandang, pangan, dan papan) hendaknya dibangun diatas pondasi dharuriyat. Ada sharing, tukar pendapat, argumentasi, dan rasionalisasi. Diharapkan melalui proses ini maka keputusan apapun yang diambil akan penuh pertimbangan, melegakan semua pihak, dan ”membumi” karena mempertimbangkan banyak masukan. Keputusan tersebut juga menjadi kuat karena telah menjadi keinginan bersama dan legitimate sehingga tidak dikhawatirkan akan digugat di belakang hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan zaman saat ini memutlakkan setiap organisasi untuk bersinergi dalam bekerja agar dapat bertahan dan bersaing. Memperhatikan aspek kebutuhan-kebutuhan hidup baik dharuriyat, hajiyat, maupun tahasiniyat secara proporsional  dan benar harus dilakukan, meski secara berkala perlu juga dirumuskan kembali definisi masing-masing seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Identifikasi secara bersama terhadap kebutuhan-kebutuhan organisasi yang selanjutnya diikuti dengan penetapan skala prioritas kebutuhan pada gilirannya akan menumbuhkan iklim sehat dalam berorganisasi. Dinamika kreativitas dan inovasi juga akan terbangun. Tidak ada ganjalan maupun sumbatan ide. Rasa memiliki (sense of belonging) terhadap organisasi dan program-programnya juga akan terbina baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, marilah identifikasi dan temukan dalam kehidupan kita hal terpenting (al-ahamm) diantara yang penting (al-muhimm). Mulailah dengan yang dharuriyat, baru hajiyat, dan akhiri dengan yang tahsiniyat, maka insha Allah kehidupan kita akan semakin lengkap. Semoga.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/382337659859891339-4980668335253552075?l=nuruliman1972.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/feeds/4980668335253552075/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=382337659859891339&amp;postID=4980668335253552075&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/4980668335253552075'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/4980668335253552075'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/2009/11/taqdim-al-ahamm-ala-al-muhimm.html' title='Taqdim al-Ahamm &apos;ala al-Muhimm'/><author><name>nuruliman1972</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07855832763775638687</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_PHfVnL1Tq0A/Su5C8QUtIsI/AAAAAAAAADI/njp8OA8xSE0/s72-c/j0254498.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-382337659859891339.post-5967526304124952227</id><published>2009-10-19T16:56:00.000-07:00</published><updated>2009-10-19T17:02:01.170-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Mendidik Tanpa Marah</title><content type='html'>18 Oktober 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENDIDIK TANPA MARAH, MUNGKINKAH ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Amalia Sulfana, S.Ag.*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara sikap-sikap tidak terpuji yang  sering ditunjukkan seseorang adalah marah. Sejak bayi  kecil, kita sudah mampu untuk melakukan perilaku marah tersebut. Namun pada bayi dan anak yang belum bisa bicara perilaku marah biasanya berupa tangisan. Sayyid Muhammad Nuh (1993) dalam kitab Aafaatun ‘Alath-Thariq mengartikan  marah secara literal dengan beberapa pengertian. Menurutnya, marah adalah sikap tidak rela terhadap sesuatu dan iri dari sesuatu, terambil dari dari kosa kata arab, ghadib ‘alaihi dan ghadiba lahu.  Marah dalam bahasa Arab juga berarti  kemuraman, kemurungan, dan sekat ”penghalang” dalam pergaulan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jika dicermati, definisi-definisi literal tersebut memiliki relevansinya dengan makna istilahnya.  Dalam Psikologi, marah didefinisikan sebagai reaksi terhadap motif-motif yang tidak terpenuhi. Marah mewujud pada perubahan internal atau emosional yang menimbulkan penyerangan dan penyiksaan guna mengobati apa yang ada dalam hati. &lt;br /&gt;Chaplin (2002) dalam kamus psikologinya sebagaimana dikutip www.kampusislam.com,  menyebut marah sebagai reaksi emosional akut ditimbulkan oleh sejumlah situasi yang merangsang, termasuk ancaman, agresi lahiriah, pengekangan diri, serangan lisan, kekecewaan atau frustasi, dan dicirikan oleh reaksi kuat pada system syaraf otonomik, khususnya oleh reaksi darurat pada bagian simpatetik; dan secara implisit disebabkan oleh reaksi serangan lahiriah, baik yang bersifat somatis atau jasmani maupun yang verbal atau lisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada umumnya, marah selalu dikonotasikan pada hal-hal yang negatif. Dalam realita kehidupan, seorang yang pemarah biasanya tidak banyak disukai orang karena perilakunya sering ”menyakiti” orang lain. Tidak berlebihan, jika Rasululullah sebagaimana diriwayatkan Abu Hurairah memberikan wasiat kepada seseorang agar tidak marah-marah dan bahkang mengulangi pesan ini hingga tiga kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai agama yang rahmatan lil'alamin, Islam mengajarkan bagaimana membuat amarah tersebut menjadi tidak liar, ganas dan membahayakan orang lain. Karenanya, Islam mencela sifat marah dan sebaliknya memuji sifat sabar yang merupakan bentuk pengendalian emosi. Rasulullah menyebut orang yang kuat adalah mereka yang mampu menahan emosinya, bukan yang memiliki ”okol” (tenaga) besar. Rasulullah selanjutnya memerintahkan kita untuk meredakan marah dengan berbagai upaya diantaranya dengan diam (al-shumt) dan dengan berwudhu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkenaan dengan marah dan dampak ”kerusakan” yang  dapat ditimbulkannya, para psikolog menyatakan bahwa terapi terhadap emosi marah dapat dilakukan dengan beberapa hal, diantaranya:  1) mengawali kehidupan setiap hari dengan perkataan "hari ini saya tidak boleh marah"; 2) bersegera untuk memohon perlindungan dari godaan syetan yang terkutuk, ketika emosi marah sedang datang; 3) memandang wajah sendiri dicermin ketika sedang marah dan membayangkan bagaimana jika wajah yang masam tersebut berubah ceria dengan senyum. Membandingkan dua keadaan wajah tersebut akan memicu pelaku marah untuk segera meninggalkannya; 4) melakukan kegiatan-kegiatan pengalih marah dengan berjalan, belanja dan sebagainya; 5) Mengungkapkan kemarahan daengan membuat tulisan atau surat yang paling keji sekalipun, sebagai ganti bentuk pelampiasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendidik Tanpa Marah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marah disebut Ja’far al-Shadiq sebagai miftah kull syarr (kunci segala keburukan) dan memang demikian kenyataannya. Ketika seseorang sedang emosi dan marah  dan ia tidak berusaha untuk mengendalikannya, maka ”segalanya” bisa saja terjadi.  Seorang ayah misalnya, jika  sedang marah kepada anaknya disebabkan suatu kesalahan dan ia tidak mengedalikan emosi itu, maka bisa saja ia melakukan kekerasan dalam segala bentuknya.  Umpatan keji, perilaku yang merugikan, maupun aktifitas fisik  lain yang membahayakan. Pelampiasan model ini tentu saja tidak menguntungkan bagi pendidikan anak sendiri maupun bagi orang tuanya. Sebaliknya yang muncul adalah broken hart (hati yang luka) dan kebencian, bukan kesadaran anak atas kesalahan yang dilakukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andai saja dapat dipilih ”cara marah” yang lebih bijak dan tidak mengandung kekerasan, berupa teguran yang sopan dan arahan yang menyejukkan maka pesan perbaikan yang diinginkan orang tua tentu justru akan ”sampai” dan diterima anak. Ketika bersabar, seseorang yang sedang marah memang akan dapat dengan mudah menemukan solusi untuk permasalahannya dan mengambil keputusan dengan bijak. Nabi menyebut kesabaran sebagai sebagai dhiya’ (pelita) yang menerangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, dalam mendidik perlu diusahakan sekian cara agar para orang tua dan guru dapat mengendalikan diri saat marah. Agar produktif, kemarahan juga perlu dikelola sedemikian rupa. Diantara upaya-upaya  yang dapat dilakukan para pendidik untuk mengendalikan diri dalam marah dan menjadikannya produktif adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Membuat kesepakatan&lt;br /&gt;Di dalam rumah maupun sekolah, pelaksanaan kewajiban dan tata tertib dapat disepakati dan dirumuskan  bersama bahkan beserta konsenwensi bagi pelanggarannya.  Hal ini penting agar tidak muncul kesan pemaksaan maupun dominasi pihak tertentu. Jika terdapat tindak pelanggaran, para pendidik cukup mengingatkan kembali apa jenis kesalahan  yang dilakukan dan konsekwensi yang harus ditanggung. Dengan demikian kemarahan dapat dihindari sehingga para orang tua maupun guru dapat ”menghemat” energinya dengan tidak marah.  &lt;br /&gt;2. Konsentrasikan teguran pada perilaku anak dan bukan pribadinya&lt;br /&gt;Meski emosi dan kemarahan sedang memuncak, seorang pendidik perlu membedakan antara pribadi anak  dan perilakunya. Kemarahan  perlu difokuskan pada perilaku buruk anak, dan karenanya harus detail. Perlu dihindari ungkapan yang umum seperti ”hari ini kamu betul-betul nakal”, atau ”kau mengecewakanku”, dan sebaliknya dapat digunakan ”Kesukaanmu mengganggu adikmu sungguh menyebalkan” dan ”keterlambatanmu mengecewakanku”. Ketika dimarahi, hendaknya anak dibuat mengerti bahwa yang dibenci dan mengundang kemarahan adalah perilakunya. Hal ini mutlak agar anak  tidak merasa dibenci dan tetap disayang.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Jangan ambil keputusan ketika marah&lt;br /&gt;Sebagai sebuah emosi seperti halnya cinta, kemarahan seringkali membutakan. Membuat keputusan ketika marah sedang memuncak seringkali  tidak tepat dan hanya akan menyisakan banyak penyesalan. Karenanya, keputusan rendaknya diambil ketika hati sudah tenang dan kemarahan telah mereda. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;4. Jangan marah kalau belum bisa menguasai diri&lt;br /&gt;Kemarahan memang perlu dilampiaskan, tetapi jika tidak dikendalikan akan kebablasan. Menguasai diri ketika marah perlu diusahakan, tetapi menyalurkannya pada pelampisan alternatif seperti yang direkomendasikan para psikolog akan jauh lebih baik. Belajar, dan belajar adalah ungkapan yang pas untuk upaya mengendalikan marah. Dalam kenyataanya, seringkali kita mendapatkan para pendidik kita yang memarahi kita tetapi tetap membuat kita nyaman dan berterima kasih kepada mereka di belakang hari. Ada semangat keikhlasan dalam kemarahan tersebut. Tidak ada dendam. Kita menjadi tersadarkan akan kesalahan kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marah diberikan Allah untuk menjaga eksistensi manusia sendiri.  Hanya saja,  emosi ini dianggap sebagai keburukan karena biasanya lepas kendali. Menyikapi perilaku para anak-anak, para pendidik sudah selayaknya belajar mengendalikan amarahnya agar tidak kebablasan dan kontra produktif dengan pendidikan yang ditunaikannya. Tidak mudah memang, tetapi itulah tantangannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah luar biasanya, andai suatu saat akan terdapat sebuah keluarga atau sekolah yang menghindari kekerasan termasuk kemarahan dalam mendidik dan membangun hubungan. Pendidikan dijalankan dengan prinsip kesadaran dan saling pengertian. Kesalahan-kesalahan  diperlakukan dengan arif, dan mendapatkan teguran dengan tanpa mengorbankan harga diri. Harapan ini memang sangat ideal tetapi bukan sesuatu yang mustahil. Semoga berbekal dengan kesabaran kita dalam menjalani agama dan kewajibannya, Allah memberikan kita kemampuan untuk mengendalikan marah kita. Amin ya rabbal a’amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/382337659859891339-5967526304124952227?l=nuruliman1972.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/feeds/5967526304124952227/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=382337659859891339&amp;postID=5967526304124952227&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/5967526304124952227'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/5967526304124952227'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/2009/10/mendidik-tanpa-marah.html' title='Mendidik Tanpa Marah'/><author><name>nuruliman1972</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07855832763775638687</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-382337659859891339.post-2109323890819039628</id><published>2009-10-02T16:37:00.000-07:00</published><updated>2009-10-02T16:45:42.527-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Religi'/><title type='text'>Lima Menit</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_PHfVnL1Tq0A/SsaQDZcvaLI/AAAAAAAAADA/laBkQZDE0_M/s1600-h/AG00040_.GIF"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 128px; height: 142px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_PHfVnL1Tq0A/SsaQDZcvaLI/AAAAAAAAADA/laBkQZDE0_M/s320/AG00040_.GIF" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5388152392240818354" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;4 Oktober 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LIMA MENIT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Lima menit saja”, demikian ungkapan yang  sering kali dipergunakan  sebagai pengganti permintaan untuk menunggu untuk waktu yang sebentar. Jika menit adalah satuan waktu yang terdiri dari enam puluh detik, maka lima menit merupakan kumpulan dari lima dikalikan dengan enam puluh detik, atau sama dengan tiga ratus detik. Sebuah waktu yang tidak sebentar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pengantar buku saku Jibal hasanat bi daqaiq ma’udat, Muhammad Yunus  bin Abd al-Sattar menegaskan  bahwa diantara rahmat Allah adalah dilipatkannya pahala sebuah kebajikan hingga sepuluh kali dan dosa sebuah keburukan tetap dengan jumlah keburukan itu sendiri (QS. Al-An’am: 160). Allah juga telah menjadikan amal-amal yang mudah, sederhana, dan nampah remeh temeh tetapi  memiliki potensi pahala yang berlipat sehingga tidak dapat diketahui jumlah keutamaannya. Amal-amal tersebut dapat dilakukan dalam waktu yang pendek, sebentar, alias tidak lama.  Hanya saja, ternyata tetap saja  banyak manusia yang memenuhi masuk neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai jumlah waktu yang sebenarnya tidak sedikit, dalam lima menit banyak pekerjaan kebajikan dapat diselesaikan.  Berdzikir secara rutin dan kontinyu selama lima menit ba’da shalat setiap fardhu misalnya, dapat menentramkan hati dan pikiran dikarenakan kehadiran Allah dan me Nabi sebagaimana diriwayatkan al-Bukhari menyebut subhanallah al-’adzim dan subhanallah wa bihamdih sebagai dua kalimat yang berat timbangannya dan dicintai Tuhan yang Rahman, tetapi sangat ringan diucapkan karena hanya menyita sedikit waktu dan energi kita. Dalam riwayat al-Tirmidzi, nabi juga menyebut kalimat takbir sebagai sesuatu yang memenuhi separuh timbangan, dan kalimat alhamdulillah memenuhi setengah yang lain, hal mana keduanya dapat dilakukan berkali-kali dalam waktu lima menit saja atau kurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadarus al-Qur’an selama lima menit sedikitnya atau lebih secara rutin setiap hari juga mengundang rahmat Allah dan menentramkan hati, karena al-Qur’an memang merupakan  ”hidangan” Allah untuk kaum mu’minin, penawar bagi hati mereka, dan penghibur (busyra) bagi mereka. Lima menit  tadarus al-Qur’an atau lebih setiap harinya juga membantu seseorang untuk memahami petuntuk-petunjuk Allah dalam al-Qur’an yang pada gilirannya mengantarkan pada keselamatan dunia akhirat karena kemampuannya memahami dan mengaplikasikan hidayah dalam hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tradisi kuliah tujuh menit (kultum) pada malam-malam shalat Tarawih bulan Ramadhan  dan kuliah subuh digagas untuk menambah pengetahuan dan wawasan keagamaan  para pendengar disamping dapat menggugah kesadara mereka. Manajemen penyelenggaraan kegiatan ini dengan baik baik dari aspek materi dan pemilihan muballigh, akan menunjang  kesuksesan kajian agama yang memakan hanya sedikit menit tersebut.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam menjalin keakraban dan mewujudkan suasana penuh kasih sayang di dalam sebuah rumah tangga, lima menit sudah cukup. Kehidupan pagi hari yang diawali dengan keceriaan canda tawa, humor, bermain-main, atau ”kerja bhakti” membersihkan rumah tangga akan membuat keseluruhan hari menjadi penuh arti. Semua menjadi lebih bersemangat. Perhatian-perhatian kecil selama lima menit oleh orang tua terhadap anak-anak di sore hari tentang belajar dan kegiatan mereka seharian, akan berdampak besar pada adanya ikatan emosional hubungan orang tua-anak menjadi lebih kokoh dan terbuka. Perhatian ini akan menimbulkan kepercayaan anak-anak pada orang tua sehingga mereka tanpa segan mau berbagi informasi atau ”curhat” dan lain sebagainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menggairahkan suasana pembelajaran di kelas, para guru dapat mengunakan ice breaker berupa permainan, games, teka-teki, lagu atau gubahannya, dan sebagainya. Penggunaan media atau alat peraga yang menunjang kesuksesan kontruksi bangunan keilmuan juga hanya membutuhkan waktu lima menit atau lebih sedikit. Demikian pula penyampaian motivasi, penenungan, dan pesan moral yang butuh sedikit waktu pada akhir pembelajaran juga menjadikannya happy ending sekaligus menjadikan ”tatap muka” tersebut penuh kesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah undangan pertemuan, usaha seseorang untuk hadir tepat waktu atau  lebih awal lima menit sebelum acara dimulai menunjukkan penghormatannya terhadap undangan, kegiatan di dalamnya, dan penghargaan terhadap nilai waktu. Jika sudah membudaya, maka kebiasan tepat waktu  akan membuat setiap acara berjalan lancar, produktif, dan sesuai harapan. Tidak ada ketergesa-gesaan.   Sedangkan keterlambatan dalam menghadiri acara biasanya bersumber dari cara pandang  yang meremehkan waktu. Yang terpenting adalah kehadiran di tempat, sementara tepat waktu tidak lagi dipersoalkan, apalagi kontribusi terhadap acara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu pada dasarnya adalah hidup dan bagian dari kehidupan sendiri. Hasan al-Basri menyebut umur sebagai ayyam majmu’ah (kumpulan dari hari-hari). Jika ia tidak dipentingkan meski hanya sedikit darinya, maka berarti ia tidak mementingkan kehidupan itu sendiri. Hal ini akan berdampak pada tidak  maksimalnya produktifitas diri dan kuantitas amal shalih yang dapat dikerjakan. Menghemat waktu dapat diartikan sebagai upaya ngopeni setiap detik dan menit agar bermanfaat minimal untuk diri sendiri, dan kalau dapat diusahakan agar bermanfaat juga bagi orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima menit  merupakan sedikit waktu tetapi juga sangat dapat dianggap banyak karena terdiri dari ratusan detik. Banyak pekerjaan dan amal dapat diselesaikan dalam lima menit. Akumulasi dari pekerjaan pekerjaan kecil-kecil tersebut dapat berubah menjadi prestasi dan amal yang besar yang berharga di hadapan Allah dan dihormati oleh banyak manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan remehkan hal-hal kecil. Orang-orang besar melakukan hal-hal kecil secara terus menerus, kontinyu, dan sungguh-sungguh. Hingga suatu saat, hal-hal kecil itu mengantarkan mereka menjadi orang-orang besar. Rasulullah telah bersabada bahwa sebaik-baik perbuatan adalah yang paling dawam dilakukan meskipun kecil (khair al-a’mal  adwamuha wain qalla). Disamping itu lautan air juga terbentuk dari tetes demi tetes air hujan yang kemudian mengalir menjadi sungai yang menuju lautan (qutratan fa qutratan tashir bahran). Bukankah begitu?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/382337659859891339-2109323890819039628?l=nuruliman1972.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/feeds/2109323890819039628/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=382337659859891339&amp;postID=2109323890819039628&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/2109323890819039628'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/2109323890819039628'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/2009/10/lima-menit.html' title='Lima Menit'/><author><name>nuruliman1972</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07855832763775638687</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_PHfVnL1Tq0A/SsaQDZcvaLI/AAAAAAAAADA/laBkQZDE0_M/s72-c/AG00040_.GIF' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-382337659859891339.post-8907189558642271397</id><published>2009-09-24T09:24:00.000-07:00</published><updated>2009-09-24T09:34:49.543-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Religi'/><title type='text'>Esensi Silaturrahim</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_PHfVnL1Tq0A/SrufHhpWNZI/AAAAAAAAAC4/VodU4gzfHdI/s1600-h/J0234774.GIF"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 118px; height: 124px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_PHfVnL1Tq0A/SrufHhpWNZI/AAAAAAAAAC4/VodU4gzfHdI/s320/J0234774.GIF" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5385072731091252626" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25 September 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ESENSI SILATURRAHIM: KAMA TARA TURA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sebuah kesempatan, dua orang bocah dari Mesir bermain di sebuah piramid lalu seorang dari keduanya menaiki piramid tersebut. Ketika berada di ketinggian, ia berteriak kepada teman yang di bawah, “bagaimana engkau melihatku?”.  Sang teman menjawah “engkau terlihat keci dari sini”. Si pemanjat lalu menjawab “kama tara tura” atau “seperti engkau melihatku kecil, maka engkau juga terlihat kecil”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita tersebut memberikan pengertian bahwa cara pandang kedua bocah, sudut pandang, dan letak lokasi  yang digunakan turut berperan menentukan hasil akhir pandangan.   Karenanya muncul ungkapan Kama tara tura yang menunjukkan hasil sama dalam memandang.&lt;br /&gt;Dalam menjalin hubungan  kalimat  kama tara tura dapat dianggap sebuah metamorfosa tentang penggunaan sebuah sudut pandang dalam melihat sesuatu yang kemudian mengakibatkan  hasil yang sama. Hubungan silaturrahim dalam bentuk kekerabatan, persaudaraan, persahabatan, dan pertemanan mengenal pula prinsip hubungan timbal balik sebagaimana tercermin dari kama tara tura. Hal ini berlaku secara general meski secara kasuistis, terdapat juga yang menyalahinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ungkapan lain yang senada dan juga sering dipakai untuk mengungkapkan kiat menjalin hubungan sosial adalah ’amil al-nas kama tuhibb ‘an tu’amal bih atau “perlakukan orang lain seperti anda ingin diperlakukan”.  Kiat tersebut bersumber dari hadith sahih berasal sahabat Anas bin Malik yang berbunyi la yu’min ahadukum hatta yuhib linafsih ma yuhibb li akhih. Hadith yang diriwayatkan oleh al-Bukhari ini menegaskan bahwa kesempurnaan iman seseorang ditentukan oleh kecintaannya terhadap saudaranya yang lain. Kebaikan yang dikehendaki untuk saudaranya muslim adalah kebaikan yang sama dikehendaki untuk dirinya sendiri. Keburukan yang ingin dihindari hendaknya juga diusahakan untuk dihindarkan dari saudara-saudaranya yang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara kiat-kiat yang dapat dipergunakan untuk merealisasikan prinsip kama tara tura adalah:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;1. Berpikiran Positif dan ber-khusnudzan&lt;br /&gt;Pikiran adalah magnet yang  energi daya tariknya berperan mengarahkan ucapan, sikap, dan perilaku seseorang. Karenanya selayaknya seseorang menjaga pikiran agar tetap positif dan menghindari pikiran negatif, agar dampak yang munculpun selalu baik dan berdayaguna. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penemuan kontemporer tentang Law of attraction (LoA) mengajarkan kepada kita bahwa pikiran memantulkan kembali kepada kita apa-apa yang kita pikirkan. Apa yang sedang dikonstruk dan diyakini oleh pikiran kita akan menciptakan kehidupannya sendiri dalam bentuk aksi nyata baik sikap maupun perbuatan.  Oleh sebab itu, pikiran seseorang hendaknya dapat dikendalikan dan diarahkan agar tetap positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hubungan silaturrahim pikiran positif atau husnu dzann terhadap partner menentukan kelanjutan dan keberlangsungan nya. Sadar atau tidak sikap negatif kita terhadap orang lain akan menyeret kita untuk memperlakukannya dengan minor, negatif, atau bahkan tidak baik. Sementara jika pikiran positif yang dominan, maka perlakuan kita menjadi penuh pengertian, toleransi, dan baik kepada saudara kita. Itulah sebabnya dalam peribahasa arab ditegaskan bahwa pandangan yang positif (’ain al-ridho) akan membawa pemiliknya melupakan kesalahan mitra silaturrahimnya, sementara pandangan permusuhan (’ain al-sukht) hanya akan memandang kesalahan dan kekurangan, sekaligus melupakan kebaikan-kebaikan yang sebenarnya jauh lebih banyak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Berbuat baiklah &lt;br /&gt;Silaturrahmi merupakan hubungan kekerabatan atau pertemanan yang ada. Diantara yang dapat dipergunakan untuk meneguhkan ikatan ini adalah dengan berbagi dan memberikan bantuan meski kepada keluarga yang sedang ”bad mood” dengan kita. Rasulullah dalam hadith yang diriwayatkan Ahmad menyebut tiga hal yang merupakan afdhal al-fadhail  (kebaikan paling utama) berupa usaha menyambung hubungan dengan orang yang memutuskan, memberi kepada orang yang tidak mau memberi kita, dan memaafkan orang yang telah mendzalimi kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya semangat untuk silaturrahim hendaknya adalah keinginan untuk berbagi, membantu, meringankan beban keluarga kita, dan meningkatkan manfaat diri. Bukankan Rasulullah mengingatkan kita untuk mulai sedekah dengan keluarga kita, ”ibda’ biman ta’uul”. Dalam hadith al-Nasai Rasul juga menyebut bantuan kepada saudara dekat berdimensi dua kebaikan sekaligus, sedekah dan upaya menyambung hubungan kekerabatan. Allah dalam hadith juga berjanji untuk melakukan banyak hal untuk kita selama mau melakukan hal yang sama. Dia akan  membantu kita selama kita mau membantu orang lain, memudahkan urusan kita selama kita mempermudah orang lain, dan menutupi aib kita selama kita menjaga aib orang lain.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;3. Tunaikan kewajiban &lt;br /&gt;Sebuah hubungan persaudaraan dalam pandangan Islam menuntut  pelaksanaan kewajiban-kewajiban tertentu.  Kewajiban-kewajiban dalam silaturrahim seorang muslim  merupakan hak-hak bagi yang lainnya. Rasul menyebut jumlah lima kewajiban pada sebuah kesempatan dan enam pada kesempatan lain. Diantara kewajiban tersebut menurut Rasulullah adalah : mengucap salam jika bertemu, menjawab jika dipanggil, memberi nasehat jika diminta, menjawab do’a orang yang bersin (tasmit al-’atis), menjenguk yang sakit, dan mengantarkan jenazah yang meninggal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya menunaikan kewajiban dalam hubungan silaturrahim harus didahulukan, sementara menuntut hak biasanya terjadi secara otomatis jika kewajiban telah dipenuhi. Sebaliknya hendaknya dihindari untuk menuntut hak terdahulu sebelum kewajiban dilakukan. Jika ini yang terjadi, maka hubungan silaturrahim akan menjadi hambar dan berubah menjadi ajang balas membalas. Secara tulus ikhlas, tunaikan kewajiban-kewajiban tersebut, insha Allah hak-hak kita akan terpenuhi. Jika tidakpun, maka balasan Allah berupa pahala surganya akan tetap menanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Hormati yang tua, sayangi yang muda&lt;br /&gt;Setiap orang selalu mengharapkan perlakuan baik. Sikap atau respon balik yang ditunjukkanpun partner silaturrahim kita sejatinya merupakan  cermin yang berharga. Al-mu’min mir’at akhih al-mu’min. Sebuah cermin tidak pernah berbohong. Bila orang lain memperlakukan diri kita dengan baik, berarti diri kita telah memperlakukannya dengan baik. Jika orang lain  mengenakan  keburukan, maka sangat mungkin kita juga tidak berbuat baik kepadanya. &lt;br /&gt;Karenanya, jika ingin dihormati maka hormatilah orang lain terlebih dahulu. Jika ingin disayang, berikanlah kasih sayang terlebih dulu.  Kepada yang tua kita hormat, dan kepada yang muda kita menyayangi. Akhlak terpuji ini disebut Nabi sebagai perilaku seorang muslim, ”laisa minna man la yarham shaghirana wala ya’rif syaraf kabirina”, yang berarti tidak termasuk golongan kaum muslimin, siapa yang yang tidak menyayangi yang lebih muda dan tidak menghormati yang lebih tua.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan silaturrahim dan upaya menjaga keutuhannya adalah bentuk kebajikan yang diperintahkan oleh Islam (QS 4:1), sebaliknya memutuskannya adalah dosa besar yang pelakunya dapat ditolak masuk surga (HR. Muslim). Dibutuhkan upaya gigih dan perjuangan sungguh-sungguh untuk dapat melakukannya. Prinsip kama tara tura mengajarkan bagaimana kita dapat melakukan pelestarian silaturrahim tersebut. Mudah-mudahkan Allah mengaruniai kita banyak saurada, kerabat, dan teman, sehingga kita memiliki kesempatan untuk berbagi, beramal shalih, disamping menjadikan diri kita semakin ”kuat” karena tidak merasa sendirian dalam kehidupan duni ini. Semoga.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/382337659859891339-8907189558642271397?l=nuruliman1972.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/feeds/8907189558642271397/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=382337659859891339&amp;postID=8907189558642271397&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/8907189558642271397'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/8907189558642271397'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/2009/09/esensi-silaturrahmi.html' title='Esensi Silaturrahim'/><author><name>nuruliman1972</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07855832763775638687</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_PHfVnL1Tq0A/SrufHhpWNZI/AAAAAAAAAC4/VodU4gzfHdI/s72-c/J0234774.GIF' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-382337659859891339.post-8017537063696199613</id><published>2009-09-19T09:36:00.000-07:00</published><updated>2009-09-19T09:38:54.088-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='khutbah'/><title type='text'>Khutbah Idul Fithri 1430 H</title><content type='html'>IDUL FITHRI: KEMENANGAN MILIK SIAPA ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الله أكبر x 7   و لله الحمد&lt;br /&gt;الله أكبر كبيرا و الحمد لله كثيرا و سبحان الله بكرة و أصيلا.&lt;br /&gt;الحمد لله نحمده و نستعينه و نستهديه  و نستغفره و نعوذ به  من شرور أنفسنا و سيئات أعمالنا ، من يهديه الله فلا مضل له ومن يضلله فلن تجد له و ليا مرشدا، أشهد أن لا إله  إلا  الله  وحدوه لا شريك له، خصنا بخير كتاب أنزل، و أكرمنا بخير نبي أرسل، و أتم علينا النعمة بأعظم منهاج شرع. و أشهد محمدا عبد الله و رسوله، أدي الأمانة و بلغ الرسالة و نصح للأمة علمها من جهالة و هداها من ضلالة فأخرجها من الظلمات إلي النور بإذن ربهم. اللهم  فصل و سلم و بارك علي هذا الرسول الكريم محمد الأمين و ارض اللهم عن أله و أصحابه. &lt;br /&gt;أما بعد، فيا عباد الله  اوصي نفسي و إياكم بتقوي الله فقد فاز المتقون.  قال الله تعالي : وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا(7)فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا(8)قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا(9)وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا(10) ألأية&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Akbar 7 X wa Lillah al-Hamd&lt;br /&gt;Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah yang maha besar, sampailah juga kita di hari yang agung ini: hari kemenangan, hari kelulusan, hari penerimaan hadiah dan hari kita kembali berbuka setelah sebulan penuh kita berpuasa. Rahmat dan salam senantiasa kita haturkan ke haribaan baginda nabi besar, Muhammad SAW, keluarga, para sahabat dan para pengikutnya hingga hari akhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jama’ah Shalat Idul Fithri Yang berbahagia,&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam Al-Qur’an, puasa Ramadhan disebut sebagai  kewajiban bagi orang yang beriman agar mereka menjadi bertaqwa. Ritual puasa ini dikehendaki Allah terjadi berulang-ulang setiap tahunnya agar proses ini berjalan terus dan berlanjut. Mukmin bertakwa adalah sebuah prestasi idaman, karena merupakan sebuah entitas yang sarat dengan nilai kebaikan. Diantara ciri-ciri orang yang bertaqwa dalam al-Qur’an adalah tersebut adalah:&lt;br /&gt;1. Beriman kepada Allah, Rasulnya, hari Akhir, dan hal-hal yang Ghaib.&lt;br /&gt;2. Memberikan harta yang dicintainya untuk yatim, kerabat, fakir, miskin, dan yang membutuhkan.&lt;br /&gt;3. Memerdekakan budak&lt;br /&gt;4. Mendirikan shalat&lt;br /&gt;5. Menunaikan zakat&lt;br /&gt;6. Menepati janji&lt;br /&gt;7. Shabar dalam keadaan lapang dan susah&lt;br /&gt;8. Mampu menahan marah&lt;br /&gt;9. Suka memaafkan&lt;br /&gt;10. Suka berbuat baik (ihsan)&lt;br /&gt;11. Segera bertaubat dan beristighfar jika berbuat dosa atau menganiaya diri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadirin, berapa kalikah kita telah berpuasa Ramadhan? Sudahkan kita berani mengaku sebagai seorang bertaqwa yang memiliki kesebelas  karakter tersebut? Atau seberapa jauhkan penguasaan kita terhadap ciri-ciri tersebut? Saya yakin, bahwa kesemua kita akan menjawab bahwa kita masih jauh dari harapan untuk berani berkata dan mengaku sudah bertakwa. Sebaliknya kita baru dalam proses dan belajar untuk menjadi bertaqwa. Bulan Ramadhan dan kewajiban berpuasa  adalah anugrah terbesar Allah bagi kita untuk mewujudkan keinginan mulia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ma’asyiral Muslimin, yarhamukullah.&lt;br /&gt;Kita beribadah pada prinsipnya untuk kebaikan kita. Tidak ada kebutuhan Allah terhadap ibadah kita seperti kebergantungan kita pada kepada-Nya dan kebutuhan kita terhadap ritual-ritual ibadah tersebut untuk kebaikan kita sendiri. Kebutuhan kita kepada puasa disebabkan besarnya aspek-aspek nilai dan pembelajaran di dalamnya. Puasa mengajarkan kepada kita pengendalian diri, penguasaan emosi, penundukan nafsu/syahwat, kejujuran, kesederhanaan, kepedulian sosial, serta syukur terhadap nikmat Allah.  Karenanya, nabi Muhammad SAW lebih memilih untuk berpuasa daripada ”laku kenyang” setiap harinya.&lt;br /&gt;عَرَضَ عَلَيَّ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ لِيَجْعَلَ لِي بَطْحَاءَ مَكَّةَ ذَهَبًا فَقُلْتُ لَا يَا رَبِّ وَلَكِنْ أَشْبَعُ يَوْمًا وَأَجُوعُ يَوْمًا أَوْ نَحْوَ ذَلِكَ فَإِذَا جُعْتُ تَضَرَّعْتُ إِلَيْكَ وَذَكَرْتُكَ وَإِذَا شَبِعْتُ حَمِدْتُكَ وَشَكَرْتُكَ (أحمد\21166) &lt;br /&gt;"Tuhanku menawariku untuk menjadikan  seluruh bukit Makkah menjadi emas. Aku jawab : Tidak wahai Tuhanku, aku tetap kenyang sehari dan lapar sehari kemudian atau seperti itu. Jika lapar, aku akan merendah kepada-Mu dan mengingat-Mu, dan jika kenyang aku akan memuji dan besyukur kepada-Mu" &lt;br /&gt;Pilihan yang sama juga dilakukan oleh Nabi Yusuf AS. Ketika menjabat Menteri Pangan dan Logistik saat itu, Yusuf tetap memilih berpuasa, lalu berkata :&lt;br /&gt;إني أخاف أن أشبع، فأنسى الجائع&lt;br /&gt;Aku takut jika terus kekenyangan, maka aku menjadi lupa terhadap orang yang kelaparan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya tidak semua orang menyadari pentingnya berpuasa  bagi kehidupan beragama dan sosialnya. Banyak orang yang mengaku beriman tetapi tidak mau berpuasa dengan berbagai alasan. Padahal puasa Ramadhan adalah salah satu rukun Islam yang wajib dilakukan. Tidak ada alasan untuk meninggalkan puasa bagi seorang muslim kecuali jika ia sedang sakit, atau bepergian, atau wanita hamil, atau menyusui. Padahal membatalkan atau meninggalkan puasa satu hari saja tanpa alasan yang jelas, hal tersebut tidak dapat digantikan dengan puasa satu tahun penuh, apalagi jika meninggalkan  puasa Ramadhan selama sebulan. Rasulullah bersabda:&lt;br /&gt;مَنْ أَفْطَرَ يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ فِي غَيْرِ رُخْصَةٍ رَخَّصَهَا اللَّهُ لَهُ لَمْ يَقْضِ عَنْهُ صِيَامُ الدَّهْرِ (رواه أبو داود) &lt;br /&gt;Kalau berpuasa saja tidak mau, maka bagaimana mungkin seorang yang mengaku muslim  dapat menjadi pribadi bertakwa seperti yang disebut al-Qur’an la’allakum tattaqun. Seorang yang berpuasa saja belum ada jaminan  dapat menjadi bertaqwa apalagi yang tidak berpuasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sidang Idul Fithri yang dirahmati Allah.&lt;br /&gt;Diantara hambatan tidak berfungsinya puasa  sebagai sarana pembelajaran taqwa adalah bahwa puasa kebanyakan orang masih belum beranjak dari pada puasa model lahir menuju puasa batin. Al-Ghazali, menyebutnya sebagai puasa kaum awam, berupa menjaga perut dan kemaluan dari syahwat dan dari hal-hal yang membatalkan. Sedangkan puasa khusus  berupa pengendalian seluruh anggota tubuh dari perbuatan dosa atau bahkan puasa khusus al-khusus berupa mempuasakan hati tentang keduniaan belum banyak dilakukan. &lt;br /&gt;Mempuasakan seluruh anggota tubuh secara bersamaan dengan puasanya perut memang bukan perkara mudah. Apalagi mempuasakan hati, tentu lebih berat lagi. Dibutuhkan  kemauan yang kuat, bekal ilmu agama yang cukup, serta konsentrasi  luar biasa. Tetapi yang perlu dicacat, bahwa Allah tidak hanya menghendaki  puasa kita berupa puasa perut  dan syahwat saja. Rasulullah bersabda: &lt;br /&gt;مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ (رواه البخاري)&lt;br /&gt;Barang siapa yang tidak dapat meninggalkan perkataan dan perbuatan bohong, maka Allah tidak peduli terhadap puasa yang dilakukan&lt;br /&gt;وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ يَوْمَئِذٍ وَلَا يَسْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ (رواه مسلم)&lt;br /&gt;Puasa adalah perisai. Maka jika seseorang lagi berpuasa, maka janganlah ia berkata kotor, marah-marah, dan jika dihina oleh orang lain atau dimusuhi, hendaklah berkata bahwa ia sedang berpuasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua hadith tersebut memberikan pengertian bahwa dalam berpuasa kita dilarang untuk berbohong, menipu, berkata  kotor, marah-marah, dan tetap menjaga emosi meski mendapat perlakuan yang tidak baik.  Jika dapat  mengendalikan diri kita dari perbuatan-perbuatan tersebut, maka puasa kita dapat dianggap berhasil, tetapi jika tidak maka kita menjadi orang yang gagal dalam berpuasa, karena kita hanya mempuasakan mulut dan syahwat kita, sementara perbuatan dan emosi kita lepas, tanpa kendali. Pahala puasa kita juga dapat rusak dan terhapus disebabkan perbuatan kita yang bertentangan dengan puasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para hadirin dan hadirat yang berbahagia,&lt;br /&gt;Puasa dari makan, minum, dan hubungan seksual di siang hari hanya merupakan simbol dari kemampuan kita untuk menahan diri dari syahwat perut dan keinginan seksual. Hakekat puasa itu sendiri sesungguhnya adalah menahan diri dari menuruti  keinginan yang tidak diridhai Allah SWT. &lt;br /&gt;Gerakan-gerakan  shalat seperti ruku’ dan sujud adalah simbol ketaatan kita kepada Allah  SWT.  Makna hakiki dari shalat adalah loyalitas mutlak kepada Allah  baik di dalam maupun luar shalat. Maka orang yang shalat semestinya taat pula kepada Allah SWT di luar shalat.&lt;br /&gt;Zakat adalah simbol penyucian diri dari sifat-sifat tercela seperti bakhil dan cinta harta, yang diformalkan dengan mengeluarkan sebagian harta yang kita kuasai. Zakat mengajarkan manusia untuk dermawan dan tidak mencintai harta secara membabi buta. &lt;br /&gt;Sementara itu ibadah haji adalah simbol ketaatan pada Allah SWT baik fisik maupun harta  yang diformalkan dengan melakukan perjalanan ke baitullah, yang memerlukan bekal harta dan kekuatan fisik. Sedangkan esensi haji adalah totalitas kepasrahan dan ketaatan manusia kepada Allah SWT dalam segala aspek hidup. &lt;br /&gt;Pertanyaan yang menarik untuk disampaikan adalah, mengapa kita mengamalkan Islam sebatas formalitas saja? Jawaban yang sering dikemukakan, adalah karena pendidikan agama yang kita  terapkan selama ini hanya pendidikan formal. Pendidikan formal adalah pendidikan yang mengedepankan kecerdasan intelektual dan tidak mengintegerasikannya dengan pendidikan moral spiritual. Pendidikan agama juga hanya terkesan dibebankan pada sekolah, lembaga pendidikan, maupun Taman Pendidikan Al-Qur’an. Sementara itu tanggung jawab keluarga dan masyarakat seringkali terlupakan, padahal mayoritas anak-anak menghabiskan waktu di tengah-tengah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,&lt;br /&gt;Ummat Islam di Indonesia adalah jumlah  terbesar. Dari 230 juta penduduk kita mendominasi hampir 90 persennya. Sayangnya meski mayoritas kita merupakan minoritas dalam prestasi, kekayaan, dan amal shalih. Banyak sekali simpul-simbul kekuasaan dan aset  negara justru berada di tangan segelintir orang yang non muslim atau bahkan non indonesia. Kenyataaan ini cukup mengenaskan.&lt;br /&gt;Selain itu kita patut nelangsa melihat berbagai peristiwa yang menunjukkan rendahnya tingkat moral, pengendalian diri dan emosi, kejujuran, dan etos kerja  generasi kita.  Budaya korupsi yang melibatkan kalangan pejabat eksekutif maupun legislatif begitu parah, bahkan juga penegak hukum seperti polisi, jaksa, maupun Komisi Pemberantasan Korupsi-pun terlibat.  Yang lebih mencengangkan lagi adalah perilaku kecurangan dalam Ujian Nasional 2009 dengan modus pembocoran soal maupun jawaban, yang melibatkan oknum murid sekolah, guru, kepala sekolah, dan bahkan Dinas Pendidikan yang terjadi di banyak propinsi di negeri ini. Sebagai sangsi, Depdiknas pun menggelar Ujian Ulang di banyak sekolah tersebut. &lt;br /&gt;Hadirin, jika diibaratkan sebuah sungai moral, maka laku korupsi pejabat-pejabat membuat kekeruhan di hilirnya, tetapi laku pencurangan ujian nasional terjadi di hulu sungai atau bahkan mata airnya.  Mari kita bayangkan dampak besar kecurangan yang melibatkan anak didik  tersebut di kemudian hari. Kecurangan itu mengajarkan kepada mereka bahwa untuk sukses tidak perlu belajar, tidak perlu bersungguh-sungguh, tidak perlu jujur, tetapi lakukan saja sedikit trik dan upaya mencari bantuan. Generasi kita menjadi tidak mengenal kerja keras dan sebaliknya lebih senang mencari jalan pintas. Kecurangan pada UN ini meruntuhkan sendi-sendi pendidikan moral di sekolah  yang telah dirintis sedikit demi sedikit selama bertahun-tahun. Sungguh sebuah kebodohan yang melibatkan penyelenggara pendidikan. Prinsip &lt;br /&gt;Kesemua hal tersebut menyisakan pertanyaan, jika para pelaku tersebut adalah kaum muslimin, maka dimanakah letak agama mereka ketika melakoni dosa-dosa dan kekonyolan tersebut? Benarkah  ritual-ritual seperti shalat, puasa dan semisalnya tidak berbekas dalam kehidupan sehari-hari mereka? Ataukah ritual-ritual itu telah dilaksanakan secara formalitas saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jama’ah Ied yang dimulyakan Allah,&lt;br /&gt;Realita ini selayaknya menggugah kesadaran kita sebagai  muslim sekaligus menyisakan tanda tanya besar. Benarkan praktek beragama kita  seperti yang diharapkan Islam  sehingga bekas dan pengaruhnya tidak banyak dalam kehidupan ini. Sudahkah amaliah ibadah kita seperti atau mendekati apa yang dicontohkan Nabi dan Para sahabatnya.  &lt;br /&gt;Padahal sejarah telah menunjukkan bahwa semakin kaum muslimin berpegang dan mengamalkan agama secara baik, maka kemakmuran dan kesejahteraan hidup dapat dinikmati kaum muslimin. Selama hampir 7 abad lamanya umat Islam mengalamai masa-masa kejayaan. Hal ini senada dengan firman  Allah :&lt;br /&gt;وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ(55)&lt;br /&gt;Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. (QS. Al-Nur: 55)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadirin,&lt;br /&gt;Idul Fithri, saat dimana kejernihan hati dan pikiran mendominasi diri kita, marilah kita kembali  melihat secara teliti dan mendalam bagaimanakah derajat ketaqwaan kita. Kita evaluasi kembali pelaksanaan ajaran-ajaran Islam, sudahkan kita menjiwai dan maksimal menunaikannnya. Marilah dengan semangat Ramadhan yang baru usai, kita belajar dan kaji kembali ajaran agama kita dengan lebih seksama.  Hanyalah taqwa dalam pengertian yang sebenar-benarnya yang dapat menyelamatkan kita dalam kehidupan dunia dan akhirat kita. &lt;br /&gt;Mudah-mudahan Allah SWT memberikan  kekuatan  kepada kita untuk dapat berusaha menjadi manusia-manusia bertaqwa. Amin. Marilah kita sama-sama berdo’a dan memohon kepada Allah SWT.&lt;br /&gt;جعلنا الله و إياكم من الفايزين الأمنين&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/382337659859891339-8017537063696199613?l=nuruliman1972.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/feeds/8017537063696199613/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=382337659859891339&amp;postID=8017537063696199613&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/8017537063696199613'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/8017537063696199613'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/2009/09/khutbah-idul-fithri-1430-h.html' title='Khutbah Idul Fithri 1430 H'/><author><name>nuruliman1972</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07855832763775638687</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-382337659859891339.post-7123965797967109809</id><published>2009-09-04T18:01:00.000-07:00</published><updated>2009-09-04T18:21:28.484-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Religi'/><title type='text'>Menjadi Muslim "Seratus Ribu"</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_PHfVnL1Tq0A/SqG5g3nkrJI/AAAAAAAAACw/T3ljyz6ZJGw/s1600-h/11_pr_berdoa.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 231px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_PHfVnL1Tq0A/SqG5g3nkrJI/AAAAAAAAACw/T3ljyz6ZJGw/s320/11_pr_berdoa.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5377783404393966738" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;6 September 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENJADI MUSLIM “SERATUS RIBU”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesempatan mengawali ceramah Ramadhannya, seorang ustadz menunjukkan dua buah kertas, satu berupa selembar uang sepuluh ribuan dan selembar kertas putih. Selanjutnya ia menanyakan tentang apa sikap para hadirin terhadap dua kertas tadi, jika terjatuh. Mana diantara keduanya yang lebih menarik untuk dipungut dan mengapa demikian.  Hadirin menjawab bahwa uang lebih menarik karena  nilai yang dimilikinya. Sang ustadz menambahkan  bagaimana jika yang jatuh itu uang dua puluh ribuan, lima puluh ribuan, atau bahkan seratus ribuan. Para hadirin menyahut bahwa semakin besar nominal rupiahnya, maka maka hal tersebut semakin menarik perhatian dikarenakan semakin  besar nilai yang dikandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Ustadz lalu menjelaskan bahwa  pada prinsipnya uang  dan kertas itu  berasal dari  dari bahan yang sama tetapi memiliki nilai yang berbeda. Seorang muslim dan seorang kafir juga berasal dari penciptaan yang sama, ciptaan Dzat Yang Maha Pencipta, dan sama-nama berasal dari tanah, tetapi dua sosok tersebut memiliki ”nilai” yang berbeda di hadapan Allah. Jika kertas dan uang menjadi berbeda nilai dikarenakan perlakuan yang berbeda oleh percetakan yang menggarapnya, maka perbedaan nilai muslim dan kafir  disebabkan keimanan dan amal shaleh yang dilakukan seorang muslim, hal mana keduanya berada dalam ”kekuasaan” dan kemampuan dirinya, tentunya tanpa paksaan. Nilai diri seorang muslim yang satu  dengan yang lain lanjut sang ustadz, juga berbeda seperti perbedaan nilai mata uang rupiah  yang merentang dari lima puluh perak hingga seratus ribu ribu. Semakin mantap keimanan dan  semakin banyak amal shaleh yang dilakukan seorang muslim, maka semakin tinggi nilainya dihadapan Allah. Inna akramakum ind Allah atqakum, atau berarti bahwa orang yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taqwa memang merupakan kata kunci kesuksesan seorang manusia sebagai makhluq Allah. Dalam rangka membelajarkan taqwa  kepada para makhluq-Nya manusia, Allah menempuh banyak cara diantaranya adalah Puasa. Puasa Ramadhan adalah mekanisme wajib yang harus ditempuh oleh seorang muslim setiap tahunnya. Selama satu bulan penuh, ia belajar menyucikan diri, pengendalian kemauannya, penguasaan emosi, kepedulian sosial, keprihatinan hidup, dan kesederhanaan. Akumulasi penguasaan terhadap semunya menghantarkan seorang muslim yang shaim untuk menjadi muslim muttaqin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Yang Maha Bijaksana berkehendak untuk membalas pahala ibadah puasa yang ”rahasia” yag dilakukan seorang sesuai yang dikehendakiNya. Al-Shaumu li, wa ana ajzi bih. Besaran nilai pahala puasa seorang muslim serta amalan-amalan lain yang dilakukan di bulan Ramadhan sangat bergantung pada kemurahan Allah, Dzat yang menshariatkan puasa. Karenanya bisa jadi jika beberapa muslim yang pada saat sama berpuasa, akan menerima imbalan dan ganjaran berbeda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai diri seorang muslim berupa keimanan dan amal-amal shaleh yang ditunaikan merupakan “alat tukar”  dalam transaksi untuk mendapatkan maghfrah, rahmat, atau bahkan surga Allah. Dalam surat al-Shaff ayat 10, Allah menyebut ketaatan berupa keimanan dan jihad di jalan Allah sebagai tijarah (perdagangan) yang menyelamatkan dari adzab yang pedih. Dalam surat Al-Taubah ayat 111, Allah telah melakuan isytira’ (pembelian) terhadap diri dan harta orang mukmin dengan surga disebabkan perjuangan mereka yang dapat berakibat kematian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan-kenyataan ini menunjukkan bahwa terdapat ”harga pantas” untuk mendapat pembebasan dari neraka, masuk surga, atau memperoleh kedudukan terhormat di sisi Allah. Semuanya tidak diberikan gratis, meski jika dikehendaki Allah, tentunya hal tersebut dapat saja terjadi. Allah tidak juga akan mensia-siakan amal kebaikan seseorang tanpa pahal jika dilakukan dengan benar dan tulus. Harus tetap ada pengorbanan dan pembuktian cinta kita terhadap Sang Khaliq berupa ketaatan dan amal-amal kebajikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, modal amal seseorang tidak cukup untuk mengantarkannya mendapat surga Allah. Dalam hadith yang diriwayatkan Muslim, Rasulullah menyebut bahwa seseorang tidak  akan masuk surga dengan amalnya saja, tetapi  harus disertai dengan rahmat Allah. Ini berarti bahwa seseorang tetap tidak boleh over percaya diri dengan prestasi amal ibadahnya, tetapi harus tetap memohon rahmat Allah dan ma’unahnya agar sampai kepada kebahagiaan dan surga Allah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramadhan adalah kesempatan terbatas sebagaimana disebut al-Qur’an sebagai ayyaman ma’dudat. Momen ini hendaknya dimanfaatkan oleh setiap muslim untuk mempersembahkan amal terbaik lewat puasa, qiyam al-lail, sedekah, iftar al-shaim, tadarus al-Qur’an, serta amal-amal sosial yang lain dalam segala bentuknya. Selain itu kualitas diri hendaknya dapat didongkrak lewat  pembiasaan kejujuran, penguasaan nafsu dan syahwat, pengendalian emosi, kesederhanaan, kedermawanan, dan kerajinan dalam beribadah.&lt;br /&gt;Jika seratus ribu merupakan nilai tertinggi rupiah, maka selayaknya seorang muslim berusaha untuk menjadikan dirinya seperti ”seratus ribu”, sebuah nominal tertinggi. Lewat usaha terus menerus dan berkesinambungan maka capaian untuk menjadi muslim paling bertaqwa hendaknya dapat diwujudkan. Tidak mudah memang, tetapi inilah tantanganya. Allah Tuhan Yang Maha Bijak telah membekali kita dengan banyak hal termasuk puasa Ramadan sebulan penuh. Semoga. Wallahu a’lam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/382337659859891339-7123965797967109809?l=nuruliman1972.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/feeds/7123965797967109809/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=382337659859891339&amp;postID=7123965797967109809&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/7123965797967109809'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/7123965797967109809'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/2009/09/renugan-puasa-ramadhan.html' title='Menjadi Muslim &quot;Seratus Ribu&quot;'/><author><name>nuruliman1972</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07855832763775638687</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_PHfVnL1Tq0A/SqG5g3nkrJI/AAAAAAAAACw/T3ljyz6ZJGw/s72-c/11_pr_berdoa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-382337659859891339.post-3752793805629281772</id><published>2009-08-27T18:57:00.001-07:00</published><updated>2010-05-15T13:11:38.604-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wakaf'/><title type='text'>Distribusi Harta Wakaf</title><content type='html'>27 Agustus 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ASHAB ISTIHQAQ AL-WAQF&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peruntukan Harta Wakaf dalam Fiqih Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendahuluan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam adalah sebuah ajaran yang bersifat komprehensif. Tidak ada satu ruangpun dalam kehidupan yang luput dari perhatian dan ketentuan Islam. Aturan Islam akan didapati masuk dalam bidang hukum, politik, ekonomi, budaya,  dan dimensi kehidupan lainnya. Dengan demikian, maka pantaslah jika Islam dijadikan way of life, peta kehidupan yang akan menunjukkan jalan kepada manusia untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat (Djuwaini, 2006)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam subsistem ekonomi Islam dikenal institusi wakaf sebagai sebuah lembaga yang diinisiasi Islam untuk membantu kesejahteraan sosial. Wakaf merupakan suatu mekanisme transfer kekayaan  dari kepemilikan pribadi kepada kepemilikan  kolektif dan kepentingan bersama. Dalam arti ini,  menurut Zakiyuddin (2007), wakaf adalah kebalikan dari ihya al-mawat dan iqtha’ yang mentransfer kepemilikan dari publik kepada kepemilikan individu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah sendiri yang kali pertama memprakarsai institusi ini sesuai dengan doktrin Al-Qur’an untuk menafkahkan dan mengabdikan sesuatu yang berharga dan dicintai dalam rangka mencapai kebaikan dan kebahagiaan dari Allah (al-birr) :&lt;br /&gt;لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ&lt;br /&gt;Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. (Ali Imran, 3: 92).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah telah mewakafkan beberapa kebun untuk kaum fakir miskin, para pejuang, dan mereka yang membutuhkan . Meneladani Rasulullah, Para sahabat  juga telah banyak mewakafkan harta mereka sehingga hampir tidak  terdapat sahabat kecuali ia telah mewakafkan hartanya. Jabir Ibn Abdillah menyebutkan bahwa ia tidak mengenal seseorang sahabat yang mampu dari golongan muhajirin dan anshar kecuali  ia telah menjadikannya sedekah jariyah (wakaf) yang tidak dapat diperjualbelikan, tidak diwariskan, dan tidak diberikan (Al-Bank al-Islami: 1997).  &lt;br /&gt;Dalam makalah tentang ashab istihqaq al-waqf ini pembahasan  diarahkan pada elaborasi secara mendalam peruntukan harta wakaf, diawali dari pembagian wakaf Khairi dan Ahli,   Mauquf ‘alaih dan syarat-syaratnya,  Wakaf untuk al-Mu’ayyan, dan Wakaf untuk Ghair al-Mu’ayyan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wakaf Khairi dan Wakaf Ahli&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada prinsipnya, tujuan wakaf adalah qurbat atau mendekatkan diri kepada Allah. Menurut Aqil al-Munawar (2004: 141), tujuan wakaf (mauquf ‘alaih)  haruslah berupa objek kebajikan (wakaf khairi) yang termasuk dalam bidang qurban kepada Allah.  Wakaf khairi merupakan suatu perbuatan menahan manfaat benda untuk kepentingan umum didasarkan pada ketaatan kepada Allah. Mendekatkan diri kepada Allah (qurban) dengan wakaf dilakukan dengan mentasharufkannya kepada mauquf ‘alaih yang sesuai dengan ketentuan Allah. Misalnya, wakaf kepada fakir, keluarga dekat, atau untuk kepentingan umum seperti masjid, madrasah, pengadaan air minum, pembangunan jembatan, memperbaiki jalan, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayyid Sabiq membedakan wakaf menjadi dua (2) jenis, yaitu wakaf ahli (dzurri) dan wakaf khairi (kebajikan). &lt;br /&gt;a). Wakaf Ahli atau dzurri, lanjut Sabiq dapat diartikan sebagai wakaf yang diberuntukkan bagi anak cucu  atau kaum kerabat, atau para fakir miskin (Sabiq, 1994). Dalam wakaf ini harta diserahkan kepada perorangan. Jenis wakaf ini memiliki kecenderungan untuk mementingkan diri sendiri, sehingga harta wakif sering digunakan untuk kepentingan pribadi, dan sebaliknya tidak memperhatikan kepentingan ummat.  &lt;br /&gt;b). Wakaf Khairi, yaitu wakaf yang sejak diikrarkannya memang diperuntukkan bagi kepentingan umum seperti wakaf tanah guna pembangunan masjid atau pendidikan. Baik wakaf ahli maupun wakaf khairi berkembang hampir di seluruh Negara Islam, hanya saja di beberapa negara  seperti Mesir dan Suriah, praktek wakaf ahli tidak diperbolehkan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada prinsipnya, menurut Agil (2004: 142) wakaf ahli tidaklah berbeda dengan wakaf khairi. Keduanya bertujuan untuk membantu pihak-pihak yang memerlukan sebagai realisasi perintah Allah untuk membelanjakan sebagian harta. Perbedaan antara keduanya terletak pada pemanfaatannya. Wakaf ahli pemanfaatannya hanya terbatas pada keluarga wakif, yakni  anak-anak mereka dalam tingkat pertama dan keturunan mereka secara turun temurun sampai anggota keluarga tersebut meninggal semuanya.  Sesudah itu hasil wakaf dapat dimanfaatkan orang lain seperti janda, anak-anak yatim-piatu, atau orang-orang miskin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmad Djunaidi (2008: 50) menyebut wakaf ahli mendatangkan dua kebaikan, kebaikan dari amal ibadah wakafnya dan kebaikan dari silaturrahmi dengan orang yang diberi amanat wakaf.  Sedangkan keburukannya adalah lebih seringnya wakaf ini menyulitkan ketika terjadi kepunahan mauquf alaih atau sebaliknya berkembang demikian rupa. Kelemahan administrasi harta wakaf ahli sering kali menimbulkan persengkataan antar keluarga dalam memperebutkannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain wakaf ahli dan khairi, Mundzir Kahf (tt: 193) menambahkan  wakaf musytarak sebagai jenis ketiga, yang merupakan gabungan keduanya. Di dalamnya ada sebagian yang merupakan bentuk khairi dan sebagian dzurri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mauquf ‘Alaihi dan Syarat-syaratnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal distribusi  wakaf, aturan syariah tidak begitu jelas dan tegas. Hal ini tentu berbeda dengan zakat yang menegaskan distribusi zakat untuk ashnaf yang jelas . Ulama Fiqh menurut Al-Mishri (2007: 148) selanjutnya sepakat bahwa dana zakat tidak boleh disalurkan kepada orang lain sebelum kaum fakir dan miskin dapat memenuhi segala kebutuhannya. Dalam melakukan distribusi, sebaiknya zakat digunakan untuk memberdayakan masyarakat sekitar muzakki  terlebih dahulu, dan jangan dipindahkan ke tempat lain, kecuali jika terdapat kelebihan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mauquf ‘alaih dapat diartikan sebagai tujuan wakaf atau sasaran atau pihak yang menerima wakaf.  Secara umum dapat dikatakan bahwa wakaf harus dimanfaatkan dalam batas-batas yang diperbolehkan Syariat Islam. Wakaf merupakan amal yang mendekatkan diri manusia kepada Allah, dan karenanya para faqih sepakat bahwa infak kepada kebajikan itulah yang mendekatkan diri manusia kepada Tuhannya (Direktorat Pemberdayaa Wakaf, 2008: 56).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Distribusi harta wakaf diperuntukkan bagi sasaran tertentu (ghard al-waqf)  dengan syarat-syarat diantaranya:&lt;br /&gt;1. Sasaran itu berupa  salah satu bentuk kebajikan (al-birr) seperti subsidi untuk lembaga pendidikan umum dan khusus, pendirian perpustakaan, bantuan lembaga kajian keilmuan dan keislaman, pemeliharaan anak yatim, para janda, orang lemah, dan lain-lain .&lt;br /&gt;2. Di dalamnya tidak terdapat maksiat yang diharamkan syariat  dan hukumnya, atau dicela oleh akhlaq yang terpuji.&lt;br /&gt;3. Tidak bertentangan dengan aturan hukum yang berlaku (Kahf, tt: 192).&lt;br /&gt;4. Akivitas kebajikan dalam sasaran wakaf hendaknya bersifat kontinyu.&lt;br /&gt;5. barang yang diwakafkan tidak kembali kepada si wakif. &lt;br /&gt;6. Pihak yang diberi wakaf cakap hukum untuk memiliki dan menguasai harta wakaf (Al-Kabisi, 2004: 284).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmad al-Raisuni meringkas sasaran kebajikan wakaf (al-majalat al-khairiyah) dalam tiga hal: pertama, wakaf dalam bidang agama dan peribadatan seperti pembangunan masjid dan sarana ibadah; kedua untuk pendidikan dan pengajaran; ketiga, wakaf untuk sosial, yang meliputi wakaf bagi kaum fakir dan orang yang butuh, wakaf bagi keperluan umum dan sosial, wakaf untuk orang sakit dan para penderita, dan wakaf untuk membantu lembaga pernikahan dan para pelakunya (al-Raisuni, tt: 14-21).&lt;br /&gt;Dalam UU RI No 41 Tahun 2004 Pasal 22, harta wakaf hanya dapat diperuntukkan bagi : a) sarana dan kegiatan ibadah; b) sarana dan kegiatan pendidikan serta kesehatan; c) bantuan kepada fakir miskin, anak terlantar, yatim piatu, bea siswa; d) kemajuan dan peningkatan ekonomi umat; dan atau e) kemajuan kesejahteraan umum lainnya yang tidak bertentangan dengan syariah dan peraturan perundang-undangan. (Aulia, 2008: 122)&lt;br /&gt;Hanya saja menurut Mondzer Kahf (tt.: 193), sasaran-sasaran kebajikan ini tidaklah mungkin untuk dibatasi, dan karenanya para fuqaha mengulasnya secara detail.  Yang utama adalah hendaknya ditunjukkan dalam undang-undang sebagian bentuk-bentuk kebajikan itu, sehingga dapat diqiyaskan kepadanya dan dijadikan pedoman. Setiap masyarakat dan negara berhak memilih kebajikan yang lebih cocok dan diperlukan sesuai dengan keadaan masyarakat, tingkat ekonomi, dan kontruksi sosialnya. Dengan hal ini diharapkan dan mengundang  manusia mewakafkan harta  untuk tujuan-tujuan yang paling banyak manfaatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wakaf untuk al-Mu’ayyan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahbah al-Zuhaili (1996, 10: 7639) secara lebih detail membagi al-mauquf ‘alaih (sasaran wakaf)  menjadi al-mu’ayyan dan ghair al-mu’ayyan. Al-Mu’ayyan berupa sesuatu atau seseorang tertentu, dua, atau tiga. Sedangkan ghair al-mu’ayyan atau al-jihat (sasaran) adalah seperti kaum faqir, ulama, para penjuang, masjid-masjid, ka’bah, (penyiapan) pasukan, sekolah-sekolah, benteng-benteng, dan pengurusan jenazah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkenaan dengan al-mu’ayyan,  syarat yang diberlakukan adalah hendaknya seseorang tertentu tersebut memang berhak untuk memiliki (ahl li al-tamalluk). Para Fuqaha selanjutnya berbeda pendapat tentang wakaf untuk al-ma’dum (yang belum ada), al-majhul (yang belum dikenal), dan ‘ala nafsih (diri sendiri). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok Hanafiyah berpendapat bahwa wakaf untuk orang yang dikenal (ma’lum), atau orang yang belum ada (ma’dum), seorang muslim atau dzimmi, atau majusi dapat dibenarkan karena kaum majusi termasuk ahl al-dzimmah. Sedangkan wakaf seorang muslim atau dzimmi untuk gereja atau seorang kafir harbi tidaklah sah disebabkan hal tersebut tidak dapat disebut sebagai qurbah. Wakaf untuk dzimmi dikarenakan wakaf tidak merupakan qurbah bagi  diri kita dan dirinya secara bersamaan. Sedangkan wakaf bagi harbi, dikarenakan kita telah dilarang untuk berbuat baik kepada  mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok Malikiyah menyatakan bahwa wakaf kepada ahl al-tamalluk adalah sah, baik ia sudah ada maupun ia baru akan ada seperti janin yang akan dilahirkan, baik itu nampak sebagai qurbah seperti wakaf bagi seorang fakir maupun tidak nampak sebagai qurbah seperti wakaf bagi orang kaya, atau jika wakaf itu berasal dari seorang muslim untuk dzimmi meskipun ia bukan ahl kitab, dan tidah sah wakaf  untuk harbi atau untuk hewan. Berdasarkan hal ini maka menurut mereka dapat dibenarkan  praktek wakaf untuk  al-maujud (yang sudah ada), al-ma’dum (yang belum ada),  al-majhul (yang belum dikenal), muslim, dzimmi, al-qarib (keluarga terdekat), dan al-ba’id (keluarga  jauh), kecuali bahwa wakaf bagi orang yang akan dilahirkan tidak dapat dijalankan hanya berdasarkan akad wakaf,  tetapi ditangguhkan hingga keberadaannya memang nyata, maka harta wakaf tersebut akan diberikan kepadanya (al-Zuhaili, 1996, 10: 7643).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wakaf untuk diri sendiri (‘ala nafsih) tidaklah sah meskipun diikuti dengan selain ahli waris, seperti ungkapan “aku wakafkan harta ini untuk diriku dan untuk fulan”. Dalam hal ini wakaf untuk diri sendiri menjadi batal, demikian pula untuk orang lain yang bersamanya kecuali jika harta itu dikuasai oleh orang tersebut. Jika seseorang mewakafkan hartanya untuk diri sendiri, kemudian untuk anak-anaknya sesudahnya, maka harta itu menjadi wakaf setelah ia meninggal, jika para anak menguasainya sebelum adanya mani’ (halangan). Atau dapat (dikatakan) juga wakaf bagi diri sendiri menjadi batal, sedangkan untuk yang lain tetap sah, baik wakaf untuk diri sendiri itu mendahului, atau terlambat, atau bersamaan dengan wakaf untuk orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok Syafi’iyyah mensyaratkan dalam wakaf untuk al-mu’ayyan adanya kemungkinan untuk memilikinya ketika diwakafkan disebabkan keberadaannya. Karenanya, tidak sah wakaf untuk ma’dum seperti janin, karena tidak sahnya pemberian kepemilikan  kepadanya waktu perwakafan, sama saja apakah hal itu disengaja atau tidak (tabi’). Jika seseorang memiliki anak yang sedang mengandung ketika proses wakaf, maka janin itu tidak masuk (sebagai penerima wakaf).  Tidak sah wakaf seseorang untuk anaknya padahal ia tidak memiliki anak. Tidak sah pula wakaf bagi majhul  seperti halnya wakaf untuk ghair al-mu’ayyan, atau seperti wakaf  bagi seseorang yang akan dipilih si fulan. Hal ini dikarenakan wakaf adalah tamlik munjiz (pemberian kepemilikan yang berlaku), dan ia tidak sah jika diperuntukkan bagi majhul seperti halnya jual beli dan hibah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wakaf untuk diri sendiri, atau untuk murtad dan harbi tidaklah dapat dibenarkan, disebabkan  tidak adanya kemungkinan bagi seseorang untuk memberikan kepemilikian apa yang sudah dimilikinya sebagaimana ungkapan tahsil al-hasil muhal. Sedangkan untuk murtad dan harbi disebabkan mereka berdua rawan (‘urdat) untuk dibunuh sehingga tidak ada (jaminan) kelanggengan hidup mereka, padahal wakaf merupakan sedekah jariyah.  Tidak ada wakaf bagi seseorang yang tidak memiliki kelanggengan apalagi dengan kekufurannya. Wakaf bagi murtad dan harbi merupakan jihat ma’siyat (al-Zuhaili, 1996, 10: 7643).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan wakaf dari seorang muslim atau dzimmi bagi dzimmi mu’ayyan seperti halnya sedekah tathawwu’, ia diperbolehkan karena merupakan qurbah tetapi dipersyaratkan didalamnya tidak adanya maksud untuk ma’siyat. Jama’ah tertentu dari ahl al-dzimmah, seperti halnya satu orang dzimmi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Madhab Hanabilah secara umum memiliki pendapat seperti Syafi’iyyah. Dipersyaratkan dalam wakaf  untuk memberikan kepada seseorang yang memiliki kepemilikan menetap (milk mustaqirr), dan bersifat ma’lum dan maujud (nyata). Maka tidak sah wakaf untuk seorang hamba (abd’) yang tidak berhak memiliki secara mutlak,  orang mati,  janin yang masih diperut, makhluk halus (malaikat, jin, dan syetan), disebabkan mereka tidak memiliki.  Seorang hamba mukatib meskipun ia dapat memiliki tetapi kepemilikannya lemah dan tidak menetap. Janin juga tidak dibenarkan untuk diberikan kepemilikan kecuali lewat kewarisan dan wasiat.  Hanya saja wakaf bagi janin dibenarkan karena mengikuti yang lain (taba’an lighairih) seperti dalam ungkapan “aku wakafkan untuk anak-anakku atau anak-anak si fulan”, sedangkan diantara mereka ada yang hamil, maka akan wakaf tersebut mencakupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wakaf untuk murtad dan harbi tidak sah, dikarenakan harta mereka pada asalnya adalah mubah, boleh diambil dengan penaklukan atau paksaan. Padahal wakaf  diperkenankan untuk sesuatu yang bersifat mubah al-asl, karena ia merupakan bentuk tahbis al-asl (penahanan harta pokok). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sah wakaf untuk majhul seperti seseorang atau sebuah masjid atau salah satu dari dua orang dan dua masjid. Tidak sah pula wakaf untuk ma’dum , seperti “aku wakafkan untuk siapa saja yang akan dilahirkan dari anak-anakku, atau dari anak si fulan”, dikarenakan merupakan bentuk  tamlik al-ma’dum (pemberian kepemilikan kepada yang belum ada).  Hal ini bertentangan dengan kelompok al-Syafi’iyah.&lt;br /&gt;Hukum wakaf untuk dzimmi adalah sah, dikarenakan mereka memiliki kepemilikan yang dihormati (milk muhtaram), sebagaimana diperbolehkan bersedekan untuk mereka seperti halnya kaum muslimin. Dalil diperbolehkannya wakaf seorang muslim untuk dzimmi adalah yang diriwayatkan bahwa Shafiyyah bin Huyyi istri Nabi Sallahu ‘alai wasallam mewakafkan untuk saudaranya seorang yahudi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Wakaf untuk diri sendiri juga batal, dikarenakan siapa yang mewakafkan sesuatu secara sah, maka manfaat hartanya menjadi milik mauquf ‘alaih dan sebaliknya akan hilang dari diri wakif kepemilikan terhadap harta dan manfaatnya. Tidak sah  baginya untuk  mengambil manfaat dari harta itu, dikarenakan wakaf adalah pemindahan kepemilikan  baik bentuk ruqbah maupun manfaat, dan keduanya tidak sah  dalam hal ini.  Padahal tidak diperbolehkan bagi seseorang untuk memberikan untuk dirinya sesuatu dari dirinya sendiri, seperti halnya menjual sesuatu untuk diri sendiri.  Hanya saja, bagi diri wakif diperbolehkan untuk mengambil manfaat dari mauquf, jika ia mewakafkan untuk orang lain seperti masjid, dalam beberapa hal:&lt;br /&gt;1. Ia mewakafkan sesuatu bagi kaum muslimin, dan ia masuk dalam golongan mereka seperti halnya jika ia mewakafkan sebuah masjid, maka diperbolehkan baginya untuk shalat di dalamnya, atau jika ia mewakafkan kuburan, ia diperkenankan untuk dikubur di dalamnya.&lt;br /&gt;2. Ia mensyaratkan dalam wakaf untuk mendapatkan nafkah darinya, sebagaimana diriwayatkan Ahmad dari Hijr al-Madr bahwa dalam sedekah Rasulullah SAW beliau memperbolehkan keluarganya untuk makan secara ma’ruf dan tidak munkar , dan disebabkan bahwa Umar RA ketika mewakafkan berkata “tidak mengapa bagi yang mengurus wakaf untuk memakannya atau memberi makan teman tanpa keinginan untuk memiliki (mutamawwil) .&lt;br /&gt;3. Wakif mensyaratkan untuk memberi makan keluarganya, maka wakaf dan syarat tersebut dibenarkan karena Nabi SAW  mensyaratkan hal itu dalam sedekahnya ( al-Zuhaili, 1996, 10: 7640).&lt;br /&gt;Jika yang bertindak sebagai wali wakaf (nadzir) adalah wakif sendiri, maka diperbolehkan baginya untuk makan dari harta wakaf itu, memberi makan teman, dikarenakan Umar bertindak sebagai wali sedekahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wakaf untuk Ghair al-Mu’ayyan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkenaan  dengan al-mauquf ‘alaih dari ghair al-mu’ayyan, maka dipersyaratkan beberapa hal: &lt;br /&gt;1. Hendaknya ia merupakan sesuatu yang ma’lum dan merupakan sasaran kebaikan dan kebajikan sehingga infak untuk keperluannya dapat disebut sebagi qurbah kepada Allah SWT . Hal ini disepakati  berlaku untuk kaum muslimin saja, dengan demikian mauquf ‘alaih merupakan qurbah lidzatih dan sasaran memiliki mauquf secara hukum.&lt;br /&gt;Albirr adalah sebutan  yang meliputi (ism jami’) seluruh bentuk kebaikan.  Asalnya adalah taat kepada Allah.  Menurut Wahbah al-Zuhaili (1996, 10: 7648), pensyaratan makna qurbah dalam mengarahkan wakaf bagi al-mauquf ‘alaih dikarenakan  posisi wakaf sebagai  bentuk qurbah dan sedekah, maka ia harus berada dalam tujuan dimana wakaf diadakan  seperti halnya wakaf untuk kaum fakir, ulama, kerabat, atau untuk selain manusia seperti masjid, sekolah, rumah sakit,  tempat penampungan, haji, jihad, penulisan/ penerbitan  al-Qur’an, pengairan, pembangunan jembatan, dan perbaikan jalan .  Dalam hal ini diperlakukan sama antara orang kaya dan miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkenaan dengan wakaf untuk orang kaya (aghniya’), para ulama memiliki beragam pendapat.  Al-Hanafiyah menyatakan tidak sah wakaf yang menghususkan orang kaya tanpa orang miskin karena hal itu bukanlah sebuah qurbah. Syafi’iyyah dan Malikiyah menyatakan sahnya wakaf untuk sasaran yang tidak tampak sebagai qurbah seperti orang kaya, dzimmi, orang fasik dengan mempertimbangkan bahwa wakaf adalah bentuk tamlik, dan ia seluruhnya adalah qurbah. Sedekah juga diperbolehkan atas ahl dzimmah dan orang kaya.  Kelompok Hanabilah menyatakan tidak sahnya  wakaf yang diberikan untuk perkara mubah seperti mengajarkan syair, atau bahkan untuk yang makruh seperti mengajarkan ilmu mantiq, dan juga untuk orang kaya (al-Zuhaili, 1996: 7646).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Bagi Abu Hanifah dan Muhammad: hendaknya akhir waqf ahli adalah sasaran yang langgeng dan tidak terputus. Jika akhir wakaf bukan seperti hal itu, maka tidaklah sah bagi kedunya dikarenakan al-ta’bid (kelanggengan) adalah syarat bagi diperbolehkannya wakaf.  Penyebutan sasaran yang terputus (jihat tanqathi’) merupakan bentuk pembatasan waktu yang menyebabkan dilarangnya wakaf, karena ia menjelma menjadi wakaf bagi majhul yang tidak dibenarkan (al-Zuhaili, 1996: 7650). &lt;br /&gt;Abu Yusuf menyatakan bahwa hal ini bukanlah syarat (yang benar), tetapi wakaf untuk  jihat tanqathi’ tetaplah dibenarkan, dan setelahnya wakaf diperuntukkan bagi kaum faqir meskipun mereka tidak disebut karena hal ini memang tidak terdapat dalam riwayat dari para sahabat. Tujuan akhir wakaf biasanya adalah kaum fakir meski tidak disebut. Penyebutan seperti ini ditetapkan secara dalalatan (indikatif) dan dhimnan (implikatif).  Sesuatu yang ditetapkan secara dalalatan memiliki kedudukan seperti halnya sesuatu yang ditetapkan secara nassan (tekstual).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jumhur Ulama’ mengambil pendapat Abu Yusuf tersebut, sedangkan Malikiyah tidak mensyaratkan ta’bid wakaf, dan menyatakan jika seseorang mewakafkan untuk sasaran tertentu secara mu’abbad lalu ternyata terputus, maka wakaf akan kembali untuk golongan ashabah terdekat dari keluarga wakif, tanpa dibedakan didalamnya antara laki-laki dan perempuan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok Syafi’iyyah memiliki dua pendapat. Pengarang al-Muhaddab menyebutkan jika seseorang mewakafkan secara mutlak tanpa menyebut sasarannya, maka hal itu sah karena merupakan bentuk  pengalihan  kepemilikan secara qurbah  seperti halnya udhiyah (qurban).  Pendapat lain yang lebih mengemuka menurut Syafi’iyyah menyebut tidak sahnya wakaf  tanpa penyebutan mashraf atau sasarannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Hanabilah menyatakan bahwa jika wakaf tidak diketahui berakhirnya, seperti wakaf untuk sebuah komunitas yang mungkin saja punah, sedangkan akhir wakaf tidak diperuntukkan bagi kaum miskin atau sasaran lain yang tidak terputus, maka wakaf tetaplah sah dikarenakan ia merupakan bentuk wakaf yang dikenali sasarannya (ma’lum al-mashraf) (al-Zuhaili, 1996: 7651). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika diperhatikan, pendapat kelompok Syafi’iyah dan Hanabilah  bertepatan dengan pendapat Malikiyah bahwa al-mauquf (harta) ketika mauquf alaih (sasaran wakaf) telah habis, akan dibelanjakan untuk keluarga terdekat wakif, karena tujuan wakaf adalah memperoleh pahala secara berkelanjutan, maka akan diarahkan pada apa yang ia persyaratkan ketika hal itu disebutkan, atau diarahkan kepada konotasi peruntukan wakaf ketika tidak disebutkan, sehingga ia menjadi wakaf muabbad. Jika nama-nama sasaran telah punah, wakaf diarahkan kepada keluarga terdekat wakif karena hal itu merupakan sasaran yang paling besar pahalanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam uraian terdahulu dapat dipahami bahwa perdebatan ulama berkenaan al-mauquf ‘alaih memberikan penegasan bahwa upaya untuk menentukan sasaran dan peruntukan wakaf sangat terbuka. Acuan bahwa sasaran tersebut haruslah berupa qurbah  atau merupakan bentuk al-birr (kebajikan) baik menurut ukuran syari’ah maupun wakif, merupakan pegangan pokok yang mendasari setiap interpretasi kontemporer dalam pemberdayaan pemanfaatan hasil wakaf. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentunya mempertimbangkan aulawiyat  setiap sasaran wakaf turut membantu dalam menentukan pilihan. Al-ahamm fa al-ahamm. Prinsip ini berarti peruntukan wakaf dimulai dari yang lebih penting, baru kemudian yang penting berikutnya, dijadikan pijakan kedua  dalam distribusi hasil wakaf. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dengan mencermati hal tersebut semoga tujuan utama wakaf serta kepentingan wakif dalam mewakafkan hartanya dapat terjaga dan terealisasi selamanya atau selama waktu yang diinginkan. Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Kabisi, Muhammad Abid Abdullah. 2004. Hukm Wakaf Jakarta: Iiman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Munawar, Said Agil. 2004. Hukum Islam &amp; Plularitas Sosial. Jakarta: Penamadani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Raisuni, Ahmad. Tt. Al-Fiqh al-Islami: Majalatuh wa Ab’aduh. www. gulfkids.com &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Zuhaili, Wahbah. 1996. Al-Fiqh Al-Islami Wa Adillatuh. Beirut:Dar al-Fikr al-Mu’ashir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aulia, Redaksi Tim. 2008. Kompilasi Hukum Islam (Hukum Perkawinan, Kewarisan dan Perwakafan), Bandung: Nuansa Aulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baidhawy, Zakiyuddin. 2007. Rekontruksi Keadilan: Etika Sosial-Ekonomi untuk Kesejahteraan Universal. Salatiga: STAIN Salatiga Press.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Direktorat Pemberdayan Wakaf. 2007. Strategi Pengembangan Wakaf Tunai di Indonesia.  Depag RI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Direktorat Pemberdayan Wakaf. 2008. Paradigma Baru Wakaf Tunai di Indonesia.  Depag RI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Djunaidi, Ahmad &amp; Tabib Asyar.2008. Menuju Era Wakaf Produktif. Depok: Mumtaz Publishing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Djuwaini, Dimyaudin. 2006. “Pengantar Penerjemah” dalam Abdul Sami’ al-Mishri, Pilar-Pilar Ekonomi Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kahf, Mondzer. Tt.  Al-Waqf al-Islmi: Tathawwuruh, idaratuh, tanmiyatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabiq, Sayid. 1994. Fiqh al-Sunnah. Beirut: Dar al-Fikr.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajdy, Farid &amp; Musyid. 2007. Wakaf dan Kesejahteraan Umat (Filantropi Islam Yang Terlupakan). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zahrah, Abu. 1971. Muhadharat fi al-Waqf. Beirut: Dar al-Fikr al-Arabi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1997. “Daur al-Waqf fi al-Takhfif min Musykilat al-Faqr wa Tahsin Nauiyyat al-Mujtama’  al-Islami fi al-Qarn al-Hadi wa al-‘Isyrin”. Al-Bank al-Islamy li al-Tanmiyah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/382337659859891339-3752793805629281772?l=nuruliman1972.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/feeds/3752793805629281772/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=382337659859891339&amp;postID=3752793805629281772&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/3752793805629281772'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/3752793805629281772'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/2009/08/distribusi-harta-wakaf.html' title='Distribusi Harta Wakaf'/><author><name>nuruliman1972</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07855832763775638687</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-382337659859891339.post-3769452074502852446</id><published>2009-08-21T07:43:00.000-07:00</published><updated>2009-08-21T15:56:15.582-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Religi'/><title type='text'>Merugi di Bulan Ramadhan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_PHfVnL1Tq0A/So8l77Gr8xI/AAAAAAAAACo/NNWQYZn899E/s1600-h/gambar+5+hal+5.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 234px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_PHfVnL1Tq0A/So8l77Gr8xI/AAAAAAAAACo/NNWQYZn899E/s320/gambar+5+hal+5.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5372554591884538642" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;21 Agustus 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awas, Merugi Di Bulan Ramadhan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah yang tidak dimiliki oleh sebelas bulan yang lain. Banyak hadith Nabi SAW menyebut keutamaan Ramadhan, diantaranya adalah bahwa kesalahan seseorang diantara dua Ramadhan diampuni jika dosa-dosa besar (kabair) dapat dihindari. Pada awal bulan ini sebagaimana diriwayatkan al-Tirmidzi, syetan dan jin yang jahat dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup, pintu-pintu surga dibuka, dan pada tiap-tiap malam ada (malaikat) penyeru  yang memanggil-manggil, ”hai pencari kebaikan datanglah. Wahai pencari keburukan, berhentilah”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkah bulan Ramadhan juga merembet pada meningkatnya nilai amal-amal shalih dan penghargaan terhadapnya. Jika pahala sebuah amal kebajikan di bulan lain dibalas satu hingga sepuluh kali lipat, maka pada pada bulan Ramadhan ganjaran itu dapat berlipat-lipat sesuai dengan yang dikehendaki Allah SWT. Dalam hadith nabi disebutkan bahwa sedekah  terbaik  adalah sedekah pada bulan Ramadhan. Gabungan antara qiyam al-lail pada malam hari Ramadhan dan puasa yang dilakukan di siang hari dapat menghapuskan dosa-dosa terdahulu. Umrah pada  bulan Ramadhan bahkan dihargai sama dengan haji bersama Nabi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, ternyata tidak semua orang ”beruntung” dan dapat merengkuh kemuliaan bulan ini, tetapi sebaliknya ada sebagian orang disebut-sebut merugi. Dalam hadith riwayat al-Tirmidzi dan Imam Ahmad bin Hambal, nabi mengidentifikasi tiga orang yang betul-betul merugi, yang salah satunya berkenaan dengan Ramadhan. Istilah yang digunakan adalah raghima anfu rajul atau ”nyungir” (jawa). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ أَدْرَكَ عِنْدَهُ أَبَوَاهُ الْكِبَرَ فَلَمْ يُدْخِلَاهُ الْجَنَّةَ (رواه الترمذي/3468)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang pertama adalah yang nama Nabi disebut  dan ia tidak mau bershalawat kepadanya. Kedua adalah orang yang berkesempatan bertemu Ramadhan tetapi dosanya tidak dapat diampuni sehingga bulan ini berlalu. Ketiga adalah orang yang mendapati kedua orang tuanya hidup dalam keadaan tua tetapi hal tersebut tidak dapat menyebabkannya masuk surga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi juga menyebut tentang banyak orang yang tidak mendapatkan hasil dari puasa yang ditunaikan  kecuali al-ju’ (rasa lapar) dan al-’atsy (haus). Di tempat lain, Nabi bahkan mengancam mereka yang berpuasa tetapi tidak dapat meninggalkan perkataan dan perbuatan al-zur (kebohongan) dengan ancaman Allah tidak akan peduli terhadap puasa yang dilakukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan dalam hadith-hadith tersebut memberikan penegasan bahwa  puasa seseorang dapat saja tidak berarti apa-apa kecuali  rasa lapar dan haus, sedangkan Allah tidak menerimanya sebagai sebuah ibadah, tidak mau mengakuinya sebagai amal, lalu mengganjarnya dengan pahala. Ini berarti pula bahwa puasa yang dikehendaki Islam bukanlah sekedar puasa lahir berupa menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkannya, tetapi hendaknya puasa itu meningkat menjadi puasanya seluruh anggota tubuh dari perbuatan dosa. Puasa yang sesungguhnya berarti usaha taqarrub seorang hamba kepada Allah dengan ”berhenti” makan, minum, dan dari hal-hal yang membatalkannya, yang kemudian berdampak pada penahanan seluruh anggota tubuh dari perbuatan dosa, dan menyakiti atau merugikan orang lain. Puasa ini juga membuatnya semakin baik dengan kebajikan yang ditunaikan serta kejahatan yang semakin dijauhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya sudah sepantasnya seorang muslim mewaspadai diri sendiri ketika berpuasa untuk tidak merusak nilai puasanya dengan perbuatan-perbuatan jahat dan dosa, agar puasa yang dilakukan dapat sempurna dan diterima oleh Allah SWT. Selain itu momen Ramadhan yang penuh berkah tetapi sangat terbatas hendaknya dipergunakan untuk memperbanyak amal kebajikan baik secara kualitas maupun kuantitas lewat shalat, do'a dan dzikir, istighfar, tadarus Al-Qur’an, sedekah, iftar al-shaim, i’tikaf di masjid, dan lain sebagainya. Semoga dengan usaha-usaha tersebut kerugian berkenaan Ramadhan dapat dihindari, dan sebaliknya rahmat Allah dan maghfirah dapat direngkuh, sehingga dapat menjelma menjadi muslim yang muttaqin. Amin. Selamat menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/382337659859891339-3769452074502852446?l=nuruliman1972.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/feeds/3769452074502852446/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=382337659859891339&amp;postID=3769452074502852446&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/3769452074502852446'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/3769452074502852446'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/2009/08/merugi-di-bulan-ramadhan.html' title='Merugi di Bulan Ramadhan'/><author><name>nuruliman1972</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07855832763775638687</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_PHfVnL1Tq0A/So8l77Gr8xI/AAAAAAAAACo/NNWQYZn899E/s72-c/gambar+5+hal+5.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-382337659859891339.post-2346278959218253371</id><published>2009-08-07T17:39:00.000-07:00</published><updated>2009-08-07T17:46:15.441-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Religi'/><title type='text'>Belajar Sukses Kepada Mbah Surip</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_PHfVnL1Tq0A/SnzKkXOqH0I/AAAAAAAAACg/EJznYeWqIx8/s1600-h/j0283223.gif"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 138px; height: 149px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_PHfVnL1Tq0A/SnzKkXOqH0I/AAAAAAAAACg/EJznYeWqIx8/s320/j0283223.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5367387581978386242" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;8 Agustus 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“MENGGENDONG” KESUKSESAN ALA MBAH SURIP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Amalia Sulfana, S.Ag.*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbah Surip adalah fenomena dalam dunia seni, khususnya dunia musik di Indonesia. Saat ini, tua muda, kecil besar, laki perempuan,  asyik mendendangkan  bait-bait lagunya yang merakyat dan “aneh” senyentrik orangnya. Meninggal dalam puncak ketenarannya lewat dominasi lagunya Tak Gendong selama tiga bulan terakhir, Mbah Surip  menjadi sosok yang paling  akrab dikenal oleh semua kalangan. Karenanya, “kepergiannya” secara mendadak disebabkan serangan jantung pada 4 Agustus 2009, cukup mengagetkan banyak kalangan terutama para penggemarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahir dengan nama Urip Ariyanto pada tanggal 5 Mei 1949 di Mojokerto Jawa Timur, Mbah Surip memiliki background pendidikan yang cukup layak dan baik. Digolongkan pada orang yang gemar belajar di bangku sekolah, jenjang pendidikan yang telah dikenyamnya adalah   SMP, ST, SMEA, STM, Drs, Ir dan bahkan MBA. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain sebagai penyanyi, Mbah Surip muda pernah merasakan pengalaman bekerja di bidang pengeboran minyak, tambang berlian, emas, dan lain-lain di berbagai negara seperti Kanada, Texas, Yordania dan California. Namun,  merasa nasibnya kurang baik, Mbah Surip mencoba peruntungan dengan pergi ke Jakarta. Di Ibukota Jakarta, ia bergabung dengan beberapa komunitas seni seperti Teguh Karya, Aquila, Bulungan, dan Taman Ismail Marzuki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasib menentukan lain. Pada suatu waktu, Mbah Surip mendapat kesempatan untuk rekaman dan akhirnya meraih kesuksesan seperti sekarang. Dalam perjalanan musiknya Mbah Surip telah mengeluarkan beberapa album musik. Album rekamannya dimulai dari tahun 1997 diantaranya, Ijo Royo-royo (1997), Indonesia I (1998), Reformasi (1998), Tak Gendong (2003) dan barang Baru (2004). Namun ternyata lagu Tak Gendong diciptakan pada tahun 1983 saat Mbah Surip bekerja di Amerika Serikat, baru populer dan mengantarnya meraih kesuksesan pada pertengahan 2009. Menurut Mbah Surip Filosofi dari lagu ini yaitu ”belajar salah” itu, yang digendong ya siapa saja, entah baik, galak, nakal, atau jahat. Seperti bus, nggak peduli penumpangnya, entah itu copet, gelandangan, pekerja, ya siapa saja. Sebab, menggendong itu belajar salah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri khas dari setiap panggung musik Mbah Surip adalah selalu hadirnya "Gitar Kopong" di sampingnya, dan membawakan lagu dengan sangat relax dan nyanyi "ngalor-ngidul" dengan gaya-nya yang khas, kocak, gila, dan bebas ekspresi. Karakter inilah yang membuat Emha Ainun Najib atau Cak Nun sering menggambarkan sosok Mbah Surip sebagai "Manusia Indonesia Sejati" yang tidak pernah merasa susah, tidak pernah gelisah, tidak pernah sedih dan selalu tertawa, meskipun seringkali di ledek orang Mbah Surip tetap saja tertawa tidak pernah dendam, atau membalas ledekan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar Sukses dari Mbah Surip&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita kehidupan panjang mbah Surip adalah cermin berharga bagi segenap anak bangsa yang ingin berjuang mengejar kesuksesan hidup. Lika-liku kehidupan yang beragam yang dilalui mbah Surip menuju ”kesuksesan” di akhir hidupnya mengajarkan kepada kita:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.  Kesuksesan tidak kenal umur&lt;br /&gt;Sukses yang diraih mbah Surip pada umur 70 tahunnya memberikan pencerahan kepada kita semua umur tidak berpengaruh pada pencapaian kesuksesan. Koloner Sanders lewat KFC-nya juga baru sukses di Usia 60 tahun. Seorang tua maupun muda berhak untuk sukses, dan karenanya perjuangan menujunya harus dilakukan oleh setiap orang yang menghendaki kesuksesan tersebut. Waktu, momen, serta kesempatan akan membukakan pintu sukses bagi setiap penjuangnya, tentunya juga atas ridho Allah SWT melalui takdirNya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.  Butuh waktu panjang&lt;br /&gt;Dalam perjuangan menuju sukses, kesabaran dan kegigihan merupakan unsur penting karena biasanya dibutuhkan waktu yang panjang.  Sejarah kehidupan dakwah Rasulullah  yang membentang panjang menunjukkan bahwa ”kesuksesan besar” baru dicapai pada periode Madinah atau setelah 12 tahun perjuangan.  Dalam rentang itu memang capaian-capaian penting telah dapat  diraih, hanya saja menurut hemat saya periode Makkah lebih pas untuk disebut “musim tanam” yang membutuhkan banyak perjuangan.  Di Madinah perjuangan tetap dituntut, tetapi ”panen” dalam pengertian kesuksesan dakwah mulai dinikmati oleh Nabi dan kaum muslimin.&lt;br /&gt;Ali bin Abi Thalib menyebut thul al-zaman (masa yang lama) sebagai salah satu syarat kesuksesan belajar  selain kecerdasan, antusiasme, modal dana, dan kerja keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.  Modal Pendidikan Penting&lt;br /&gt;Diakui atau tidak, Lagu-lagu mbah Surip yang sederhana, kocak, mbanyol namun tetap merakyat dan ”mengena”  diinspirasi oleh banyak hal termasuk latar belakang pendidikannya yang beragam.  Pendidikan merupakan salah satu hal yang menentukan pola pikir seseorang disamping lingkungan sosial, minat, bakat, dan pekerjaan. Perhatian intens mbah Surip untuk menyelesaika pendidikannya memberikan motivasi  bagi setiap orang yang menginginkan kesuksesan untuk ”ngopeni” pendidikannya guna lebih mendekat kepada tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.  Cara menikmati Sukses&lt;br /&gt;Kesederhanaan adalah ciri mencolok pada diri mbah Surip sebelum dan sesudah sukses. Harta yang mulai banyak mengalir tidak menjadikan penampilan mbah Surip berubah., Selain itu, mbah ini juga merupakan sosok yang mudah berbagi Ketika diwawancarai tentang harta yang mulai banyak diperoleh, mbah yang satu ini selalu menyebut keinginan berbagi untuk yang lain. Sukses yang diraih ingin “diratakan” bagi banyak orang.  Kebijaksanaan seperti ini mulai melangka dalam kehidupan kontemporer sekarang yang nampak egois dan nafsi-nafsi. Karenanya, cara menikmati sukses ala mbah surip  yang sebenarnya berakar pada pemahaman agamanya semoga dapat menginspirasi banyak orang orang untuk tidak hanya memikirkan diri sendiri ketika dapat meraih kesuksesan, tetapi juga memperhatikan orang lain. Bukankah seseorang tidak akan bisa sukses tanpa bantuan orag lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk sukses memang kita tidak harus menjadi mbah Surip atau sepertinya, tetapi dengan mencermati riwayat hidupnya yang penuh perjuangan, kesederhanaan, dan kedermawanan kita dapat banyak belajar. Kehidupan seseorang dan kematiannya  memang merupakan cermin  bagi manusia lain untuk dapat menilai dan mengevaluasi dirinya. Al-muslim mir’at akhuh al-muslim. Semoga lewat cermin mbah Surip kita dapat belajar banyak. Dengan mengambil sisi baik dan meninggalkan  yang kurang terpuji, insha Allah kita akan semakin berbobot di mata Allah dan manusia. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Guru PAI SMAN1 Babadan Ponorogo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/382337659859891339-2346278959218253371?l=nuruliman1972.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/feeds/2346278959218253371/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=382337659859891339&amp;postID=2346278959218253371&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/2346278959218253371'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/2346278959218253371'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/2009/08/belajar-sukses-kepada-mbah-surip.html' title='Belajar Sukses Kepada Mbah Surip'/><author><name>nuruliman1972</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07855832763775638687</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_PHfVnL1Tq0A/SnzKkXOqH0I/AAAAAAAAACg/EJznYeWqIx8/s72-c/j0283223.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-382337659859891339.post-8921077976624112086</id><published>2009-08-01T14:50:00.000-07:00</published><updated>2009-08-05T18:10:07.551-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Religi'/><title type='text'>Jadilah Orang "Asing"</title><content type='html'>1 Agustus 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JADILAH “ORANG ASING”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu kesempatan, sebagaimana diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim, Nabi Muhammad SAW memegang  lengan Abdullah bin Umar al-Khattab lalu  bersabda: “jadilah engkau seorang gharib (asing/pendatang) dan ‘abir sabil (pelancong)”.  Ibnu ‘Umar lalu berkata berkenaan hadith ini, “di waktu sore jangan hanya menunggu datangnya pagi, dan di waktu pagi jangan hanya menunggu datangnya sore. Dari waktu sehatmu pergunakan untuk sakitmu, dan dari saat-saat kehidupanmu ambillah persiapan untuk matimu”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bahasa Arab kata gharib merupakan bentuk single yang memiliki bentuk jamak ghuraba’. Gharib menurut kamus al-munjid dapat diartikan  sebagai ‘ajib (aneh), atau  khariq ghair ma’luf (luar biasa), atau mubtaid ‘an al-watan (orang yang bepergian meninggalkan tanah airnya). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadith tersebut merupakan anjuran untuk  tidak tenggelam dalam kehidupakan dunia, berlaku zuhud di dalamnya, dan bersikap qana’ah.   Imam al-Nawawi  memaknainya dengan ungkapan: “janganlah kamu bersandar pada hal-hal duniawi, jangan menjadikan dunia sebagai tanah air, janganlah mengajak dirimu seakan hidup di dalamnya selama-lamanya, dan janganlah terlalu bergantung kepada dunia. Bertidaklah seperti halnya seorang pelancong yang mendatangi suatu tempat. Ia (ibarat tamu) tetap memiliki tempat tinggal asal dan tanah air”. Ungkapan ini mengandung maksud bahwa dunia memang bukanlah sebagai tujuan akhir, tetapi hanyalah sarana yang mengantarkan kepada kampung hakiki akhirat. Seseorang dapat dianggap sebagai gharib jika ia telah menjadikan seluruh fasilitas dunia sebagai batu lompatan untuk kehidupan akherat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keunikan seorang “asing” (gharib) tidak hanya dikarenakan “waton bedo” tetapi lebih disebabkan apa yang dipedomani dan dijalani merupakan kebaikan yang telah mulai dijauhi ataupun amal yang ditinggalkan. Ketika ditanya tentang siapakah golongan al-ghuraba’ Nabi sebagamana diriwayatkan Ibn Majah menjawab bahwa mereka adalah al-nuzza’ min al-qabail  atau orang yang meninggalkan kampung halamannya demi mengamalkan ajaran Islam.  Sedangkan dalam riwayat Ahmad, Nabi menyebut ghuraba’ sebagai manusia-manusia yang salih di tengah-tengah komunitas masyarakat yang buruk. Pelaku maksiat di dalamnya lebih banyak dari pada golongan yang taat.  Pendefinisian nabi terhadap ghuraba’ menunjukkan bahwa keanehan dan keunikan golongan ini haruslah tetap mendasarkan pada alasan rasional, serta memiliki pertimbangan yang benar. Tidak ngawur ataupun mengada-ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang muslim  yang “asing” adalah orang yang dapat memadukan kehidupan akherat dengan kehidupan dunia. Tidak terlalu condong kepada salah satu diantara keduanya. Tidak pula meninggalkan akherat untuk dunia atau meninggalkan dunia semata untuk kehidupan akherat. Pengabdian kepada Allah selalu dijadikan final aim bagi seluruh amal-amal duniaw yang dikerjakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guru ”asing” adalah seseorang yang menjalani profesi guru sepenuh hati dan dengan menggunakan seluruh tenaga dan perasaan. Ketika mayoritas guru hanya fokus pada aspek administratif keguruan sehingga mengabaikan upaya-upaya kreatif dan inovatif, guru model ini berusaha untuk terus melakukan terobosan demi menjadikan pembelajarannya semakin menarik dan produktif. Ia berusaha tidak terjebak pada rutinitas belajar mengajar dan ”zona nyaman”-nya  dan sebaliknya terus berusaha mengikuti perkembangan dunia pembelajaran dan pendidikan yang semakin hari semakin melaju kencang seiring perkembangan budaya, teknologi, serta tuntutan masyarakat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua ”asing” adalah mereka yang mengasuh anak-anak dengan cinta dan kasih sayang dengan bekal lengkap paduan pendidikan agama dan umum. Ia tidak terkungkung budaya masyarakat yang berorientasi serba materi dan glamour sehingga memanjakan anak dan melupakan untuk memberikan pengalaman hidup lewat pendidikan keprihatikan dan life skill. Tidak juga memisahkan atau meninggalkan aspek pendidikan agama  tetapi menjadikannya sebagai pelengkap pendidikan umum bagi anak-anak mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pegawai yang ”asing” adalah orang menunaikan kewajiban pekerjaannya bukan hanya untuk ”kejar setoran” seperti yang sering dijalani banyak orang. Ada aspek lain dari pekerjaan yang ia tunaikan berupa profesionalitas karena pekerjaan memang dipandang  sebagai ladang ibadah disamping ajang untuk aktualisasi kemampuan diri. Bekerja maksimal menurut orang ini merupakan sarana untuk menjemput barakah dan rahmat Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi orang ”asing” ataupun gharib dalam konotasi positif adalah berkah yang menjanjikan kebaikan dan mendatangkan banyak  manfaat, tidak saja untuk diri sendiri tetapi juga untuk orang lain.  Tidak ada kata berhenti untuk sebuah kemajuan, sebagaimana tidak ada ungkapan tamat untuk terus menambah kemampuan dan mempertajam arah  dalam belajar, berbuat, maupun bekerja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak mudah untuk menjadi seorang yang ”asing”. Ada sekian banyak resiko berupa cemoohan, tuduhan, maupun cucuran keringat yang mesti ditanggung.  Biaya atau ongkos yang besar juga akan dikeluarkan. Hanya saja, jika berhasil maka sekian banyak kemuliaan akan dapat direngkuh. Jadi, tetaplah menjadi seorang yang ”asing”. Maukah?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/382337659859891339-8921077976624112086?l=nuruliman1972.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/feeds/8921077976624112086/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=382337659859891339&amp;postID=8921077976624112086&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/8921077976624112086'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/8921077976624112086'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/2009/08/jadilah-orang-asing.html' title='Jadilah Orang &quot;Asing&quot;'/><author><name>nuruliman1972</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07855832763775638687</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-382337659859891339.post-7627409486939649783</id><published>2009-07-24T02:13:00.001-07:00</published><updated>2009-08-05T18:07:39.323-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pendidikan'/><title type='text'>Kreatifitas Bagi Guru</title><content type='html'>24 Juli 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KREATIFITAS BAGI GURU, PERLUKAH?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang guru PAI masuk kelas dengan menenteng tasnya dan kresek putih transparan dengan Rinso 1 kiloan di dalamnya. Secara demonstratif, sang guru lalu  dengan sengaja meletakkan  kresek tersebut di atas mejanya. Anak-anakpun memberikan komentar bermacam macam. ”Mau nyuci ya bu?” ”Habis belanja dan belum sempat pulang?”  ”Ibu lebih senang pakai Rinso”? Dan lain sebagainya. Sang  guru dengan tenang berdiri di depan kelas, tersenyum, mengucapkan salam, lalu menanyakan kabar kepada para peserta didik. Anak-anak menjawab dengan antusias. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih sambil  berdiri bu guru lalu mulai menjawab komentar anak-anak tentang sabun yang dibawa. Ia bertanya kepada anak-anak tentang sabun cuci, manfaat sabun cuci, dan mengapa pakaian harus dicuci. Jawaban anak-anak direspon dengan baik. Selanjutnya ia menanyakan jika yang kotor adalah uang, harta, dan diri, bagaimana seseorang bisa menbersihkannya. Mengambil salah satu jawaban siswa, yakni cara membersihkan harta lewat mekanisme zakat, akhirnya bu guru dapat mengantarkan siswa dalam menganalogikan zakat dengan sabun cuci. Sebuah usaha kontektualisai materi dengan realita kehidupan dan merupakan entry point yang baik untuk memulai sebuah pembelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dilakukan sang guru tersebut merupakan bentuk kreatifitas yang didasarkan pada usaha untuk merasionalisasikan hubungan antar sesuatu, sabun cuci Rinso dengan pakaian bersih, serta zakat dengan kesucian harta. Antara Rinso dan Zakat jika dicermati secara mendalam memang memiliki fungsi yang hampir sama. Kreatifitas dapat dibangun dengan mencari hubungan antara hal-hal yang nampaknya tidak berhubungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjadi kreatif dapat pula dengan menggunakan sudut pandang berbeda terhadap sesuatu, sebuah anugrah yang lazim dimiliki banyak anak kecil. Bagi  seorang anak, sebuah pensil tidak hanya bermanfaat  untuk menulis. Ia dapat menjelma menjadi mobil-mobilan, pesawat terbang, pedang-pedangan, boneka, dan lain sebaginya. Dengan menggunakan  sudut pandang berbeda, seseorang akan menemukan sekian banyak manfaat  dari sebuah benda, disamping  menjadi bijak dan toleran terhadap beragam pendapat orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjadi kreatif, seseorang tidak harus menciptakan sesuatu yang sama sekali baru, tetapi cukup dengan memberi tambahan sesuatu yang sudah ada. Ki Hadjar Dewantara beberapa puluh tahun lalu, diinisiasi telah mengemukakan konsep kreatifitas dalam bentuk sederhana dalam 3N, yaitu Niteni ‘memperhatikan dengan seksama’, Niru ‘mencontoh/ memanfaatkan’, dan Nambahi ‘mengadaptasi/ memperbaiki/ menyempurnakan’.  Memperhatikan dengan seksama  berarti mencurahkan keseriusan diri untuk  memiliki sudut pandang penggagas sesuatu, dilanjutkan dengan memanfaatkan atau menggunakannya,  lalu  berusaha untuk memberikan tambahan  atau perbaikan terhadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara tips yang sering direkomendasikan para pakar agar seseorang dapat menjadi kreatif adalah : menggunakan kedua sisi otak/tubuh (bagian kanan dan kiri), membuat mind map (peta pikiran), mengembangkan panca indera, mencatat mimpi, melukis, humor, bermain musik, menari, menggubah lagu, corat-coret sambil melamun, berpuisi, melakukan hal-hal yang baru setiap hari, dan berimajinasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Butuh latihan panjang, keinginan kuat, dan pengorbanan yang tidak sedikit untuk dapat menerapkan tips-tips tersebut. Untuk dapat menggunakan kedua otak (kanan dan kiri) misalnya, seseorang butuh memahami konsep OKA-OKI (otak kanan-otak kiri) dengan baik lewat baca buku, akses internet, atau diskusi. Meninggalkan kebiasaan penggunaan salah satu tangan dan beralih pada tangan yang lain juga tidak mudah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang sejatinya terlahir kreatif. Tidak ada orang yang tidak kreatif. Hanya saja seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan fisik, daya kreatifitas seseorang  tersebut semakin tumpul karena diabaikan dan tidak diberdayakan. Dalam banyak hal, seseorang ”takut” untuk menggunakan kreatifitasnya, supaya tidak dicap aneh, tidak wajar, atau stigma negatif. Kreatifitas kadang memang nampak sedikit aneh, padahal tidak demikian sepenuhnya. Agar terus kreatif, kemampuan dan usaha menjadi kuncinya. Tidak berlebihan jika para pakar mengatakan bahwa” Kreatifitas itu 1 % inspirasi (bakat) dan 99 % persperisi (usaha)”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buah kreatifitas guru menjadikan pembelajaran  suatu kegiatan menarik, variatif, penuh kesan, dan tidak monoton. Kehadiran guru yang penuh kreatifitas menjadi sesuatu dinantikan siswa. Ada rasa penasaran bersambung dan pertanyaan besar di benak siswa tentang hal baru yang akan dilakukan pada  kegiatan pembelajaran berikutnya. &lt;br /&gt;Kreativitas juga melandasi aplikasi dan penerapan metode pembelajaran terbaru karena metode-metode pembelajaran kontemporer memang dibangun atas dasar semangat inovasi dan perubahan. Jadi, masihkan dipertanyakan apakah kreatifitas diperlukan oleh guru ?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/382337659859891339-7627409486939649783?l=nuruliman1972.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/feeds/7627409486939649783/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=382337659859891339&amp;postID=7627409486939649783&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/7627409486939649783'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/7627409486939649783'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/2009/07/kreatifitas-bagi-guru.html' title='Kreatifitas Bagi Guru'/><author><name>nuruliman1972</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07855832763775638687</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-382337659859891339.post-2730824683155972418</id><published>2009-07-13T19:13:00.001-07:00</published><updated>2009-07-13T19:19:23.393-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Religi'/><title type='text'>Mengisi Hati Yang Hampa</title><content type='html'>14 Juli 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MENGISI HATI YANG HAMPA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Amalia Sulfana, S.Ag.*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah Anda mengalami patah hati, ketika pujaan hati belahan jiwa, orang yang Anda  cintai dengan sepenuh hati tiba-tiba meninggalkan Anda, baik dengan ataupun  tanpa alasan yang jelas,  sehingga keadaan diri Anda seperti apa yang  diungkapkan Pasha Ungu dalam lirik-lirik lagunya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah kah kau merasa 2x&lt;br /&gt;Cukup sudah kuberikan cintaku&lt;br /&gt;Cukup sudah rasa ini untukkmu&lt;br /&gt;Mati sudah hati ini padamu&lt;br /&gt;Mati sudah hasrat ingin bersamamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah kah kau merasa&lt;br /&gt;Hatimu Hampa&lt;br /&gt;Pernah kah kau merasa&lt;br /&gt;Hatimu Kosong&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika pernah, Anda tentu akan  dihadapkan pada beberapa kemungkinan pilihan. Pertama, Anda akan larut dalam kepatah-hatian Anda, lalu bersikap  destruktif bukan saja terhadap lingkungan tapi juga terhadap diri  sendiri. Puncak dari kondisi ini bisa jadi mendorong keinginan Anda untuk  bunuh diri. Kedua, Anda memilih melupakan patah-hati tersebut dengan cara mencari pelarian dalam bentuk-bentuk yang lain. Pilihan  ketiga,  anda berusaha mengolah kepatah-hatian itu dengan jiwa yang besar, bahwa hal tersebut suatu peristiwa yang biasa saja  terjadi dalam sebuah percintaan, bahkan mungkin  sesuatu yang bisa dinikmati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilihan pertama dan kedua tentu bukanlah pilihan cerdas dan bijak karena larut dalam kepatah hatian dan upaya mencari pelarian akan menyeret pada sejumlah tindakan yang merugikan, tidak saja untuk diri sendiri tetapi juga untuk keluarga.  Patah hati yang berkepanjangan dengan segala ekses yang ditimbulkan merupakan bentuk ”kekosongan hati” dari keyakinan terhadap keberadaan Tuhan, Dzat yang telah menggariskan kehidupan dan menetapkan takdir baik buruk manusia. Sebaliknya, kemampuan untuk mengendalikan diri ketika ditinggal kekasih atau pujaan  hati adalah bentuk penghayatan terhadap realitas kehidupan disamping merupakan kesabaran dalam menghadapi musibah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehilangan kekasih, putus cinta, atau ditinggal pasangan sejatinya merupakan sunnah kehidupan, yakni bahwa yang memiliki pasti suatu saat akan kehilangan. Rasulullah mengingatkan kita tentang hal ini dengan ungkapan ahbib man syi’ta fainnaka mufariquh (cintailah orang sesusakamu, tetapi ingatlah kau pasti akan kehilangan dirinya). &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Karenanya, dalam mencintai seseorang atau sesuatu  seharusnya tidak perlu menghabiskan seluruh perasaan berupa ”cinta mati” atau juga ”cinta buta”, karena sakitnya hati akibat kehilangan cinta model ini akan terasa begitu dalam.  Cinta dengan membabi buta  seringa kali merampas  ”cinta sejati” kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang pada gilirannya dapat mereduksi pengorbanan seorang hamba kepada Tuhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta kepada Allah adalah pangkal segala cinta yang menaungi seluruh cinta-cinta yang lain. Keberadaan cinta agung ini diharapkan dapat menumbuhkan cinta makhluk kepada sesamanya. Hanya saja, cinta kepada Allah haruslah tetap utama. Menomorduakan cinta Allah akan memicu ”murka” Allah.  Dalam al-Taubah: 24, ditegaskan: "Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara bukti cinta  manusia kepada Allah adalah kemauannya yang tulus untuk selalu menghadirkan-Nya lewat ucapan (dzikir) maupun lewat tindakan dengan mengikuti perintahNya. Kehadiran Allah melalui dzikir akan mendatangkan ketentraman hati (QS. Al-Ra’d : 28) bagi orang yang beriman. Sementara tindakan mengikuti perintah-Nya akan mendekatkan seseorang  kepada Tuhannya, mendapatkan ridho-Nya, serta dijanjikan ketentraman hati yang tentunya akan berdampak pada kehidupan yang damai dan sejahtera. Jadi, jangan biarkan hatimu hampa dari dzikir kepada Allah meski sedang ”hampa” karena kehilangan kekasih atau pujaan hati. Dzikir kepada Allah akan membantumu meringankan beban kehilangan tersebut, karena masih ada Dzat Yang Maha Pengasih dan Penyayang yang mencintaimu baik sebagai muslim maupun manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Guru SMAN 1 Babadan Ponorogo&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/382337659859891339-2730824683155972418?l=nuruliman1972.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/feeds/2730824683155972418/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=382337659859891339&amp;postID=2730824683155972418&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/2730824683155972418'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/2730824683155972418'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/2009/07/mengisi-hati-yang-hampa.html' title='Mengisi Hati Yang Hampa'/><author><name>nuruliman1972</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07855832763775638687</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-382337659859891339.post-3849383128074576632</id><published>2009-07-05T22:42:00.000-07:00</published><updated>2009-07-05T22:48:44.372-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Religi'/><title type='text'>Pesan Kematian</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_PHfVnL1Tq0A/SlGQJr1xxoI/AAAAAAAAACY/5gy7d5quuUk/s1600-h/0123.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 220px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_PHfVnL1Tq0A/SlGQJr1xxoI/AAAAAAAAACY/5gy7d5quuUk/s320/0123.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5355219927981737602" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;6 Juli 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BELAJAR HIDUP DARI MATI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah kesempatan tasyyi’ al-janazah di pemakaman seorang tetangga  yang berlangsung jam 03.00 dini hari, saya sempat berbincang dengan modin desa tentang  proses pemakaman malam itu. Saat pemakaman berlangsung nampak keengganan banyak orang untuk turut mengambil peran dalam ”menanam” mayit karena usia jenazah yang sudah lebih satu hari disamping berat badannya yang over weight.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pak Modin juga menyinggung tentang nasib setiap jenazah setelah dikebumikan. Saya lalu teringat pesan Luqman al-Hakim untuk anaknya tentang kematian dalam kitab nasaih diniyah,  Ia berkata ”al-insanu tsalatsat astlatsin. Tsulus li Rabbih, tsulus linafisih, wa tsulus li al-dud. Fa dzalik ruhuh, wa ’amaluh, wa jismuh. Manusia ketika meninggal, menurut Luqman terdiri dari 3/3 bagian.  Bagian sepertiga pertama adalah milik Allah, yakni ruh yang akan kembali kepada-Nya. Bagian kedua adalah amal diri yang akan menjadi milik sebenarnya. Adapun sepertiga terakhir adalah jasadnya yang akan menjadi milik cacing tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkataan Luqman tersebut memberikan pengertian tentang arti penting amal manusia  dan keharusan memusatkan perhatian terhadapnya. Jika ruh adalah milik Allah yang manusia tidak memiliki akses terhadapnya, maka jasad atau tubuh yang sering kali menguras anggaran belanja, adalah milik cacing tanah setelah seseorang meninggal.  Sedangkan amal ibadah dan kebajikan diri adalah milik manusia yang sesungguhnya. Manusia memiliki kuasa penuh  untuk mewujudkannya, tetapi sering kali tidak mendapat “porsi” memadai dalam perhatian maupun anggaran belanja jika dibandingkan dengan badan. Padahal setelah seseorang meninggal dan dikebumikan, amal adalah teman sejati yang selalu menemani dan membelanya di hadapan pengadilan Allah. Dalam hadith al-Bukhari, Rasul menyebut tiga hal yang mengiringi jenazah hingga ke kubur, yakni keluarga, harta, dan amalnya. Dua pengiring pertama akan pulang, sedangkan amal yang merupakan pengiring ketiga akan tetap bersama sang mayit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mendapatkan ”penampilan” tubuh yang menarik, manusia rela merogoh dalam-dalam koceknya. Jutaan rupiah dihamburkan untuk membeli sabun, bedak, shampo, dan alat kosmetik atau kecantikan. Duit yang banyak juga dibelanjakan untuk perawatan tubuh  di salon, spa, massage, pusat-pusat kebugaran, dan lain-lainnya, disamping menyita banyak waktu. Orientasi kesempurnaan fisik dan tampilan luar menjadi tujuan, sementara belanja untuk ”prestasi” amal-amal saleh untuk akhirat sering diabaikan. &lt;br /&gt;Pernyataan kritis ini tidak berarti bahwa kita harus melalaikan urusan perawatan badan dan fisik kita dan hanya berkonsentrasi untuk urusan amal soleh dan akherat, tetapi sebaliknya mengajak untuk menempatkan aspek amal kebajikan pada porsi yang sesungguhnya, yakni sebagai tujuan hidup. Sementara itu, perhatiaan kepada tubuh lewat perawatan dan belanja, lebih disebabkan posisi tubuh sehat dan kuat sebagai wasilah (sarana) dalam beribadah dan beramal secara maksimal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam rangka belajar ”menghargai” hidup kita secara lebih baik, tidak ada salahnya jika kita menjadikan kematian sebagai ibrah dan pelajaran. Kematian yang merupakan pemutus kehidupan dunia dan meniadakan kesempatan manusia untuk beramal, sebagaimana disabdakan Rasulullah memang sudah cukup untuk dijadikan bahan renungan bagi seorang muslim. Kafa bi al-mauti ibran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anthony Robbin dalam Unlimited Power menyebut kematian sebagai kuasa yang tak terbatas. Banyak rahasia Tuhan di dalamnya. Ungkapan ini tampak menyeramkan, namun  kita akan segera sadar bahwa kematian itu sungguh nyata adanya, sungguh kita semua akan mengalaminya. Kapan datangnya? Itulah rahasianya. Tidak ada satupun makhluk yang mengetahui rahasia ruh –kematian– ini, sekalipun Nabi, kecuali Allah SWT, Sang pemilik ruh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap peristiwa kematian di tengah masyarakat memotivasi kita untuk berjuang agar dapat memanfaatkan sisa waktu yang dimiliki sambil berupaya untuk dapat ”hidup” selamanya jika ajal memang telah tiba. Jika gajah mati akan meninggalkan gading, dan jika harimau mati akan meninggalkan belang, maka kematian kita hanya akan meninggalkan nama dan sejarah. Nama dan sejarah yang baik dapat diukir lewat prestasi amal kebajikan dan  akan membuat kita hidup selamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama dan prestasi baik seseorang dapat dibuktikan dengan keadaan yang melingkupi saat seseorang meninggal. Isak tangis dan perasaan sedih karena kehilangan merupakan bentuk kongkritnya. Bukan malah menjadi orang yang kematiannya di harapkan, karena keburukan dan amal sesatnya merugikan banyak orang. Hal ini ditegaskan Ali bin Abi Thalib : ”waladatka ummuka ya ibnka bakiyan wa al-nas yadhhakunan haula sururan. Ihris ’ala amalin takunu bihi idza ya yabkuna haulaka dhahikan masruran”. Perkataan Ali ini berarti ”Hai anak Adam, ibumu telah melahirkan kamu dalam keadaan menangis sedang manusia lain saling tertawa kegirangan. Berusahalah agar ketika kau mati,  engkau berbahagia (karena amalmu) sedang manusia lain merasa sedih”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat meninggal dalam keadaan seperti yang digambarkan ungkapan tersebut adalah sebuah idaman. Kematian memberikan pelajaran betapa terbatasnya umur manusia, berbeda dengan amal perbuatan dan karyanya yang terus abadi baik di dunia dan akherat. Semoga  berbekal kejadian-kejadian kematian di sekitar kita menjadi lebih siap menghadap Allah, suatu saat dikehendaki-Nya. Inilah pesan utama yang disampaikan sebuah peristiwa kematian. Wallahu a’lam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/382337659859891339-3849383128074576632?l=nuruliman1972.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/feeds/3849383128074576632/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=382337659859891339&amp;postID=3849383128074576632&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/3849383128074576632'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/3849383128074576632'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/2009/07/pesan-kematian.html' title='Pesan Kematian'/><author><name>nuruliman1972</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07855832763775638687</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_PHfVnL1Tq0A/SlGQJr1xxoI/AAAAAAAAACY/5gy7d5quuUk/s72-c/0123.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-382337659859891339.post-4893518372772288896</id><published>2009-06-24T20:46:00.000-07:00</published><updated>2009-06-25T15:28:45.898-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Religi'/><title type='text'>Bersedekah Tanpa Harta ?</title><content type='html'>25 Juni 1009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Amalia Sulfana, S.Ag.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedermanan adalah sikap yang menghiasi pribadi seorang muslim, dan sebaliknya sikap bakhil dan pelit adalah keburukan yang seharusnya dijauhi. Dengan keimanan dan amal salehnya, seorang muslim  memiliki jiwa yang suci dan hati bersih, yang merupakan pribadi yang mudah berempati, ringan mengulurkan tangan,  gampang berbagi dan memberikan bantuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bantuan seseorang pada yang lainnya selama ini diasumsikan dengan sejumlah materi dan pemberian harta. Padahal jika sedekah selalu diukur dengan uluran bantuan material, maka tentu akan banyak orang muslim akan kehilangan kesempatan untuk bersedekah. Tetapi, pernyataan tersebut tidak berarti menghilangkan arti penting sedekah harta. Islam tetap memandang pemberian materi sebagai puncak sedekah sehingga seorang muslim layak untuk “dengki” dari saudara muslim lainnya yang memiliki intensitas tinggi dalam menyumbangkan hartanya, seperti halnya yang ditegaskan dalam hadith nabi dari al-Bukhari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kaum muslimin yang memiliki keterbatasan materi, Allah tetap memberikan kesempatan untuk meraih pahala sedekah lewat amal-amal non material yang “murah” dan mudah. Pada aspek ini, dukungan kekuatan niat dan keteguhan hati sebagai motor utama. Perkataan baik dan pemberian maaf  disebut Allah dalam Al-Baqarah : 263 sebagai amal yang dapat menandingi  sedekah yang diikuti dengan perkataan yang menyakitkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi sebagaimana diriwayatkan al-Bukhari juga menyebut  “pemberian” lain yang berjumlah lebih dari 15 belas buah lain yang  berdimensi sedekah seperti tasymit al-‘athis (menjawab do’a orang bersin), menghilangkan aral/halangan dari jalan. Dalam riwayat Ahmad, nabi menyebut pula ucapan salam, kegiatan amar ma’ruf, mencegah kemungkaran. Sedangkan dalam riwayat al-Timdidzi, nabi menambahkan tabassum (senyum),  memberikan petunjuk kepada yang tersesat,  menuntun si buta, menghilangkan duri, dan menuangkan air kepada ember orang lain merupakan bentuk-bentuk lain sedekah. Pemenuhan hasrat biologis terhadap pasangan sah bahkan juga disebut sebagai sedekah suami kepada istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ayat al-Qur’an dan hadith nabi tersebut dapat dipahami  bahwa sedekah yang selama ini dimaknai “pemberian” materi  ternyata dapat diartikan lebih luas dan dilakukan dengan berbagai cara. Kebajikan sosial untuk meringankan beban sesama dalam berbagai bentuknya  meski tidak berwujud materi dapat dianggap sebagai sedekah dan berpahala sepertinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan ini memberikan  harapan baru bagi semua orang untuk tetap bersedekah dalam segala kondisi. Dalam keadaan yang serba lapang dan diberi kelimpahan materi, maka pilihan sedekah material adalah utama disamping tetap untuk mewujudkan sedekah-sedekah dalam bentuk lain. Bagi yang cupet materi, tidak harus berhenti memberi tetapi seluruh bentuk kebaikan dan persembahan bagi orang lain dapat menjadi pilihan sebagaimana ditegaskan nabi. Ini berarti ia tetap bisa bersedekah dengan tenaga, ilmu, dan pikiran yang saat ini dimilikinya, sambil terus berharap dan berusaha bahwa suatu saat ia juga bisa menyumbangkankan harta kekayaannya untuk mewujudkan sedekah yang bersifat material.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, bagi mereka yang mampu, sedekah dalam bentuk  pemberian materi adalah “keharusan”  dalam rangka menjemput rahmat Allah. Sedekah maliyah  juga merupakan amal sholeh nyata dalam mengentaskan kemiskinan, memeratakan rezeki Allah, dan menumbuhkan kepedulian sosial. Sedangkan bagi yang tidak mampu, masih tersedia cara-cara lain yang dapat ditempuh untuk bersedekah dan membantu sesama. Lebih idealnya lagi jika dapat digabungkan antara keduanya. Jadi, tidak ada alasan lain lagi bagi seseorang untuk menunda sedekah  atau bahkan tidak bersedekah sama sekali.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/382337659859891339-4893518372772288896?l=nuruliman1972.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/feeds/4893518372772288896/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=382337659859891339&amp;postID=4893518372772288896&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/4893518372772288896'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/382337659859891339/posts/default/4893518372772288896'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nuruliman1972.blogspot.com/2009/06/bersedekah-tanpa-harta.html' title='Bersedekah Tanpa Harta ?'/><author><name>nuruliman1972</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07855832763775638687</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-382337659859891339.post-9022311231903829528</id><published>2009-06-13T20:07:00.000-07:00</published><updated>2010-05-15T13:15:41.126-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga'/><title type='text'>Menjemput Jodoh</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_PHfVnL1Tq0A/SjRs33LHK2I/AAAAAAAAACQ/teJevALGKDE/s1600-h/1139327512.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 229px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_PHfVnL1Tq0A/SjRs33LHK2I/AAAAAAAAACQ/teJevALGKDE/s320/1139327512.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5347018364554783586" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;MENJEMPUT JODOH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Heboh lagu Cari Jodoh dari grupband Wali tengah melanda  blantika musik Indonesia. Tua muda, kecil besar, asyik mengulang bait-bait liriknya, yang diantaranya berbunyi: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu-ibu bapak-bapak&lt;br /&gt;Siapa yang punya anak&lt;br /&gt;Bilang aku&lt;br /&gt;aku yang tengah malu&lt;br /&gt;Sama teman-temanku&lt;br /&gt;karena cuma diriku yang tak laku-laku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengumuman-Pengumuman&lt;br /&gt;Siapa yang mau bantu&lt;br /&gt;Tolong aku kasiani aku&lt;br /&gt;Tolong cari diriku kekasih hatiku&lt;br /&gt;Siapa yang mau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu ini mudah diingat karena memang musiknya yang enak didendangkan, dan “menggelitik” terhadap realita sosial masyarakat, berupa banyaknya orang yang menunda pernikahan karena kesulitan dalam mencari jodoh atau menemukan pasangan hidup. Padahal pergaulan saat ini memungkinkan terjadinya interaksi dan pertemuan yang lebih banyak antara laki-laki dan perempuan  baik di kantor, tempat kerja, sekolah, organisasi, lapangan olah raga, maupun di tempat-tempat lain. Tetapi apakah memang sebegitu sulitnya, sehingga harus kelompok Wali Band harus memproklamirkan pencarian jodoh secara terbuka dengan membuat pengumuman seperti  dalam bait-bait lagu itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Urusan jodoh memang seringkali  diidentikkan dengan “rahasia Tuhan” yang unpredictable dan mengejutkan. Seseorang yang berparas menarik dan memiliki sekian kelebihan, tidak kunjung juga menemukan pasangan. Sementara seseorang yang dipandang biasa-biasa saja justru lebih cepat menikah. Hanya saja, sebagai rahasia Sang Pencipta apakah urusan jodoh memang “monopoli” Tuhan semata sehingga kemudian layak bagi seseorang  bersikap pasrah dan selanjutnya hanya menunggu jodoh menghampirinya. Ataukah seseor
